Advertising

Friday, October 19, 2012

Peringatan 1.000 Hari Gus Dur, ada puja-puji yang terlalu dan membodohi Ummat Islam


( الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ ) متفق عليه
“Seseorang bersama orang yang dia cintai” (Muttafaq ‘alaih)
Di dalam hadits ini terdapat motivasi (untuk berteman dengan orang shalih-pent) dan peringatan keras (untuk tidak berteman dengan orang tidak shalih-pent), di dalam hadits ini terdapat janji yang baik (bagi yang berteman dengan orang shalih-pent) dan ancaman siksa (bagi yang berteman dengan orang tidak shalih-pent)
Kawanku …
  • Jangan sampai hari kiamat kita seperti apa yang disebutkan di dalam ayat di bawah ini akibat Menjadikan Idola Yang Tidak Pantas Untuk Diidolakan, Baik Karena Kekafirannya, Kesyirikannya, Kebid’ahannya Maupun Maksiatnya!!!.
{يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67)} [الأحزاب: 66، 67]
Artinya: Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” QS. Al Ahzab: 66-67.
  • Diberitakan, Pendeta Sunardi mengatakan, selain umat muslim, sosok Gus Dur juga berarti bagi kalangan nonmuslim. “Gus Dur jasanya sangat besar dalam menumbuhkan pluralisme di Indonesia. Hingga saat ini sosok Gus Dur belum tergantikan,” kata Sunardi usai memanjatkan doa di makam Gus Dur.
Dalam menggerakkan pluralisme, lanjut Sunardi, mantan Ketua Umum PBNU tersebut bukan sekadar berwacana. Namun Gus Dur lebih mengedepankan langkah konkret. “Beliau tidak memandang suku, ras, dan agama. Ketika ada kelompok termarginalkan, maka Gus Dur akan melawan,” katanya.
Puja-puji dari pendeta itu tampak jelas keterlaluannya bahkan pembodohannya terhadap Ummat Islam. Karena dalam kenyataan, sosok Gus Dur ketika hidupnya hanyalah bertandang untuk membela yang terpinggirkan bila mereka itu pihak yang merusak atau membenci Islam. Tetapi kalau masyarakat Muslim yang ingin melaksanakan agamanya dengan tenang namun ditekan dan didhalimi, maka sama sekali Gus Dur tidak mau tahu. Hal itu sebagaimana terbaca dalam tulisan berikut ini:
Bohong Besar, Gus Dur Bela Minoritas!
Assalamu’alaikum warahmarullahi wabarakatuh
Suara-suara yang menyanjung Gus Dur itu kebanyakan tipuan belaka. Misalnya, dia disebut-sebut sebagai pembela kaum minoritas. Itu dusta belaka. Dia hanya mau membela kalau itu merusak Islam. Misalnya Ahmadiyah yang nabinya palsu tetapi mengaku Islam, bahkan menganggap kafir bagi yang tidak ikut mereka. itulah yang dia bela. Tapi muslim Denpasar yang dilarang punya kuburan Muslim, dilarang bangun masjid lagi, tak dia bela.
contoh Gus Dur membela kesesatan, berita ini:
Gus Dur Siap Jadi Pembela Ahmadiyah
Sabtu, 19 April 2008 – 11:33 wib
Yuni Herlina Sinambela – Okezone
JAKARTA – Mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyatakan siap menjadi pembela kelompok Ahmadiyah jika nantinya ada proses pengadilan.
“Kalau dibawa ke pengadilan, saya akan jadi saksi ahli. Kalau diperlukan, saya akan jadi anggota tim pembela,” kata Gus Dur usai diskusi di Utan Kayu, Jalan Utan Kayu, Jakarta,
Sabtu (19/4/2008).
Mengenai pernyataan Bakor Pakem yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat dan terlarang, Gus Dur menyatakan telah terjadi pelanggaran Undang Undang Dasar. Karenanya,
menurut Gus Dur, aliran itu tidak perlu dibubarkan.
“Kalau berdasar UUD, harus dipertahankan kemerdekaan berpikir dan berbicara. Jadi karena itu ahmadiyah tidak usah dibubarkan. Bakor Pakem itu salah, melanggar UUD,” nilai mantan presiden ini.(jri)
Ya, memang dia siap jadi pembela kalau itu merusak Islam, seperti Ahmadiyah dengan nabi palsunya. Sebaliknya, dia tak mau tahu kalau itu yang menderita adalah orang Islam.
Buktinya, berkali-kali ada berita, orang Islam di Bali khususnya di Denpasar yang berjumlah 30 persen itu tidak dibolehkan punya pekuburan Muslim. Mereka sudah sering mengeluh, tetapi adakah pembelaan Gus Dur? Muslimin Denpasar tidak boleh mendirikan lagi musholla, apalagi masjid, padahal yang ada sudah tak memadahi. pernahkah Gus Dur kerangkang-rangkang untuk membela Muslimin yang didholimi itu seperti yang ia lakukan di antaranya membela Gereja di Karang Tengah Tangerang, dan membelanya pun dengan melabrak ke masjid, akhirnya diusir oleh masyarakat karena asal bela gereja begitu saja? Jadi secara singkatnya, dia adalah pembela siapa dan apa saja yang merusak dan membenci Islam. sebaliknya, tidak mau tahu kalau itu Islam yang didholimi.
Itu kalau dalam ilmu aqidah, wala’ (kecintaannya) terbalik. Seharusnya cinta kepada Allah, Rasul, Islam, dan Muslimin; tapi justru sebaliknya. jadi wala’ dan bara’nya terbalik.
Maka benarlah perkataan seorang Kiai NU di Madura, KH Kholil Muhammad, “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur,”
Banyaknya orang yang menyanjung Gus Dur, barangkali saja filter hidung-hidung manusia sudah banyak yang tidak mampu menyaring secara obyektif. Sehingga mereka sudah berubah jadi berhidung lalat, justru merasa sedap ketika bertemu dengan barang busuk apalagi sangat busuk. Makanya bau busuk yang sangat menyengat itu justru sangat wangi bagi mereka, hingga menyanjungnya dan mengelu-elukannya.
Meskipun demikian, masih ada pula kiyai yang sudah benar-benar muak dengan Gus Dur di antaranya KH Ali Yafie, sampai dua kali mundur ketika Gus Dur memimpin.
Pertama, KH Ali Yafie mundur dari petinggi kiyai NU (struktural) ketika Gus Dur jadi ketua umum PBNU karena Gus Dur minta dana dari YDBKS yayasan yang mengelola judi nasional, SDSB yang dulunya bernama Porkas.
Kedua, KH Ali Yafie mundur dari ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) ketika ternyata Gus Dur naik jadi presiden.
Ada lagi KH Kholil Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur menilai, pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat Islam. “Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh
secara pemikiran setelah Gus Dur,” ujarnya.(TEMPO Interaktif, Rabu, 30 Desember 2009 | 23:24WIB).
Apakah kita akan ikut-ikut jadi lalat yang lebih senang terhadap yang busuk-busuk?
Wassalam
Hajaiz Ahmad/ 4 January 2010 | Filed under: Ahmadiyah,Sepilis | Posted by: nahimunkar.com
***
Tentang peringatan 1000 hari diwarnai puja-puji yag terlalu dan membodohi Ummat Islam, inilah beritanya.
Peringatan 1.000 Hari Gus Dur, Orang Kristen pun Ikut Mendoakan
Jombang - Presiden SBY memberikan gelar Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai : “Bapak Pluralisme”. Karena saking kasihnya terhadap golongan-golongan di luar Islam.
Di era Abdurrahman Wahid, agama Kong Hu Chu diakui sebagai agama resmi. Ketika Abdurrahman Wahid mati, maka tak heran orang-orang Cina banyak yang menangis. Sangat sedih. Merasa kehilangan.
Abdurrahman Wahid lah satu-satunya tokoh NU, yang menjadi anggota Institute Shimon Peres di Tel Aviv, Yayasan Charity, yang dipimpin Presiden Shimon Peres. Abdurrahman Wahid digunakan kalangan media-media Kristen dan Zionis, guna menghantam dan menghancurkan Islam dan Muslim, yang ingin berusaha istiqomah terhadap keyakinannya.
Karena itu, Gus Dur mendapatkan penghargaan berupa gelar“Medal of Velor”, karena dianggap memiliki dedikasi, jasa-jasanya, dan keberaniannya yang luar biasa memperjuangkan pluralisme di Indonesia. Gelar “Medal of Valor” itu diberikan oleh tokoh-tokoh Yahudi dunia. Penghargaan itu diserahkan di California, dalam sebuah upacara disebuah hotel yang sangat mewah.
Tak aneh kalau menjelang peringatan 1.000 harinya Gus Dur, di Tebu Ireng- Jombang, bukan hanya dihadiri oleh kalangan Nahdliyyin, tetapi sejumlah tokoh dan umat Kristen ikut datang ke kuburan Abdurrahman WAhid, dan ikut berdo’a.
Diantaranya, kelompok yang datang itu menamakan diri komunitas lintas iman Jombang. Tampak dalam rombongan, Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injil Indonesia (PGLII) Jombang, Pendeta Christian Muskanan, dan Wakil Ketua BKSD (Badan Kerja Sama Diakonia), Pendeta Sunardi. Begitu menginjakkan kaki di Ponpes Tebuireng, rombongan komunitas lintas iman itu langsung mereka menuju area kuburan Gus Dur guna memanjatkan doa.
Pendeta Sunardi mengatakan, selain umat muslim, sosok Gus Dur juga berarti bagi kalangan nonmuslim. “Gus Dur jasanya sangat besar dalam menumbuhkan pluralisme di Indonesia. Hingga saat ini sosok Gus Dur belum tergantikan,” kata Sunardi usai memanjatkan doa di makam Gus Dur.
Dalam menggerakkan pluralisme, lanjut Sunardi, mantan Ketua Umum PBNU tersebut bukan sekadar berwacana. Namun Gus Dur lebih mengedepankan langkah konkret. “Beliau tidak memandang suku, ras, dan agama. Ketika ada kelompok termarginalkan, maka Gus Dur akan melawan,” katanya.
Hal senada juga dilontarkan Pendeta Christian Muskanan. Menurut Christian, Gus Dur juga cukup dekat dengan umat Kristen. Saat masih hidup, Gus Dur selalu menyempatkan bertemu dengan komunitas lintas iman jika pulang kampung ke Tebuireng. “Ketika beliau sakit, kami juga menungguinya di rumah sakit Jombang,” kata Christian menambahkan.
Dibagian lain, peringatan 1.000 Hari Gus Dur itu, ada kecenderungan menjadi kegiatan bersifat klenik. Tak kurang Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, berencana melaksanakan peringatan 1000 Hari, yang akan digelar 5 Oktober, 2012, dan acara itu akan dipandu oleh budayawan Sudjiwo Tejo.
“Saya sebagai orang yang pernah dekat dengan Gus Dur, merasa bersyukur sebagai putra Indonesia pernah punya Presiden seperti Gus Dur dan presiden lainnya. Saya akan gelar peringatan seribu hari wafatnya Gus Dur itu dalam bentuk lain, tidak bentuk tahlilan,” kata Mahfud di ruang kerjanya, Rabu (3/10/2012).
Menurutnya, ada dimensi lain yang menarik dari pribadi Gus Dur. Salah satunya menyangkut kegandrungannya terhadap masalah-masalah yang bersifar gaib. Namun, Mahfud memastikan bahwa acara yang akan digelarnya membahas hal gaib atau klenik, akan tetapi bagaimana melihat sisi menarik tersebut dari berbagai hal.
“Ada dimensi menarik dari Gus Dur itu tentang kegandrungannya pada masalah-masalah gaib. Beliau selalu berkonsultasi dengan dunia gaib. Tentu saya selenggarakan ini tidak untuk mempercayai soal klenik,” jelasnya.
Salah satu dimensi yang dibahas, lanjut Mahfud, yakni komunikasi politik Gus Dur. Karena semasa hidupnya, mantan Ketum PBNU tersebut kerap dibuat tidak berdaya dengan hal-hal yang bersifat rasional. Karenanya dalam menyikapi berbagai persoalan, Gus Dur kerap menggunakan cara penyelesaian rasional dan suprarasional sekaligus.
“Pembicaranya bukan dukun, tapi orang yang paham itu dari segi ilmu. Nanti Hazyim Muzadi, Bambang Pranowo itu ahli sosiologi kejawen. Dia dosen UIN. Dia staf ahli Menhan. Lalu ada Dr Agus Sunyoto, Husein Muhammad, Zawawi Imron,” kata Mahfud.
Sengaja para pengikut Gus Dur ingin tetap memelihara peninggalan tokoh NU itu, yang sekarang sedang menghadapi ancaman, dan semakin tidak laku, di era semakin kerasnya kecenderungan kembali kepada Islam. Budaya pluralisme itu, tak lain produk Zionisme, yang sengaja ingin mengebiri Muslim dari keyakinan agamanya. af/ilh. (voa-islam.com) Rabu, 03 Oct 2012
***
Di dalam Islam sudah ada teladan yang baik, yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama sekali tidak boleh meneladani orang yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini uraian disertai dalil-dalilnya.
***
Hati-hati Mengidolakan Seseorang!!!
Karena Seseorang akan Bersama Orang yang Dicintai dan diidolakannya

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Semakin banyaknya kaum muslim mengidolakan seorang yang sebenarnya tidak pantas untuk diidolakan, baik karena akidahnya yang buruk yang dipenuhi dengan syirik, ibadahnya yang buruk yang dipenuhi dengan bid’ah, pergaulannya yang buruk atau tingkahlakunya yang buruk.
Kalau bukan karena peran media massa-lah seorang yang sebenarnya buruk ini dan tidak pantas menjadi idola inilah akhirnya diidolakan orang banyak!!!
Tulisan singkat di bawah ini, ingin menjelaskan sedikit sebenarnya siapakah yang berhak diidolakan dan siapakah yang tidak pantas untuk diidolakan.
Kawan pembaca, ketauhilah, semoga Allah merahmati kita…
Sang Idola dan Panutan yang bebas dari segala keburukan dan kekejian

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب : 21]

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)
Kenapa beliau idola tanpa cacat, jawabannya:

عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَخْبِرِينِى بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ)

Artinya: “Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata: “Aku pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu aku bertanya: “ Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku akan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al Quran, apakah kamu tidak membaca Al Quran, Firman Allah Azza wa Jalla: (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ) dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang agung.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4811).
Makna “Akhlak beliau Al Quran
Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:

تعني : أنَّه كان تأدَّب بآدابه ، وتخلَّق بأخلاقه ، فما مدحه القرآن ، كان فيه رضاه ، وما ذمه القرآنُ ، كان فيه سخطه

Artinya: “Maknanya adalah beliau senantiasa beradab dengan adabnya Al Quran dan berakhlak dengan akhlaknya, apa yang dipuji Al Quran maka di dalamnya terdapat kerelaan beliau dan apa saja yang dicela Al Quran maka di dalamnya terdepat kemurkaan beliau.” Lihat Kitab Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam.
Indahnya mengidolakan Nabi dan orang-orang yang diridhai Allah Ta’ala.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ». قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ». قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menenmui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat”, orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”, beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” (HR. Muslim).

قَالَ ثَابِتٌ فَكَانَ أَنَسٌ إِذَا حَدَّثَ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ اللَّهُمَّ فَإِنَّا نُحِبُّكَ وَنُحِبُّ رَسُولَكَ.

Tsabit (perawi hadits di atas) berkata: “Senantiasa Anas radhiyallahu ‘anhu jika meriwayatkan hadits ini, beliau berdoa: “Wahai Allah, sesungguhnya kami mencintai-Mu dan mencintai Rasul-Mu”. (HR. Ahmad)
Kawanku…
Sangat indah…mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti akan bersama beliau di hari kiamat, tentunya di dalam surga.
Sangat indah…mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti akan bersama beliau di dalam surga meskipun pastinya tidak akan mampu beramal seperti amalan beliau.
Tapi ingat Kawanku…Hadits ini juga berlaku bagi yang;
>> mencintai orang yang buruk akidahnya; penuh dengan kekafiran, penuh dengan kesyirikan, penghinaan terhadap Allah Ta’ala, penghinaan terhadap nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya dari akidah yang buruk, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
>> mencintai orang yang buruk ibadahnya, ibadah senantiasa bid’ah, tidak memperhatikan kwalitas ibadah, tidak taat dalam ibadah, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
>> mencintai orang yang buruk interaksi sosialnya, sering menggangu orang lain, mecela orang lain, menzhalimi orang lain dan sebagainya dari interkasi social yang buruk, maka dia akan bersamanya di hari kiamat…
>> Mencintai orang yang perbuatan dan tingkah laku buruk dan keji, suka maksiat, suka pamer aurat, suka minum khamr dan barang memabukkan lainnya, suka mencuri, suka berzina, seks bebas dan sebagainya dari perbuatan keji dan buruk, maka dia akan bersanama di hari kiamat…
Mari perhatikan perkataan Al Mubarakfury rahimahullah:

قَوْلُهُ : ( الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ )

أَيْ يُحْشَرُ مَعَ مَحْبُوبِهِ ، وَيَكُونُ رَفِيقًا لِمَطْلُوبِهِ قَالَ تَعَالَى : { وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ } الْآيَةَ . وَظَاهِرُ الْحَدِيثِ الْعُمُومُ الشَّامِلُ لِلصَّالِحِ وَالطَّالِحِ ، وَيُؤَيِّدُهُ حَدِيثُ : الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ كَمَا مَرَّ . فَفِيهِ تَرْغِيبٌ وَتَرْهِيبٌ وَوَعْدٌ وَوَعِيدٌ

Artinya: “Sabda beliau “Seseorang bersama orang yang dia cintai”, maksudnya adalah dia akan dikumpulkan bersama orang yang dia cintai dan akan menjadi teman untuk yang dicarinya, Allah berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang yang dianugerahkan oleh Allah nikmat atas mereka”, dan secara lahir hadits , mencakup keumuman baik untuk mencintai orang shalih atau orang yang tidak shalih, dan yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang berbunyi: “Seseorang sesuai dengan agama temannya”, sebagaimana yang sudah disebutkan. Maka di dalam hadits ini, terdapat motivasi (untuk berteman dengan orang shalih-pent) dan peringatan keras (untuk tidak berteman dengan orang tidak shalih-pent), di dalam hadits ini terdapat janji yang baik (bagi yang berteman dengan orang shalih-pent) dan ancaman siksa (bagi yang berteman dengan orang tidak shalih-pent).” (Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi)
Kawanku …
Jangan sampai hari kiamat kita seperti apa yang disebutkan di dalam ayat di bawah ini akibat MENJADIKAN IDOLA YANG TIDAK PANTAS UNTUK DIIDOLAKAN, BAIK KARENA KEKAFIRANNYA, KESYIRIKANNYA, KEBID’AHANNYA DAN MAKSIATNYA!!!.

{يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67)} [الأحزاب: 66، 67]

Artinya: Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al Ahzab: 66-67)
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 6 Rabi’ul Awwal 1433H Dammam KSA
dakwahsunnah.com
Ilustrasi: merdeka.com
(nahimunkar.com)

No comments: