Advertising

Friday, September 30, 2011

Istri Tapol G-30-S “disambar Hansip” atau “disambar Koramil”

Dari sekian banyak cerita-cerita yang di kisahkan dalam mengingat tragedi G30S pada hari ini, hampir seluruhnya menceritakan kekejaman dan kengerian atas tragedi tersebut. Setelah saya berselancar kesana kemari, nampaknya saya tertarik dengan sebuah penggalan cerita dari buku yang di tulis oleh korban G30S itu sendiri, yaitu Bapak H. Suparman, yang mengangkat judul dalam bukunya “Tragedi 1965; dari Pulau Buru sampai Ke Mekah.

H.Suparman merupakan merupakan putra Jawa Barat kelahiran Bandung. Buku ini termasuk otobiografi, namun goresan pena sang penulis tidak terjebak pada subyektivisme. Berbekal ilmu jurnalistik dan wawasan ilmu sosial dan ilmu agama yang memadai, H.Suparman mampu mengutarakan secara obyektif persoalan-persoalan kehidupannya berhubungan dengan dunia sosial dan politik.
Quantcast




cov_tragedi_65.jpg


Kutipan agak panjang di bawah ini akan mengantarkan kita untuk memahami latar belakang Suparman menulis buku ini, termasuk memberikan pemahaman kepada kita tentang kenyataan tragis politik Indonesia di masa silam;


Kalau mau dikatakan dosa, barangkali bagi saya, dosa itu hanyalah karena saya menjadi pimpinan umum dari sebuah surat kabar di Bandung, (Warta Bandung-pen) yang selalu mendukung politik Bung Karno. Lucunya, pada Peristiwa G-30 S itu, satu-satunya koran di Indonesia yang mem-back-out berita Dewan Revolusi yang diumumkan oleh Letnan Kolonel Untung Samsuri itu, adalah koran yang saya pimpin. Tapi anehnya lagi, saya dan kawan-kawan yang justru menjadi korban penangkapan dan kebiadaban militerisme Soeharto. Saya bersama rekan-rekan redaksi lainnya ditangkap, dijebloskan ke penjara dan akhirnya, saya sebagai pimpinan umum dan Sdr. H Rusman Saleh sebagai pimpinan redaksi dibuang ke Pulau buru tanpa proses peradilan.” (Hlm 26-27) Sejak 20 Oktober 1965, Suparman yang juga adalah Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat itu resmi menjadi tahanan politik Kodam III Siliwangi. Selama 13 tahun ia dipenjara, mendekam di Rumah Tahanan Kebon Waru selama 5 tahun, kemudian dikirim ke Pulau Buru selama 8 tahun -dengan transit di Nusa Kambangan selama 3 bulan.

Cerita tentang tahanan politik korban G 30 S beserta derita korban, termasuk perilaku sadis militer sudah banyak kita ketahui dari berbagai penjara di berbagai wilayah Indonesia. Anehnya, LP Kebon Waru Bandung yang memiliki banyak keunikan ini nyaris tidak banyak dipublikasikan dalam bentuk buku. Bahkan media massa pun terkesan enggan mengangkatkan sebagai sumber berita. Menurut Suparman, tempat pemeriksaan dan penyiksaan yang paling sadis memang bukan di Kamp Kebon Waru, tapi dari kamp-kamp ilegal yang tidak diketahui secara umum, antara lain di ruang bawah tanah Gedung Merdeka yang terletak di Jl Asia-Afrika. Teman-teman Suparman yang mengalami penyiksaan kejam militer itu menceritakan, sejak tragedi G-30-S 1965, Gedung Bersejarah itu digunakan oleh Angkatan Darat Kodam Siliwangi untuk menyiksa para tahanan; menyetrum tubuh, mencabuti kuku, merusak organ tubuh dengan benda-benda keras. Setelah tahanan dalam kondisi fisik dan mental yang tidak normal, selanjutnya mereka dibawa ke Kamp Kebon Waru.



Kamp Kebon Waru menurut Suparman sangat unik, bahkan tidak tertandingi oleh kamp-kamp pengasingan lain yang ada di Indonesia. Keunikannya, bukan hanya terletak pada tidak diberikannya makanan para tahanan, atau pada kebebasan yang relatif lebih longgar, atau juga bukan karena tiap hari Minggu dan hari libur menjadi pasar kerajinan, tetapi juga digunakan untuk “melepas rindu” suami-istri yang sudah lama berpisah.


Ada beberapa kamar yang bisa disewakan, yang dikelola para tahanan tertentu. Praktek ini bisa berjalan tentu berkat kerjasama petugas keamanan, dengan penjaga, bahkan mungkin dan tentu saja atas restu komandan kamp. Tidak heran kalau kemudian Kamp Kebon Waru sering dijuluki sebagai “surga” tahanan.(hlm 60). Di Kamp Kebon Waru, ihwal perceraian sangat menarik untuk diceritakan, sebab agak berbeda dibanding kisah perceraian dari penjara lain,-setidaknya itu yang saya bandingkan dengan kisah para tahanan di Penjara Cipinang, Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tangerang, LP Kalisolok Surabaya.


“Hampir setiap hari-bezuk ada saja keluarga istri-istri yang membawa lebai (penghulu) untuk meminta cerai kepada suaminya. Mungkin karena pelbagai faktor, terutama karena faktor ekonomi dan biologis”(hlm 81). Kebetulan Suparman juga bagian dari kisah tragis perceraian ini. Ia harus bercerai akibat istrinya selingkuh seorang tentara berpangkat letnan dua. Lebih unik lagi jika kisah perceraian itu dihubungkan dengan dunia luar (sumber penyebab) terjadinya perceraian. Menurut Suparman, (hlm 88), di desa-desa, komandan dan atau anak buah Babinsa dan Koramil-yang mata keranjang- merupakan “hantu-hantu” yang mengerikan, karena selalu bergentayangan di siang bolong mencari mangsa istri-istri tapol. Para istri ini menjadi mudah dijadikan bulan-bulanan militer dengan cara diintimidasi karena suaminya menyandang status pemberontak negara.“Biasanya anggota Koramil “menjarah” istri tapol itu kemudian mencampakkannya kembali. Akibatnya banyak “janda-janda korban Koramil” yang namanya di desa menjadi semakin terpuruk, karena di samping menerima tuduhan telah “mengkhianati” suaminya, juga telah menjadi “sampah” Koramil atau Babinsa. “Di kalangan tapol muncul pameo yang mengatakan, jika seorang tapol yang istrinya minta cerai, disebut sebagai “disambar Hansip” atau “disambar Koramil” (hlm 88).

Lima tahun menjadi tahanan Kamp Kebon Waru, Suparman beserta tapol lainnya dibuang ke Pulau Buru,-dengan transit di Pulau Nusakambangan selama 3 bulan. Pulau buru adalah goulaq, tempat pembuangan sekaligus penyiksaan. Menurut Dr Asvi Warman Adam (hlm 4), lebih dari 10.000 orang yang dikategorikan sebagai tapol Peristiwa G-30-S golongan B diangkut dari tempat-tempat penahanan di Pulau Jawa tahun 1969, mereka tidak tahu akan dibawa kemana. Setelah sekitar 10 tahun disiksa dan disuruh kerjapaksa, antara 1978-1979 mereka dipulangkan ke Pulau Jawa karena tekanan internasional terutama pemberian utang Indonesia. Tapi, kepulangan ini bukan berarti bahwa persoalan mereka telah selesai. Keretakan, bahkan pecahnya keluarga, stigmatisasi buruk di masyarakat dan kesulitan mencari nafkah adalah problem utama para tapol.

Dari penggalan kisah tersebut, bahwa tidak saja negeri ini telah dengan hausnya mengorbankan rakyatnya sendiri demi sebuah tahta dan harta. Namun ternyata masih banyak lagi kisah tragedi di balik peristiwa G30S tersebut, dengan ribuan nyawa melayang maka di balik korban itu maka dia telah meninggalkan seorang Istri dan anak-anaknya yang telah menjadi korban secara tidak langsung.

Banyak sejarah kelam negeri ini masih berselimut kabut belum terungkap pasti hingga saat ini, semoga negeri ini terus mampu belajar dari kegagalan-kegalan masa lalu untuk terus berjuang menjadi negeri yang mampu mensejahterakan seluruh anak negeri. Tragedi G30S merupakan perwujudan sebuah keserakahan dan kebiadaban segelintir orang atas nafsu duniawi. Semoga hanya sejarah itulah dan tidak akan terulang lagi di masa akan datang, dan semoga dengan adanya karya tulis dalam buku ini dapat memberikan wahana yang berbeda atas peristiwa tersebut.Terimakasih To; Faiz Manshur

Kiki Muntako

Mari lihat sejarah mereka!!!

Mari menengok kembali ke abad 13 SM (Sebelum Masehi) mengenai masyarakat Israel dan Palestina.

Menurut sejarah, tanah Palestina sebelumnya disebut sebagai tanah Kanaan. Suku-suku Kanaan menguasai tanah Kanaan lebih dari 1.000 tahun sampai sekitar tahun 1500 SM pada saat suku-suku Yahudi masuk dan tinggal di daerah itu. Suku-suku Yahudi ini nantinya bertikai dengan suku Filistin, yakni suku keturunan yang berasal dari Yunani. Dari kata Filistin inilah kata Palestina diciptakan.

Pada abad ke 7 M, Rasullullah memerintahkan kaum Muslim agar mengusir kaum Yahudi dari Jazirah Arab, kecuali jika kaum Yahudi itu setuju untuk bayar pajak spesial (Jizya) dan hidup di bawah pemerintahan Muslim sebagai warga negara kelas dua (berstatus sebagai dhimmi) di bawah dominasi Muslim. Dengan begitu, masyarakat dhimmi diperkenankan tinggal dan hidup di tempat itu selama mereka terus-menerus membayar Jizya (pajak khusus bagi non-Muslim) kepada penguasa Muslim dan hidup dengan hak-hak yang sangat terbatas. Minoritas Yahudi telah hidup di Palestina selama berabad-abad di bawah status dhimmi.

Kekaisaran Ottoman memperbolehkan kaum Yahudi hidup di daerah Arab selama mereka tetap berstatus sebagai minoritas dhimmi, tunduk di bawah hukum Sharia, dan tetap dikontrol oleh masyarakat mayoritas Muslim.

Sementara itu kaum Yahudi yang hidup di Eropa seringkali menderita penindasan oleh masyarakat Eropa karena mereka dianggap sebagai kaum elit. Pemimpin-pemimpin bisnis Yahudi cenderung memberikan jabatan kepemimpinan diantara orang-orang Yahudi, dan banyak orang Yahudi yang tidak berusaha untuk berbaur secara sosial dengan masyarakat non-Yahudi. Keberhasilan keuangan kaum Yahudi juga menyebabkan mereka punya pengaruh politik. Selain itu, kaum Yahudi percaya bahwa mereka adalah ‘bangsa pilihan’. Hal-hal ini menyebabkan timbulnya sikap anti-Semitisme di Eropa, dan puncaknya adalah Holokaus oleh Nazi Jerman di Perang Dunia II.

Akibat dari penindasan di Eropa ini maka timbulah gerakan Zionisme di tahun 1897. Zionisme intinya adalah gerakan politik yang menginginkan terbentuknya negara Yahudi dan ini disebut sebagai “Tanah Air Negara Yahudi”.

Kaum Zionis awalnya berurusan dengan masalah politik dan pemeliharaan budaya Yahudi. Kebanyakan pemimpin utama kelompok ini adalah Yahudi sekuler dan bukan Yahudi relijius. Zionisme bertujuan untuk mendirikan Negara Israel, dan mengajak semua Yahudi di dunia untuk tinggal di sana.

Gerakan Zionis terpecah diantara kaum Yahudi; yang di satu pihak menginginkan tanah air yang sekuler dan di lain pihak menginginkan tanah air yang berdasarkan aturan agama.

Inggris dahulu menawarkan Uganda sebagai tempat tinggal bangsa Yahudi. Tapi saat ini banyak kaum Zionis yang menganggap Palestina sebagai negara relijius mereka. Banyak kaum relijius Yahudi yang menganggap sudah kewajiban mereka untuk menguasai tanah mereka, sama seperti yang tertulis di kitab suci mereka ketika kakek moyang mereka menghadapi bangsa Filistin dan Kanaan. Para pemimpin politik sekuler lalu mulai menggunakan pesan2 relijius untuk mensahkan tindakan politik mereka.
Di akhir Perang Dunia I, Kekaisaran Ottoman kalah dan Inggris berkuasa atas tanah Palestina melalui mandat dari PBB. Inggris kemudian terlibat dalam persetujuan-persetujuan yang saling bertentangan yakni dengan orang Yahudi dan orang turunan Arab di wilayah Palestina itu. Tidaklah mungkin bagi Inggris untuk memenuhi perjanjian-perjanjian ini seluruhnya. Tanah Palestina saat itu dihuni oleh sekitar setengah juta orang. Kaum mayoritas adalah para petani dan pekerja Arab yang tinggal di daerah pedesaan.

Begitu gerakan Zionisme berkembang, dengan kekayaan yang mereka miliki orang-orang Yahudi mulai membeli lahan-lahan tanah yang luas dari pemilik tanah Palestina. Masyarakat Yahudi juga mulai meninggalkan Eropa dan bermukim di Palestina, dan ini mengakibatkan timbulnya nasionalisme Arab di seluruh daerah Palestina.

Terjadinya Holokaus di PD II mengakibatkan dorongan internasional yang mendesak untuk membentuk negara Yahudi. Inggris menyerahkan tanggung jawabnya atas Palestina kepada PBB yang saat itu baru saja terbentuk. Dengan pimpinan AS dan Uni Sovyet, resolusi PBB nomer 181 membagi tanah Palestina jadi 3 bagian:

(1) Wilayah yang diberikan kepada mayoritas orang Yahudi, yang selanjutnya disebut negara Israel,

(2) Wilayah yang diberikan kepada mayoritas suku Arab, dan

(3) Wilayah netral di Yerusalem

Resolusi ini diajukan dan disetujui anggota-anggota PBB di tahun 1947, tapi ditolak oleh negara-negara Arab. Para Arab menganggap bahwa pembentukan Negara Israel sangat bertentangan dengan agama mereka, yang jelas-jelas memerintahkan bahwa seluruh Jazirah Arabia harus dan hanya dikuasai oleh Muslim saja. Israel terletak di tanah yang sama dengan Jazirah Arabia. Masyarakat Arab Palestina merasa PBB berpihak pada Zionis Israel.

Setelah negara-negara Arab menolak resolusi PBB, Inggris menolak mendukung berdirinya negara Israel sebab jika Inggris mendukung maka ini akan jadi sumber persengketaan dengan negara-negara Timur Tengah. Inggris tidak mau membantu kaum Yahudi untuk pengalihan kekuasaan kepada Pemerintah Yahudi.
Di tahun 1948, Palestina dihuni orang-orang Yahudi dan orang Palestina yang kebanyakan adalah orang-orang turunan Arab.

Hal ini berubah drastis setelah Israel menjadi negara independen. Israel mengumumkan kedaulatannya di tanggal 14 Mei 1948. Negara-negara Arab seperti Yordania, Mesir, Siria, Lebanon dan Irak serta merta mengumumkan perang terhadap Israel dengan tujuan mengubah isi resolusi PBB, karena mereka tidak sudi membagi tanah Jazirah Arabia dengan kaum Yahudi. Tiada alasan lain serangan mereka selain hal itu, karena sebenarnya negara-negara mereka tidak terpengaruh secara langsung atas berdirinya negara Israel. Dengan mengumumkan slogan “Dorong Yahudi Masuk Laut” (atau maksudnya: Basmi Kaum Yahudi, mereka lalu menyerang. Menurut catatan resmi sensus League of Nations dan Arab, sekitar 539.000 orang Arab meninggalkan Israel atas himbauan pihak tentara Arab. Tentara Arab punya dua alasan dalam mengajak orang Arab ke luar dari Israel:

(1) untuk mengamankan orang-orang Arab dari daerah perang;

(2) mereka mengira jika semua orang Arab ke luar dari Israel, maka ekonomi Israel akan hancur karena sebagian besar pekerja di Israel adalah orang-orang turunan Arab.

Para pengungsi Arab dijanjikan oleh negara-negara Arab yang berperang ini bahwa mereka tidak hanya diperbolehkan kembali ke rumah-rumah mereka setelah Arab menang perang atas Yahudi, tapi juga boleh mengambil alih harta dan tanah yang tadinya dimiliki oleh orang-orang Yahudi.

Hajj Amin al-Husseini (Mufti Yerusalem) memimpin orang-orang Arab melawan Israel. Dia dituduh sebagai Mufti yang bekerja sama dengan Nazi di Nuremberg sebelum dia akhirnya melarikan diri di tahun 1946.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa Hajj Amin al-Husseini aktif mendukung tujuan Hitler untuk membasmi Yahudi di PD II. Selama peperangan antar Israel melawan negara-negara Arab, kaum Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab seperti Mesir, dilarang meninggalkan negara oleh penguasa-penguasa Arab guna mencegah mereka mendukung Israel.

Waktu itu kaum Yahudi hanya memperoleh senjata dari satu negara saja: Cekoslowakia. Tapi anehnya, bukan hanya mereka mengalahkan semua negara-negara Arab tsb, tapi mereka berhasil merampas tanah Arab dan ini biasa dianggap sebagai konsekuensi kalah perang. Israel bukanlah satu-satunya negara yang mengambil tanah lawan yang kalah perang. Yordania juga mengambil tanah Daerah Barat (West Bank) yang dulu dikenal sebagai tanah Yahudi Yudea dan Samaria, termasuk daerah Yahudi Timur Yerusalem (yang sekarang disebut sebagai daerah Arab Yerusalem), dan Mesir mengambil Jalur Gaza. Kedua negara Mesir dan Yordania membunuh dan mengusir SEMUA orang Yahudi yang hidup di negara-negara mereka saat itu.

Setelah kalahnya negara-negara Arab, sekitar 850.000 orang Yahudi diusir paksa dari negara-negara Arab di mana mereka tinggal selama berabad-abad. Kaum Yahudi ini dipaksa meninggalkan harta benda dan tanah mereka. Akhirnya mereka masuk ke tanah Israel tanpa uang sepeser pun. Para pengungsi Yahudi ini disambut hangat oleh negara baru Israel. Mereka diberi sandang, pangan, dan papan.

Pengungsi Arab yang tadinya meninggalkan Palestina dan lalu tinggal di negara-negara Arab tidak disambut dengan hangat dan hanya ditempatkan di kamp-kamp/barak-barak pengungsi. Badan Pengungsi PBB lalu menyediakan bantuan ketika negara-negara Arab tidak mau atau tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup para pengungsi. Banyak barak-barak pengungsian ini yang lalu berubah jadi tempat latihan terorisme yang diolah oleh negara-negara Arab sendiri.

Siria, misalnya, menyediakan senjata-senjata dan latihan-latihan bagi para pengungsi. Akan tetapi, ketika Israel mengalahkan Arab, negara-negara Arab tidak mau mengakui para pengungsi Palestina sebagai warga negara di negara mereka. Kebanyakan pengungsi Palestina ditelantarkan dan tidak diberi hak-hak warga negara. Ini kemudian jadi masalah permanen Palestina.

Yordania dan Mesir menduduki tanah rampasan mereka selama 19 tahun dan selama masa itu mereka tidak mau menciptakan negara berdaulat untuk orang-orang Arab yang tinggal di daerah itu (sekarang semua orang-orang Arab itu disebut sebagai orang Palestina). Yordania dan Mesir juga tidak berusaha mengajak orang-orang Palestina itu masuk ke negara mereka atau memberi mereka status warga negara Yordania atau Mesir. Kuburan2 orang Yahudi dibongkar dan batu2 nisan mereka digunakan sebagai bahan jalanan dan bahan bangunan. Rumah-rumah dan tanah Yahudi diberikan kepada para pemimpin Arab.

Itulah sekilas latar belakang konflik antara Israel dan negara-negara Arab.
Sinuratjhon

Willy: Wanita Pemenggal Kepala NICA

Gambar kekuningan dimakan usia yang difotokopi dari majalah/koran tanpa nama bertanggal Oktober 1950 itu membuat saya terpaku di depan papan mading salah satu ruang pamer Museum Brawijaya, Malang. Di bawah gambar wanita berparas manis, putih, masih muda diberi keterangan “Willy anggota Laswi yang dilatih perwira PETA berjuang di …… Bandung Selatan.” Sebuah judul dalam huruf kapital tebal WILLY ANGGOTA LASWI PEMENGGAL KEPALA NICA tercantum di bawahnya. Tak ada tambahan keterangan lainnya yang bisa membantu saya untuk mengenal lebih jauh Willy siapakah gerangan wanita ini? Dengan apa dan berapa kepala NICA (=Netherlands-Indies Civil Administration) yang dipenggalnya?



Ada yang bisa memberikan sedikit informasi siapa wanita ini?



1317380110987910628

Potongan kliping di mading museum Brawijaya,Malang


Sayang bahwa dokumentasi peristiwa bersejarah yang penting untuk generasi selanjutnya tidak dilengkapi dengan data yang detail. Seperti kesan yang disampaikan oleh LetJend Ahmad Yani yang terpampang di pintu masuk ruang pamer Museum Brawijaya bahwa : Kekurangan yang terdapat dalam revolusi phisik kita adalah dokumentasi yang faktueel untuk anak cucu kita dikemudian hari. Karena itu saya anjurkan mulai sekarang mumpung pelaku-pelakunya masih hidup untuk in beeld brengen (melukiskan) moment-moment yang bersejarah itu.
1317380167690863352

Kesan-kesan Pangad Letnan Jendral A.Yani di Surabaya


Lalu apa yang dilakukan oleh kurator dan konservator di museum kalau begitu?
Olive Bendon

Mengenang Tragedi dan Konspirasi PKI

13173832161456433864


Pertanyaannya sederhana, sebenarnya setiap kali bangsa ini menemui pertemuan waktu antara 30 september dan 1 oktober, apa yang kemudian kita kenang? Sebagian orang bersikap mirip seperti buku sejarah sekolahan, hanya mengulang-ulang tentang nama jendral yang dijebloskan ke dalam sumur. Sedangkan 30 tahun lebih bangsa ini terus dicekoki oleh film-film yang juga diskenario-kan mirip buku sekolahan. Bahwa PKI berkonspirasi melakukan kudeta atau meng-komuniskan negeri ini terus dianggap satu-satunya sejarah paling benar. Sementara dengungan jangan sekali-kali melupakan sejarah juga dikooptasi menjadi hanya satu sejarah yakni sejarah milik pemerintah.

Adakah alternatif lain dari sejarah? Banyak. Namun terus diredam kemunculannya agar masyarakat lagi-lagi hanya berada pada satu dimensi. Akhirnya yang terjadi mirip seperti di Amerika ketika tragedi 9/11 atau Holocaust pada masa Nazi. Begitu ada orang-orang yang berusaha menyajikan pembacaan berbeda maka akan dituduh subversif, hal ini karena kejadian semisal tragedi 30 september atau 1 oktober PKI sudah dianggap sebagai tautologi yang tak terbantahkan. Dan sejarah selalu menjadi milik pemenang yang kemudian menjadi penguasa, kemudian semakin dipertahankan secara sadar atau tidak sadar.

Apparatus pemerintah melalui institusi pendidikan, sosial kemasyarakatan, sampai agama, berlomba-lomba memapankan sejarah itu agar terus menerus dikonsumsi oleh rakyat. Melalui institusi pendidikan yang bersistem pedagogis, para siswa disuapi oleh guru mereka menu yang sama. Menurut para guru, menu alternatif itu belum cocok buat mereka. Tapi lama kelamaan menu itulah yang paling cocok bagi mereka sehingga sampai jenjang sekolah tinggi, setiap siswa terus menyantap menu yang sama. Tidak ingin dan malas mencari menu alternatif karena dianggap tidak pasti dan tidak menyehatkan jiwa, pikiran, dan tubuh mereka. Dalam institusi agama menu alternatif dibahasakan sebagai kesesatan, penyimpangan, dan perusak persaudaraan. Sama tingkatannya dengan perusak persatuan nasional. Itulah yang selalu didongengkan di negeri ini.

Sekarang kita terus mengenang tragedi dan konspirasi PKI sebagaimana apa yang dicecoki oleh semua apparatus negara dari sejak berada di dalam rumah sampai ke luar, dengan berbagai dalil dan pembuktian yang sesungguhnya hanya untuk pembenaran demi pembenaran tautologi. Meski sejarah katanya terus berulang, tetapi sejarah yang berulang selalu milik pemenang. Padahal sejarah para pemenang ini juga dikonstruk dengan cara-cara konspiratif. Maka apabila sejarah pemenang yang terus berulang, percuma saja kita terus belajar.

PKI juga manusia, hanya sejarah milik pemenang yang terus menerus mengubah mereka jadi binatang.


Kupret El-kazhiem

Masjid Daun Pisang

Kenapa kok namanya pakai daun pisang ? jadi begini , masjid ini sebenarnya sudah ada di Banjar PABEAN Desa Ketewel, Gianyar Bali sejak ratusan tahun lalu ( menurut kisah pengurus masjid, Bapak Qasim & Syahroni ), sejak zaman Penjajahan Belanda. Mesjid ini didirikan oleh para nelayan dari Daerah Bugis Sulawesi yang sering mendaratkan perahunya di pantai Ketewel. Dan diberi nama AL-ABROR.


Karena zaman penjajahan Belanda memusuhi nelayan muslim, maka masjid ini pernah berpindah-pindah tempat agar tidak diketahui pemerintah kolonial Belanda. Akhirnya hingga sekarang masjid ini menempati posisinya di tanah milik penduduk setempat.


13173886442037500633




masjid daun pisang
Ada cerita mengharukan dari Bapak Qassim & Pak Syahroni.

Karena letaknya yang agak jauh dari keramaian jalan raya & kota Denpasar atau Gianyar, masyarakat muslim di sekitar sini terus berjuang mempertahankan keberadaan masjid , kata mereka, ini adalah warisan nenek moyang. Bahkan segala usaha ditempuh untuk menutupi biaya perawatan & operasional masjid. Karena pekerjaan mereka sehari-hari sebagai nelayan dan buruh tidak memiliki uang/dana, maka untuk menutupi biaya listrik dan air, mereka sebagai pengurus menjual daun pisang. Dari hasil penjualan daun pisang itulah mereka menutupi biaya listrik, biaya perawatan pemeliharaan masjid bahkan untuk membayar infaq kepada khotib / imam shalat Jum’at.



Saya pernah shalat Jum’at di masjid ini dan memang betul, pengurus masjid harus bersusah payah mencari khatib / imam dari Denpasar/Gianyar dan betapa “melas” (bhs jawa–kasihan) mereka harus mengeluarkan biaya transport kepada khotib pengisi ibadah Jumat.

Keadaan masjid ketika tahun 2009 masih sangat memprihatinkan. Kala itu, saya datang, tembok masjid sudah mau rubuh (banyak dinding masjid pecah-pecah, lantai masih diplester semen). Sudah fisik bangunan memprihatinkan, belum ada donatur yang mau membantu saat itu. Akhirnya setiap bulan, jadilah mereka berjualan daun pisang untuk menyambung nyawa masjid ini.


Dan alhamdulillah, betapa kaget saya, saat datang siang ini pukul 11.15 wita, keadaan masjid sudah berubah. Bahkan lebih bagus dari yang saya pernah lihat sebelumnya. Menurut pak Syahroni, masjid sudah direhab 5 hari yang lalu, karena mendapat bantuan dari DPU - Proyek Jalan By Pass Ketewel. Alhamdulillah.



Masjid Al-Abror/Masjid Daun Pisang ini adalah masjid warisan budaya nenek moyang kita yang tetap dipertahankan oleh ahli waris mereka yang hingga saat ini ada 9 KK (kepala keluarga) Muslim yang menjaga dan merawat masjid. Sungguh sebuah prestasi yang mengagumkan, karena keteguhan dan keyakinan mereka akan kebesaran Allah-lah masjid ini masih tegak berdiri.

Subhanallah Walhamdulillah Allahu Akbar !

Wassalamu’alaikum Sahabat

Selamat Beristirahat
Agung Soni

Bahasa “Koneq-koneqe” Suku Mandar, Bahasa yang Terancam Punah

131740042853691533

Tulisan ini hanya untuk mengulas kembali apa yang sudah ane dapatkan dari wawancara eksklusif dengan Alm. Prof. Darmawan, Juli 2009 di kediaman Beliau di Makassar. Semoga ilmunya bermanfaat bagi siapa saja yang membaca dan membutuhkannya, kalo gag butuh, ya gag usah dibaca

Berawal dari kepentingan saya untuk melakukan penelitian tentang Perkawinan bagi Orang Mandar maka tentu pastinya membutuhkan sumber-sumber yang terpercaya. Disamping karena buku-buku tentang suku Mandar yang masih sangat minim juga budayawan yang benar-benar mumpuni tentang Mandar sangat sedikit (yang saya tau).


Diluar dari hasil penelitian saya tentang Perkawinan bagi Orang Mandar saya dapat ilmu baru yaitu tentang bahasa kampung halaman saya, yaitu desa Campalagian, Kab. Polewali Mandar, Prov. Sulawesi Barat. Bahasa Campalagian atau biasa disebut bahasa koneq-koneqe ternyata memiliki sejarah yang amat unik. Dilihat dari letak desa Campa (red. Campalagian) yang berada di wilayah Polewali Mandar, seharusnya masyarakat Campa menggunakan bahasa Mandar. Tapi ternyata tidak. Mereka memiliki bahasa sendiri yang sangat jauh berbeda dengan bahasa Mandar.


Berawal dari keingintahuan saya karena satu kejadian lucu di awal tahun 2008. Suatu hari saya iseng memasang status di facebook menggunakan bahasa koneq-koneqe, yang saya tau bahasa koneq-koneqe ya bahasa Mandar jadi yang mengerti atau berkomentar di status saya pasti orang Mandar juga. Ternyata saya salah, yang berkomentar malah memakai bahasa yang saya tau itu bahasa Bugis. Otomatis saya bertanya kepada yang berkomentar kenapa kog Anda mengerti bahasa saya padahal yang saya pake bahasa Mandar. Orang itu menjawab dengan santai, “Lho bahasa yang kamu pake kan bahasa Bugis, makanya aku mengerti.”

Nah, jujur saya sangat bingung membaca jawaban orang itu. Kog bisa bahasa yang sehari-hari papa mama dan keluarga saya pakai (baik di rumah saya maupun di rumah kakek nenek saya) disebut bahasa Bugis?

Singkat cerita, saya bertemu dengan Alm. Prof. yang ternyata masih kerabat dengan keluarga dari mama saya. Setelah selesai bertanya ini itu tentang Perkawinan Orang Mandar, iseng saya bercerita tentang kasus status saya itu. Jawaban Prof. ternyata sangat membuat saya kaget. Beliau berkata, “Bahasa koneq-koneqe itu bukan bahasa Mandar tapi bahasa Bugis dialek ke tujuh.”

Akhirnya Pak Prof. bercerita bahwa dulu ada kampung yang bernama Cempalagi di Bone, Sulawesi Selatan, yang didiami oleh masyarakat Bugis. Saat itu masih jaman kerajaan, suatu hari terjadi perebutan kekuasaan antara kakak beradik yang ingin menggantikan tahta ayahnya sebagai raja yang telah meninggal. Pemilihan pun dilakukan, namun karena sang kakak mempunyai watak keras, sombong dan serakah maka tidak ada rakyat yang mendukung. Sebaliknya sang adik yang baik hati dan dermawan didukung penuh oleh rakyat di Cempalagi. Sang kakak pun marah karena tidak terima dikalahkan oleh adik kandungnya sendiri. Ia pun berniat membunuh sang adik. Berkat ketulusan sang adik, ia berniat untuk mundur menjadi raja dan menerima kalau kakaknya yang menjadi raja. Namun sang kakak sudah kadung marah, sehingga ia tetap tidak terima keputusan adiknya itu. Akhirnya sang adik dan semua rakyat yang mendukungnya memutuskan untuk kabur dari desa Campalagi menuju daerah yang aman. Sang kakak ternyata tetap mengejar karena dendam terhadap adik dan semua rakyat yang ikut dengan adiknya.

Akhirnya sang adik tiba di perbatasan Kerajaan Balanipa (yang saat itu dibatasi oleh jembatan Mapilli) berharap akan mendapat perlindungan dari Raja Balanipa karena ia tau kakaknya tidak mungkin masuk ke kekuasaan kerajaan lain. Dan ternyata sang adik dan pengikutnya disambut baik oleh Raja Balanipa.


Selang beberapa lama Raja Balanipa akhirnya memutuskan untuk memberikan satu wilayahnya kepada sang adik dan pengikutnya asalkan mereka mau tetap tinggal di Balanipa. Sang adik dan pengikutnya setuju dan gembira dengan keputusan Raja Balinpa tersebut. Akhirnya mereka semua tinggal dan menetap di Balanipa dan wilayah itu diberi nama CAMPALAGIAN.


Nah, maka dari itu tidak heran mengapa sekarang masyarakat di desa Campalagian hingga kini menggunakan bahasa koneq-koneqe yang tidak lain adalah bahasa Bugis dialek ke tujuh. Tetapi juga tetap masyarakat Campalagian mengerti bahasa Nasional mereka yaitu bahasa Mandar :) Namun sayang kini yang menggunakan bahasa koneq-koneqe sebagai bahasa sehari-hari tinggal beberapa desa saja, salah satunya adalah Desa Bonde (Kampung Masigi) kampung halaman orang tua saya. Akibatnya bahasa koneq-koneqe kini terancam punah.
Atikah Hudriansyah

LAGU GENJER-GENJER (SISI LAIN DARI GERAKAN 30 S PKI

1317370655197571748Tulisan ini sebenarnya sebagai bentuk untuk mengingat sejarah dengan baik. Seperti yang diungkapakan oleh Bung Karno dengan jargon “Jas Merah ; jangan melupakan sejarah”. Bertepatan dengan tanggal 30 september, maka kita akan mengingat satu peristiwa sejarah bangsa ini yaitu Gerakan 30 September, yang lebih familiar dengan sebutan G30 S/PKI. Betapa pentingnya peristiwa tersebut, maka pada masa pemerintahan soeharto, film G30 S/PKI adalah film wajib yang diputar di stasiun TV pemerintah (TVRI).



Aku pun salah satu warga Indonesia yang taat kepada pemerintah pada masa itu. Maka, pada saat aku kelas 3 SD pada tahun 1994 menyempatkan diri untuk menonton film wajib tersebut. Dengan pergi ke rumah tetangga seberang jalan raya, aku pun menonton dengan khidmat film G30 S/PKI. Aku tahu aka nada film tersebut dari himbauan guruku di sekolah. Tanpa menghiraukan gelapnya suasana kampong dan seramnya suasana malam jum’at, aku dengan berbangga diri telah menunaikan himbauan “Negara” lewat guru sekolahku.


TENTANG GENJER-GENJER


Film G30 S/PKI untuk masyarakat umum saat ini adalah dianggap sebagai sebuah “film politik” sebagai salah satu upaya mempertahankan kekuasaan dan “pembenaran” sikap pemerintah (baca:soeharto) pada masa itu. Bagi sebagian masyarakat pun, narasi film tersebut mencoba “membelokkan” dan “menghilangkan” fakta kebenaran sejarah sesungguhnya. Terlepas dari semua itu, ada satu sisi lain yang tidak banyak diketahui masyarakat umum yakni lagu genjer-genjer.


Genjer-genjer adalah sebuah nama tanaman yang terkenal dengan sebutan eceng gondok. Aku pun mengetahui bahwa tanaman ini bias menjadi lauk pauk dari lirik lagu genjer-genjer. Sebelumnya di daerahku, genjer atau eceng ini dianggap sebagai tanaman yang mengganggu perairan.


Namun setelah mencari tahu via internet, ternyata daun dan bunga genjer pun sangat enak diolah menjadi lauk. Untuk daunnya biasanya dipilih daun yang muda, sedangkan untuk bunganya dengan kuncup bulat sedikit panjang di ujungnya juga diambil yang belum mekar. Batang tanaman ini berpori-pori halus mirip batang pisang karena merupakan tanaman air.


Di Jawa Tengah dan Jawa Barat dikenal tumis genjer dengan tauco atau dengan oncom merah. Selain enak, sayuran ini pun sarat nutrisi dan kaya akan serat sehingga baik untuk menjaga saluran pencernaan jika rajin mengkonsumsinya. Tak hanya itu, daun dan bunganya juga berkhasiat untuk menambah nafsu makan


SEJARAH LAGU GENJER-GENJER

Lagu genjer-genjer diciptakan oleh Muhammad Arif, seorang seniman pemukul alat instrument angklung. Berdasarkan keterangan teman sejawat almarhum Arif, lagu Genjer-Genjer itu diangkat dari lagu dolanan yang berjudul “Tong Alak Gentak”. Lagu rakyat yang hidup di Banyuwangi itu, kemudian diberi syiar baru seperti dalam lagu genjer-genjer. Syair lagu Genjer-Genjer dimaksudkan sebagai sindiran atas pendudukan jepang di indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, lagu “Genjer-genjer” menjadi sangat populer setelah banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radio Indonesia. Penyanyi yang paling dikenal dalam membawakan lagu ini adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet. Sangking terkenalnya bahkan kemudian muncul pengakuan dari Jawa Tengah, bahwa lagu Genjer-Genjer ciptaan Ki Narto Sabdo seorang dalang kondang. Dalam sebuah tulisannya Hersri Setiawan, memberikan penjelasan tentang asal-muasal hingga lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal.



Namun kepopuleran lagu ini cukup tercederai dengan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Yakni Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Akibatnya orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai “lagu PKI”.


Menurut versi TNI, para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini ketika para jendral yang diculik diinterogasi dan disiksa. Peristiwa inilah yang digambarkan juga pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI besutan Arifin C. Noer. Sehingga pada masa orde baru pun terdapat larangan penyebarluasan lagu genjer-genjer tersebut. Sedangkan pencipta lagu Muhammad Arief, meninggal dibunuh akibat dianggap terlibat dalam organisasi massa onderbouw PKI.



Dengan berakhirnya rezim orde baru tahun 1998, larangan penyebarluasan lagu “Genjer-genjer” secara formal pun telah berakhir. Lagu “Genjer-genjer” mulai beredar secara bebas melalui media internet. Walaupun stigmatisasi lagu ini kepada PKI sulit dihapuskan dari pandangan masyarakat Indonesia. Semoga dengan tulisan sederhana ini, hal tersebut akan berhenti nantinya.


LIRIK LAGU GENJER-GENJER




Genjer-genjer nong kedokan pating keleler

Genjer-genjer nong kedokan pating keleler

Emake thulik teko-teko muputi genjer

Emake thulik teko-teko muputi genjer

Ulih sak tenong mungkur sedhot sing tulih-tulih

Genjer-genjer saiki wis digowo mulih



Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar

Genjer-genjer esuk-esuk didol ning pasar


Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar

Dijejer-jejer diuntingi podho didhasar

Emake jebeng podho tuku nggowo welasah

Genjer-genjer saiki wis arep diolah



Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak

Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak

Setengah mateng dientas yong dienggo iwak

Setengah mateng dientas yong dienggo iwak


Sego sak piring sambel jeruk ring pelonco

Genjer-genjer dipangan musuhe sego

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan

Genjer-genjer di petak sawah berhamparan

Ibu si bocah datang memunguti genjer

Ibu si bocah datang memunguti genjer

Dapat sebakul dia berpaling begitu saja tanpa melihat ke belakang


Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang


Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar

Genjer-genjer pagi-pagi dijual ke pasar

Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah

Ditata berjajar diikat dibeberkan di bawah

Ibu si gadis membeli genjer sambil membawa wadah-anyaman-bambu

Genjer-genjer sekarang akan dimasak


Genjer-genjer masuk periuk air mendidih

Genjer-genjer masuk periuk air mendidih


Setengah matang ditiriskan untuk lauk

Setengah matang ditiriskan untuk lauk

Nasi sepiring sambal jeruk di dipan

Genjer-genjer dimakan bersama nasi

Demikian sekilas tentang sisi lain dari pemberontakan G30 S/PKI yang pernah terjadi di Republik Indonesia. Semoga generasi bangsa belajar dengan baik dari apa yang pernah terjadi.
Ahmad Tantawi

Mengenang G 30-S PKI/Gestapu, Sejarah Kelam Bangsa Indonesia

13174009041116316602

g30spki.from google


Sudah Mahfum,ditelinga kita tentang peristiwa G 30-S PKI,atau dalam kalangan masyarakat juga dinamakan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh).Sebuah peristiwa kelam Negeri ini,dalam menegakkan sebuah kedaulatan dan ideologi Bangsa Indonesia.

Peristiwa yang terjadi pada malam 30 September sampai di awal 1 oktober 1965,yang menewaskan 6 pejabat tinggi militer indonesia dan banyak rakyat yang dibunuh,yang dilakukan oleh usaha kudeta Partai Komunis Indonesia.

Sejarah Partai Komunis Indonesia


PKI adalah partai komunis yang terbesar di seluruh dunia,dengan jumlah anggota dan pendukung yang mencapai 20 juta orang dari berbagai lapisan.Ada yang terdiri dari petani,buruh,pemuda,wanita,penulis,artis dan sarjana.



Dengan Sistem Konstitusi Negara “Demokrasi Terpimpin”,yang lahir juga karena hasutan PKI,Presiden Sukarno mendapat tanggapan yang hangat oleh PKI,presiden Sukarno ingin menyatukan konsepsi antara Nasionalis,Agama,dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.


Namun “Demokrasi Terpimpin” gagal dalam memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi,gagal menekan pergerakan kaum buruh dan petani,pendapatan ekspor menurun,inflasi terus menaik dan korupsi ditingkat birokrat dan militer pun mewabah.


Dengan tawaran Perdana Menteri RRC Zhou Enlai,yang menjanjikan 100.000 pucuk senjata kepada Bung Karno,masih dengan hasutan PKI,yang ingin membentuk “Angkatan Kelima”,yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI.Tapi para petinggi angkatan darat tidak setuju,karena akan menimbulkan kecurigaan antara PKI dan Militer.


Kemarahan PKI,disebabkan karena banyak hal

1.Sakitnya Presiden Sukarno

Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakitnya Bung Karno,hal ini mengakibatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuatan setelah Bung Karno meninggal.


2.Masalah Tanah dan Bagi Hasil



Pada tahun 1960 keluarlah UU Pokok Agraria UU Bagi Hasil,Walaupun undang-undangnya sudah ada namun pelaksanaan di daerah tidak jalan sehingga menimbulkan gesekan antara para petani penggarap dengan pihak pemilik tanah yang takut terkena UU Pokok Agraria.



Keributan antara PKI dan islam (tidak hanya NU, tapi juga dengan Persis dan Muhammadiyah) itu pada dasarnya terjadi di hampir semua tempat di Indonesia, di Jawa Barat, Jawa Timur, dan di propinsi-propinsi lain juga terjadi hal demikian, PKI di beberapa tempat bahkan sudah mengancam kyai-kyai bahwa mereka akan disembelih setelah tanggal 30 September 1965 (hal ini membuktikan bahwa seluruh elemen PKI mengetahui rencana kudeta 30 September tersebut.



3.Konfrontasi Indonesia-Malaysia




Negara Federasi Malaysia yang baru terbentuk 16 september 1963,adalah salah satu faktor penting dalam insiden ini.Adanya Konfrontasi Indonesia-Malaysia,merupakan salah satu kedekatan Presiden Sukarno dengan PKI,menjelaskan motivasi para tentara yang menggabungkan diri dalam gerakan G30S/Gestok (Gerakan Satu Oktober)dan juga pada akhirnya menyebabkan PKI melakukan penculikan petinggi Angkatan Darat.


Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Sukarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tengku Abdul Rahman(Perdana Menteri Malaysia) saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak.



Presiden Sukarno sangat murka dengan tindakan Tengku Abdul Rahman,yang menginjak-injak lambang Negara Indonesia,maka Presiden Sukarno ingin melakukan Balas Dendam,dan membentuk gerakan yang terkenal dengan sebutan “Ganyang Malaysia”.Letnan Jend.Ahmad Yani,tidak ingin melawan Malaysia yang dibantu oleh Inggris dengan anggapan bahwa tentara Indonesia pada saat itu tidak memadai untuk peperangan.Di lain pihak Kepala Staff TNI Angkatan Darat A.H. Nasution tidak setuju dengan usulan Soekarno karena ia mengkhawatirkan isu Malaysia ini akan ditunggangi oleh PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di Indonesia.



Mengetahui bahwa tentara Indonesia tidak mendukungnya, Soekarno merasa kecewa dan berbalik mencari dukungan PKI untuk melampiaskan amarahnya kepada Malaysia.PKI adalah pendukung terbesar gerakan “ganyang Malaysia” yang mereka anggap sebagai antek Inggris, antek nekolim. PKI juga memanfaatkan kesempatan itu untuk keuntungan mereka sendiri, jadi motif PKI untuk mendukung kebijakan Soekarno tidak sepenuhnya idealis.



Dari sebuah dokumen rahasia badan intelejen Amerika Serikat (CIA) yang baru dibuka yang bertanggalkan 13 Januari 1965 menyebutkan sebuah percakapan santai Soekarno dengan para pemimpin sayap kanan bahwa ia masih membutuhkan dukungan PKI untuk menghadapi Malaysia dan oleh karena itu ia tidak bisa menindak tegas mereka. Namun ia juga menegaskan bahwa suatu waktu “giliran PKI akan tiba. “Soekarno berkata, “Kamu bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu. … Untukku, Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang.”[2]




Dari pihak Angkatan Darat, perpecahan internal yang terjadi mulai mencuat ketika banyak tentara yang kebanyakan dari Divisi Diponegoro yang kesal serta kecewa kepada sikap petinggi Angkatan Darat yang takut kepada Malaysia, berperang hanya dengan setengah hati, dan berkhianat terhadap misi yang diberikan Soekarno. Mereka memutuskan untuk berhubungan dengan orang-orang dari PKI untuk membersihkan tubuh Angkatan Darat dari para jenderal ini.



4.Faktor Kekacauan Ekonomi Indonesia

Ekonomi masyarakat Indonesia pada waktu itu yang sangat rendah mengakibatkan dukungan rakyat kepada Soekarno (dan PKI) meluntur. Mereka tidak sepenuhnya menyetujui kebijakan “ganyang Malaysia” yang dianggap akan semakin memperparah keadaan Indonesia.


Inflasi yang mencapai 650% membuat harga makanan melambung tinggi, rakyat kelaparan dan terpaksa harus antri beras, minyak, gula, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Beberapa faktor yang berperan kenaikan harga ini adalah keputusan Suharto-Nasution untuk menaikkan gaji para tentara 500% dan penganiayaan terhadap kaum pedagang Tionghoa yang menyebabkan mereka kabur. Sebagai akibat dari inflasi tersebut, banyak rakyat Indonesia yang sehari-hari hanya makan bonggol pisang, umbi-umbian, gaplek, serta bahan makanan yang tidak layak dikonsumsi lainnya; pun mereka menggunakan kain dari karung sebagai pakaian mereka.




Faktor ekonomi ini menjadi salah satu sebab kemarahan rakyat atas pembunuhan keenam jenderal tersebut, yang berakibat adanya backlash terhadap PKI dan pembantaian orang-orang yang dituduh anggota PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali serta tempat-tempat lainnya.



Puncak Serangan PKI



Pada 1 Oktober 1965,dini hari enam jenderal senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana (Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol Untung.



Lalu di bawah pimpinan Panglima Komando Strategi Angkatan Darat Mayjend Suharto kemudian mengadakan penumpasan terhadap gerakan PKI.



Korban-korban yang berguguran adalah




Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:


Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)


Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)


Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)



Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)


Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)


Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)




Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.



Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:


Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)



Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)


Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)




Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.


Semenjak saat itulah,di bawah kepemimpinan Panglima Angkatan Darat yang dilantik oleh Presiden Soekarno,yakni Jendral Soeharto,berjanji ingin menyatukan ABRI sebagai Panji Amanat Revolusi.Mengadakan Penangkapan dan Pembantaian yang menewaskan Ratusan Ribu Pekerja dan Petani yang menjadi anggota dan simpatisan PKI,dan ada yang dimasukkan ke Penjara untuk disiksa dan di introgasi.



Jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis - perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juga orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu.




————————————————


Itulah ringkasan singkat tentang sejarah lahirnya gerakan 30 S PKI,yang sangat terkenal itu.Dahulu waktu saya masih kecil saya masih bisa menyaksikan pemutaran Film G 30 S PKI,tapi entah kenapa sekarang pemutaran Film itu dihentikan.Tapi paling tidak sekarang kita bisa tahu sejarah,dan jika sudah demikian mari kita pergunakan nikmat kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya.


Semoga Bemanfaat….



Wikipedia.org


Alex Dinuth “Dokumen Terpilih Sekitar G30S/PKI” Intermasa, Jakarta 1997



Setiyono, Budi; “REVOLUSI BELUM SELESAI: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965″; Nawaksara, Jakarta; 2003


Ahmad Mujiyarto

Mengenal Gua Prasejarah: Leang Kassi

13172718631159582320

Situs Prasejarah Leang Kassi.

Leang Kassi merupakan salah satu leang (gua) situs prasejarah yang terdapat di Minasate’ne, Pangkep. Situs ini adalah sebuah ceruk, dengan arah hadap barat daya. Untuk mencapainya sangat mudah karena ketinggiannya dari permukaan tanah sekitarnya hanya sekitar 5 meter yang mana pada sebelah kanan bagian bawahnya terdapat mata air yang berasal dari sebuah gua, mengalirkan air sepanjang tahun. Pemkab Pangkep, dalam hal ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) memanfaatkannya sebagai salah satu sumber air minum yang didistribusikan ke beberapa wilayah Minasate’ne dan Pangkajene. Aliran air dibawah Leang Kass tersebut melewati bagian depan situs Leang lompoa, Leang Buto dan Leang Bubbuka.


1317271924404614287

Situs Prasejarah Leang Kassi di Pangkep


Ketika mengunjungi Situs Leang Kassi ini, Minggu (25/9), penulis menemukan banyaknya tanda vandalisme yang kemungkinan berasal dari pengunjung dan masyarakat sekitar. Kerusakan situs nampak pada bagian dalam leag maupun bagian luarnya, padahal situs prasejarah potensial sekali dimanfaatkan sebagai obyek wisata sejarah maupun sebagai sarana berekreasi di alam pegunungan yang sejuk. Sumber mata air dekat situs Leang Kassi ini seringkali dimanfaatkan sebagai sarana permandian alam yang menyegarkan, bahkan kini tersedia pula sarana terapi ikan yang dibuka oleh masyarakat setempat.


13172720782027398138

Dalam lingkungan sekitar Leang Kassi, masyarakat setempat menyediakan sarana terapi ikan.


Situs Leang Kassi merupakan situs gua dengan tinggi pintu masuk sekitar 30 m dan lebar 24 meter, terletak sekitar 15 mdpl dengan luas lantai (yang kemiringannya sekitar 45’) sekitar 44 m2. Lantai bagian dalam hingga tengah ceruk ini tersusun dari bongkahan batu dari reruntuhan langit – langit gua. Pada bagian depan ceruk terdapat pelataran yang lantainya cenderung datar dan melandai pada bagian tepi dengan sudut lantai – dinding sekitar < 90’ dan > 60’. Pelapukan pada dinding ceruk cukup besar sehingga beberapa gambar gua sudah mengelupas dan tidak dapat diidentifikasi lagi.


1317271986175520824

Air dari Pegunungan / Mata Air Leang Kassi dimanfaatkan PDAM untuk Air Minum.

Perkiraan okupasi terhadap situs Leang Kassi ini sekitar 80 m2 berdasarkan kelayakan okupasi bagian dalam ditambah luas pelatarannya. Data arkeologis yang diperoleh dari hasil penelitian UNHAS dan Balai Arkeologi Makassar dijumpai pada sudut bagian kiri adalah timbunan sisa makanan yang bercampur dengan artefak batu dan tulang. Sedang yang berasal dari pelataran pada bagian tepi yang cenderung menurun juga terdapat artefak batu, cangkang moluska (klas gastropoda dan klas pelecypoda) dan pada langit – langit ceruk terdapat gambar dinding.

M Farid W Makkulau

Keterlibatan CIA dan M16 Dalam Gerakan 30 September

13173575051094622076


Siapa yang tidak tahu istilah G 30 S/PKI. Istilah ini sangat umum ditelinga orang Indonesia, karena peristiwa ini merupakan kejadian sekaligus kontroversi terbesar sepanjang sejarah Indonesaia sejauh ini. Dalam tulisan ini saya (penulis) hanya ingin berbagi dengan para pembaca yang budiman terkait Gerakan 30 September dan keterlibatan CIA (Central Intelligence Agency) dan M16 (agen rahasia Inggris) di dalamnya.


Sebenarnya banyak versi terkait peristiwa Gerakan 30 September, bukan hanya CIA – M16 dan PKI. Angkatan Darat, Sukarno dan Soeharto dan yang terbaru adalah MPRS dalam beberapa sumber dan penelitian dikaitkan dalam peristiwa ini. Tapi yang pasti adalah bukan hanya PKI yang terlibat. Jadi saya disini kurang setuju dengan istilah G 30 S/PKI yang seolah-olah mendeskritkan PKI sebagai pelaku tunggal. Saya tidak menentang kurikulum 2006, kemudian membela kurikulum 2004, tapi saya mencoba terbuka dan lebih objektif menanggapi kontroversi yang ada. Apa gunanya? Tentu kembali ke tujuan mempelajari sejarah yaitu untuk lebih bijak lagi dalam menjalani kehidupan di masa sekarang dan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah tentunya.


Lantas mengapa penulis mengambil keterlibatan versi CIA – M16? Jawabanya adalah karena keterlibatan CIA – M16 lebih terang daripada versi – versi G 30 S yang lain. Menurut Asvi Warman Adam dalam buku Membongkar Manipulasi Sejarah terbitan Kompas tahun 2009 disebutkan bahwa sebagai konsekuensi dari perang dingin antara blok kapitalis dan blok komunis, Amerika saat itu sangat berkepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan kelompok kiri (komunis). CIA disini berperan membantu KAP (Komite Aksi Pengganyangan) gestapu melalui perantara Adam Malik dalam berbagai cara dan tentunya dalam hal pendanaan.


Amerika tidak ingin Indonesia dikuasai Komunis, karena dampaknya Malaysia dan Singapura juga akan dikuasai komunis. Kalau hal itu terjadi, maka posisi Amerika yang saat itu bertempur melawan Vietnam akan semakin terjepit. Terang Asvi sebagaimana dilansir oleh www.inilah.com. Maka skenarionya adalah memprofokasi PKI yang ditumpas oleh TNI AD dan mengakibatkan Soekarno akhirnya jatuh. Nampaknya menjadi kenyataan tahun 1965. Berhasil mencapai tujuan memang, namun gagal karena para Jendral TNI meninggal. (www.hidayatullah.com)




Dalam dokumen yang terungkap (karena Amerika dan Inggris selalu membuka arsip dan dokumen – dokumen rahasianya untuk umum setiap periode 25-30 tahun sekali) dinyatakan bahwa ada bantuan yang mengucur ke Indonesia dari Amerika sebanyak 50 Juta rupiah/dollar?? Kepada KAP (Komite Aksi Pengganyangan).


Menurut David T. Johnson (1976) dalam buku yang sama mengatakan bahwa ada enam skenario yang dapat dijalankan Amerika Seriikat dalam menghadapi situasi yang memanas di Indonesia menjelang tahun 1965 yaitu : (1) Membiarkan saja, (2) Membujuk Soekarno mengubah kebijakan, (3) Menyingkirkan Soekarno, (4) Mendorong Angkatan darat mengambil alih kekuasaan, (5) Merusak kekuatan PKI, (6) Merekayasa kehancuran PKI sekaligus kejatuhan Sukarno. Dan ternyata skenario yang terakhir yang dilakukan.

Indikasi keterlibatan M16 lebih terlihat pasca peristiwa G30S. Pihak Inggris disini berperan membantu propaganda untuk menghancurkan PKI. Dalam buku Roland Challis (2001) – Koresponden BBC yang berkedudukan di Singapura dan sering ke Jakarta menjelang peristiwa G30S – terungkap bahwa pada tahun 1962 sudah ada komitmen antara presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy dengan Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan untuk melikuidasi Soekarno. Tentara AL Inggris yang berbasis di Singapura siap membantu Pemerintah Indonesia untuk menghadapi ancaman jatuhnya Indonesia ke tangan komunis.Bahkan dalam buku 151 Konspirasi Dunia karangan Alfred Suci dikatakan bahwa CIA merupakan biang keladi tumbangnya orde lama (Soekarno). Alfred Suci mengatakan bahwa ada dugaan bahwa gerakan 30 September 1965 merupakan desain besar (grand design) Soeharto dan CIA untuk menciptakan instabilitas negara. Kenapa kemudian muncul nama Soeharto?? Karena dalam rangka menghancurkan komunis di Indonesia, CIA lalu mencari partner untuk menjalankan rencananya. Dipihlah Letjen Soeharto. CIA memilih Soeharto sebagai rekanan karena posisi Soeharto yang strategis dalam Angkatan Darat dan menguasai beberapa batalion. Karakter opportunis (paham yang semata – mata hendak mengambil keuntungan sendiri) juga menjadi pertimbangan CIA untuk memilih Soeharto.Dalam sumber yang sama juga disebutkan bahwa terbitnya buku Foreign Relation of the United States setebal 800 halaman khusus mengenai Indonesia, memuat dokumen – dokumen tentang keterlibatan AS dalam menggulingkan Komunis dengan skenario kudeta yang seolah-olah dilakukan oleh PKI.

Adam, Asvi Warman. 2009. Membongkar Manipulasi Sejarah. Jakarta : PT Kompas Gramedia
Suci, Alfred. 2011. 151 Konspirasi Dunia Paling Gila dan Mencengangkan. Jakarta : PT wahyu Media.

Asepsandro Del Irwan

Shalat Jumat & Keutamaannya

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. 62:9)

Maksudnya, pergilah untuk melaksanakan shalat Jum’at dengan penuh ketenangan, konsentrasi dan sepenuh hasrat, bukan berjalan dengan cepat-cepat, karena berjalan dengan cepat untuk shalat itu dilarang.

Al- Hasan Al-Bashri berkata: Demi Allah, sungguh maksudnya bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir : 4/385-386).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: Hari Jum’at adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Waktu mustajab pada hari Jum’at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan. (Zadul Ma’ad: 1/398).

KEUTAMAAN HARI JUM’AT

1. Hari Terbaik Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah y bersabada:
“Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada

2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo’a.
Abu Hurairah z berkata Rasulullah y bersabda:
” Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah y mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih)
Ibnu Qayyim Al Jauziah - setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu - mengatakan: “Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tadi (Zadul Ma’ad Jilid I/389-390).

3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya. Ibnu Qayyim berkata: “Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya”. Hadits dari Ka’ab z menjelaskan:
“Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya”. (Mauquf Shahih)

4. Hari tatkala Allah l menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga. Sahabat Anas bin Malik z dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum’at”.

5. Hari besar yang berulang setiap pekan. Ibnu Abbas z berkata : Rasulullah y bersabda:
“Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum’at hendaklah mandi terlebih dahulu ……”. (HR. Ibnu Majah)

6. Hari dihapuskannya dosa-dosa Salman Al Farisi z berkata : Rasulullah y bersabda:
“Siapa yang mandi pada hari Jum’at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at”. (HR. Bukhari).

7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum’at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa.
Aus bin Aus z berkata: Rasulullah y bersabda:
“Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”.
(HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).

8. Wafat pada malam hari Jum’at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur.
Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah y bersabda:
“Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum’at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur”. (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).
Adey Authoer

Langkah Pengungkapan Sejarah G30S

Untuk menghindari pengulangan sejarah pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965, peristiwa itu justru harus diinformasikan secara benar, jernih, dan obyektif.

Khusus untuk peristiwa G30S saya melihat ada peluang dengan masih cukup banyaknya tokoh-tokoh yang hidup, baik dari kalangan pemerintah Orde Lama, militer, partai politik, maupun ormas pada masa peristiwa itu terjadi.

Sebuah karya tulis sejarah yang baik adalah yang berusaha seobyektif mungkin, meski untuk obyektif 100% tidak mungkin karena sejarah itu adalah ilmu non eksakta. Caranya ialah dengan mengambil sumber dari berbagai sisi dan sudut pandang. Bila mengambil sumber lisan tentu dengan cara mewawancarai para tokoh dari berbagai golongan, termasuk yang PKI atau dituduh PKI.

Kalau kita bisa mengungkapkan sejarah secara obyektif, kita justru akan memetik keuntungan dengan mengambil salah satu guna sejarah yaitu guna edukatif atau fungsi didaktis agar kita tidak jatuh dua kali dalam lubang yang sama.

Dalam Al Qur-an Surat Yusuf ayat 111 dikatakan guna sejarah adalah sebagai ibroh atau pelajaran. Sekarang bagaimana bisa sejarah itu menjadi ibroh, bila kita tidak obyektif dalam mengungkapkannya?

Untuk dapat menuliskan sejarah peristiwa G30S, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah penulisan memoar dari para tapol kasus G30S, karena memoar yang ditulis sendiri oleh pelaku sejarah termasuk sumber primer bagi penulisan sejarah.

Masalahnya, seringkali penulisan memoar ini cenderung kurang obyektif dan banyak yang kurang mempercayai kebenarannya. Ini dapat dimaklumi, karena penulisan memoar memang bersifat sangat subyektif, yang menyangkut pula penggambaran suatu peristiwa dari sudut pandang penulisnya sendiri, yang bisa jadi berbeda dengan pandangan orang lain atau bahkan pandangan pemerintah.

Alternatif pertama untuk mengatasi unsur subyektivitas ini adalah dengan penulisan karya ilmiah baik itu tesis atau disertasi seperti yang pernah dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung dengan disertasinya yang diterbitkan berjudul Renville. Disertasi ini tadinya berasal dari buku memoar Anak Agung Gde Agung. Atau yang dilakukan oleh George Mc Turnan Kahin dengan disertaisnya berjudul Nationalism and Revolution in Indonesia yang juga telah diterbitkan.

Proses ini bermanfaat untuk mengurangi subyektivitas isi sebuah memoar. Subyektivitas memoar yang dijadikan disertasi menjadi lebih rendah dibandingkan memoar yang bukan disertasi, meski tetap lebih tinggi subyektivitasnya dibandingkan disertasi yang ditulis bukan oleh pelaku sejarahnya sendiri.

Dengan penulisan ilmiah, obyektivitas dapat lebih mendekati kebenaran karena proses penulisannya dilakukan dengan bimbingan promotor yang sejarawan. Namun harus diingat, ada satu kelemahan bila kita mengambil proses ini. Yaitu, sulitnya pembaca disertasi tersebut untuk memilah-milah data yang ada, apakah kejadian tertentu dialami sendiri oleh penulis ataukah informasi dari orang lain.

Alternatif kedua dalam penulisan memoar ini adalah para pelaku sejarah dalam hal ini para eks tapol menulis memoar saat ini namun baru diterbitkan setelah mereka meninggal. Hal ini mirip dengan perlakuan terhadap arsip-arsip rahasia yang baru boleh dibuka setelah 30 tahun peristiwanya sendiri berlangsung.

Hal ini semata-mata agar dapat memperoleh fakta yang sejelas mungkin karena kalau dterbitkan sekarang mungkin saja para eks tapol kurang merasa bebas dalam menuangkan pengalamannya.

Sebagai contoh penulis merasa kurang puas membaca buku memoarnya Oei Tjoe Tat terutama yang berkenaan dengan peristiwa G30S. Di sana ia mengatakan tidak mengetahui peristiwa itu. Namun informasi ini meragukan sekali. Maka untuk mencegah tidak maksimalnya pengungkapan fakta-fakta sejarah sekitar G30S sebaiknya memoar tersebut diterbitkan apabila pelaku sejarah tadi sudah meninggal dunia.

Kelemahan proses ini adalah unsur subyektivitasnya yang sangat tinggi. Juga adanya kemungkinan-kemungkinan penulisan yang tidak sesuai dengan zeitgeist (jiwa zaman) dan sering terjadi anakronisme yaitu memandang dan menilai peristiwa masa lalu dengan kaca mata atau semangat masa kini.

Satu contoh dari anakronisme ini adalah pandangan banyak orang yang melihat Mohammad Natsir sebagai tokoh disintegratif dan anti Pancasila karena memimpin golongan nasionalis Islami vis a vis golongan nasionalis sekuler dalam memperjuangkan Islam sebagai dasar negara berhadapan dengan Pancasila dalam sidang Majelis Konstituante pada periode 1955-1959.

Masyarakat sekarang memandang hal itu dengan keadaan zaman sekarang di mana Pancasila sudah menjadi ideologi yang mapan dengan UUD yang berlaku sekarang UUD 1945 yang jelas menyatakan dasar negara kita adalah Pancasila. Padahal pada periode 1955-1959 UUD yang berlaku adalah UUD 1950 yang melegalisasi adanya Konstituante selaku badan pembuat Undang-Undang Dasar.

Dan dalam sidang Konstituante para anggotanya dapat dengan bebas memperdebatkan ideologi mereka secara terbuka bahkan komunis sekalipun.

Kelemahan penulisan memoar selain anakronisme adalah daya ingat si pelaku sejarah. Apalagi kalau umur pelaku sejarah sudah lanjut. Sebagai contoh, Mpu Tantular dalam menulis kitab Sutasoma memakai nara sumber seorang yang sudah berumur di atas 80 tahun.

Mpu Tantular sendiri mengatakan ia meragukan daya ingat sang sumber tersebut. Hal di atas adalah hal yang wajar dan menusiawi sekali.

Penulisan Catatan Harian

Contoh lain yang menarik adalah pada acara peringatan detik-detik proklamasi tanggal 17 Agustus 1995 sebuah stasiun TV swasta menayangkan wawancara dengan beberapa orang pelaku sejarah. Di antaranya terdapat seorang ibu yang dahulu adalah mahasiswi Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) di Salemba (sekarang FKUI).

Ketika ditanya oleh reporter televisi mengenai sejarah suatu peristiwa ibu itu kesulitan menjawab karena lupa. Ibu itu lantas membuka tasnya dan mengambil catatan hariannya pada saat ia masih berusia 19 tahun. Kemudian ia membaca catatan itu dengan lancar dan indah, mengungkapkan suasana saat itu yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Inilah satu bukti bahwa faktor ingatan bukanlah suatu hal yang dapat dianggap remeh.

Karena itu menilik pengalaman ibu tadi, ada langkah kedua untuk penulisan sejarah selain memoar. Yaitu dengan menerbitkan catatan harian yang dimiliki para pelaku sejarah seperti yang dimiliki oleh ibu yang mantan mahasiswi sekolah kedokteran tadi.

Kelebihan catatan harian adalah dapat menggambarkan peristiwa dengan semangat zaman itu sebagaimana sang ibu tadi yang sanggup membuat merinding yang membacanya atau yang mendengar itu dibacakan. Dan catatan harian ini umumnya disimpan baik-baik di tempat yang aman dan terhindar dari resiko perusakan.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah para pelaku sejarah itu mempunyai kebiasaan menulis catatan harian? Selain itu untuk mencegah reaksi-reaksi yang berlebihan dari massa terhadap penerbitan catatan harian ini, sebaiknya penerbitannya dilakukan setelah para penulisnya meninggal dunia. Seperti halnya pernah dilakukan pada catatan harian Soe Hok Gie atau catatan harian Ahmad Wahib.

Seperti yang terjadi terhadap catatan harian Ahmad Wahib, timbul reaksi pro-kontra. Namun begitu, toh, penulisnya sudah meninggal, jadi catatan tinggal catatan.

Demikianlah langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam upaya pengungkapan sejarah peristiwa G30S supaya kita dapat mengambil pelajaran darinya. Tentunya yang terutama adalah agar kita tidak terantuk batu yang sama pada kali yang kedua (fungsi didaktis), untuk membentuk identitas bangsa (fungsi pragmatis), dan untuk memecahkan persoalan yang sama (fungsi genesis).

Agung Pribadi,

Inilah Skenario Politik Dibalik Penumpasan G 30 S PKI

131733066287930132

Ilustrasi/Admin (Sumber: KOMPAS.com)




Gerakan 30 September atau lebih dikenal dengan G 30 S PKI, sebuah isu yang diciptakan dengan memanfaatkan momentum Gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memang cukup dominan saat itu, begitu seram kedengarannya karena secara politis gerakan ini diciptakan memang untuk menakuti masyarakat agar menganggap PKI itu berbahaya dan musuh ma



syarakat, juga doktrinnya Partai Komunis Indonesia (PKI) itu Partai terlarang, sehingga pada saat itu banyak masyarakat yang tidak berdosapun terfitnah sebagai penganut Partai terlarang tersebut.





Doktrin ini dihembuskan sampai Rezim Orde Baru berkuasa, siapapun yang tidak termasuk dalam Gerbong Orde Baru maka kalau salah faham akan di Cap sebagai anggota organisasi terlarang, ini bagian dari trik politik untuk memperkuat kekuasaan, kalaulah dikatakan Fitnah itu Dosa maka betapa banyak dosa orang-orang Rezim Orde Baru tersebut, karena begitu banyak rakyat yang tidak berdosa menjadi korban fitnah sebagai PKI. Untuk kepentingan Politik hal seperti itu dianggap sesuatu yang biasa, yang penting tujuan yang diinginkan tercapai.



Momentum Gerakan 30 September ini pula merupakan sebuah gerakan penumpasan PKI, jika ada yang ditumpas habis maka tentunya ada yang menjadi Pahlawan Penumpasnya, gerakan ini merupakan gerkan politik yang sangat terencana secara sistematis, namun sejarah tidak bisa mencatat sebagaimana mestinya, bagi penguasa sejarah bisa diciptakan sesuai dengan kehendaknya, banyak sejarah yang diajarkan tidak mengikuti kebenarannya, karena semua yang ada dikuasai penguasa, bertentangan dengan penguasa maka akan di cap anggota PKI, hal inilah yang membuat rakyat tak lagi berani buka suara.




Namun uraian diatas hanyalah sebagian cukilan kecil dari penelitian, riset dan kajian yang telah banyak dilakukan untuk mengurai skenario peristiwa 30 September1965. Beberapa hasil dan teori bahkan telah diuraikan dalam buku-buku dapat dibagi dalam 6 teori yaitu :

1. Skenario yang disetujui oleh pemerintah orde baru bahwa pelaku utama G 30 S adalah PKI dan Biro Khusus, dengan memperalat unsur ABRI untuk merebut kekuasaan dan menciptakan masyarakat komunis di Indonesia.

2. Skenario kedua yakni G 30 S merupakan persoalan internal AD, yang merupakan kudeta yang dirancang mantan presiden, Soeharto

3. Sedangkan untuk skenario ketiga bahwa CIA-lah yang bertanggungjawab dengan menggunakan koneksi di kalangan AD bertujuan menggulingkan Soekarno dan mencegah Indonesia menjadi basis komunisme

4. Keempat, merupakan skenario yang dibuat oleh Inggris dan Amerika bertujuan menggulingkan Soekarno

5. Merupakan skenario yang paling kontroversial dengan menempatkan Soekarno sebagai dalang dari G 30 S untuk melenyapkan pemimpin oposisi dari kalangan AD

6. Teori chaos, gabungan dari nekolim, pemimpin PKI yang keblinger dan oknum ABRI yang tidak benar



Teori atau skenario apapun yang dijalankan saat itu oleh pihak-pihak yang masih dianggap misterius, dikarenakan belum adanya kesepakatan untuk menunjuk satu pihak yang bertanggungjawab dalam peristiwa 1965, peristiwa tersebut telah menorehkan luka yang sangat dalam bagi sebagian besar warga Indonesia. Sekitar 500.000 jiwa telah menjadi korban, tewas dibunuh hanya karena diduga menjadi kader, simpatisan atau anggota PKI. Tragedi ini juga telah mengakibatkan penderitaan bagi 700.000 orang rakyat Indonesia termasuk keluarganya.




Pada catatan sejarah yang ada, banyak para Jenderal yang mati karena kekejaman PKI, seperti itulah sejarah yang tertulis, tapi seperti apakah kebenaran sejarah sesungguhnya ? Hal inilah yang sangat susah untuk diungkap tapi sejarah tetaplah sesuatu realita yang cepat atau lambat akan tetap terungkap.



Sumber tulisan dikutif dari berbagai sumber buku maupun media online yang berupa catatan sejarah G 30 S PKI
Ajinatha

Amuk Massa Seputar 1965-1966, Kenangan Seorang Anak Singkong

13173591361518274249

Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com/www.TPGImages)




Peristiwa pemberontakan PKI 30 September 1965 yang mengambil korban 7 orang Perwira Tinggi 6 0rang perwira Tinggi dan seorang Perwira pertama Angkatan Darat (koreksi dari mas Valentino), yang kemudian disebut 7 Pahlawan Revolusi, rasanya semua orang Indonesia tahu. Penjelasan resmi dari Pemerintah masih mengacu pada buku bikinan rezim Orde Baru: Gerakan 30 September, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya, terbitan Sekretariat Negara, 1994. Buku yang sering disebut sebagai buku putih G-30-S ini menggiring pembaca untuk membuat kesimpulan bahwa PKI adalah dalang Peristiwa G-30-S. Belum baca? Nonton film manisnya Arifin C. Noer Pengkhianatan G30S/PKI kan? Ya itulah, gak beda jauh!




Memang ada versi lain dari kejadian itu? Ah, gak usah bersikap pura-pura tak tahu begitulaaaah……….



Meskipun pemutaran film itu sekarang bukan lagi menjadi tontonan wajib (berarti diakui dong, kalau ada yang salah disitu?), tapi penjelasan resmi itu belum direvisi Entah ini kesengajaan atas dasar pesanan, atau memang kita memang tak pernah peduli dengan sejarah. Atau kita memang tidak punya dana cukup untuk mengungkapkan sejarah…………



Dokumen CIA yang diklasifikasikan sebagai sangat rahasia, biasanya diumumkan kepada publik setelah dokumen itu berusia lewat 40 tahun. Tapi khusus mengenai Indonesia di seputar peristiwa itu, sampai saat ini masih disimpan rapat. Mantan Dutabesar Amerika Serikat untuk Indonesia tahun 1965-1969 Marshall Green dalam buku memoarnya Dari Sukarno ke Soeharto: G30S/PKI dari kacamata seorang Duta Besar, secara tegas memastikan tidak ada keterlibatan CIA dalam proses alih kekuasaan itu. Padahal ketika ditugaskan ke Indonesia, Juli 1965, Green sudah terkenal sebagai spesialis kudeta, karena posisinya selalu ada di tempat yang terjangkit penyakit kudeta di wilayah Asia .




Jadi, memang CIA tidak pernah terlibat dalam peristiwa itu?



1316940191553231586

sumber: lib.monash.edu.au




Lupakan Dokumen Gilchrist yang katanya palsu itu.






Andrew Gilchrist (1910-1993), adalah Duta Besar Inggris untuk Indonesia (1962-1966). Dalam sebuah telegramnya ke Kementerian Luar Negeri Inggris, Gilchrist mengungkapkan adanya rencana gabungan intervensi militer AS-Inggris di Indonesia. Pihak AS belakangan mengumumkan bahwa dokumen ini palsu adanya.



Ah, saya juga tidak sedang nulis tentang Cornell Paper.



Cornell Paper adalah julukan untuk sebuah publikasi akademis yang ditulis mahasiswa pasca sarjana Universitas Cornell (Ithaca-New York), Benedict Anderson, Ruth McVey serta Frederick Bunnel, 10 Januari 1966. Thesis ini dibawah tanggung jawab pakar Asia Tenggara dan Direktur Kajian Indonesia Modern di Universitas Cornell, George T. Kahin. Publikasi ini seharusnya hanya dibuat untuk kalangan terbatas. Tapi koran The Washington Post menyebarkannya 5 Maret 1966. Penguasa Orde Baru berang dan membuat para penulis dan penanggung jawabnya dicekal masuk Indonesia. Karya ilmiah itu jadi barang haram disini. Justru karena itu, para mahasiswa menjadikannya “bacaan wajib”. Kala itu rasanya jarang ada mahasiswa Indonesia yang belum pernah membaca karya ini.




Yaaaaah sudahlah. Saya bukan ahli sejarah. Hanya rakyat biasa yang mengalami masa-masa suram itu. Bukan pula seorang penikmat kontroversi, hanya seorang yang cengengesan…..



Saya hanya ingin cerita tentang masa-masa itu, dari sudut pandang seorang anak singkong.



Awal1965 itu, Ayah dipindah tugaskan dari Jakarta kembali ke Surabaya yang sudah beberapa tahun ditinggalkan. Kami menempati rumah besar yang ‘magrong-magrong‘ cukup mencolok bila dibandingkan dengan lingkungan sekitar, dipinggiran Surabaya ketika itu (sekarang sudah ditengah kota). Dengan kondisi itu pantas apabila PKI di wilayah kami menuding keluarga kami sebagai Kapitalis Birokrat, atau Kontra Revolusi. Tudingan antek Kapbir atau Kontrev ketika itu sebetulnya sudah cukup membuat rumah kami dijarah PKI. Tapi karena ayah aktivis Sarekat Buruh Marhaenis (SBM, organisasi yang menginduk ke PNI), maka kami aman-aman saja.




Saat itu, situasi politik memang sedang panas. Bung Karno sebagai Presiden Seumur Hidup, Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Tertinggi ABRI, sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Kekuatan Nasional bertumpu pada 3 partai politik besar pengusung gagasan Bung Karno, yang NASAKOM itu. Nasionalis: PNI, Agama: NU dan Komunis: PKI. Mereka sibuk saling bersaing menaikkan pamor partai sambil berebut massa. Tak jarang perkelahian fisik terjadi antara mereka.


Tapi anak-anak singkong ini bebas saja kemana-mana. Ada pawai PKI, kami ngikut pawai dibelakang sambil plesetan lagunya “Solmi iwak babi. Remifasol iwak tongkol. Mire mire mire, PKI-ne memang kere”.

Pawai PNI, ikut nyanyi gaya PNI sambil mengejek: “Bung Karno jaya sentosa. PNI-neee ngikut ajaaaa ”.

Pawai NU? ”Bapak NU, Ibu Muslimat, kakak Ansor, adik Fatayat” (nada shalawat Badar). Kalaulah ada yang usil nanya dari pinggir jalan (selalu ada !) “Masa cuma Bapak, Ibu, Kakak, Adik. Yang nyanyi sendiri apaaa?”. Kami jawab sekencangnya “PKI !!!!!”.


Semuanya buntutnya sama, lari serabutan sekencangnya dikejar para Pemuda Rakyat (PKI), Banteng Marhaen (PNI), Banser (NU). Lucunya, kalau kami ngusilin PKI, Banser lah yang ngomporin dan BM lah yang ngumpetin. Begitu sebaliknya………….


PKI atau Partai Komunis Indonesia, meskipun hanya sebagai partai nomer 4 pada Pemilu 1955 (dibawah PNI, Masyumi dan NU), tapi di awal 1965 itu sudah berkembang pesat dan amat agresif. Di desa-desa, mereka menjadi musuh bersama karena merampas kepemilikan lahan pribadi (atas dasar UU Land Reform yang melarang kepemilikan tanah di atas 10 hektar) yang kemudian dibagikan kepada simpatisannya. Di kota, dengan menuduh pedagang atau distributor menumpuk barang untuk keuntungan pribadi (antek Kapbir!), mereka menjarah toko atau gudangnya. (Ingat organisasi massa yang saat ini dengan dalih agama, menghancurkan apa saja yang tak sesuai dengan ideologi mereka?).



Yups, ekonomi ketika itu sedang parah. Meskipun hanya anak singkong, tapi tahu setiap hari ada antrian panjang untuk membeli beras. Sabun mandi? Sekarang mungkin jadi barang sepele. Tapi ketika itu benar-benar jadi barang mewah. Hari ini harganya 100 rupiah, besok bisa jadi 1.000 rupiah, dan…..meskipun kalian punya duitnya, belum tentu kebagian barangnya!



(Saya ingat benar karena Ayah ketika itu mendapat jatah bulanan dari kantor. Beras dan yang lainnya gak ingat persis. Tapi sabun mandi merk Camay yang keciiiiil dan cuma sebiji itu jadi barang mewah betul. Seminggu kami berenam mandi wangi. Minggu berikutnya ya mandi pake sabun cuci cap Tangan. Untungnya, saya punya kulit kwalitas badak)




Bung Karno memang mengandalkan PKI sebagai tulang punggung dalam membangun hubungan baik Jakarta-Hanoi-Peking. DN Aidit, Ketua PKI dalam ulang tahun PKI Mei 1965 mengklaim diri sebagai partai dengan 3 juta anggota dan 20 juta simpatisan. Dengan penduduk Indonesia ketika itu hanyalah sekitar 90 juta, dengan menghitung prosentase “massa mengambang“, wajar kan kalau mereka menyebut diri sebagai partai terbesar di Indonesia, mengalahkan PNI, yang notabene anak kandung Bung Karno?



Dalam posisi strategis dan sekuat itu, kalau disebut PKI melakukan kudeta (seperti kata Orde Baru), lantas kudeta kepada siapa?. Buat apa?. Ah, abaikan saja, cuma pertanyaan iseng…….



Tapi peristiwa itu sudah terjadi, dan 7 orang Perwira Angkatan Darat dan beberapa perwira lain jadi korban.



Lantas, PKI lah yang dituding di belakang semua kejadian ini…….




Gelombang amarah masyarakat yang tertekan akibat ulah PKI sebelumnya menemukan titik balik. Seperti bendungan yang bobol, masyarakat yang didukung oleh Angkatan Darat, mengamuk habis. 10 ribu petinggi PKI terbunuh atau di Pulau Buru-kan lewat Mahmilub. Tapi mereka jauh lebih beruntung daripada para anggota kelas teri, atau para simpatisan, atau mereka yang sekadar dicurigai.



Tak perlu menjadi anggota aktif PKI. Hanya diperlukan saksi saja, cukup untuk menyeret orang yang tak disukai dari hangatnya pelukan anak isterinya untuk tidak pernah kembali. Seorang pemilik toko di depan rumah kami, yang kebetulan ber-etnis Tionghoa diseret dari rumahnya gara-gara dia sering menyumbang PKI. Padahal mestinya dia juga dalam dilema ketika menyumbang itu. Kalaulah dia tak menyumbang, pasti tokonya dijarah PKI. Tapi menyumbang, akibatnya malah dianya gak bisa pulang lagi.



Sungai yang beberapa puluh meter dari rumah setiap hari membawa mayat manusia yang mengapung tanpa identitas, bahkan kadang tanpa kepala. Sering cuma sekali, kadang sampai sepuluh kali sehari (overdosis yak?). Terkadang, dalam perjalanan menghilir, mereka perlu istirahat dan tersangkut di pilar jembatan. Warga sekitarlah yang kemudian mengurus dan memakamkannya. Korban jiwa, menurut statemen resmi Orde Baru, adalah 50 ribuan orang. Tapi banyak pendapat yang menyebut, korban mencapai 500 ribu orang, bahkan ada yang menyebut angka 2 juta manusia terbantai dalam peristiwa amuk massa ini.



Pagi menjelang subuh itu, si anak singkong jagoan neon ini, karena terprovokasi teman-temannya yang katanya menemukan “sesuatu yang asyik“, nekad melompat pagar rumah. Meskipun tahu resikonya bakal berhadapan dengan penggebug kasur Penguasa Rumah alias Ayah dan Ibu. Meskipun juga tahu betul resiko akan pelanggaran jam malam yang diterapkan Penguasa (Penguasa betulan!) ketika itu. Tertangkap aparat, berarti gak main-main lagi. Tapi itu dipikir nantilah, kalau sudah tertangkap betulan. (Toh kami sudah sering berlatih lari kan?)




Di sebuah area pemakaman tak jauh dari rumah, lewat sawah dan hutan bambu yang lumayan lebat, bandit-bandit kecil ini benar-benar menyaksikan (meskipun sambil ngumpet dan dari jarak jauh) secara “live” proses penyembelihan manusia oleh sesamanya. Bukan hanya sekadar dibunuh!. Di keremangan pagi itu, gak jelas siapa yang melakukan dan siapa yang jadi korban. Tapi tak jauh dari situ, ada beberapa jip dan truk tentara sedang diparkir, galian lubang besar, tumpukan mayat dan calon korban yang menunggu giliran……….. Gak usah lagi saya cerita tentang bunyi-bunyian apa yang saya dengar ketika itu. Penampakan itu bukan hanya visual kan?



Kejadian ini tidak diceritakan dalam film resmi dan propaganda yang maniiiis itu kan? Yang jelas, penampakan pagi itu menjadikan saya benar-benar dicekam horor selama bertahun-tahun…..



Ah, semoga saja tidak akan pernah terjadi lagi revolusi atas nama apapun di Indonesia ini….. Harga yang harus dibayarkan buat nilai kemanusiaan, benar-benar terlalu mahal!
Ahmad Jayakardi