Advertising

Tuesday, March 31, 2015

Muslim Tatar Crimea Menjadi Tamu di Rumah Sendiri

Muslim Tatar, Crimea

Muslim Tatar, Crimea
Aneksasi atau pencaplokan wilayah yang dilakukan Rusia terhadap Semenanjung Crimea pada tahun lalu berpengaruh cukup besar bagi kehidupan masyarakat di kawasan itu. Dampak tersebut juga dirasakan oleh komunitas Muslim Tatar yang sudah mendiami tanah Crimea selama berabad-abad.
Menurut laporan Irish Times, sebagian besar masyarakat Tatar sesungguhnya tidak menghendaki adanya kekuasaan Rusia di Crimea. Penolakan itu muncul lantaran kekejaman rezim Moskow di masa lalu masih membekas di dalam ingatan umat Muslim Tatar.
Kini, bayang-bayang suram tersebut kembali menghantui mereka.Seperti yang diungkapkan oleh Safinar Dzhemilev misalnya, aneksasi Rusia di Crimea ternyata malah meletakkan masyarakat Muslim Tatar di bawah ketakutan.
Sejak dulu, orang-orang Tatar Crimea punya kenangan buruk dengan para penguasa Rusia maupun Soviet. Mulai dari era pemerintahan Catherine Agung (1762-1796), Joseph Stalin (1922-1952), dan sekarang Vladimir Putin.
“Kami yakin, mereka semua ingin menyingkirkan kami, orang-orang asli Crimea,” tutur Safinar kepada Irish Times, akhir pekan lalu.
Suami Safinar, Mustafa Dzhemilev—yang juga merupakan salah satu tokoh Muslim Tatar,  diusir dari Crimea lantaran dicap sebagai ekstremis oleh pemerintah Rusia. Kini, Mustafa diketahui sedang berada di Kiev, Ukraina, terpisah jauh dari sang istri yang tetap bertahan di Crimea.
Ketika Rusia mengambil alih Crimea pada Maret tahun lalu, pemerintah Moskow berjanji akan menghormati hak-hak etnis minoritas, termasuk umat Muslim Tatar.
Namun, kenyataannya, ada 18 pemuda Tatar yang dilaporkan hilang secara misterius atau diculik dalam setahun terakhir. Penghilangan—yang diduga kuat dilakukan oleh rezim Moskow—tersebut semakin menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat Tatar Crimea.
“Hal paling buruk sekarang ini adalah ketika orang-orang kami diculik, ditangkap, dipukuli, dan dibunuh. Tidak ada lagi rasa aman bagi kami,” kata Safinar.
Hal serupa juga diungkapkan Ernes Ayserezli (26 tahun). Pemuda Tatar Crimea itu merasa kebebasannya kian terkekang sejak Rusia mencaplok tanah kelahirannya.
“Hari ini, setiap kali saya memposting sesuatu di media sosial, saya selalu merasa tidak aman. Apalagi ketika saya memposting berbagai berita tentang penculikan,” katanya seperti dikutip stasiun radio AS, NPR.
Ernes juga melihat adanya upaya Rusia untuk mengaburkan identitas etnis Tatar di Crimea. Hal itu tampak pada kebijakan Moskow yang memaksa orang-orang Tatar untuk mengubah data kependudukan mereka menjadi ‘warga negara Rusia sepenuhnya’.
Jika tidak, maka mereka bakal kesulitan memperoleh akses pelayanan kesehatan, SIM, atau izin usaha.

Keberadaan orang-orang Tatar di Semenanjung Crimea memiliki sejarah yang panjang. Menurut catatan, nenek moyang mereka berasal rumpun bangsa Turki yang mulai mendiami tanah tersebut sejak abad ke-13 silam.
“Hingga pertengahan abad ke-19, orang-orang Tatar membentuk kelompok etnis mayoritas di Crimea,” tulis A Illarionov dalam karyanya, The Ethnic Composition of Crimea During Three Centuries.
Masyarakat Tatar Crimea muncul sebagai bangsa tersendiri sejak didirikannya Kekhanan Crimea, yakni sebuah negara yang berada di bawah kendali Kesultanan Ottoman dari abad ke-15 sampai abad ke-18.
Agama Islam sendiri sudah dipeluk orang-orang Tatar Crimea sejak abad ke-14, jauh sebelum Kesultanan Ottoman menancapkan pengaruhnya di semenanjung itu.Pada 1783, Kekaisaran Rusia di bawah perintah Ratu Catherine Agung menganeksasi Crimea untuk pertama kalinya dan kemudian menjadikannya sebagai Provinsi Taurida.
Sejak itu, Crimea praktis menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia hingga meletusnya Revolusi Bolshevik pada 1918.
Pada 1944, ketika Rusia menjadi bagian dari Uni Soviet, Joseph Stalin mendeportasi orang-orang Tatar Crimea secara massal ke Asia Tengah dan Siberia, karena diduga bekerja sama dengan pemerintah Nazi Jerman.
Tercatat ada sekitar 190 ribu warga Tatar yang dideportasi pada masa itu. Mereka hidup dalam pengasingan selama bertahun-tahun, bahkan ada pula yang sampai meninggal di tempat pembuangan.
Orang-orang Tatar yang dideportasi Stalin mulai kembali ke Crimea secara bertahap sejak awal dekade 1990-an lalu, menyusul runtuhnya Uni Soviet. Kendati demikian, mereka kini hidup sebagai kelompok minoritas di Tanah Air mereka sendiri—tergeser posisinya oleh keberadaan etnis Rusia yang mulai mendominasi wilayah itu sejak Perang Dunia II.
Menurut sensus nasional Ukraina 2001, Crimea menjadi rumah bagi 243 ribu orang Tatar. Secara persentase, jumlah mereka hanya sekira 12,1 persen dari total 2 juta penduduk yang mendiami kawasan tersebut hari ini.

Reporter : Ahmad Islamy Jamil Redaktur : Indah Wulandari