Advertising

Tuesday, October 9, 2012

Ayat-ayat Al-Quran Tentang Istri Nabi Muhammad SAW

Bolehkan saya bertanya: apakah Anda berani menghapuskan teguran Allah kepada Aisyah dan Hafshah yang menyebarkan rahasia Nabi dan bahu-membahu menyakiti hati Nabi saw? Allah juga berfirman sekiranya Nabi menceraikan mereka, Tuhannya “akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik”.
Al-Tahrim ayat 3: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang istrinya (Hafshah) suatu peritiwa. Maka tatkala (Hafshah) meneceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itui (pembicaraan Hafshah dan Aisyah) kepada Muhammad, lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yg diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yg lain (kpd Hafshah), maka tatkala (Muhammad)memberitahukan pembicaraan (antara Hafsyah dan Aisyah) lalu (Hafshah) bertanya: siapakah yg telah memberitahukan hal ini kpdmu?. Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”
Al-Tahrim ayat 4: Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu telah condong (utk menerima kebaikan); dan jika KAMU BERDUA BANTU-MEMBNTU MENYUSAHKAN NABI, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan org2 mukmin yg baik; dan selain dari itu malaikat2 adalah penolongnya pula.
Al-Tahrim ayat 5 : Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi TUHANnya AKAN MEMBERI GANTI KEPADANYA DENGAN ISTRI YG LEBIH BAIK daripada kamu, yg patuh, yg beriman, yg taat, yg bertaubat, yg mengerjakan ibadat, yg berpuasa, yg janda dan yg perawan.
Secara singkat: (1) Aisyah dan Hafshah ditegur Allah supaya bertaubat (2) karena mereka membocorkan rahasia Nabi, (3) mereka berdua bantu-membantu menyakiti atau menyusahkan hati Nabi, (4) kalau diceraikan Nabi, Tuhan akan memberikan kpd Nabi saw istri yang lebih baik, lebih patuh, dsb daripada mereka. Seperti kata sdr Bahar, kita tidak usah marah (walaupun Allah murka) krn itu hanya “riak gelombang diantara mereka, if any, biasa lah itu, mereka juga manusia biasa yang tidak maksum”.
Mereka mendapat gelar Ummahatul Mukminin dan saya sangat setuju untuk memanggil mereka dengan yang mulia itu. Karena begitulah Al-Quran memanggil mereka. Tapi, kan boleh juga saya menuliskan terjemahan Depag al-Tahrim yang di atas tadi? Itu juga kan sejarah versi Al-Quran :)
Saya akan menyambung sepotong ayat yang menyebut gelar Ummahatul mukminin (33:6) dengan 3 ayat dalam alTahrim yg menegur Aisyah dan Hafshah.
Apa pelajarannya? Karena ayat-ayat yang berisi teguran itu disembunyikan, akhirnya ahlus sunnah memandang sahabat itu maksum. Mereka tidak menggunakan kata maksum, tapi ‘udul. Simak definisi Abu Hatim al-Razi tentang ‘udul:
“Allah telah memuliakan mrk dg anugraNya dan meninggikan mereka dlm posisi teladan. MAKA ALLAH HILANGKAN DARI MEREKA KERAGUAN, KEBOHONGAN, KESALAHAN, KESOMBONGAN, DAN PERBUATAN BURUK… Allah namakan mereka umat yg ‘udul…Maka mereka pun menjadi umat yg udul, IMAM2 PETUNJUK, HUJJAH2 AGAMA…” (Taqdimah al-Ma’rifah liKitaab al-Jarh wa al-Ta’dil, halmn 7-9).
Yang saya tulis dengan huruf besar itu adalah juga definisi maksum. Jadi, ketika kita mengatakan sahabat itu tidak maksum, tapi ‘udul, kita hanya bermain kata-kata.
[Tulisan tersebut merupakan cuplikan komentar Kang Jalal dari milis: SuaraHati, berkaitan dengan diskusi tentang sahabat dan istri Nabi Muhammad saw. Beberapa tulisan yg bernuansa kritis terhadap sejarah dan sahabat Nabi tidak diperkenankan muncul dalam milis tersebut sehingga diskusi melalui jaringan prbadi]

Ahmad S

No comments: