Advertising

Friday, November 30, 2012

Syekh Maulana Malik Ibrahim

Siapa sih yang tidak mengenal nama salah satu wali songo ini? Namanya, Syekh Maulana Malik Ibrahim. Siapakah dia? Apa jasa-jasanya? Ikuti paparan biografi Syekh yang satu ini!
Menurut sumber sejarah, Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M. Sebenarnya jauh sebelum kedatangannya, di Gresik telah ada komunitas muslim. Hanya, jumlah mereka tidaklah seberapa. Terbukti, dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatallah yang wafat pada tahun 475 Hijriyah atau tahun 1082 M.
13541772292123356374
makam Siti Fatimah binti Maimun
Syekh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 1419, merupakan seorang pakar tata negara ulung. Inskripsi yang terdapat pada batu nisannya, membuktikan hal itu. Ada sejumlah lafal Arab yang tertulis pada batu nisannya.Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti demikian:
“Inilah makam almarhum almaghfurlah yang berharap rahmat Tuhan kebanggaan para Pangeran, sendi para sultan dan para menteri. Ia juga penolong kaum fakir miskin yang berbahagia lagi syahid cemerlangnya simbol negara dan agama. Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kake Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat dan keridhaan-Nya. Ia pula dimasukkan ke dalam surga Allah. Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 Hijriyah.
Inilah bunyi tulisan yang tertulis pada nisan makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Penduduk pribumi mengenalnya sebagai Kakek Bantal.
Ini membuktikan bahwa pada masa itu, ia berdakwah dengan cara yang bijaksana lagi santun. Masyarakat sekitarnya—lebih-lebih kalangan grass root—pun senang dengan cara dakwah yang ia tunjukkan.
Ia dapat dengan mudah menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat sekitarnya.
Agama dan adat istiadat lama, tidak langsung ia tentang secara frontal dan dan kaku. Semuanya, ia hadapi dengan ketinggian akhlak dan tetap membumi. Metode dakwahnya, yaitu langsung mencontohkan segala budi pekerti yang baik kepada masyarakat. Tutur bahasanya sopan dan lemah lembut. Ia selalu santun kepada kaum fakir miskin dan hormat kepada yang lebih tua; pun selalu menyayangi kaum muda.
Cara seperti itu, ternyata bisa membuat pribumi Jawa mulai tertarik pada agama Islam. Pada akhirnya, mereka menjadi pemeluk agama Islam yang teguh.
Pada masa itu, di Pulau Jawa, ada sebuah imperium besar bernama Wilwatikta atau Majapahit. Pusat kerajaannya ada di kotapraja Trowulan Mojokerto. Tetapi sesungguhnya, secara politis, ketika pada abad-15, Majapahit telah banyak mengalami rongrongan, baik dari luar; lebih-lebih dari dalam.
Pasca ditinggalkan Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk, kekuatan Majapahit melambat makin menurun. Majapahit sering mengalami perang saudara yang tak berkesudahan. Rakyat jelata akhirnya menjadi korban. Sisi lain, banyak kerajaan bawahan yang sebelumnya tunduk pada Majapahit, kini banyak yang memisahkan diri. Kesetiaan para pembesar dan para adipati pun mulai menurun. Banyak upeti kerajaan yang tidak sampai di tangan raja, melainkan bertumpuk di kediaman para pembesar dan para adipati. Kejahatan merebak di mana-mana. Banyak perampok dan pencuri melakukan aksi kejahatannya. Ironisnya, banyak pula kesatuan prajurit yang melepaskan diri dan beralih menjadi gerombolan perampok; mereka menggarong harta rakyat jelata.
Tak jarang, saat sedang berdakwah keliling desa, Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Kakek Bantal dan para muridnya diganggu oleh gerombolan perampok. Lalu, dengan ketinggian akhlak dan kesigapannya, para perampok itu dengan mudah ditaklukkan.
—————————————- || —————————————
Syekh Maulana Malik Ibrahim—dalam sejarah perwalian wali songo—merupakan wali tertua dari jajaran sembilan wali atau wali songo.
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarqandi, diperkirakan terlahir di Samarkand, Asia Tengah, pada abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya dengan Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, lalu berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim, kadang juga disebut sebagai Syekh Maghribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak; ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Syekh Maulana Jumadil Kubro ini diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Sayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Dan, makam dari Syekh Maulana Jumadil Kubro ini ada di kompleks pemakaman Troloyo, Trowulan, Mojokerto.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja. Di sana, ia tinggal selama 13 tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, pada tahun 1392, Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ia tuju pertama kali, yaitu desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran yang terletak di kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang ia lakukan saat itu, berdagang. Berdagang apa? Ia membuka warung yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu, secara khusus, Syekh juga menyempatkan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan, ia seorang permaisuri yang masih terhitung kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru dalam bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat kasta bawah yang tersisih dalam agama Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya,, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Suatu hari, saat selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M, Syekh Maulana Malik Ibrahim berpulang ke rahmatullah. Makamnya terletak di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
13541768071881307545
makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik

13541768591582613834
sisi depan makam
* Semoga Allah senantiasa menempatkannya pada tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Amin*
Ahmad Junaedi

No comments: