Advertising

Wednesday, July 23, 2014

Asma Ibret Hanim Kaligrafer Wanita Muslim

Kaligrafi Bismillah

Kaligrafi Bismillah

Asma mulai menghasilkan karya saat usianya 15 tahun.

Islam tidak berhenti memberikan sumbangsih bagi peradaban. Seni, pengetahuan, dan sastra menjadi bidang yang cemerlang saat Islam memberikan sentuhan.

Seiring budaya literasi bangsa Arab, terutama dalam penulisan Alquran, seni penulisan yang dikenal dengan kaligrafi berkembang pesat.

Ranah seni kaligrafi bukan hanya didominasi seniman Muslim. Namun, para Muslimah tak ketinggalan mengambil peran syiar lewat goresan yang mengukir ayat-ayat Alquran.
Salah satu seniman kaligrafi Muslimah yang masyhur yang karyanya hingga kini masih tersimpan ialah Asma Ibret Hanim.

Asma Ibret dikenal sebagai seniman yang luar biasa dengan desain khas kaligrafi Arab pada masa pemerintahan Ottoman. Kemampuannya diakui sejak masa pemerintahan Sultan Selim III.

Keahliannya menulis kaligrafi diasah ketika menjadi mahasiswa dari kaligrafer terkenal Mahmud Salah al-Din. Asma belajar dan menguasai kaligrafi di al-Thuluth dan an-Nasikh.

Karya tertuanya tercatat dihasilkan pada 1795 Masehi ketika Asma berusia 15 tahun. Dia pun lulus dan mendapatkan ijazah sebelum usianya mencapai 15 tahun. Setelah bekerja dan lulus dari pelajarannya, Asma menikahi gurunya Mahmoud Salah al-Din.

Setelah lulus dari pelajarannya menulis kaligrafi, keahlian Asma diketahui pihak istana. Sultan Selim III kemudian menawari Asma pekerjaan di pemerintahan. Sultan memperkejakan Asma di kantor bea cukai kerajaan. Asma digaji bulanan sebanyak 40 corus.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah piring yang ditulis mengenai deskripsi Nabi Muhammad SAW yang ia buat tahun 1795 M. Karya Asma itu kini diletakkan di Museum Topakaba.

Sultan pun puas dengan karya seni buatan Asma ini. Sultan Selim III tak segan memberikan hadiah berupa 500 corus untuk kaligrafi di piring tersebut.

Asma mulai menghasilkan karya saat usianya 15 tahun.

Karena keahliannya yang mengesankan sultan dalam membuat seni kaligrafi, Asma diberikan julukan. Julukannya adalah Abrait (Ibret) yang berarti panutan yang besar.

Asma juga pernah menyalin Alquran dengan seni kaligrafi. Dia menyelesaikan salinan tersebut di usia 28 tahun. Karya monumental tersebut saat ini disimpan keluarga Nafe al-Fayez di Arab Saudi.

Halaman pertama, terakhir, dan penjelasan dari Alquran didekorasi dengan gaya rococo. Sedangkan, halaman lain dihias dan dibingkai garis emas.

Karya Asma yang masih tersimpan di antaranya Hilye I Sharif di Museum Seni Islam Turki. Karya Alif Juzu dan Qit'a I disimpan di Ekrem Hakki Ayyerdi Collection. Karya Dalail-I Hayrat berada di Perpustakaan Universitas Istanbul, sedangkan Qit'a II di Saffet Tanman Collection.

Meski memiliki suami yang juga gurunya, karya-karya Asma jauh lebih banyak dikoleksi hingga kini. Para sejarawan menemukan setiap karya Asma ada goresan namanya. Hampir tidak ada karya yang dibuat bersama antara dia dan suaminya.

Memang sedikit sekali sejarawan yang menuliskan kisah Asma Ibret terutama mengenai perjalanan hidupnya. Kapan dan di mana Asma wafat pun tidak diketahui sejarahnya.

Sejarah hanya menulis Asma dimakamkan di Sheikh Murad Buhari al-Darba'i di Turki bersama dengan sang suami dan guru yang mendidiknya menjadi kaligrafer terkenal.

Salah satu contoh kaligrafi yang ditulis Asma di antaranya adalah shalawat. Isi shalawat tersebut adalah, "Ya Allah limpahkanlah berkah-Mu pada Nabi Muhammad SAW dan kerabatnya. Sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah pada Nabi Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia."

 Ratna Ajeng Tejomukti