Advertising

Saturday, March 3, 2012

Photos of Hajar Aswat, Hajar nya Aswatama..??


Ka’bah atau Kaba dibangun oleh Ibrahim (Abraham / Brahma) yaitu yang “menurunkan” bangsa Arab, merupakan ‘rumah Allah’ kemudian diyakini serta dijadikan pusat arah ritual shalat dan diputari tujuh kali dalam ritual tahunan sampai-sampai ada keyakinan bahwa mencium batu hitam dan mengusap dinding kaba akan mendapatkan tempat di surga.



Dikeluarkanlah uang jutaan Rupiah untuk datang dalam setahun sekali atau sekali dalam seumur hidup untuk berkumpul bersama mengelilingi Kaba dan melempari tonggak batu dan berkumpul di lapangan pasir tandus juga berlari hilir mudik di antara dua tempat, hal ini mirip ritual paganisme. Mengelilingi kaba itu adalah tradisi dan budaya Qurais kuno sebelum kelahiran Muhammad juga ‘lari-lari kecil’ mondar-mandir antara dua tempat dan yang lainnya.Allah berasal dari kata Lah (sesuatu, seseorang) kemudian ada ‘ilah’ (sesembahan) meminjam dari kalimat ‘ilahinaas‘. Kemudian ‘ilah’ dikawinkan denga ‘al’ (alif lam) sebagai perubahan predikat pelengkap keterangan menjadi ‘subjek, kemudian menjadi kata Allah dengan artian ‘Tuhan’ (Tuha / Tua / Tao / Theo / Theis / Toa / Tau / Tho (yang artinya “sesepuh atau kokolot”).Pada waktu itu kaba di Mekah merupakan pusat penyembahan berhala antara lain adalah Hajar Aswad, Laata, Manaata, Uzza dan lain-lain. Menurut Hadits Shahih Bukhari 59:843, pada waktu itu bangsa Arab melakukan upacara ibadah haji dalam rangka penyembahan kelompok berhala yang 360 jumlahnya dengan cara melakukan thawaf, yaitu berjalan mengelilingi Kaba sebanyak 7 kali dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana sambil bertepuk tangan.Abu Hurairah mengatakan: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh rasulullah sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Kaba dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di kaba dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan.” ( Shahih Bukhari 8: 365 , 26:689)



Dari manakah ritual tawaf qudum ini berasal? Praktek mengambil 7 langkah yang dikenal sebagai Saptapadi diasosiasikan dengan upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara puncak dalam perkawinan Hindu yang menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian disalah artikan oleh nenek moyangnya Muhammad menjadi 7 kali). Mengingat “Makha” atau Mekah itu artinya API. Ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa Mekah dahulunya dibangun sebagai pusat pemujaan Dewa Api.


Dalam melaksanakan ritual tersebut para penyembah berhala memakai pakaian yang disebut Ihram yang dipakai untuk menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup. Pakaian ini jelas sekali adalah pakaian umat Hindu kuno dalam berziarah ke kuil mereka. Penggunaan pakaian tersebut dimaksudkan agar mereka datang dalam dalam keadaan putih bersih.


Para muslim yang terdahulu sebenarnya enggan berlari antara Shafa dan Marwah seperti kaum pemuja berhala lakukan; tapi Muhammad mengancam mereka untuk tetap melakukan ritual tersebut dengan menurunkan QS 2 : 158. (Sahih Bukhari 26: 706,710)


QS 2 : 158 Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.


Mengenai Arab : Arabia itu adalah kata singkatan. Kata aslinya yang bahkan masih digunakan saat ini adalah Arbashtan, asal katanya adalah Arvasthan. Seperti dalam bahasa Sang-Sakerta, huruf “V” diganti jadi huruf “B” seperti pada kata devata menjadi debata kemudiana menjadi dewata.


Arva dalam bahasa Sangsakerta berarti “kuda”. Arvasthan berarti “Tanah Kuda”, dan kita tahu bahwa Arabia memang terkenal akan kuda2nya. Pusat ibadah yakni Mekah juga berasal dari bahasa Sangsakerta. Kata Makha dalam bahasa Sangsakerta berarti “api persembahan”. Karena penyembahan terhadap “Api Veda” dilakukan di seluruh daerah Asia Barat di jaman pra-Islam, dengan demikian Makha itu merupakan tempat yang memiliki kuil untuk menyembah api.


Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Jazirah Arab, jauh sebelum masa Islam, adalah jajahan dari Kerajaan India kuno. Menurut sejarah, para Maharaja Chandragupta (58 S.M. – 415 M.) atau Maharaja dinasti Bulan (Chandra) telah memperluas Kerajaan Hindu yang mencakup India, hingga jauh sampai keseluruh Teluk Arabia. Para Maharaja ini adalah pengikut setia dewa-dewi Hindu khususnya Dewa Shiva (dewa bulan-Allat) dan istrinya Dewi Dhurga (dewi bulan = Allah).



Para Maharaja mempersembahkan kepada dewa-dewa mereka bangunan-bangunan kuil diseluruh wilayah kerajaan mereka (di Saudi Arabia saja sedikitnya ada 7 kuil peninggalan mereka, termasuk Kaba yang dibangun dimasa Raja Vikramaditya masih berdiri sampai saat ini).


Bahkan setelah kerajaan Hindu ini runtuh, penduduk Arab masih percaya dan menyembah dewa-dewa itu dan mengagungkan kuil-kuil yang ada sampai datangnya masa Muhammad.


Naskah Raja Vikramaditya yang ditemukan di dalam Kaba di Mekah merupakan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Jazirah Arabia merupakan bagian dari Kekaisaran India dimasa lalu, dan dia yang sangat menjunjung tinggi Dewa Shiva lalu membangun kuil Shiva yang bernama Kaba. Naskah penting Vikramaditya ditemukan tertulis pada sebuah cawan emas di dalam Kaba di Mekah, dan tulisan ini dicantumkan di halaman 315 dari buku yang berjudul `Sayar-ul-Okul’ yang disimpan di perpustakaan Makhtabe-Sultania di Istanbul, Turki.


Inilah tulisan Arabnya dalam huruf latin:


“Itrashaphai Santu Ibikramatul Phahalameen Karimun Yartapheeha Wayosassaru Bihillahaya Samaini Ela Motakabberen Sihillaha Yuhee Quid min howa Yapakhara phajjal asari nahone osirom bayjayhalem. Yundan… blabin Kajan blnaya khtoryaha sadunya kanateph netephi bejehalin Atadari bilamasa- rateen phakef tasabuhu kaunnieja majekaralhada walador. As hmiman burukankad toluho watastaru hihila Yakajibaymana balay kulk amarena phaneya jaunabilamary Bikramatum”. (Page 315 Sayar-ul-okul).


Terjemahan bahasa Indonesianya adalah:


Beruntunglah mereka yang lahir dan hidup di masa kekuasaan Raja Vikram. Dia adalah orang yang berbudi, pemimpin yang murah hati, berbakti pada kemakmuran rakyatnya. Tapi pada saat itu kami bangsa Arab tidak mempedulikan Tuhan dan memuaskan kenikmatan berahi. Kejahatan dan penyiksaan terjadi di mana2. Kekelaman dosa melanda negeri kami. Seperti domba berjuang mempertahankan nyawa dari cakaran kejam serigala, kami bangsa Arab terperangkap dalam dosa. Seluruh negeri dibungkus kegelapan begitu pekat seperti malam bulan baru. Tapi fajar saat ini dan sinar mentari penuh ajaran yang menyejukkan adalah hasil kebaikan sang Raja mulia Vikramaditya yang pimpinan bijaksananya tidak melupakan kami yang adalah orang2 asing. Dia menyebarkan agamanya yang suci diantara kami dan mengirim ahli2 yang cemerlang bersinar bagaikan matahari dari negerinya kepada kami. Para ahli dan pengajar ini datang ke negeri kami untuk berkhotbah tentang agama mereka dan menyampaikan pendidikan atas nama Raja Vikramaditya. Mereka menyampaikan bimbingan sehingga kami sadar kembali akan kehadiran Tuhan, diperkenalkan kepada keberadaanNya yang suci dan ditempatkan di jalan yang Benar.”


Istilah Kaba sendiri berasal dari kata Sangsakerta, Gabha (Garbha + Graha) yg berarti Sanctum (tempat suci). Kitab suci Weda Harihareswar Mahatmya menyebut bahwa jejak kaki Dewa Wisnu disucikan di Mekah. Bukti akan fakta ini adalah bahwa Muslim menyebut kuil ini Harram yang merupakan penyesuaian dari kata Sangsakerta, Hariyam, yaitu tempat Dewa Hari alias Dewa Vishnu. Jejak kaki Vishnu disucikan di tiga tempat suci: Gaya, Mekah dan Shukla Teertha. Mengukir jejak kaki macam itu merupakan adat Weda yang dicontek Muslim. Muslim menganggap bahwa ukiran jejak kaki ini disejumlah mesjid dan tempat2 suci Muslim diseputar dunia adalah jejak kaki Muhammad ! Di luar kuil hindu, biasanya juga terdapat singgasana Dewa Brahma, oleh karenanya di Mekah, singgasana Brahma itu dianggap sebagai makam Ibrahim (Abraham / Brahma).


Tradisi Hindu lainnya yang masih berhubungan dengan Kaba adalah sungai Gangga, menurut tradisi Hindu, Gangga tidak dapat dipisahkan dari lambang Dewa Shiva sebagai bulan Sabit, dimanapun lambang Shiva (bulan sabit) disitu pasti juga terdapat Gangga, fakta dari persatuan tersebut terdapat di dekat Kaba. Airnya dianggap keramat karena secara tradisional sudah dianggap sebagai Gangga sebelum Islam (yaitu Zam-zam). Bahkan hingga hari ini, para peziarah Muslim yang menyaksikan Kaba untuk haji memandang Zam-zam ini dengan penghormatan hingga menaruhnya kedalam botol sebagai Air keramat bagi mereka, sama seperti yang dilakukan umat Hindu India terhadap kesucian sungai Gangga.


Seperti yang telah dilakukan oleh Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, menyatakan akan menggugat hak atas kepemilikan Candi Borobudur. Hal tersebut patut diapresiasi secara damai dan cerdas dalam ruang antar argumen (ilmiah) yang sehat, bermoral dan terhormat.Tentu saja KH. Fahmi Basya tidak asal bicara dan beliau mempunyai data-data logis-rasional yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah… dan itu merupakan HAK (bahkan kewajiban) bagi setiap kaum intelek, dengan demikian hipotesa KH. Fahmi Basya itu patut dihormati dan dihargai.

Maka demikian pula pendapat para pecinta negeri, putra-putri IBU PERTIWI – Indonesia Raya patut dihormati dan dihargai sebagai hipotesa cerdas yang sepadan dengan yang dilakukan oleh Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya.


Tulisan di bawah ini merupakan paparan dari saudara TSP yang telah saya sunting. Argumentasi logis yang layak untuk diapresiasi oleh kita semua sebagai bangsa NUSANTARA yang BERADAB, CERDAS DAN BERBUDAYA.


Ka’bah atau Kaba dibangun oleh Ibrahim (Abraham / Brahma) yaitu yang “menurunkan” bangsa Arab, merupakan ‘rumah Allah’ kemudian diyakini serta dijadikan pusat arah ritual shalat dan diputari tujuh kali dalam ritual tahunan sampai-sampai ada keyakinan bahwa mencium batu hitam dan mengusap dinding kaba akan mendapatkan tempat di surga.


Dikeluarkanlah uang jutaan Rupiah untuk datang dalam setahun sekali atau sekali dalam seumur hidup untuk berkumpul bersama mengelilingi Kaba dan melempari tonggak batu dan berkumpul di lapangan pasir tandus juga berlari hilir mudik di antara dua tempat, hal ini mirip ritual paganisme. Mengelilingi kaba itu adalah tradisi dan budaya Qurais kuno sebelum kelahiran Muhammad juga ‘lari-lari kecil’ mondar-mandir antara dua tempat dan yang lainnya.



Allah berasal dari kata Lah (sesuatu, seseorang) kemudian ada ‘ilah’ (sesembahan) meminjam dari kalimat ‘ilahinaas‘. Kemudian ‘ilah’dikawinkan denga ‘al’ (alif lam) sebagai perubahan predikat pelengkap keterangan menjadi ‘subjek, kemudian menjadi kata Allah dengan artian ‘Tuhan’ (Tuha / Tua / Tao / Theo / Theis / Toa / Tau / Tho (yang artinya “sesepuh atau kokolot”).


Pada waktu itu kaba di Mekah merupakan pusat penyembahan berhala antara lain adalah Hajar Aswad, Laata, Manaata, Uzza dan lain-lain. Menurut Hadits Shahih Bukhari 59:843, pada waktu itu bangsa Arab melakukan upacara ibadah haji dalam rangka penyembahan kelompok berhala yang 360 jumlahnya dengan cara melakukan thawaf, yaitu berjalan mengelilingi Kaba sebanyak 7 kali dalam keadaan telanjang bulat tanpa busana sambil bertepuk tangan.



Abu Hurairah mengatakan: Abu Bakar Siddik ditugaskan oleh rasulullah sebelum haji wada untuk memimpin satu kaum pada hari Nahar melakukan haji, kemudian memberitahukan kepada orang banyak, suatu pemberitahuan: Ketahuilah! Sesudah tahun ini orang-orang musyrik tidak boleh lagi haji dan tidak boleh thawaf di Kaba dalam keadaan telanjang. Sebelum Islam, orang-orang musyrik Arab telah melakukan juga pekerjaan haji menurut cara mereka sendiri. Antara lain ialah thawaf di kaba dalam keadaan telanjang bulat sambil bertepuk tangan.” ( Shahih Bukhari 8: 365 , 26:689)



Darimanakah ritual tawaf qudum ini berasal? Praktek mengambil 7 langkah yang dikenal sebagai Saptapadi diasosiasikan dengan upacara perkawinan Hindu dan pemujaan api. Upacara puncak dalam perkawinan Hindu yang menggabungkan pasangan pengantin mengelilingi api suci sebanyak empat kali (tapi kemudian disalah artikan oleh nenek moyangnya Muhammad menjadi 7 kali). Mengingat “Makha” atau Mekah itu artinya API. Ketujuh tawaf itu membuktikan bahwa Mekah dahulunya dibangun sebagai pusat pemujaan Dewa Api.


Dalam melaksanakan ritual tersebut para penyembah berhala memakai pakaian yang disebut Ihram yang dipakai untuk menutup tubuh dengan dua helai kain putih yang tidak dijahit, di mana sehelai diselubungkan di sekeliling bahu dan yang sehelai lagi diselubungkan di sekeliling pinggang. Sedangkan kepala, kedua belah tangan dan kaki tidak boleh tertutup. Pakaian ini jelas sekali adalah pakaian umat Hindu kuno dalam berziarah ke kuil mereka. Penggunaan pakaian tersebut dimaksudkan agar mereka datang dalam dalam keadaan putih bersih.


Para muslim yang terdahulu sebenarnya enggan berlari antara Shafa dan Marwah seperti kaum pemuja berhala lakukan; tapi Muhammad mengancam mereka untuk tetap melakukan ritual tersebut dengan menurunkan QS 2 : 158. (Sahih Bukhari 26: 706,710)



QS 2 : 158 Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.


Mengenai Arab : Arabia itu adalah kata singkatan. Kata aslinya yang bahkan masih digunakan saat ini adalah Arbashtan, asal katanya adalah Arvasthan. Seperti dalam bahasa Sang-Sakerta, huruf “V” diganti jadi huruf “B” seperti pada kata devata menjadi debatakemudiana menjadi dewata.



Arva dalam bahasa Sangsakerta berarti “kuda”. Arvasthan berarti “Tanah Kuda”, dan kita tahu bahwa Arabia memang terkenal akan kuda2nya. Pusat ibadah yakni Mekah juga berasal dari bahasa Sangsakerta. Kata Makha dalam bahasa Sangsakerta berarti “api persembahan”. Karena penyembahan terhadap “Api Veda” dilakukan di seluruh daerah Asia Barat di jaman pra-Islam, dengan demikianMakha itu merupakan tempat yang memiliki kuil untuk menyembah api.


Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Jazirah Arab, jauh sebelum masa Islam, adalah jajahan dari Kerajaan India kuno. Menurut sejarah, para Maharaja Chandragupta (58 S.M. – 415 M.) atau Maharaja dinasti Bulan (Chandra) telah memperluas Kerajaan Hindu yang mencakup India, hingga jauh sampai keseluruh Teluk Arabia. Para Maharaja ini adalah pengikut setia dewa-dewi Hindu khususnya DewaShiva (dewa bulan-Allat) dan istrinya Dewi Dhurga (dewi bulan = Allah).



Para Maharaja mempersembahkan kepada dewa-dewa mereka bangunan-bangunan kuil diseluruh wilayah kerajaan mereka (di Saudi Arabia saja sedikitnya ada 7 kuil peninggalan mereka, termasuk Kaba yang dibangun dimasa Raja Vikramaditya masih berdiri sampai saat ini).


Bahkan setelah kerajaan Hindu ini runtuh, penduduk Arab masih percaya dan menyembah dewa-dewa itu dan mengagungkan kuil-kuil yang ada sampai datangnya masa Muhammad.


Naskah Raja Vikramaditya yang ditemukan di dalam Kaba di Mekah merupakan bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Jazirah Arabia merupakan bagian dari Kekaisaran India dimasa lalu, dan dia yang sangat menjunjung tinggi Dewa Shiva lalu membangun kuil Shivayang bernama Kaba. Naskah penting Vikramaditya ditemukan tertulis pada sebuah cawan emas di dalam Kaba di Mekah, dan tulisan ini dicantumkan di halaman 315 dari buku yang berjudul `Sayar-ul-Okul’ yang disimpan di perpustakaan Makhtabe-Sultania di Istanbul, Turki.



Inilah tulisan Arabnya dalam huruf latin:


“Itrashaphai Santu Ibikramatul Phahalameen Karimun Yartapheeha Wayosassaru Bihillahaya Samaini Ela Motakabberen Sihillaha Yuhee Quid min howa Yapakhara phajjal asari nahone osirom bayjayhalem. Yundan… blabin Kajan blnaya khtoryaha sadunya kanateph netephi bejehalin Atadari bilamasa- rateen phakef tasabuhu kaunnieja majekaralhada walador. As hmiman burukankad toluho watastaru hihila Yakajibaymana balay kulk amarena phaneya jaunabilamary Bikramatum”. (Page 315 Sayar-ul-okul).


Terjemahan bahasa Indonesianya adalah:


Beruntunglah mereka yang lahir dan hidup di masa kekuasaan Raja Vikram. Dia adalah orang yang berbudi, pemimpin yang murah hati, berbakti pada kemakmuran rakyatnya. Tapi pada saat itu kami bangsa Arab tidak mempedulikan Tuhan dan memuaskan kenikmatan berahi. Kejahatan dan penyiksaan terjadi di mana2. Kekelaman dosa melanda negeri kami. Seperti domba berjuang mempertahankan nyawa dari cakaran kejam serigala, kami bangsa Arab terperangkap dalam dosa. Seluruh negeri dibungkus kegelapan begitu pekat seperti malam bulan baru. Tapi fajar saat ini dan sinar mentari penuh ajaran yang menyejukkan adalah hasil kebaikan sang Raja mulia Vikramaditya yang pimpinan bijaksananya tidak melupakan kami yang adalah orang2 asing. Dia menyebarkan agamanya yang suci diantara kami dan mengirim ahli2 yang cemerlang bersinar bagaikan matahari dari negerinya kepada kami. Para ahli dan pengajar ini datang ke negeri kami untuk berkhotbah tentang agama mereka dan menyampaikan pendidikan atas nama Raja Vikramaditya. Mereka menyampaikan bimbingan sehingga kami sadar kembali akan kehadiran Tuhan, diperkenalkan kepada keberadaanNya yang suci dan ditempatkan di jalan yang Benar.”


Istilah Kaba sendiri berasal dari kata Sangsakerta, Gabha (Garbha + Graha) yg berarti Sanctum (tempat suci). Kitab suci Weda Harihareswar Mahatmya menyebut bahwa jejak kaki Dewa Wisnu disucikan di Mekah. Bukti akan fakta ini adalah bahwa Muslimmenyebut kuil ini Harram yang merupakan penyesuaian dari kata Sangsakerta, Hariyam, yaitu tempat Dewa Hari alias Dewa Vishnu. Jejak kaki Vishnu disucikan di tiga tempat suci: Gaya, Mekah dan Shukla Teertha. Mengukir jejak kaki macam itu merupakan adatWeda yang dicontek Muslim. Muslim menganggap bahwa ukiran jejak kaki ini disejumlah mesjid dan tempat2 suci Muslim diseputar dunia adalah jejak kaki Muhammad ! Di luar kuil hindu, biasanya juga terdapat singgasana Dewa Brahma, oleh karenanya di Mekah, singgasana Brahma itu dianggap sebagai makam Ibrahim (Abraham / Brahma).



Tradisi Hindu lainnya yang masih berhubungan dengan Kaba adalah sungai Gangga, menurut tradisi Hindu, Gangga tidak dapat dipisahkan dari lambang Dewa Shiva sebagai bulan Sabit, dimanapun lambang Shiva (bulan sabit) disitu pasti juga terdapat Gangga, fakta dari persatuan tersebut terdapat di dekat Kaba. Airnya dianggap keramat karena secara tradisional sudah dianggap sebagai Gangga sebelum Islam (yaitu Zam-zam). Bahkan hingga hari ini, para peziarah Muslim yang menyaksikan Kaba untuk haji memandangZam-zam ini dengan penghormatan hingga menaruhnya kedalam botol sebagai Air keramat bagi mereka, sama seperti yang dilakukan umat Hindu India terhadap kesucian sungai Gangga.



PENUTUP


Yang harus dikritisi sekarang dari sisi Islam di Nusantara adalah sikap fundamentalisme yang salah kaprah mendirikan syariat Islam di bumi NKRI, pemaksaan kehendak dengan dalil ‘jihad’ guna mendapatkan tempat di surga, dengan iming iming 72 bidadari. Seharusnya kesadaran Islam sebagai ‘rahmat lil alamin’ jangan dirusak dengan penistaan kemanusiaan mengumbar sesat-murtad-kafir dan merusak tatanan sosial setempat (adat dan budaya), HARMONI IN PROGRESIO.

Damai selalu… Nusantara Agung – Indonesia Raya

2 comments:

hamba allah swt dan umat rasullullah saw said...

pertama-tama, lambang bulan sabit bukanlah lambang atau simbol agama islam...silakan cari dalilnya baik di alquran atau hadist sahih...tidak bakal ketemu...itu hanya lambang kilafah atau kerajaan islam zaman dahulu...kedua, makkah kenapa harus diartikan dengan bahasa sansekerta..sudah jelas dia dari bahasa arab yang bahasa berdiri sendiri yang tidak tercampur bahasa lain...lagipula ada nama lain dari kota mekkah seperti bakkah dan umul quro..Dalilnya adalah firman Allah SWT dalam Al-quran surat Ali Imran (3) ayat 96 : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”.
Pada Surat Al-An’am (6) ayat 92 Allah berfirman : Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umul Qura dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka selalu memelihara shalatnya.
Kata ‘Ummul Qura’ berarti induk bagi kota-kota lain, dan kota-kota di sekelilingnya menunjukkan Makkah adalah pusat bagi kota-kota lain, dan yang lain hanyalah berada di sekelilingnya. Lebih dari itu, kata ummu (ibu) mempunyai arti yang penting di dalam kultur Islam. Sebagaimana seorang ibu adalah sumber dari keturunan, maka Makkah juga merupakan sumber dari semua negeri lain, kata ‘ibu’ memberi Makkah keunggulan di atas semua kota lain.
Berdasarkan pertimbangan yang seksama bahwa Makkah berada tengah-tengah bumi sebagaimana yang dikuatkan oleh studi-studi dan gambar-gambar geologi yang dihasilkan satelit...dan ketiga : mengenai Ibrahim dalilnya di Al quran adalah "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam"."(QS : 2 ayat 132), "Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah (muslim) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." (QS : 3 ayat 67)......Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. 3:19)
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. 3:85)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. 39:22)

aL-Hikmah Foundation said...

Pembuktian terbalik diperlukan disini untuk menyeimbangkan pendapat:
misal... Bahwa Bangsa Hindulah yang menjadi pihak kedua... itu bisa dilihat dalam kitab weda bahwa kitab mereka meyakini kedatangan Muhammad dan Islam...