Advertising

Saturday, May 19, 2012

(Ilmu Hitam) 1983-1984 Belasan Gadis Diperkosa di Kediri


Tahun 1983 sampai tahun 1983 adalah tahun yang mencekam dikediri, tahun dimana para anak gadis menjadi sasaran kebiadaban segerombolan orang yang sedang mendalami lelaku ilmu hitam. Somoredjo adalah tokoh utama yang menyebarkan ilmu hitam yaitu ilmu Tulak Gaman (anti bacok). Ilmu yang jika dilakoni akan menjadi kebal dari senjata ini membuat somoredjo dan para muridnya beringas.


Kakek berusia 90 tahun yang kala itu sudah meringkuk dipenjara mengatakan, untuk memperoleh ajian tulak gaman itu harus membaca Lismillah, kemudian puasa 24 jam selama 3 hari dan menutup puasa dengan kenduri. syarat kendurinya dalah 2 ekor ayam putih, dan menyediakan kain kafan sepanjang tubuh manusia, belum berhenti sampai disitu, untuk menyempurnakan ilmunya harus memperkosa gadis yang masih perawan dan belum Aqil Balig. Darah perawan tersebut tidak boleh dicuci sehari semalam, konon darah perawan tersebutlah yang membuat kebal, anti bacok, tusuk bahkan guna-guna/santet.


Terbongkarnya para pelaku ilmu hitam diawali tertangkapnya ketiga muridnya. Merekalah yang melakukan aksi atas ajaran mbah somo (panggilan somoredjo). walau mbah somo berkelit tidak menyuruh memperkosa para gadis belia namun ilmu ajarannyalah yang memaksa murid-muridnya melakukan tindakan tersebut.


Dalam melakukan aksi pemerkosaannya, ketiga muridnya selalu membawa keris panggang lele, keris ini diyakini sebagai keselamatan, bahkan pernah dikepung penduduk kampung karena korban berteriak, dengan membawa keris panggang lele, 2 pelaku mampu lolos dari kepungan warga kampung. namun berkat keris ini juga aliran hitam mbah somo terungkap.


Di kediri sendiri kala itu ada 2 aliran sesat yaitu penganut ilmu tulak gaman dan ilmu jaran goyang. Menurut kepercayaan para pelaku ilmu tersebut menuntut pelakunya memperkosa seorang perawan. dua orang penganut ilmu jaran goyang telah tertangkap duluan dan inilah yang menjadi petunjuk pihak kepoliasian dalam menangkap aliran mbah somo.


Sangking birahinya setelah melucuti anak gadis kelas 3 SD paryono (murid mbah somo) melupakan wejangan yang diberikan mbah somo yaitu selalu membawa keris panggang lele, namun birahi yang memuncak keris itu jatuh dari tangannya, di pungutlah widji (murid mbah somo lainnya). Berteriaklah sang anak gadis yang sontak membuat priyono kaget dan teringat kerisnya sudah tidak ditangan.



pemerkosaan itu gagal dan sang korban menceritakan bahwa dua orang tersebut sedang berebut keris. pihak kepolisan sendiri telah mengantongi 2 tersangka yang sudah mendekam d penjara dari aliran ilmu jaran goyang. Saat di mintai keterangan, “pemerkosa yang membawa keris, biasanya penganut ilmu tulak gaman aliran mbah somo”.


kurun waktu setahun antara 1983-1984 di kediri ada 20 anak kecil menjadi korban. Mereka diculik di tengah malam, lalu diperkosa di tengah kebun atau sawah. Terakhir, seorang gadis berusia 12 tahun ditemukan di tepi Kali Kondang dalam keadaan sudah tak bernyawa. Ia terbungkus baju hitam, mulut tersumbat celana sendiri dan tubuh bagian bawahnya berlumuran darah.

Dalam Buku Autobiografi Soeharto tentang petrus di tahun 1980an yang berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya “Mereka tidak hanya melanggar hukum, tetapi sudah melebihi batas perikemanusiaan. Orang tua sudah dirampas berbagai miliknya, kemudian masih dibunuh. Atau juga: “….ada perempuan yang diambil kekayaannya dan istri orang lain itu masih juga diperkosa orang jahat itu di depan suaminya lagi. Itu sudah keterlaluan!. Kalau mengambil, ya mengambillah, tetapi jangan lantas membunuh.”


Apakah memang dijaman itu jaman kebiadaban umat manusia, dan jalan petruslah yang memang seharusnya di berikan pada para pelaku kebiadaban tersebut.



Dalam sejarahnya dikediri, nama mbah somo lah yang melegenda. ada ketakutan serta momok bagi para wanita, dikala itu mereka tidak berani dirumah sendiri serta bepergian sendiri ada kata yang selalu disebutkan “jangan dirumah sendiri, nanti didatangi somo”. seperti label merk air minum dalam gelas plastik yang disebut AQua walau merknya Total tetap disebut AQua, seperti itulah nama somo berubah dengan penyebutan yang lebih mudah yaitu sumo, bukan seperti sumo di jepang akan tetapi sumo ini sumo identik dengan nama pelaku pemerkosa. Selain itu, sang guru serta para murid yang melakukan ilmu hitam ini, masyrakat menyebut mereka dengan sebutan (ma’af) Sumo Bawuk.



Para pelaku secara umum hanya memikirkan keberhasilan, angan-angan kehebatan kedigdayaan yang cuma mimpi, mereka tidak memikirkan tindakan buruk apakah yang akan terjadi pada mereka sendiri, seperti Dukun AS yang melakukan ritual sama yang berakhir dengan hukuman mati begitu pula para murid mbah somo, walau mungkin memang kebal bacok tetapi tidak kebal hukum meringkuklah dalam jeruji besi sambil menyesali tindakanya. Walau mbah somo hanya mengajarkan dan tidak ikut dalam pemerkosaan ditahun itu, namun ajarannya pun memakan dirinya sendiri, kakek mbah somo yang memberikan wejangan, jangan kau turunkan atau wariskan ke orang lain jika anak-anak perempuanmu belum menikah, wejangan memang dilakoni, namun apa daya bukan anak mbah somo yang menjadi korban tetapi cucu mbah somo jadi korban ilmu sesat tulak gaman. sang cucu diperkosa salah satu murid mbah somo.


kejahatan atau kebaikan yang kau ajarkan atau yang kau lakukan pasti akan berbalik kepadamu, manisnya kebaikan atau pahitnya kejahatan yang kau terima semuanya tergantung dirimu sendiri.



Referensi bacaan :

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/04/13/KRI/mbm.19850413.KRI38661.id.html

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1984/12/08/KRI/mbm.19841208.KRI41889.id.html


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1986/02/08/KRI/mbm.19860208.KRI34445.id.html


Hagemaru_j

No comments: