Advertising

Friday, July 31, 2015

Sejarah Kedokteran Islam dan Pengobatan di Dunia

Sejarah Kedokteran Islam dan Pengobatan di Dunia

ilustras
Bapak Kedokteran Islam: Ar-Razi
Pengobatan Islam dan Ibnu Sina, Polymath Hebat

Ar-Razi menulis secara ekstensif pada pentingnya hubugan antara pasien dan dokter, percaya bahwa dokter dan pasien harus membentuk hubungan yang berdasar pada kepercayaan

MASA Keemasan Islam terentang antara abad ke-8 hingga 15, menunjukkan banyak kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Para ilmuwan Islam mengumpulkan berbagai macam sumber pengetahuan dari seluruh dunia dan menambahkan penemuan mereka adalah salah satu faktornya. Salah satu bidang penting adalah kedokteran Islam, yang metode pengobatannya mendekati kedokteran modern yang kini kita miliki. Jelas, selama periode ini mereka jauh lebih maju daripada Eropa yang masih berkubang dalam Abad Kegelapan.

Inti dari kedokteran Islam adalah kepercayaan terhadap Qur’an dan Hadist, yang menyatakan bahwa para Muslim memiliki tugas untuk merawat yang sakit dan ini biasa disebut sebagai “Pengobatan Rasul”. Menurut Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau percaya bahwa Allah telah menetapkan obat bagi setiap penyakit dan tugas seorang Muslim-lah untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Ini berarti meningkatkan kualitas fasilitas kesehatan dan memberikan aksesnya kepada siapa saja juga termasuk, dengan banyak Hadist memberikan petunjuk untuk pendekatan holistik terhadap kesehatan.

Pada awalnya, banyak perdebatan mengenai boleh tidaknya para dokter Muslim menggunakan teknik pengobatan dari Yunani, China, dan India, yang dipandang orang banyak sebagai praktek paganisme. Setelah perdebatan sengit, para dokter Muslim akhirnya diberikan kebebasan untuk mempelajari dan mengadopsi teknik-teknik yang diperlukan.

Pengobatan Islam, Rumah Sakit, dan Kualifikasi

Kontributor besar Islam dalam sejarah dunia kedokteran adalah pendirian rumah sakit yang dibiayai oleh uang zakat. Ada bukti-bukti bahwa rumah sakit ini berdiri pada abad ke-8 dan dengan segera menyebar ke seluruh dunia Islam.

Rumah sakit-rumah sakit ini tidak hanya merawat mereka yang membutuhkan, namun juga mengirim para dokter dan bidan ke daerah-daerah yang miskin dan padat penduduk, serta memberikan tempat bagi para dokter dan staff rumah sakit untuk melakukan penelitian dan eksperimen. Tiap rumah sakit memiliki spesialisasinya sendiri, seperti rumah sakit khusus lepra, orang cacat, dan mereka yang renta.

Sistem pendidikan dokter tersusun dengan sangat baik, biasanya menggunakan sistem tutoring sebagai basis, dan dengan banyaknya dokter spesialis terkenal di berbagai daerah membuat perjalanan para murid dari satu kota ke kota lain tidak sia-sia karena mereka belajar dari yang terbaik. Sebagai tambahan, para dokter Islam sangat cermat dengan catatan mereka, sebagian karena catatan mereka akan digunakan untuk menyebarkan ilmu, namun juga dijadikan barang bukti kalau-kalau mereka dituduh melakukan malpraktek.

Para Dokter Muslim dan Penemuan Mereka

Banyak dokter Islam menghasilkan penemuan luar biasa pada segala bidang kedokteran selama Masa Keemasan Islam, dengan berdasar pada pengetahuan dari dokter Yunani, termasuk Galenus, lantas ditambah dengan penemuan mereka sendiri.


Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi dikenal di Eropa dengan nama Rhazes (850- 923), adalah peneliti Islam terdepan dalam bidang kedokteran. Seorang penulis produktif yang menghasilkan lebih dari 200 buku tentang kedokteran dan filosofi, termasuk sebuah buku kedokteran yang belum selesai, yang mengumpulkan seluruh ilmu kedokteran dalam dunia Islam ke dalam satu buku. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi salah satu tulang punggung sejarah kedokteran Barat.

Ar-Razi juga terkenal akan hasil kerjanya dalam memperbaiki metode ilmiah dan mempromosikan eksperimen dan observasi. Aksi beliau yang paling terkenal adalah penentuan lokasi rumah sakit di Baghdad. Ketika Ar-Razi ditanya dimanakah beliau akan membangun rumah sakit di Baghdad, beliau menggantung sejumlah daging di sekeliling Baghdad, dan memilih tempat dimana dagingnya paling tidak busuk. Beliau menyimpulkan bahwa para pasien akan memiliki lebih sedikit resiko terkena sejumlah penyakit dan pencemaran di tempat tersebut. Beliau menjabat sebagai direktur rumah sakit tersebut hampir sepanjang karirnya dan melakukan sebagian besar penelitiannya yang memajukan dunia kedokteran Islam.

Ar-Razi menulis secara ekstensif pada pentingnya hubugan antara pasien dan dokter, percaya bahwa dokter dan pasien harus membentuk hubungan yang berdasar pada kepercayaan. Jika tugas dokter adalah membantu pasien, maka tugas pasien adalah mengikuti petunjuk dokter. Seperti Galenus, beliau percaya bahwa pendekatan holistik dalam pengobatan adalah hal krusial, dengan mempertimbangkan background pasien dan penyakit yang diderita oleh keluarga dekat sebagai bagian dari pengobatan modern.

Pencapaian beliau lainnya yang luar biasa adalah pengertiannya akan sifat sebuah penyakit, yang sebelumnya hanya melibatkan gejala, namun Ar-Razi membuat sebuah terobosan dengan melihat faktor apa saja yang menyebabkan gejala-gejala tersebut. Pada kasus cacar dan campak  beliau menyalahkan darah, dan karena saat itu mikroba belum ditemukan, maka ini adalah pernyataan yang masuk akal.

Ar-Razi menulis secara ekstensif mengenai fisiologi manusia dan memahami bagaimana otak dan sistem syaraf mengoperasikan otot. Sayangnya, Muslim di masa tersebut dilarang melakukan pembedahan mencegah Rhazes menyempurnakan studinya di area ini.*/Tika Af’idah, dari berbagai sumber

POLYMATG adalah sebutan untuk orang yang memiliki keahlian di berbagai bidang, dan Ibnu Sina adalah salah satunya. Ilmuwan Islam, Ibnu Sina, yang lebih dikenal di dunia barat dengan nama Avicenna adalah seorang polymath yang ahli di bidang filosofi, theology, kedokteran Islam dan ilmu alam. Sejak masih muda, beliau telah terkenal sebagai seorang dokter dan guru, menulis banyak risalah yang detil mengenai kedokteran. Bukunya, ‘The Canon’ (Norma), menjadi pegangan bagi seluruh dokter di seluruh dunia Islam dan Eropa, memberikan petunjuk terperinci mengenai proses diagnosa dan perawatan penyakit.

Ibnu Sina percaya bahwa banyak diagnosa dapat dilakukan dengan mendengarkan degup jantung dan memeriksa urin, dan sebagian besar bukunya memberikan petunjuk bagaimana melakukan diagnosa lewat warna, kekeruhan, dan bau urin. Tentu, ini disertai dengan pendekatan holistik dengan mengetahui background dan pola makan pasien.

Terobosan beliau lainnya adalah sarannya mengenai perawatan bayi, dan berdasarkan kepercayaannya bahwa air yang tidak bersih mendatangkan banyak penyakit, Ibnu Sina memberikan petunjuk bagaimana cara memeriksa tingkat kemurnian air. Banyak obat racikannya memang tidak efektif, namun Ibnu Sina memberikan lebih banyak keberhasilan daripada kegagalan dan memberikan kontribusi besar dalam sejarah kedokteran.

Al-Kindi: Penyusun Farmakologi Islam

Al-Kindi (800-870) adalah seorang polymath Muslim lainnya yang turut memberikan kontribusi dalam sejarah kedokteran. Ilmuwan ini dipengaruhi oleh hasil kerja Galenus meski juga memberikan sumbangan tersendiri. Dalam bukunya berjudul Aqrabadhin (Formulasi Obat), beliau mendeskripsikan banyak pengolahan tumbuhan, binatang, dan mineral.

Obat-obat yang sebelumnya telah digunakan oleh dokter-dokter seperti Hippokrates dan Galenus, beliau menambahkan sendiri pengetahuan yang didapatnya dari India, Persia, dan Mesir. Seperti kebanyakan hasil kerja Islam, buku beliau memuat banyak informasi mengenai pengobatan herbal, campuran-campuran aromatik seperti musk, dan pengobatan non-organik. Cukup logis untuk mengatakan bahwa Islam adalah yang pertama memandang kedokteran dan farmakologi sebagai sains yang berbeda.

Ibnu Al-Nafis dan Sistem Pernafasan

Ibnu Al-Nafis (lahir 1213) tercatat dalam sejarah kedokteran sebagai ilmuwan pertama yang memahami sistem respirasi dan sirkulasi, meski pengetahuannya tidak komplit. Beliau memahami bahwa jantung dibagi menjadi dua sisi dan mengatakan bahwa tidak ada pori-pori diantara keduanya, seperti yang diungkapkan Galenus. Al-Nafis menyatakan bahwa darah hanya dapat bersirkulasi dari salah satu sisi jantung dan berpindah ke sisi lainnya lewat paru-paru.

Ini adalah contoh pertama seorang ilmuwan meramalkan tentang sistem pulmonari. Meski tidak yakin dengan mekanismenya, Al-Nafis dengan benar menyatakan bahwa darah di paru-paru bercampur dengan udara, meski beliau juga menyatakan bahwa darah juga disisipi oleh ‘makhluk halus’ di bilik kiri jantung.

Observasi beliau lainnya adalah bahwa jantung dinutrisi oleh jaring kapiler yang mengelilinginya, bukan seperti yang dijelaskan Ibnu Sina, oleh sisi kanan bilik jantung. Penelitian beliau melingkupi peran kapiler dalam ssitem sirkulasi, menyatakan gagasan bahwa pembuluh arteri dan vena pulmonary dihubungkan oleh pori-pori berukuran mikroskopik. Baru empat abad kemudian bahwa teori ini diangkat kembali ke publik dan diketahui bahwa pembuluh kapiler ada di seluruh tubuh.

Detak jantung sudah lama dipahami oleh para dokter Muslim, dan bahkan oleh orang-orang Mesir jauh sebelum itu, namun Al-Nafis adalah orang pertama yang mengetahui mekanisme dibalik pembuluh darah. Galenus menyatakan sebuah teori mengenai bagaimana pembuluh arteri berdetak secara natural, dan seluruh pembuluh arteri berdetak secara bersamaan, namun Al-Nafis percaya bahwa detak tersebut disebabkan oleh kerja jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Beliau dengan benar mencatatkan bahwa detak di arteri sedikit terlambat daripada gerak jantung dan seluruh pembuluh arteri tidak bergerak secara serempak.

Namun Al-Nafis percaya bahwa pergerakan darah ini adalah untuk mengusir makhluk halus di jantung, yang akan membakar jantung jika terlalu lama di sana. Teorinya menyatakan bahwa makhluk ini akan menjadi stagnan jika dibiarkan berada di arteri, maka dari itu sistem sirkulasi diperlukan. Meskipun teorinya mengenai jantung dan sirkulasi pulmonary benar adanya, namun karena teori makhluk halus tersebut, ada sedikit keraguan bahwa teorinya adalah sebuah langkah besar untuk memahami bagaimana tubuh bekerja. Sayangnya, banyak dari tulisannya tidak diterbitkan di Barat.

Banyak dari observasinya didasarkan pada pengamatannya selama proses pembedahan, dimana beliau adalah seorang pendukung proses pembedahan yang kala itu masih tabu, dan beliau menyelesaikan kesalahpahaman mengenai otak, kantong empedu, struktur tulang dan sistemsyaraf. Sayangnya karena sedikit sekali hasil tulisannya yang diterjemahkan ke Bahasa Latin, banyak hasil kerjanya yang tidak dipergunakan oleh para ilmuwan Barat dan bahkan Leonardo Da Vinci membuat kesimpulan yang salah karena merujuk pada Galenus dan Ibnu Sina, tanpa menyadari bahwa Al-Nafis sudah membahasnya terlebih dahulu.

Kontribusi beliau lainnya pada Kedokteran Islam adalah penelitian farmasi, dimana beliau tidak hanya membuat ramuan dari seluruh dunia, namun juga memperkenalkan sistem matematika ke dalam pengobatan dan menemukan ide mengenai dosis yang dianjurkan dalam pengobatan.*/Tika Af’idah,


Polymath Hebat

Al-Kindi (800-870) adalah seorang polymath Muslim lainnya yang turut memberikan kontribusi dalam sejarah kedokteran

Sejarah Kedokteran Islam dan Pengobatan di Dunia

Hunayan ibn Nishaq (808 – 873), dikenal sebagai Johannitus di Barat, adalah seroang titan dalam kedokteran Islam dan seorang penulis teks medis yang terpandang
Kontributor Lainnya

SERAPION, seorang pemeluk Kristen di Suriah, menuliskan risalah detil mengenai farmakologi pada abad ke-9, dimana beliau mendeskripsikan beberapa penyakit dan ramuan obat untuk menyembuhkannya.

Al-Dinawari mengikuti jejaknya dan menulis buku berjudul ‘Kitab Tumbuhan’, dan bukunya, diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, dan mempengaruhi sejarah kedokteran Barat.

Banyak contoh pengobatan yang tidak diketahui di wilayah Arab pada akhirnya muncul di buku kedokteran yang terbit di sana. Salah satu penyebabnya adalah seorang dokter Persia di abad ke-6, Burzoe, yang berpergian ke India dan kembali dengan membawa banyak ramuan obat, sebagai tambahan informasi dari para dokter dan tabib dari India yang dipekerjakan oleh Khalifah. Banyak tulisan dalam Bahasa Sansekerta yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, dan menunjukkan bahwa kedokteran India mempengaruhi kedokteran Arab.

Al-Tabari (810 – 855) menulis sebuah buku berjudul “Surga Kebijaksanaan” yang terbit pada 850 dan berdasar, sebagian besar, pada tulisan-tulisan Galenus dan Hippokrates, namun juga memuat sebuah index dengan terjemahan referensi dari India. Seperti banyak dokter pada jamannya, bukunya seperti sebuah ensiklopedia yang memberikan lebih banyak dan lebih detil penjelasan tentang pengetahuan medis pada masa itu. Sayangnya, diyakini bahwa banyak hasil kerjanya hilang dan hanya ada dalam kutipan-kutipan di terbitan selanjutnya.

Hasil kerja Al-Tabari terdiri atas Sembilan topik, yang masing-masing dibagi dalam banyak bab. Termasuk di dalamnya adalah:

    Pathologi umum, gejala-gejala penyakit internal dan prinsip umum terapi.
    Penyakit dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi kepala
    Penyakit mata, hidung, wajah, dan mulut
    Penyakit syaraf
    Penyakit dada dan tenggorokan
    Penyakit yang menyerang perut
    Penyakit yang menyerang liver
    Penyakit jantung dan paru-paru
    Penyakit yang menyerang pencernaan, saluran kencing, dan kelamin.

Al-Hakim (wafat pada 840) menulis sebuah buku, yang diketahui sebagai buku pertama dalam dunia Islam yang membahas ilmu medis dan banyak referensinya berasal dari Yunani, termasuk informasi mengenai fisiologi, operasi dan perawatan umum, dan lain sebagainya.

Yuhanna Ibn Masawyh (777 – 857) dikenal sebagai salah satu translator hebat yang menerjemahkan tulisan dari Bahasa Yunani ke Bahasa Arab, namun juga bertindak sebagai dokter bagi Khalifah dan bekerja di rumah sakit. Beliau dipecaya telah menulis buku berjudul ‘Kelainan Pada Mata’ dan ‘Pengetahuan Mengenai Pemeriksaan oleh Ahli Mata’, serta Kitab al Mushajjar al-Kabir, sebuah tulisan pendek mencakup deskripsi, diagnose, gejala, dan perawatan beragam penyakit.

Hunayan ibn Nishaq (808 – 873), dikenal sebagai Johannitus di Barat, adalah seroang titan dalam kedokteran Islam dan seorang penulis teks medis yang terpandang. Tulisan-tulisannya meliputi banyak bidang, selain itu beliau juga menerjemahkan banyak buku. Salah satu tulisannya adalah ‘Buku Dasar-Dasar Kedokteran’, yang sangat dipengaruhi oleh Galenus namun juga melingkupi banyak tambahan yang unik. Hasil karyanya mungkin adalah teks medis Islam pertama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin.

Kedokteran Islam dan Posisinya dalam Sejarah Medis

Jika Masa Kejayaan Islam adalah masa kemajuan intelektual dan ilmu pengetahuan, serta sosial dan filosofi, maka kontribusi terbesar Islam kepada dunia yang dibuat pada masa itu adalah kedokteran. Para ilmuwan Islam mengumpulkan berbagai macam informasi dalam jumlah yang luar biasa, serta menambahkan hasil pengamatan sendiri, mengembangkan tekhnik dan prosedur yang kelak akan menjadi basis dari kedokteran modern. Dalam sejarah medis dunia, kedokteran Islam menonjol sebagai sebuah periode kemajuan paling luar biasa sebelum tekhnologi modern abad ke-20.*/Tika Af’idah, dari berbagai sumber

Rep: Admin