Advertising

Monday, December 10, 2012

Kisah Ki Ageng Mangir [1]

Pasukan Demak menyerbu Majapahit

Ketika itu Raden Patah beserta pendukungnya, telah memasuki kotaraja Majapahit, suara kendang dan rebana berdentam bertalu-talu, kebetulan hari itu adalah peringatan Maulid, suasana hingar bingar, penduduk sekitar kotaraja yang beragama Islam turut dalam arak-arakan. Masyarakat yang tidak ikut dalam arak-arakan, menonton di sepanjang jalan menuju ke keraton Majapahit, mereka menyambut dengan gembira.
Setelah sampai di depan istana semua prajurit yang tadinya mengenakan pakaian santri, menghunus senjatanya dan menerjang masuk ke dalam istana. Para nayaka praja tidak ada yang sempat melakukan perlawanan. Sang Prabu Brawijaya terkejut, mendapatkan serangan mendadak, kemudian prajurit bhayangkara dengan sigap mengamankan sang Raja dan meloloskan diri melalui pintu butulan, dan terus melarikan diri ke arah timur.
Para prajurit ada yang mempertahankan istana, dengan senjata yang ada padanya melakukan perlawanan semampunya. Tetapi jumlah pasukan yang menyerang dan pasukan yang bertahan tidak seimbang. Pasukan dari Kadipaten Demak, Pati Pesantenan, Tuban, Gresik sudah mengepung istana.
Bagi yang meletakkan senjata diampuni, yang melawan dibunuh. Wadyabala Majapahit kalang kabut, patih Maja yang bergelar Gajah Maudara melakukan perlawanan, menorobos barisan Demak, ia bersenjatakan pedang ganda. Semua musuh yang ada di depannya dilibas habis tanpa ampun. Darah musuh membasahi pakaiannya, bahkan orang dekatnya tak mampu mengenalinya.
Ki Patih Gajah Maudara merangsek musuh yang mendekat seraya memutar kedua pedangnya, pedang itu bergulung-gulung seperti dua roda berputar, dan menerjang semua musuh yang ada di depannya. Dan tanpa ampun lagi, ke dua pedang di tangan ki Patih membabat habis yang merintanginya. Sesekali berteriak sambil berjumpalitan di udara.
Pasukan Demak yang dipimpin langsung oleh Raden Patah menjadi panik menghadapi serangan ki Patih Gajah Maudara, kemudian terdengar aba-aba salin gelar perang, dari Diradhameta menjadi gelar cakrabyuha.
Masing-masing komandan pasukan meneruskan perintah salin gelar. Posisi pasukan menyebar dan kemudian berubah menjadi gerakan pasukan yang rapi, dan berlari-lari memutar melawan arah jarum jam. Prajurit itu bergerak sangat cepat dan mengepung seperti lilitan tali yang melingkar, semakin bergerak maka prajurit yang melingkar semakin merapat ke dalam.
Patih Maja atau Gajah Maudara masih bergerak seperti banteng ketaton, semua lawan yang mengepung dilibas habis, korban banyak berjatuhan. Gerakan wadyabala dalam gelar Cakrabyuha semakin menciut ke dalam, dan ki Patih Gajah Maudara menjadi semakin terbatas ruang geraknya, sedangkan para prajurit yang mengepung semakin merapat. Meski kedua pedang ki Patih Maja dapat digerakkan, namun tidak mampu mengenai lawan karena selalu dapat ditangkis.
Tiba-tiba sebuah tombak diayunkan dari luar lingkaran, dan mengenai punggung ki Patih, darah menyembur dari tubuhnya, dan kemudian terhuyung-huyung menjadi limbung. Pasukan berteriak serentak, seraya mengayunkan pedangnya bertubi-tubi.
Tubuh Patih Maja bersimbah darah, dan jatuh tertelungkup, luka di tubuhnya bagaikan babadan pancing. Sorak sorai wadyabala Demak dengan gemuruh, ambata rubuh sorak kemenangan membahana di langit Majapahit.
Dalam pada itu, dari halaman Kamandungan Raden Gugur putra Mahkota, melarikan diri ke arah timur, dan dikawal satu peleton pasukan berkuda, menuju kearah Banyuwangi, sampai di desa Ketapang, kemudian dengan naik perahu menyebrang ke pulau Bali, meminta perlindungan saudara iparnya, Raja Bali. Ia juga membawa kitab-kitab kerajaan yang penting, terutama kitab susastra Jawa.
Para pangeran, sentanadalem, abdidalem dan nayaka praja yang lain, yang masih setia kepada Sang Prabu Brawijaya, mengungsi dan mencari selamat, sedangkan yang penakut menyerahkan diri, sebagian pula ada yang melawan. Di dalam istana telah disapu bersih, tinggal para putri dan dayang di kaputren, mereka panik ketakutan.
Setelah suasana dapat dikendalikan, prajurit dari Demak menguasai istana, semua tempat dijaga ketat, pasukan lain menempatkan diri di bale pagelaran, di gerbang Brajanala, Sri Manganti dan setiap pojok, di tempatkan pasukan yang selalu siap siaga.
Sunan Giri Prapen, kemudian mengumpulkan para bupati di Sitinggil, kemudian meminta kepada seluruh yang hadir, termasuk Raden Patah, bahwa selama empat puluh hari empat puluh malam, yang menduduki singgasana adalah Sunan Giri Prapen. Semua yang hadir dalam pasewakan itu , tidak ada yang menolak.
Selama dijabat oleh Sunan Giri Prapen, masih dilakukan penyisiran untuk mencari beberapa pangeran yang belum tertangkap, antara lain Pangeran Lembu Amisani.
[sumber; Babad Demak, Babad Mangir, Babad Giri]
Sastra Diguna

1 comment:

KOL DAN SENGON TAPOS DEPOK said...

Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!.Berapa banyak orang Jawa yang terjebak cerita tendensius Ki Ageng Mangir, padahal Ki Ageng mangir adalah seorang mualaf yang sangat tinggi ilmunya, Pengislamanya menjadi kacau balau dengan adanya cerita pembunuhan dirinya oleh Kanjeng Panembahan Senopati, sehingga yang timbul adalah derita tentang kepengecutan P.Senopati, padahal Mangir terbunuh oleh konspirasi yang tidak ingin kekuatan Mataram berkembang dengan adanya Mangir dalam jajaran kekuatan Mataram. Mangir memang terbunuh oleh batu gatheng dari belakang dengan kepala pecah, tetapi bukan oleh P Senopati melainkan oleh P.Ronggo.Ada banyak versi tentang Ki Ageng Mangir dan Kanjeng Ratu Roro Sekar Pembayun, namun kami dari pihak trah Mangir mempunyai versi yang sangat berbeda dari versi yang selama ini tercerita , baca blog kami http://panyutro.blogspot.com/ , akan anda temui kejutan sesungguhnya trah Mangir adalah trah yang sangat mempersiapkan diri untuk menjadikan keturunannya tokoh pemimpin terbaik bangsa ini dimasa yang akan datang