Kitab Ini Haramkan Panggilan Umi dan Abi ke Isteri Atau Suami

keep-calm-and-abi-love-umi

Sudah biasa kita mendengar atau memiliki panggilan sayang terhadap pasangan kita. Bermacam-macam panggilan sayang yang kita berikan seperti ‘Honey’, ‘Hubby’, ‘Sayang’, ‘Cinta’, dan berbagai panggilan yang lainnya.
Panggilan sayang itu untuk menunjukkan rasa sayang dari tiap pasangan. Sering juga digunakan panggilang sayang yang islami oleh pasangan suami istri, seperti’Abi’ dan ‘Ummi’.
Tapi ternyata, panggilan ‘Abi’ dan ‘Ummi’ diharamkan dalam islam. Maksud dan tujuan sebenarnya baik, tetapi jika asal pakai tanpa mengetahui arti dan asal usulnya maka akan menjadikan ini haram.
Dalam kitab Ar-Raudhatul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni’ juz 3/195, dijelaskan tentang hal memanggil pasangan “Dan dibenci memanggil salah satu di antara pasangan suami istri dengan panggilan khusus yang ada hubungannya dengan mahram, seperti istri memanggil suaminya dengan panggilan ‘Abi’ (ayahku) dan suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘Ummi’ (ibuku).”
Ada baiknya jika belum memiliki panggilan sayang, jangan digunakan panggilan tersebut. Namun jika sudah terlanjur, ada baiknya untuk menggantinya. Perlahan-lahan pasti akan bisa walaupun awalnya pasti terasa tidak biasa.
Memang masih banyak yang memakai panggilan pasangan seperti ini, terutama di rumah keluarga islami. Karena kita sudah tahu, sebaiknya hindari panggilan sayang seperti ini. Benarkah demikian? Wallahu a’lam bishawwab. (jk)

Ibnu Sina Hafal Alquran di Usia 10 Tahun

Ibnu Sina atau Avicenna.

Ibnu Sina atau Avicenna.
- Ibnu Sina atau Avicenna memiliki nama lengkap Abu Ali al Huseyn bin Abdullah bin Hassan Ali bin Sina. Ilmuwan berdarah Persia ini menulis karya ilmiah pertamanya di usia 21 tahun. Al-Majmu demikian judul karya ilmiah tersebut, yang mengulas beragam ilmu pengetahuan.

Ibnu Sina lahir pada 980 M atau 370 H di Afsyanah, sebuah kota kecil di dekat Bukhara, Uzbekistan. Sepanjang hidupnya, Muslim jenius ini telah menghasilkan 450 karya ilmiah. Namun dari jumlah itu, hanya sekitar 240 karya yang tersisa.

Sebanyak 150 karya mengupas tentang filsafat, 40 kitab tentang kedokteran, dan karya-karya lainnya memuat beragam ilmu pengetahuan mulai dari filsafat, astronomi, kimia, geografi, matematika, geologi, psikologi, teologi, logika, fisika, hingga seni puisi.

Salah seorang temannya, Abu Ubaid al-Jurjani pernah bercerita, Ibnu Sina memiliki karakter yang cukup unik. Salah satunya, ia suka mengagumi diri sendiri. Dan faktanya, Ibnu Sina memang dikagumi banyak orang karena kejeniusannya.

Tak hanya menguasai beragam ilmu pengetahuan, Ibnu Sina juga memiliki perhatian besar kepada ilmu keagamaan. Hal inilah yang mendorongnya untuk menghafal Alquran. Beberapa sumber menyebut, Ibnu Sina telah hafal Alquran pada usia 10 tahun.

Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina juga dikenal sebagai sosok yang mandiri dalam pemikiran. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniyah.

Ibnu Sina Jadi Dokter di Usia 17 Tahun

Ibnu Sina

Ibnu Sina
Ibnu Sina atau Avicenna memiliki nama lengkap Abu Ali al Huseyn bin Abdullah bin Hassan Ali bin Sina. Ilmuwan berdarah Persia ini menulis karya ilmiah pertamanya di usia 21 tahun. Al-Majmu demikian judul karya ilmiah tersebut, yang mengulas beragam ilmu pengetahuan.

Sejak kecil, Ibnu Sina memperlihatkan kepandaian yang luar biasa. Ilmu kedokteran dipelajarinya saat berusia 16 tahun. Tak hanya mempelajari teori kedokteran, dia juga merawat orang sakit berdasarkan pengetahuannya sendiri.

Berkat melayani orang sakit, Ibnu Sina pun menemukan metode-metode baru dalam perawatan. Dia menjadi seorang dokter sejak usia 17 tahun. Dia semakin terkenal sebagai dokter sejak berhasil menyembuhkan Raja Dinasti Samaniah, Nuh bin Mansur.

Tak hanya Nuh bin Mansur, ia juga berhasil menyembuhkan sejumlah penguasa lain, di antaranya Ratu Sayyidah dan Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadan, dan Alaud Dawla dari Isfahan.

Ibnu Sina baru berusia 22 tahun ketika sang ayah wafat. Sepeninggal ayahnya, dia kemudian berkelana untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Kota pertama yang ia tuju adalah Jurjan.

Di salah satu kota kecil di Timur Tengah ini ia bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan al-Biruni yang kemudian menjadi gurunya. Setelah itu, dia berkeliling ke sejumlah kota di Iran seperti Rayy dan Hamadan.

Dari 450 karyanya, yang paling dikenal adalah As-Syifa dan Al-Qanun fi At-Tibb (The Canon of Medicine). Buku yang ditulis pada 1025 itu menjadi acuan dan referensi para dokter selama berabad-abad.

Karya-karya Ibnu Sina pernah disatukan dalam satu buku besar berjudul Essai de Bibliographie Avicenna yang disusun oleh Pater Dominican di Kairo. Kiprah gemilang Ibnu Sina di jagat ilmu pengetahuan berakhir ketika ia wafat pada Juni 1037 di Hamadan, Iran.

Pernah Terkubur, Piramida Mesir Digali Pertama Kali oleh Gubernur ini

Piramida Giza di Mesir peninggalan Firaun yang binasa akibat kesombongannya mengaku tuhan

Piramida Giza di Mesir peninggalan Firaun yang binasa akibat kesombongannya mengaku tuhan
Piramida Giza, Mesir memang kaya sejarah. Bangunan berbentuk segitiga sama sisi yang berumur ratusan ribu tahun ini, merupakan tempat peristirahatan para penguasa Mesir kuno yang bergelar Fir’aun.
Tetapi tahukah Anda, bahwa upaya penggalian dan eksplorasi piramida Giza pertama kali itu justru dilakukan pada masa Dinasti Umayyah (661-750 M).
Ketika itu kondisi piramida Giza, sungguh tak terurus, dan penuh dengan tumpukan debu, menutupi semua bagiannya. Bisa dibayangkan, seberapa kubik debu pasir menggunung menutupi bangunan setinggi puluhan meter itu.  
Tetapi menurut catatan Abu al-Hasan al-Mas’udi dalam kitabnya Muruj ad-Dzahab, kondisi tersebut tak menyurutkan minat Abdul Aziz bin Marwan, gubernur Mesir ketika itu untuk mengeksplorasi piramida.
Abdul Aziz yang merupakan saudara kandung dari Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) khalifah Dinasti Umayyah itu mendapat kabar, bahwa piramida menyimpan harta karun berharga, seperti emas, perak, berlian, dan batu marmer menawan.
Upaya penggalian pun dimulai. Sebanyak 100 pekerja dikerahkan untuk membersihkan dan menggali piramida yang tertutup dengan debu dan pasir. Peralatan sangat sederhana. Jangan bayangkan mereka dibekali alat serba modern seperti sekarang.
Misi pencarian akhirnya membuahkan hasil. Perlahan, mulai tampak patung-patung-patung emas peninggalan para raja Firaun dan puing-puing rerentuhan.
Temuan awal tersebut semakin menggiurkan Sang Gubernur. Penggalian diintensifkan dengan tambahan tenaga yang lebih banyak.
Namun, ambisi tersebut justru berujung petaka. Suatu ketika, pada malam hari, terdengar gemuruh keras yang terdengar hingga radius puluhan kilo meter.
Lokasi penggalian runtuh dan mengubur hidup-hidup para pekerja. Penyebabnya belum diketahui hingga sekarang. Insiden ini menjadi alasan Sang Gubernur menghentikan proyek ambisius itu.
Jumlah korban meninggal diperkirakan mencapai ribuan pekerja dan mereka dikubur di lokasi mereka tertimpa rerentuhan.
Sang Gubernur pun bersedih. ”Runtuhan ini mengerikan dan di luar dugaan. Kami berlindung kepada Allah SWT.”
Misi penggalian kembali pernah diupayakan beberapa dekade setelah itu, tepatnya pada masa al-Ma’mun, khalifah Dinasti Abbasiyah yang datang langsung dari Baghdad, menuju Mesir untuk memimpin misi. Namun, proyek pun gagal.      

Hati-Hatinya Umar dalam Memilih Pegawai dan Gubernur

hati-hati, padang

Janganlah sekali-kali kalian menunjuk orang untuk membantu pekerjaan kita selain para ahli Qur’an.
PARA gubernur yang memipin di daerah daerah-daerah beserta pegawainya merupakan perantara antara khalifah dengan rakyat. Walaupun khalifah adalah pemutus kebijakan-kebijakan politik tapi ia tidak bisa meralisasikan kebijakan itu dengan baik jika para gubernur di daerah tidak memiliki visi yang sama dengan pusat.
Karena itulah Umar bin Abdul Aziz sangat memperhatikan masalah siapa saja yang akan ditunjuknya sebagai gubernur di daerah. Dan jika kita menyimak kabar tentang pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, maka akan mendapati syarat-syarat tertentu yang ia rumuskan bagi siapapun orang yang dipilihnya. Dan diantara syarat-syarat yang penting adalah: takwa, amanah dan agamanya bagus.
Ketika Umar bin Abdul Aziz menurunkan Khalid bin Rayyan –yang menjabat sebagai kepala pengawal pada masa Walid bin Sulaiman- maka Umar bin Abdul Aziz melihatwajah-wajah para pengawal. Kemudian ia memanggil ‘Amr bin Muhajir al-Anshari dan berkata: “Demi Allah, kamu pasti tahu bahwa diantara kita tidak ada hubungan kerabat kecuali saudara seislam. Tapi aku mendengarmu banyak membaca al-Qur’an, dan kamu sering melakukan shalat di tempat yang kamu mengira tak ada orang yang melihatmu, tapi aku melihatmu dan ternyata shalatmu sangat bagus. Maka ambillah pedang ini karena aku telah menjadikanmu sebagai pemimpin pengawalku.”
Kemudian Umar bin Abdul Aziz juga menulis surat kepada para pegawainya di daerah: “Janganlah sekali-kali kalian menunjuk orang untuk membantu pekerjaan kita selain para ahli Qur’an. Karena jika tidak ada kebaikan pada para ahli Qur’an maka selain para ahli Qur’an lebih mungkin untuk tidak memiliki kebaikan.”
Ini adalah sudut pandang yang sangat unik, yang dipakai oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam menilai para pegawainya. Dan ini sangat tepat. Karena jika para ahli Qur’an saja tidak memiliki kebaikan, lalu bagaimana ihwal mereka yang jauh dari al-Qur’an?
Dalam urusan ini, memang kehati-hatian Umar bin Abdul Aziz sangatlah tinggi. Karena dengan mengangkat seseorang menjadi kepala daerah maupun pegawai di bidang lain, berarti Umar telah mengamanahkan urusan ummat kepada mereka. Dan urusan ummat berupa jabatan ini bukanlah urusan sepele yang bisa diperjualbelikan dengan uang. Karena amanah ini akan dipertanggungjawabkan di akhirat, bukan hanya oleh orang yang dipilih, tapi juga bagi diri Umar yang menunjuk.
Karena itulah jika Umar bin Abdul Aziz meragukan kualitas agama seseorang, apakah baik atau sebaliknya, maka ia tidak berani mengangkatnya sebagai pegawainya sampai kualitas agama orang tersebut jelas di mata Umar. Hal ini bisa kita simak pada saat Bilal bin Abi Burdah menghampirinya dan mengucapkan selamat padanya atas dibai’atnya dirinya menjadi khalifah. Bilal bin Abi Burdah berkata:
“Wahai Amirul Mukminin, barangsiapa yang dimuliakan oleh jabatan khalifah ini maka sesungguhnya engkau telah memuliakannya. Dan barangsiapa yang dihiasi oleh jabatan ini maka engkau telah menghiasinya.” Kemudian Bilal membacakan beberapa bait syair dan memuji-muji Umar bin Abdul Aziz, maka iapun membalas pujian itu dengan ucapan terima kasih padanya.
Setelah itu, Umar melihat Bilal senantiasa berada di masjid. Ia selalu membaca al-Qur’an siang dan malam. Umar bin Abdul Aziz berniat hendak mengangkatnya sebagai gubernur di Iraq, tapi ia masih ragu. Kemudian ia menyuruh seseorang untuk menguji kualitas agamanya. Umar berkata kepada orang suruhannya: “Ketahuilah, dia ini orang yang memiliki keutamaan. Maka lihatlah apakah dia ini adalah orang yang terpercaya.”

Baca Juga :





Orang itu mendatangi Bilal dan bertanya, “Seandainya aku mengangkatmu sebagai gubernur di Iraq, maka apa yang akan kamu berikan padaku?”
Bilal menjawab bahwa dirinya akan memberikan harta yang banyak. Ketika hal itu disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz, maka ia mengurungkan niatnya untuk mengangkat Bilal bin Abi Burdah sebagai gubernur di Iraq.
Orientasi kepemimpinan itu bukanlah semata-mata mengumpulkan kekayaan yang banyak, tapi sebuah kondisi masyarakat yang makmur dengan tatanan yang aman. Orang-orang yang memiliki orientasi duniawiyah seperti ini tidak masuk dalam daftar orang-orang yang akan ditunjuk Umar sebagai pegawainya. Andaikata Bilal ketika ditanya menyampaikan bahwa dirinya akan memberikan tatanan masyarakat Iraq yang islami, menghidupkan majelis-majelis ilmu, dan bersikap adil dalam memimpin, mungkin Umar bin Abdul Aziz akan memilihnya sebagai gubernur di sana. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga sangat memperhatikan orientasi kepemimpinan orang-orang yang akan dipilih sebagai pegawai di masanya.
Karena sikap kehati-hatian inilah sehingga ketika kita menyimak para gubernur Umar bin Abdul Aziz dan para pegawainya maka kita akan mendapatkan bahwa mereka semua adalah para ulama’ dan para pecinta kebaikan. Karena itu sebagian besar para ulama’ menyatakan dengan terang-terangan bahwa semua orang yang dipilih Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur maupun pegawai adalah orang-orang tsiqoh (terpercaya).
Konsep politik Umar bin Abdul Aziz ini memiliki pengaruh besar terhadap keamanan dan ketentraman rakyat di daerah-daerah kekuasaan. Karena masyarakat rela dipimpin oleh orang-orang pilihan Umar bin Abdul Aziz. Mereka juga memuji para pegawai Umar yang tidak lain adalah orang-orang yang memang memiliki kualitas agama yang bagus. Mereka bergaul dengan rakyat dengan kasih sayang dan keadilan, tidak dengan kekerasan dan kedhaliman.
Sebagaimana tidak ada diantara si surat itu adalah:
“Sesungguhnya kami tak bermaksud untuk tidak mentaatimu, tapi Yazid bin Abi Muslim adalah kematian bagi kami, yang mana Allah U dan ummat Islam tidak meridhainya. Maka kamipun membunuhnya dan mengembalikannya padamu.”
Setelah membaca surat tersebut, Yazid bin Abdul Malik membalasnya dan menjelaskan bahwa dirinya juga tidak ridha atas apa yang telah diperbuat oleh gubernurnya. Kemudian memutuskan untuk menggantinya dengan Muhammad bin Yazid al-Anshari.
Referensi:  Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan Mengubah Dunia/Karya: Herfi Ghulam Faizi, Lc/Penerbit: Cahaya Siroh