Advertising

Tuesday, May 1, 2012

Intata, Pulau yang Pernah Tenggelam

catatan perjalanan 2007 yang tersisa

Surga di utara Sulawesi, Pulau Intata yang terkenal dengan wisata tahunan Mane’e ternyata pernah tenggelam.

1335803834127657136


“….SEBAHAGIAN DARATAN PULAU INTATA TENGGELAM DAN PENGHUNINYA HANYUT OLEH AMUKAN OMBAK YANG DATANG DARI ARAH TIMUR LAUT SEBELAH LAUTAN PASIFIK.”


Demikian sebagian catatan peristiwa tenggelamnya sebagian daratan pulau Intata yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1014 jam 01.00 pada zaman Ratu Liunsanda, Hugu-Lalua dan Hugu-Panditan yang diabadikan dengan tulisan pada sebuah monumen. Monumen peristiwa bencana alam tersebut masih tegak berdiri di halaman rumah kepala adat desa Kakorotan / Ratumbanua di tengah-tengah desa kakorotan di Pulau Kakorotan Kecamatan kepulauan Nanusa di wilayah paling utara di Propinsi Sulawesi Utara.


1335803981150054071Pulau Intata yang sangat indah dengan nuansa alami memang sepi, tidak ada penghuninya. Air laut yang masih bersih dengan pasir-pasir putih yang mengelilinginya. Tapi setiap bulan Mei, saat dilangsungkan upacara adat menangkap ikan secara tradisional, Pulau Surga ini ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara termasuk Gubernur Sulawesi Utara, kadang beberapa Menteri juga datang kesana menghadiri event wisata nasional ini.


Sangat disayangkan memang, kedatangan rombongan Gubernur Sulawesi Utara dan Bupati Talaud serta wisatawan ke Pulau Intata dan Pulau Kakorotan ini hanya sekedar mampir dan hanya menyaksikan upacara tradisional tahunan tanpa menginap karena Kapal Laut yang mengantarnya berangkat dari Melonguane Ibukota Kabupaten Talaud pada tengah malam dan tiba di Pulau Intata pagi harinya. Setelah mengikuti kearifan budaya laut, tradisi eha atau tradisi menangkap ikan secara tradisional menggunakan janur-janur dan menyantap ikan-ikan hasil tangkapan, sore harinya rombongan sudah meninggalkan Pulau Kakorotan dan Pulau Intata.



Pulau Gelap, minim fasilitas


13358040691543537264Ketiadaan fasilitas rupanya yang menyebabkan rombongan Gubernur Sulawesi Utara dan Bupati Talaud serta wisatawan domestik dan manca negara ini yang membuat mereka tidak menginap di Pulau Kakorotan, Pulau yang berada persis disebelah pulau Intata.


Pulau Gelap, demikian sering dikatakan beberapa orang dari pulau lainnya seperti pulau Karatung dan Pulau Miangas kalau menyebut pulau Kakorotan karena tidak ada pasokan listrik dari PLN. Penerangan setiap rumah hanya menggunakan 3 (tiga) buah lampu neon 10 watt dc yang diambil dari battere / aki 70 AH yang diisi dari panel surya (solar cell) buatan PT.Len Industri Bandung yang merupakan bantuan dari Pemerintah pusat.


Sinar yang keluar dari lampu neon 10 watt dc ini redup kalau dibandingkan dengan lampu neon balas yang diambil dari catuan listrik ac, kadang mereka lebih sering menggunakan lampu botol sebutan untuk lampu sumbu dalam botol dengan minyak tanah yang dibelinya dengan harga Rp. 10.000,- perliternya, terlebih saat musim badai, hujan dan awan yang senantiasa menutup sinar matahari tak lagi diharapkan untuk mengisi battere dari panel surya.


Hanya 1 (satu) orang di Pulau ini yang memiliki genset, itupun hanya digunakan jika ada orang yang menyewanya untuk keperluan pesta dengan menggunakan bensin seharga Rp. 15.000,- perliter. Sehingga praktis masyarakat di pulau ini tidak pernah menikmati hiburan, menonton TV seperti masyarakat di Pulau Karatung Ibukota kecamatan Nanusa yang tak jauh atau seperti di Pulau Miangas yang langsung berbatasan dengan negara tetangga Philipina.


Fasilitas telekomunikasipun hanya ada 1 (satu) unit yaitu Wartel Tenaga Surya yang dipasang di salah satu rumah di depan rumah kepala adat desa Kakorotan. Wartel satelit byru dari PT. Pasific Satelit Nusantara (PSN) dengan catuan tenaga surya ini yang diperolehnya dari proyek USO tahap-II ini sangat sepi, jarang sekali masyarakat yang menggunakan fasilitas ini karena mahalnya biaya percakapan. Kalau tidak terpaksa, masyarakat cukup menunggu panggilan dari pengelola wartel jika ada sanak keluarganya diluar pulau yang akan menghubunginya.



Pulau Malo tenggelam


1335804171174616215Sebut saja Pulau Malo yang oleh masyarakat Pulau Karatung disebutnya dengan Pulau Cepak karena konturnya yang rata dan pendek tidak ada bukit persis seperti rambutnya tentara. Pulau yang hanya ditumbuhi pohon-pohon kelapa dan dihuni ribuan ketam kenari ini terletak disebelah Pulau Kakorotan dan tidak ada penghuninya karena sebagian besar daratannya dipenuhi rawa-rawa yang kadang tenggelam ketika air laut pasang, menyisakan ujung-ujung daun kelapa.


Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi pada pulau-pulau kecil yang berada di Kecamatan kepulauan Nanusa ini jika isu pemanasan global terjadi. Peristiwa tenggelamnya sebagian daratan Pulau Intata terukir abadi pada monumen sejarah Pulau Intata dan Pulau Kakorotan karena ada penghuninya yang hilang terseret ombak lautan pasifik. Mungkin saat itu Pulau Malo sudah hilang, tenggelam oleh amukan ombak lautan pasifik sementara penduduk di pulau Karatung sudah berlarian ke bukit-bukit kecil.



Pulau Miangas tenggelam…?


1335804283981893254Pengaruh pemanasan global yang akan menaikkan permukaan laut akibat mencairnya es di Kutub mungkin berpengaruh terhadap Pulau Miangas di perbatasan Philipina.


Seluruh penduduk di Pulau Miangas yang berjumlah 600 orang ini bermukim di daratan yang hampir rata dengan permukaan air laut. Ombak besar yang menerjang dermaga saat musim badai membawa air laut ke daratan, ke pemukiman penduduk. Bisa dibayangkan jika permukaan air laut naik 3-5 meter, Pulau Miangas mungkin hanya menyisakan sebuah bukit tempat Mercusuar, tempat berdirinya Pohon Palem yang terlihat dari daratan Philipina sehingga orang Philipina menyebutnya Las Palmas. (Ferdi Rosman Feizal, Semarang 20 Desember 2007).



Ferdi Rosman

No comments: