Advertising

Tuesday, June 14, 2011

KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA”

KERAJAAN KANDIS “ATLANTIS NUSANTARA”

ANTARA CERITA DAN FAKTA

(Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia)
PEBRI MAHMUD AL HAMIDI


Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian.
[2] Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat Lubuk Jambi

Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.

RINGKASAN


Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut.





PENDAHULUAN


Nusantara merupakan sebutan untuk negara kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa menamakan kepulauan ini dengan Nan-hai yang berarti Kepulauan Laut Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantara yang berarti Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva (pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).



Migrasi manusia purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000 sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).


Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).


Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.


Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.


Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. Saat homo sapiens mendarat di Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.



Teori kedua yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).


Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis.


Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis.


TINJAUAN PUSTAKA


Nusantara dalam Lintasan Sejarah


Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya. Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima fase, yaitu zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, dan zaman kemerdekaan. Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah ditemukan bukti sejarah walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. Zaman sebelum Hindu/Budha masih dalam teka-teki besar, maka dalam menjawab ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan analisa keterkaitan antar kerajaan. Urutan tahun berdiri kerajaan di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.


Tabel 1. Kerajaan di Indonesia berdasarkan tahun berdirinya



NoNama KerajaanLokasi SitusPerkiraanTahun Berdiri
1.Kerajaan Kandis*Lubuk Jambi, RiauSebelum Masehi
2.Kerajaan Melayu JambiJambiAbad ke-2 M
3.Kerajaan SalakanegaraPandeglang, Banten150 M
4.Kepaksian Skala Brak KunoGunung Pesagi, LampungAbad ke-3 M
5.Kerajaan KutaiMuara Kaman, KaltimAbad ke-4 M
6.Kerajaan TarumanegaraBantenAbad ke-4 M
7.Kerajaan Koto AlangLubuk Jambi, RiauAbad ke-4 M
8.Kerajaan BarusBarus, Sumatra UtaraAbad ke-6 M
9.Kerajaan KalinggaJepara, Jawa TengahAbad ke-6 M
10.Kerajaan KanjuruhanMalang, Jawa TimurAbad ke-6 M
11.Kerajaan SundaBanten-Jawa Barat669 M
12.Kerajaan SriwijayaPalembang, SumselAbad ke-7 M
13.Kerajaan SabakMuara Btg. Hari, Jambi730 M
14.Kerajaan Sunda GaluhBanten-Jawa Barat735 M
15.Kerajaan Tulang BawangLampung771 M
16.Kerajaan MedangJawa Tengah820 M
17.Kerajaan PerlakPeureulak, Aceh Timur840 M
18.Kerajaan BedahuluBali882 M
19.Kerajaan PajajaranBogor, Jawa Barat923 M
20.Kerajaan KahuripanJawa Timur1009 M
21.Kerajaan JanggalaSidoarjo, Jawa Timur1042 M
22.Kerajaan Kadiri/PanjaluKediri, Jawa Timur1042 M
23.Kerajaan TidungTarakan, Kalimantan Timur1076 M
24.Kerajaan SingasariJawa Timur1222 M
25.Kesultanan TernateTernate, Maluku1257 M
26.Kesultanan Samudra PasaiAceh Utara1267 M
27.Kerajaan Aru/HaruPantai Timur, Sumatra Utara1282 M
28.Kerajaan MajapahitJawa Timur1293 M
29.Kerajaan IndragiriIndragiri, Riau1298 M
30.Kerajaan Panjalu CiamisGunung Sawal, Jawa BaratAbad ke-13 M
31.Kesultanan KutaiKutai, Kalimantan TimurAbad ke-13 M
32.Kerajaan DharmasrayaJambi1341 M
33.Kerajaan PagaruyungBatu Sangkar, Sumbar1347 M
34.Kesultanan AcehBanda Aceh1360 M
35.Kesultanan PajangJawa Tengah1365 M
36.Kesultanan BoneBone, Sulawesi Selatan1392 M
37.Kesultanan ButonButonAbad ke-13 M
38.Kesultanan MalakaMalaka1402 M
39.Kerajaan Tanjung PuraKalimantan Barat1425 M
40.Kesultanan BerauBerau1432 M
41.Kerajaan WajoWajo, Sulawesi Selatan1450 M
42.Kerajaan Tanah HituAmbon, Maluku1470 M
43.Kesultanan DemakDemak, Jawa Tengah1478 M
44.Kerajaan InderapuraPesisir Selatan, Sumbar1500-an M
45.Kesultanan Pasir/SadurangasPasir, Kalimantan Selatan1516 M
46.Kerajaan BlambanganBanyuwangi, Jawa Timur1520-an M
47.Kesultanan TidoreTidore, Maluku Utara1521 M
48.Kerajaan Sumedang LarangJawa Barat1521 M
49.Kesultanan BacanBacan, Maluku1521 M
50.Kesultanan BantenBanten1524 M
51.Kesultanan BanjarKalimantan Selatan1526 M
52.Kesultanan CirebonJawa Barat1527 M
53.Kesultan SambasSambas, Kalimantan Barat1590-an M
54.Kesultanan AsahanAsahan1630 M
55.Kesultanan BimaBima1640 M
56.Kerajaan AdonaraAdonara, Jawa Barat1650 M
57.Kesultanan GowaGoa, Makasar1666 M
58.Kesultanan DeliDeli, Sumatra Utara1669 M
59.Kesultanan PalembangPalembang1675 M
60.Kerajaan Kota WaringinKalimantan Tengah1679 M
61.Kesultanan SerdangSerdang, Sumatra Utara1723 M
62.Kesultanan Siak Sri IndrapuraSiak, Riau1723 M
63.Kasunanan SurakartaSolo, Jawa Tengah1745 M
64.Kesltn. Ngayogyakarto HadiningratYogyakarta1755 M
65.Praja MangkunegaranJawa Tengah-Yogyakarta1757 M
66.Kesultanan PontianakKalimantan Barat1771 M
67.Kerajaan PagatanTanah Bumbu, Kalsel1775 M
68.Kesultanan PelalawanPelalawan, Riau1811 M
69.Kadipaten PakualamanYogyakarta1813 M
70.Kesultanan SambaliungGunung Tabur1810 M
71.Kesultanan Gunung TaburGunung Tabur1820 M
72.Kesultanan Riau LinggaLingga, Riau1824 M
73.Kesultanan TrumonSumatra Utara1831 M
74.Kerajaan AmanatumNTT1832 M
75.Kesultanan LangkatSumatra Utara1877 M
76.Republik IndonesiaKepulauan Nusantara17-8-1945
Sumber: http://www.wikipedia.com (dengan olahan), *Tahun berdiri berdasarkan tombo adat

Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Namun dari Tabel 1 diatas dapat diperoleh gambaran bahwa peradaban Nusantara kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan tersebut.


Kerajaan Melayu Tua di Jambi


Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua yaitu, Koying, Tupo, dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera (Wikipedia, 2009).


Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga. Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.


Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po, Tchu-po, Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa dan Muara Tembesi atau Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che sebelum seroang sampai di Jambi Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu, Malalyu. Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.


Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negara sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama.



Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.


Kerajaan Kepaksian Sekala Brak


Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.


Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.


Kerajaan Salakanegara


Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.


Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun 150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.


Mitologi Minangkabau


Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Raja Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang hidup 354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia. Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan kebudayaan timur.



Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera).


Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).


Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di negeri Ruhum (Rum) mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar Zulkarnain menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat tiga orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja Diraja. Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga putranya sambil menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah itulah mereka nanti harus berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum, Maharaja Depang negeri Cina, Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).


Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya berangkat menuju daerah yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata bernama “jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama “keris sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah pedang yang bernama sabilullah.


Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putra itu ke arah timur, menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau Sailan ketiga saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina, Maharaja Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan pelayaran ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri atau disebut juga dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang). Setelah lama berlayar kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur itik, maka ditujukan bahtera kesana dan berlabuh didekat puncak gunung itu. Seiring menyusutnya air laut mereka berkembang di sana.


Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya.


Mitologi Lubuk Jambi[2]


Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.



Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih (sekarang berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau), sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.


Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.


Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.


Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.


Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.


Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.


Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).


Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.


Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.



Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).


METODOLOGI PENELITIAN


Penelitian ini dikelompkkan menjadi dua, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan terdiri dari mengumpulkan cerita/tombo/mitologi di daerah Lubuk Jambi dengan melakukan wawancara dengan pemangku adat setempat. Kemudian melakukan analisis topografi untuk mencari titik lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi kerajaan. Tahap berikutnya adalah melakukan ekspedisi/pencarian lokasi. Penelitian lanjutan adalah penelitian arkeologis untuk membuktikan kebenaran cerita/tombo. Data yang didapatkan di lokasi dianalisis dan dicari keterkaitannya dengan bukti sejarah dan cerita di daerah sekitarnya (Jambi dan Minangkabau). Penelitian pendahuluan mulai dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai April 2009, sementara penelitian lanjutan belum dilaksanakan karena keterbatasan sumberdaya.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Deskripsi Lokasi Kerajaan Kandis


Analisis topografi yang dilakukan pada peta satelit yang diambil dari google earth, ditemukan lokasi yang dicirikan di dalam tombo/cerita (bukit yang dikelilingi oleh sungai). Daerah tersebut berada pada titik 0042’58 LS dan 101020’14 BT (Gambar 1) atau berada hampir di titik tengah pulau Sumatra (perbatasan Sumatra Barat dan Riau). Lokasinya berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi, oleh pemerintah dijadikan sebagai kawasan hutan lindung yang dinamakan dengan hutan lindung Bukit Betabuh. Jarak lokasi dari jalan lintas tengah Sumatra lebih kurang 10 km ke arah barat, dengan topografi perbukitan.


Lokasi kandis atlantis









Gambar 1 Hipotesa Lokasi Istana Dhamna


Pencarian lokasi/ekspedisi dilakukan dengan peralatan navigasi darat sederhana, yaitu menggunakan peta, kompas, dan teropong binokuler. Pada lokasi yang dituju, ditemukan hal-hal yang mencirikan bukit tersebut sebagai peninggalan peradaban manusia. Lebih kurang 2 km sebelum Bukit Bakar ditemukan batu karst/karang laut yang berjejer, batu ini diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan (Gambar 2)


1


Gambar 2 Batu Karst yang diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan


Pada bukit yang dikelilingi oleh sungai yang sangat jernih, pada bagian puncaknya ditemukan batu karst yang memenuhi puncak bukit (Gambar 3). Batu karst itu pada lereng bagian timur dan utara tersingkap, sedangkan lereng selatan dan barat tertimbun. Lereng tenggara ditemukan seperti tiang batu yang diduga bekas menara istana (Gambar 4).



2



Gambar 3 Batu Karst yang memenuhi puncak bukit


Gambar 4 Tiang batu yang diduga bekas menara istana


Pada lereng timur bukit sebelah atas kira-kira 1200 m dari sungai ditemukan mulut goa yang diduga pintu istana, akan tetapi pintu ini pada bagian dalam sudah tertutup oleh reruntuhan batu. Pintu goa ini tingginya 5 meter dengan ruangan di dalamnya sejauh 3 meter, dan dalam goa tersebut terlihat seperti ada ruangan besar di dalamnya namun sudah tertutup (Gambar 5).5


Gambar 5 Mulut goa yang diduga pintu masuk istana


Pada lereng bukit bagian selatan sampai ke barat ditemukan teras sebanyak tiga tingkat, diduga bekas cincin air (Gambar 6), sementara lereng utara sampai timur sangat curam dan terlihat seperti terjadi erosi yang parah. Teras ini lebarnya rata-rata 4 m, jarak antara sungai dengan teras pertama kira-kira 200 m, teras pertama dengan teras kedua kira-kira 400 m, teras kedua dengan teras ketiga kira-kira 500 m dan panjang lereng diperkirakan 1500 m. Berdasarkan analisa di peta bukit ini dari timur ke barat berdiameter 3000 m, dan dari utara ke selatan berdiameter 3000 m, beda elevasi antara sungai dengan puncak bukit 245 m. Pada lereng barat daya, kira-kira pada ketinggian lereng 800 m ditemukan mata air yang mengalir deras. Ukuran ini berdasarkan perkiraan di lapangan dan pengukuran di peta satelit. Untuk mendapatkan ukuran sebenarnya perlu pengukuran dilapangan.


Gambar 6 Teras yang diduga bekas cincin air


Gambar 7 Sketsa Lokasi situs kerajaan KandisTitik Lokasi Kandis



Melihat ciri-ciri atau karakter lokasi, lokasi ini sangat mirip dengan sketsa kerajaan Atlantis yang ditulis dalam mitologi Yunani “Timeus dan Critias” karya Plato (360 SM). Mitologi ini menyebutkan “Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding”. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan). Ada kemiripan mitologi ini dengan mitologi yang ada di Lubuk Jambi.


Gambar 8 Perspektif Istana Dhamna menggunakan Sketsa Kerajaan AtlantisPerspektif


Ini hanya sebuah dugaan yang belum dibuktikan secara ilmiah, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Survei arkeologi yang dilakukan ke lokasi belum bisa menyimpulkan lokasi ini sebagai peninggalan kerajaan karena belum cukup barang bukti untuk menyimpulkan seperti itu. Namun sudah dapat dipastikan bahwa daerah tersebut pernah dihuni atau disinggahi manusia dulunya.


Analisa Mitologi Minangkabau vs Mitologi Lubuk Jambi


Terlepas dari benar tidaknya sebuah mitologi, kesamaan cerita dalam mitos tersebut akan mengantarkan pada suatu titik terang. Tambo Minangkabau begitu indah didengar ketika pesta nikah kawin dalam bentuk pepatah adat menunjukkan kegemilangan masa lalu. Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi, dua cerita yang bertolak belakang. Minangkabau mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Sultan Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain yang berlabuh di puncak gunung merapi. Air laut semakin surut keturunan Maharaja Diraja berkembang di sana hingga menyebar kebeberapa daerah di Sumatra. Lain halnya dengan tambo Lubuk Jambi, tambo itu mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain, berlabuh di Bukit Bakar dan membangun peradaban di sana. Dari Lubuk Jambi keturunan-keturunannya menyebar ke Minangkabau dan Jambi. Namun tambo tidak menyebutkan tahun. Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Lubuk Jambi yang berarti asalnya (lubuk) orang-orang Jambi. Menurut ceritanya, Kandis sejak kalah perang dalam ekspedisi Sintong dan penyembunyian peradaban mereka ceritanya disampaikan secara rahasia dari generasi ke generasi oleh Penghulu Adat atau dikenal dalam istilahnya ”Rahasio Penghulu”. Namun kebenaran cerita rahasia ini perlu dibuktikan.



Dari kedua tambo tersebut di atas, dapat ditarik benang merah yaitu ”sama-sama menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah Iskandar Zulkarnain”. Tapi dalam catatan sejarah yang diketahui Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great/ Alexander Agung) tidak mempunyai keturunan.


Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis


Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek philosopher) yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM). Plato adalah salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Plato sering bertualang, termasuk perjalanannya ke Mesir. Pada tahun 387 SM dia mendirikan Academy di Athena, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi model buat universitas moderen. Murid yang terkenal dari Academy tersebut adalah Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai saat ini.


Dengan adanya Academy, banyak karya Plato yang terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan dialog-dialog, yang paling terkenal mungkin adalah Republic. Karya tulisnya mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan, dari politik hingga ilmu alam. Dua dari dialognya “Timeus dan Critias” memuat satu-satunya referensi orisinil tentang pulau Atlantis.


Bagaimana hubungannya dengan Iskandar Zulkarnain, Iskandar adalah anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Iskandar. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Iskandar untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi.


Iskandar Zulkarnain murid dari Aristoteles, dan Aristoteles murid dari Plato. Dari hubungan ini dapat diduga bahwa keturunan Iskandar Zulkarnain yang sampai ke Lubuk Jambi terinspirasi untuk membangun sebuah peradaban/Negara yang ideal seperti Atlantis. Maka mereka membangun sebuah istana dhamna “sebuah replika Atlantis”. Namun semua ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam.


KESIMPULAN


Dari penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:




  1. Bukit yang terletak pada 0042’58 LS dan 101020’14 BT diduga sebagai situs peninggalan Kandis yang dimaksudkan didalam tombo/cerita adat.

  2. Kerajaan Kandis diduga sebagai peradaban awal di nusantara.

  3. Kerajaan Kandis merupakan replika dari kerajaan Atlantis yang hilang.


Kesimpulan ini masih bersifat dugaan atau hipotesa untuk melakukan penelitian selanjutnya. Oleh karena itu penelitian arkeologis akan menjawab kebenaran dugaan dan kebenaran tombo/mitos yang ada ditengah-tengah masyarakat.


UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemangku Adat Kenogorian Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo, Syamsinar Dt. Rajo Suaro, Danial Dt. Mangkuto Maharajo Dirajo, Sualis Dt. Paduko Tuan, dan Hardimansyah Dt. Gonto Sembilan), Drs. Sukarman, Mistazul Hanim, Nurdin Yakub Dt. Tambaro, Abdul Aziz Dt. Dano, Bastian Dt. Paduko Sinaro, Ramli Dt. Meloan, Marjalis Dt. Rajo Bandaro, dan Syaiful Dt. Paduko. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Meutia Hestina, Apriwan Bandaro, dan teman-teman yang membantu penulis dalam ekspedisi: Mudarman, bang Sosmedi, Yogie, Nepriadi, Zeswandi, bang Izul, Diris, Ikos, dan Yusran. Mas Sam dan Erli terima kasih atas informasinya.



DAFTAR PUSTAKA


Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.


Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.


Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.


Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.


Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.


Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.


Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.


Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.

Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.




[1]Koordinator Tim Penelusuran Peninggalan Kerajaan Kandis di Lubuk Jambi Negeri Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau

2] Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat Lubuk Jambi

Comment Untuk Kerajaan Di atas

  1. Berdasarkan penelitian Robert Blust (1999), juga hasil investigasi Austronesian Basic Vocabulary Database (2008), dari 10 cabang bahasa Austronesia, 9 cabang bahasa Austronesia terdapat di Pulau Formosa (Taiwan) sementara sisanya yang 1 cabang yaitu Melayu-Polinesia tersebar dari Madagaskar sampai Pulau Paskah dan dari Pulau Luzon sampai Selandia Baru. Ini mengimplikasikan rumpun bahasa Austronesia berasal dari Taiwan baru kemudian menyebar ke seputar Pasifik.

  2. Makalah anda adalah sesuatu yang baru bagi awam dan saya unjuk salut kepada anda. Akan tetapi ada beberapa ganjalan atas paparan anda tentang kaitan Kerajaan Kandis dengan Atlantis yang diceritakan Plato dalam Cretias dan Timeus.

    Apakah anda lupa bahwa Plato menceritakan Atlantis exist 9000 tahun sebelum masa Plato, atau kira-kira 11.400 tahun lalu? Penelusuran terbaru tentang Atlantis memang mengarah ke Pulau Sumatra, tetapi paparan anda tentang Kerajaan Kandis sebagai replika Atlantis hanya beberapa kecocokan saja, padahal ada puluhan check list yang harus disesuaikan untuk fokus kepada pendekatannya.

    Mitologi2 yang anda paparkan sangat sedikit kaitannya dengan cerita Atlantis, justru yang fokus adalah bahwa penguasa Atlantis disebutkan memiliki 5 pasang garis keturunan, belum lagi ukiran2 dan ciri-ciri fisik lainnya.

    Masih sangat banyak clue yang harus disesuaikan untuk mengarahkan Atlantis berada di salah satu wilayah di Pulau Sumatra sebelum membuat kesimpulan hipotetik. Walau demikian, makalah ini cukup menarik untuk menjadi wacana yang diminati orang. Selamat mencari…

    • Mungkin saja cerita Atlantis juga banyak didengar oleh orang2 Indonesia pada jaman dahulu, sehingga mereka ingin coba meniru dan akhirnya membuat replika seperti Atlantis.

      Satu lagi yang saya bingung, pernah baca di internet bahwa ada utusan dari China yg mengatakan bahwa, kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad ke 3M. Tapi di tabel dlm cerita ini kok bisa menjadi 771M?

      Dalam cerita yg lain juga mengatakan bahwa kerajaan Tulang Bawang adalah kerajaan yg pernah berjaya pada masa Hindu dan sudah ada sebelum munculnya kebesaran kerajaan Sriwijaya, bahkan katanya kerajaan Sriwijaya merupakan bentuk federasi dari kerajaan Tulang Bawang dan kerajaan Melayu Jambi, dari cerita ini mendukung ttg kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad 3M.

      Mudah-mudahan ada yg berkenan menjelaskan ttg hal ini atau berbagi informasi ttg kerajaan Tulang Bawang. Saya ingin sekali banyak mendapatkan informasi sejarah kerajaan Tulang Bawang, karena saya berasal dari daerah Tulang Bawang.

  3. Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.

    Paragrap diatas saya petik dari artikel; yang menjadi pertanyaan adalah; Apakah rajanya yang memerintah tahun 130 – 168 anda sebut seorang haji? sementara Islam mulai berkembang di tahun 1 Hijrah adalah tahun 622 Masehi. Atau apakah anda ada salah ketik mengenai tahun yang seharusnya disebut tahun Hijrah (130 H – 168 H). Coba anda telusuri lagi sumber anda supaya tiak menjadi sejarah asal-asalan di makalah anda?

  4. Ulasan saudara tentang Kerajaan Kandis sebagai replika Atlantis hanya beberapa kecocokan saja namun itu tidak boleh dijadikan acuan untuk menjeneralisasi semua suku budaya di kepulauan nusantara itu sama. Di Timor tidak ada sangkut pautnya dengan kajian saudara dan memang tidak ada hubungan ko.Mitologi2 yang saudara sajikan sangat tidak ada kaitannya dengan cerita Atlantis, apalagi dengan wilayah Indonesia Timur seperti Timor, Molukas, Papua, sulawesi dan pulau-pulau lainya. Kelihatannya anda sedang bermimpi dan silahkan anda bermimpi tetapi jangan terbuai mimpi-mimpi disiang bolong. Sumber nya mana ……………???????????????


  5. Tulisan yang bagus Pak, mohon izin share dan copy paste Pak utk menambah wawasan saya dan teman2. Terimakasih.


  6. Tak Tau mau mengatakan apa, memang luar biasa, yang perlu di tindak lanjuti adalah sosialisasi kepada masyarakat. terutama masyarakat kuantan singingi sendiri yang banaayk tidak mengatahui..dan perlu di patenkan ke dunia internasional


  7. Artikel yang menarik, terutama dengan menghangatnya hasil analisis Atlantis oleh Prof. Santos. Mudah2an analisis Prof. Santos mengenai Atlantis ini menggugah kita untuk lebih semangat, lebih bangga dan tentunya ini semua untuk kemajuan negeri kita Indonesia.

    Indonesia super power………………….
    Ada masukan saja untuk tulisan ini mengenai Alexander/Iskandar Zulkarnain. Beberapa tulisan mengatakan bahwa Iskandar Zulkarnaen yang ada di Al Quran itu beda dengan Iskandar/Aleksander Zulkarnaen di Yunani.
    Oleh karena itu boleh jadi hikayat tetua kita dari Minangkabau dan Jambi bahwa mereka keturunan Iskandar Zulkarnaen tidak salah, karena boleh jadi bukan Iskandar Zulkarnaen zaman Yunani, tetapi yang lain, yang ada pada Al Quran.
    Terima kasih.

  8. Bagus sekali informasinya, selama ini kerajaan kandis tidak pernah diungkit dalam literatur pelajaran sekolah, yang saya tahu kandis itu merupakan daerah kabupaten di Provinsi Riau, letaknya antara rumbai dan duri (kampung halaman saya). Kita patut bangga jika benar atlantis itu adalah sundaland, berarti moyang kita orang hebat. Sayang sekali sekarang kita sedang terpuruk. tapi begitulah hidup, patah tumbuh hilang berganti….


  9. Saya adalah generasi ke-4 Sultan Bulungan yang Terakhir, Sultan M.M.Djalaluddin dari Kerajaan Bulungan Kalimantan Timur. Sedikit koreksi untuk daftar kerajaan diatas. Kerajaan Tidung tidak ada….kecuali bila legenda tangkuban perahu diakui sebagai sejarah. Yang ada adalah Kerajaan Bulungan, dapat dibuktikan dengan adanya makam dan situs eks istana (Istana musnah dalam peristiwa pembantaian massal oleh TNI pd th 1965) Kerajaan Belanda juga mencatat adanya kerajaan Bulungan. Mohon agar daftar diatas di koreksi agar tidak terjadi penyimpangan sejarah.

  10. Ada beberapa comentator yang masih keberatan tapi itu menjadi suport untuk lebih giat lagi mencari sumber sebagai jawaban atas clue.. tapi dengan berani meneliti dan membuka wacana itu akan serta merta mengundang semua arkeolog dunia mencari tau juga…..

    salu kok buat bung pebri maslah benar tdk…mash perlu harus di periksa…..soalnya ini mslah sejarah…dan makalah andasudah diterbitkan dlam bentk buku……kalo ini sampe salah ……anda telah ,merubah salah…tp hebat buat anda

  11. Boleh nimbrung nih,..? Yang pasti,..wilayah kita Indonesia adalah Surga,.berarti dari jaman dahulu kala Nusantara kita ini,.sudah di datangi dan di duduki oleh,.orang asing. yaitu Iskandar muda. bisa saja iskandar muda datng ke nusantara karena cerita Arisroteles mengenai benua emas,.ato Andalas,.ato memurut Pluto Atlantis. di mana Pluto mempunyai murid Aristoteles dan Iskandar Zulkarnaen adalah murid yang di tunjuk langsung sang raja untuk menjadi penasehat anaknya yaitu raja Iskandar Zulkarnaen. tentu yang jadi pertanyaan adalah apa di saat Iskandar Zulkarnaen datang ke wilayah Nusantara apa di sana sudah ada penghuninya,..? klo ya,..ya itu keturunan asli Indonesia.

  12. Mohon diralat tentang tahun tahun berdirinya Kerajaan Tulang Bawang Lampung, karena menurut cerita pengembara I-Tsing dan Tom Pires, kerajaan Tulang Bawang telah berdiri sejak abad ke-3, lebih dahulu berdiri sebelum Kerajaan Sriwijaya di Palembang.

  13. Yang HAQ akan kembali kepada yang HAQ sedang yang bathil akan binasa (buka saja Alqur’an), sebenarnya mereka para ahli kitab (terutama leluhur Israel) sangat percaya & mengerti tentang sejarah dunia ini tapi mereka mengingkari (menutupi), lantas bagaimana dengan Islam (silahkan segera pelajari alquran, seperti israel) pasti akan lebih paham, kalau masih bingung/susah, pelajari saja sejarah Indonesia minimal dari tahun 1945-1955 disana masih ada kesimpang siuran sejarah tentang Darus Islam (DI/TII) & PKI. Kenapa bisa ada DI/TII (atau yang dikenal sekarang NII) & PKI apa hanya karena perebutan kekuasan atau ada unsur antek penjajah?
    Yang pasti Indonesia ini akan dipimpin oleh mereka yang memakai Alquran yaitu NEGARA ISLAM INDONESIA (NII) dengan bentuk REPUBLIK, yang memiliki bukti nyata dalam bentuk Pembangunan Modern (sekarang sudah berdiri megah, tapi sering ditutupi kegiatannya oleh pemerintah Republik Indonesia), ciri kegiatannya adalah pembangunan ekonomi & pendidikan (tidak mengajak pada hal yang berbau anarkis, sporadis)

  14. Pingback: Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap ? « Reinventing Atlantis Ancient Sunda Civilivation

  15. Kerajaan Adonara, di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur, Prov NTT. Data yang bersumber dari mana bahwa berlokasi Jawa Barat?

  16. maaf pak, saya mau ikut mengkoreksi sedikit, seperti halnya komentator2 diatas, memang banyak kesalahan penulisan baik tahun maupun lokasi kerajaan2 di daftar yang anda buat, seperti tulang bawang, kemudian anda juga salah menuliskan lokasi taruma negara, karena taruma negara bukan di banten tapi di jawa barat, taruma negara tidak berada di wilayah tangerang saat ini, tapi antara karawang dan bekasi, munkin anda bisa mendalami dengan menelitinya lebih dulu…terima kasih…

  17. wah wah wah nampaknya semakin menarik untuk dikaji sejarah nusantara ini, salut untuk penulis & para commentator yang sudah ikut andil dalam penelusuran sejarah nenek moyang kita. . .
    Ya walaupun masih banyak ketidaksempurnaan dalam penulisan yang dipaparkan tetapi harus menjadi tantangan bersama untuk mengungkap sejarah yang telah digelapkan oleh orang2 tertentu yang tidak menginginkan bangsa ini besar & maju.
    Nah makanya untuk penulis saya sarankan untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan data2nya jangan sampai ada kesalahan tahun & tempat (biar gag dibilang asal-asalan) karena bisa berakibat fatal dalam pengungkapan fakta sejarah yang sebenarnya. Dan untuk para commentator juga jangan cuma bisanya ngomong doang, tapi buat juga dong tulisan yang kualitasnya bisa lebih baik dari ini.
    Yang penting penelusuran sejarah tidak berhenti sampai disini teman2.
    Sukses for All. . .

  18. Maaf Daftar diatas kurang, Kerajaan Luwu Periode I di Sulawesi telah berdiri SM jauh sebelum ada kerajaan di Nusantara, Kerajaan Luwu Periode II sekitar abad 7 M dengan Raja I Simpurussiang. Silahkan baca artikel “Sureq I Lagaligo” karya sastra Luwu terpanjang dan kitab tertua sastra karya manusia didunia. oleh Prof. A. Kern (Antropolog Belanda 1800-an) mensejajarkan dengan kitab Yunani Kuno dangan Mahabarata. Supaya lengkap khasanah budaya dan sejarah kita, dan tidak menutup kemungkinan justru di Luwu lah Pusat Atlantis itu. Anehnya Sejarah Luwu dengan kebesarannya justru sangat dikenal di Dunia dibanding sejarawan di Indonesia. Jadi perlu ada pelurusan sejarah, terlalu banyak sejarah di Indonesia yang diputarbalikkan. sekedar info.

    • wah, itu yang membuat saya juga penasaran,. Saya belum baca dan belum punya buku Sureq I Lagaligo itu. Apakah Bapak bisa membantu saya untuk mendapat buku itu atau copynya? Ada kemungkinan besar Atlantis itu di Sulawesi, sebab beberapa sarjana yang menelitinya, misalnya Oppenheimer, mengidikasikan bahwa peradaban EDen in The East itu berada di sekitar pantai Timur Sunda Land (Sulawesi & Kalimantan Timur, atau di NTT-NTB ?


  19. Historis. ”Kerajaan timor yang hilang”
    ”KING OF WEST TIMOR”
    sesungguhnya………..:Moyang kerajaan timor datang dari india belangkang (madagaskar) sudah ber juta-juta tahun yang lalu, mereka datang di pulau timor perahunya bersandar di tempat yang bernama fatu kopan/bahtera nuh yang sekarang di kenal niki-niki dan mereka mendiami di tempat bernama tunbestua/niki-niki sampai abad ke 8/9 mereka berpindah ke kupang ada dua tempat yang pertama kantor bupati kupang dan yang ke 2 gunung taibenu’ dan mreka berpindah dari tunbestua/niki-niki mereka mengangkat nubatonis menjadi raja di tempat itu dan menjaga kerajaan itu. dan sesampainya di kupang lalu berpindah ke amarasi oekabiti/oebaki dan mendirikan kerajaan timor terakir di hutan larangan amarasi sampai sekarang ini tempatnya bernama kopan taimetan. dan sebelum mereka berpindah ke amarasi di abad ke 12 dan 13 mereka mengangkat taibenu menjadi raja di tempat itu agar dapat menjaganya peninggalan kerajaan timor.
    kaisar kerajaan timor dan 2 orang raja yang pertama kali di west timor :
    kaesar kerajaan timor namanya KOPAN TAIMETAN’ dia mempunyai 2 orang raja yang bernama Usif Natun (amanatun) ke 2 Usif Nuban (amanuban). dan Usif natun adalan raja bagian barat pulau timor dan raja amanuban bagian timur pulau timor, dan raja amanatun ini adalah raja yang terkenal paling jahat dan ilmunya sangat tinggi dan perhiasannya terbuat dari emas, dan kalau raja amanuban ini raja yang suka merangkul (baeik) dan 1 kaisar dan 2 raja ini lah yang sebenarnya.
    Masa penjajahan belanda……..
    kerajaan timor yang pertama kali menentang kerajaan belanda keturunan kaisar timor yang bernama Kaisar Nepkeo/amarasi dia lah panglima perang ke 3 dari kerajaan timor, maka dari itu belanda membentuk kerajaan2 kecil di pulau timor agar menghilangkan keturunan kaisar timor sehingga pengikut kaisar timor di bantai belanda habis-habisan di penjara imigran kupang sekarang ini (jembatan selam) sehingga yang melindungi kaisar timor ini dari belanda dengan memutarbalikan fakta dari seorang tamukung amarasi yang bernama ELISA NUBATONIS/TAINNESU’ sehingga belanda tak lagi mencari kaisar timor dengan sebutan KETURUNAN KEO’kalau di jaman belanda sebut keo di bantai ! ternyata masih tertinggal 1 orang yang ber nama RUBEN KEO/RAISTANIS/NEPARASI. jadi di tahun 1719 kaisar TIMOTIUS KEO/TANIS/TAINNEPA keturunan ke 4 dari kaesar timor menyerahkan tongkat kerajaannya ke raja amarasi ke 2 KORO.
    Sisilah keturunan KAISAR KOPAN TAIMETAN1. KAISAR KOPAN TAIMETAN 2. KAISAR KEO 3. KAISAR NEPKEO/AMARASI (makanya amarasi jadi namanya) 4. KAISAR TIMOTIUS KEO/TANIS/TAINNEPA 5. RUBEN KEO/RAISTANIS/NEPARASI 6. SIMON PETRUS KEO
    Daerah kekuasaan kerajaan timor sampai ke madagaskar.

  20. Artikel yang sangat bagus. Lanjutkan dengan karya2 bagus lainnya. Hidup Nusantara!

  21. KERAJAAN ATLANTIS BERIBUKOTA DI SEKITAR NTT, NTB, MALUKU, SULAWESI !!!
    Oppenheimer, mengidikasikan bahwa peradaban EDen in The East itu berada di sekitar pantai Timur Sunda Land (Sulawesi & Kalimantan Timur, atau di NTT-NTB ? Seperti dikoreksi oleh Bapa Ahmad Samantho di atas itu, sesungguhnya Taman Eden ada di wilayah Maluku, Sulawesi, NTB, NTT sesuai ditunjukan Garis Wallace-Weber, sebagai wilayah Tengah pembagi fauna-flora ke dataran Sunda (Barat) dan ke dataran Sahul (Timur). Wilayah ini juga yang menjadi pembagi lautan pada musim tertentu , Pusat Pusaran di Laut Banda: yakni membagi laut ke perairan lautan Pasifik dan Lautan Hindia

    Juga menjadi gerbang untuk berlayar ke Timur maupun berlayar ke Barat, maupun berlayar dari wilayah Selatan dunia ke wilayah Utara dunia, yakni dari selatan, Timur gerbangnya ada di laut Sawu (antara pulau Timor, Sumba,..menyusur ke dalam Pulau Flores dan Kepulauan Solor: adonara, solor, lembata, alor) masuk melalui selat ombai (Alor), terus Laut Banda menyusur terus ke laut diantara Kepulaun Maluku)…terus ke Barat Amerika melalui Lautan Pasifik, atau juga ke Kutub Utara Dunia. Serta berbagai ciri-ciri atlantis lain, GAJAH, membuat perahu layar, wewangian Cendana, Emas, rempah-rempah, sabuk gunung api, mitos tentang Garuda sebagai pesawat angkasa, karakter laut bercincin, selat-selat sempit di kepulauan Solor dan perairan yang berbahaya, sehingga pelaut/pelayar yang belum biasa tidak mungkin menembus perairan itu untuk ke sebuah samudra atau dunia baru. Tata peradaban Salib Atlantis (Arysio Santos) yang dielaborasi dari gagasan filsuf kesohor Plato tentang sebuah tata susunan masyarakat yang telah berperadaban tinggi, dan itu menjadi Ibu Kandung Peradaban Dunia, itu selama ini diperaktekan suku bangsa Lamaholot, chususnya di Pulau Adonara.

  22. Maridup: Haji itu dari aji (sangsekerta), bukan dari Haji b. Arab/Islam.

  23. Hakusamada Hidiralasifa Lawabima Sangkalasifa “Dimana pusat logamulia di situ pintu ehmasa kini.Haka hukumuma takdira jalani siralasira”.

2 comments:

Achmad said...

thanks atas inponya gan, jadi nambah pengetahuan baru nih..jangan2 negeri Nusantara merupakan negeri sundaland alias surga yang hilang...hanya Tuhan yang tahu...

zainudin jani said...

Kerajaan tertua BANGSA MALA adalah KERAJAAN KEDAH TUA (Tapak arkeologi Sungai Batu), KERAJAAN LANGKASUKA dan KERAJAAN JAWAKA. Menganut AJARAN IBRAHIM, ajaran menTAUHIDkan Maha Pencipata dan mengamalkan IBADAH KORBAN SAPI (seperti yang disalah tafsirkan terhadap Kerajaan Kutai, bertentangan dengan agama hindu yang menganggap SAPI itu DEWA, masakan dikorbankan Dewa).Ajaran Ibrahim tidak meyembah patung maupun berhala, disebarkan oleh RAJA AGUNG ISKANDAR ZULKARNAEN melalui Jalan Sutera di Selatan India dan Campa (masakan Raja Agung Iskandar sebarkan agama hindu dan buddha) sebelum ke KEDAH TUA dan kemudiannya ke Kerajaan Kembarnya KEDAH JAMBI. Kerajaan dan Bangsa Mala digelar KERAJAAN BANGSA MALA-UR ( Ur adalah nama tempat kelahiran Raja Agung Isakandar dibawah KERAJAAN CHELDINA di zaman Nabi Allah Ibrahim...sumber Al Quran) menuturkan bahasa campuran sedikit Ibrani/Hebrew, Sanskrit dan Austronesia, menggunakan tulisan Pallava yang mempunyai pengaruh tulisan Hebrew dan mengamalkan budaya campuran India Selatan (bukan bererti hindu), Indocina (bukan bermaana buddha) dan Malayo Polinesia. Kesimpulannya Kerajaan Awal Mala dan bangsa Mala yang dipanggil MALA-UR, sama sekali bukan beragam hindu maupun buddha seperti yang ditafsirkan oleh kebanyakan para ahli sejarah yang rata-rata buta, pekak dan tuli.