Advertising

Wednesday, January 9, 2013

YAHUDI NENEK MOYANG ORANG INDONESIA,Meluruskan Jejak Peradaban, Sebuah Perjalanan Iman.

Bagian 1 dari 2 tulisan
Buku-buku sejarah banyak menyebutkan bahwa nenek moyang orang Indonesia berasal dari Yunan atau Hindia belakang.
Di mana itu Yunan? Samakah dengan Yunani? Di mana Hindia Belakang? Apakah itu sama dengan Persia?
Dan, kenapa banyak kata-kata dalam bahasa Melayu Tua (Minangkabau) yang mirip dengan bahasa Inggris?
Apa hubungan antara peradaban Melayu dengan Eropa? Model keterkaitan apa yang dimiliki oleh etnis Minangkabau dengan bangsa Inggris? Misteri apa yang ada di dalamnya?
Tulisan ini mencoba mencari jawabannya, melacak jejak peradaban tua antara suku Minangkabau dengan Eropa Timur, nenek moyang bangsa Inggris yang juga nenek moyang orang Minang.

Meskipun data primer banyak diambil dari unsur bahasa (warisan terbesar dari peradaban sebuah bangsa), namun buku ini juga sarat akan implikasi sejarah, sosiologis, politik, arkeologis dan keilmuan lainnya.
Banyak mata rantai (missing link) yang putus, bisa tersambung lagi.
Meskipun bahasa Melayu Muda (deutro Malay) banyak mengambil kata serapan dari bahasa Arab, namun tak sedikit kata-kata asli (diserap ke dalam Bahasa Indonesia dan lazim dikenal hingga hari ini) berasal dari penutur moyang Eropa.
Contoh padanan kata yang bermuatan unsur Eropa seperti atok (atap) dengan attic, alang (elang) dengan eagle, awak (kita) dengan our, biduak (biduk) dengan boat, karek (kerat/potong) dengan carrat atau itiak (itik) dengan duck.
Atau, seperti kata elok dengan elegant, buah dengan fruit, hati dengan heart, buruang (burung) dengan bird, baro (bara) dengan fire / pharo, ampek (empat) dengan four, pacu dengan pace, capek (cepat) dengan speed.
Orang boleh bilang bahwa durian adalah sejenis buah-buahan khas dari Nusantara, tapi tak bisa dinafikan kedekatan unsur katanya dengan thorn (duri) sehingga ia bernama durian.
Contoh kata-kata lazim lainnya adalah etek (bibi) dengan aunty, duo (dua) dengan two, badan dengan body, lintah dengan leech, lampu dengan lamp, atua (atur) dengan order atau sakik (sakit) dengan sick hingga ke sadiah (sedih) dengan sad.
Tabel dan uraian berikut berisi tentang kemiripan bahasa Minangkabau dengan bahasa Eropa yang dipilih dari kata-kata yang lazim dipakai dan masih dipahami hingga kini.
Bahasa Minangkabau berperan penting di Nusantara karena merupakan inti dari bahasa Melayu yang diserap menjadi Bahasa Indonesia dan Malaysia.
Metode penelitian ini lebih tepat disebut sebagai Metoda Tabulasi Diktif (Tabulated Diction Method) karena metoda lain yang lebih pas sepertinya belum tersedia.
Pada perkampungan Minangkabau lama (Pagaruyung) wilayah bagian timur istana adalah perbukitan. Ini menjelaskan asal kata ateh (atas) yang mirip dengan east (timur) dalam bahasa Inggris.
Andaleh adalah sebutan yang dipakai Iskandar Zulkarnain ketika menemukan Pulau Sumatera.
Sebagai Raja yang juga Nabi, Iskandar melakukan perjalanan penaklukan atas tiga benua sembari memetakan Bumi dan mencari jejak benua yang hilang, Atlantis, asal kata dari atlas.
Bentuk pemetaan benua yang hilang itu mirip dengan daun talas (sejenis keladi) yang di masa itu banyak ditemukan di Pulau Sumatera.
Kabarnya, peta Atlantis yang digambarkan mirip daun talas (taleh) itu masih tersimpan di satu museum di Turki. Akurasi pemetaan itu sempat membuat kalangan ilmuwan tercengang karena mirip pemetaan hasil foto satelit.
Belum lama ini para ilmuwan juga telah menemukan gunung terbesar di dunia, di bawah laut sebelah Barat pulau Sumatera. Lebar puncaknya saja diyakini hampir mencapai 30 km.
Melihat ukurannya, gunung tersebut (kita sebut saja Gunung Andaleh) cocok sebagai tempat dimulainya pembuatan perahu Nabi Nuh, mengingat kapasitas yang besar yang dibutuhkan untuk menampung semua jenis hewan berpasangan selain manusia.
Besarnya ukuran perahu membutuhkan bahan pembuat yang banyak pula, yakni kayu dan bambu. Nabi Nuh AS tidak kesulitan mendapatkan kedua jenis bahan itu dalam kuantitas banyak dari hutan-hutan di Gunung Andaleh, mengingat ukuran gunung tersebut.
Inilah alasan utama kenapa rombongan Zulkarnain memilih menetap di Sumatera Barat karena misi utamanya tercapai, menemukan kembali jejak benua yang hilang, Atlantis, seperti diwasiatkan guru-gurunya, Aristoteles, Plato dan Socrates, para filsuf terkemuka asal Yunani.
Pada perkampungan Minang lama, sebelah Barat istana Pagaruyung ditandai dengan contour tanah yang lebih rendah. Ini menjelaskan asal kata bawah yang berdekatan dengan west dalam bahasa Inggris atau baruah (bawah) yang berdekatan dengan barath dalam bahasa Persia / Sanskerta.
Beberapa kata baru seperti balerong atau balairung berasal dari gabungan balai dan ruang atau balai ruang. Ini menunjukkan tren penyingkatan dua suku kata pada generasi muda.
Artinya, karena kata-kata yang mirip dengan bahasa Inggris lebih singkat dan pendek dari kata-kata Minangkabau, maka dapat disimpulkan bahwa bangsa Inggris lebih muda dari Minangkabau.
Artnya lagi, sejarah dan asal-muasal bangsa Melayu jauh lebih tua dari bangsa Inggris.
Pola yang sama terjadi pada kata-kata seperti garon atau karon dari kata karan (crown) dan ujuang (edge) menjadi garonjong dan berakhir pada gonjong.
Kata-kata lama seperti baribeh (bear atau beruang) sampai hari ini masih dipakai di beberapa desa di wilayah kabupaten Agam terutama sekitar Matur sampai ke Palembayan, dan meski terbilang langka, hewan itupun masih ada di hutan-hutan sekitar.
Baribeh sering bertemu dengan pemburu saat kegiatan buru babi (Sumbar juga terkenal dengan PBB-nya, Persatuan Buru Babi), terutama saat musim durian, makanan favoritnya.
Uniknya, hewan itu bisa memanjat bahkan kuat untuk mencabik batang pohon, tapi turun dengan membuang badan sedemikian rupa menempatkan belahan rusuk sebagai bantalan.
Menurut salah seorang tetua kampung di Palembayan, karena berbulu tebal, baribeh sangat takut dengan api, bahkan terhadap nyala korek api yang relatif kecil.
Apabila terjadi konflik, manusia tidak perlu menggunakan senjata tajam, cukup memukul hidungnya, bagian terlemah dan paling menyakitkan bila terkena pukulan, maka ia akan kabur sambil melolong kesakitan.
Untuk menghormati kelangkaan hewan tersebut, penulis di sebuah forum diskusi komunitas orang Minang pernah menggunakan nama alias Sutan Baribeh, meski baribeh kurang familiar di telinga mereka.
Kata cako (ago) masih dipertahankan oleh segelintir komunitas di daerah luhak Agam dan kampung-kampung terdekat yang berbatasan dengan kabupaten tersebut yang artinya, tadi.
Carano (coronation) adalah sejenis tempayan terbuat dari tembaga tempat menaruh sirih yang biasa dipakai sebagai alat untuk mengundang karib-kerabat ke sebuah perhelatan seperti acara perkawinan.
Corong (karan, crown, horn) adalah tanduk kerbau yang ujungnya diberi lobang tempat tiup dipakai sebagai terompet, alat musik atau pengeras suara.
Meskipun adat Minangkabau adalah matriarkat, tapi keputusan-keputusan penting diambil oleh penghulu adat yang disebut datuk (dictate).
Karena itu di tengah masyarakat Minangkabau dikenal jargon, “Hitam kata saya, hitam. Putih kata saya, putih.” Dari sinilah terlihat unsur kedekatan makna datuk dengan dictate meskipun dalam kultur matrilineal warisan jatuh ke tangan perempuan.
Dictate atau diktator adalah gelar yang disandangkan kepada raja-raja di Eropa masa itu.
Dari kata durian yang mirip dengan thorn (duri) dapat diketahui salah satu alasan pendatang Eropa Timur (betah menetap di Sumatera a.l. karena enaknya buah durian.
Dukun (doctor) adalah sebutan yang dipakai oleh pasukan Iskandar Zulkarnain untuk mengobat tentaranya yang terluka, sekarang semacam Palang Merah atau Red Cross.
Pengobatan biasanya dilakukan dengan ramuan dan obatan dari sari tumbuhan. Karena itu, nuansa dukun di sini lebih dekat kepada herbalis ketimbang dukun mantra.
Sifat daun keladi digambarkan oleh petikan lagu, “Ibarat air di daun keladi” yang seolah tidak pernah bisa menempel dan bila tergoyang sedikit, mudah tergelincir dan jatuh.
Sifat glide (gelincir) pada daun keladi ini digambarkan dalam kata-kata seperti galia (lihai) untuk konotasi positif negatif dan galadia (nakal / penipu) untuk konotasi negatif.
Beberapa kelompok kata bisa dimasukkan dalam pola thesaurus (memiliki makna yang berdekatan) seperti jarak, jangkau dan jauah dengan direction, range and distance.
Lihat keterangan tentang kota Barus yang mengekspor kapur (camphor) untuk mengawetkan mayat di Mesir.
Kemiripan kata kapak dengan axe dan carpenter menunjukkan bahwa Minangkabau bukanlah berasal dari jaman batu baru atau neolithicum.
Mereka muncul di zaman yang sudah mengenal perkakas logam, karena sejauh ini tidak ditemukan peralatan dari batu.
Mereka sudah mengenal konstruksi bangunan dari batu (seperti pada kata Batu Sangkar, Batu Hampar, Batu Limbak, dll), maka dapat disimpulkan bahwa suku Minangkabau sudah mengenal kebudayaan tembok seperti di Eropa pada masa itu (lk 300 tahun sebelum Masehi).
Batu mirip dengan beit (rumah) dalam bahasa Ibrani.
Hal yang sama berlaku untuk atok (atap) yang mirip dengan attic (loteng). Selain itu, juga dikenal transportasi waktu itu yang disebut biduak (perahu), kata yang mirip dengan boat.
Penggunaan kata kabau (kerbau) yang berdekatan dengan buffalo atau caribou (sejenis kerbau yang hidup di daerah dingin) menunjukkan bahwa bangsa Minangkabau berasal (atau setidaknya) telah mengenal pola kehidupan di daerah bersalju.
Kalaulah suku Minangkabau asli berasal dari daerah tropis (Asia Tenggara) semata, bagaimana mungkin mereka bisa mengenal habitat dan jenis hewan dari daerah bersalju?.
Dan ciri kebudayaan lain yang sulit dipungkiri adalah penggunaan kata karek yang dipakai oleh masyarakat Eropa dalam menentukan kualitas intan berlian yakni carrat yang artinya sama, cut atau potongan.
Selain faktor caribou, bukti lain yang menunjukkan suku Minangkabau berasal dari Eropa Timur adalah cukup banyak kata-kata berakhiran ek a.l. seperti lambek (lamb), tabek (tub), sakek (stuck), liyek (look) dan sangek (sting), mirip dengan nama-nama orang Polandia seperti Jacek, Pacek atau dari Yugoslovia (Bangsa Slav) seperti Movic, Jizdic, Sovic dan lain-lain.
Di beberapa tempat di Sumatera Barat seperti daerah Ombilin di tepi Danau Singkarak, masih banyak ditemukan kelompok masyarakat yang menyebut danau dengan lauik (laut).
Ini menunjukkan bahwa istilah laut bukan berasal dari daerah pesisir melainkan dari kawasan berdanau yang notabene adalah pegunungan (darek).
Lauik atau lake (danau) termasuk bahasa purba, bahkan kitab suci seperti Al Quran juga menggabung makna samudera dan danau sebagai laut, meski keduanya saling terpisah satu sama lain.
Kemiripan lain bahasa Minang dengan unsur Eropa juga bisa ditemukan dalam kata-kata seperti mande (mother), namo (name) dan ondeh atau aduah (ouch atau wound) yang dalam bahasa Indonesia dipakai menjadi aduh atau waduh.
Meski Inggris modern memakai kata free tapi dalam bahasa lama disebut fri (dibaca: frai) seperti pada kata Friday (Jumat).
Masyarakat Eropa Timur (pengaruh agama Ibrani) waktu itu cukup relijius, terlihat dari kebiasaan mereka membebaskan hari Jumat dari segala kegiatan duniawi, karenanya hari itu disebut Friday.
Dan, kata yang mirip fri dalam bahasa Minangkabau adalah perai.
Rumpuik (rumput) dikenal karena sifatnya yang mudah menyebar dan tumbuh di mana-mana (rampant).
Struktur kalimat yang dipakai dalam bahasa Minang memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Sunda. Maka dapat disimpulkan bahwa etnis Sunda adalah deutro Minangkabau atau Minang Muda.
Cukup banyak ditemukan kemiripan bahasa Minang dengan Sunda seperti rangik (nyamuk) dalam bahasa Sundanya rengit.
Atau, seperti hantok & hantap (diam, cuek), tirih & tiris (bocor), sasah (cuci), gilo & gelo (gila), urang (orang, kita), padang (lapang / terang), kanyiak dan kadinya (dekat situ), maruhun dan karuhun (sesepuh yang bijak / saleh).
Kata karuhun (bentuk jamak dari kuhun) ini juga dipakai oleh komunitas Ibrani di Eropa Timur sebagai marga yakni cohen atau kahin (kohain) yang berarti garis keturunan langsung dari nenek moyang orang-orang saleh dari Bani Harun (saudara Nabi Musa AS).
Juga, bisa dimengerti bila ada kemiripan antara kata pagar pada Pagaruyuang dengan pajar pada Pajajaran
SUMBER :
Author: AC St Rangkayo Labieh
Penerbit: (belum ada)
Co-publisher: SurauNet
Harga: gratis (untuk para donatur) Bandrol umum: ditentukan oleh mitra penerbit
Bagian 2 tammat
Juga, bisa dimengerti bila ada kemiripan antara kata pagar pada Pagaruyuang dengan pajar pada Pajajaran.
Dari kaidah (grammar) bahasa Sunda itu sendiri, pajajar adalah bentuk jamak dari pajar (pagar).
Bahasa Minang kuno juga memiliki pola pembentukan jamak seperti Sunda (budak & barudak) seperti ambiak & parambiak (ambil/sampel), atau sisiak & karisiak (sisik) dan ambau & tarambau (jatuh karena kaget) atau tunjuak jadi talunjuak.
Selain itu juga amuak dan karimuak (remuk), tabuak jadi tarubuak atau tagarubuak (terjerumus) atau sato menjadi sarato (ikut serta).
Juga ada persamaan pada penamaan tempat-tempat pemukiman (riang atau ruang) seperti Pariangan di Padang Panjang, Sumatera Barat dan Priangan (parahiyangan) yang meliputi beberapa wilayah di dataran tinggi Jawa Barat termasuk Bogor, Sukabumi, Bandung sampai ke Sumedang.
Persamaan lain juga terlihat pada penggunaan kata-kata seperti talungkuik (tengkurap) dengan tangkuban, gadang dengan gede, juga semisal sado (nyo) dengan sadaya (na) yang artinya semua, atau juga baso dan basa (bahasa).
Kata-kata lain yang mirip dan umum dipakai sampai hari ini adalah kama / kamano dengan kamana, ada juga sia dengan saha, atau bara dengan sabaraha (berapa), dan umpamo (umpama) dengan pami atau budak (anak), dan barek dengan beurat (berat).
Sementara kemiripan bahasa Minang dengan bahasa Batak bisa dilihat kata-kata seperti serunai (suling batang padi) di wilayah Karo atau seperti gadang dengan godang, ngenek dengan menek (kecil), etek (bibi) dan uda (kakak lelaki di Minang, tapi paman di Batak) di wilayah Mandailing.
Seperti halnya dengan suku Sunda, Batak bisa juga disebut Minang Muda (deutro Minangkabau).
Menurut salah satu tulisan di blog yang saya baca, salah satu marga (marga) dalam suku Batak seperti Nasution berasal dari kata-kata Minangkabau yakni (Datuk) Nan Sati.
Akhiran on mengindikasikan sifat posesif (kepemilikan) sehingga Nasution bisa diterjemahkan menjadi “milik (tanah/keluarga) Nan Sati.”
Kelahiran deutro-deutro Minangkabau seperti Deli, Batak, Jambi, Riau, Palembang, Sunda, Jawa, Banjar, Bugis, Moro dan lain-lain dipicu a.l. oleh budaya rantau dan kultur matriarkat yang mewariskan harta dan tanah hanya kepada kaum perempuan, sehingga kaum lelaki lebih banyak memilih ke luar ketimbang berdiam di kampung asal.
Setelah menetap di satu tempat, mereka umumnya tak lagi memakai adat matriarkat, dan mulai menciptakan kultur dan pola peradaban baru seiring masuknya pendatang Hindu dan Budha dari wilayah Asia lainnya.
Salah satu ciri-ciri deutro yang sulit dipungkiri adalah gonjong (atap lancip) pada rumah-rumah adat di Nusantara yang semakin mengecil, jauh lebih kecil dibanding yang aslinya di Sumatera Barat atau tudung kepala pada pakaian adat wanita yang semakin tumpul dibanding aslinya yang runcing persis seperti tanduk, selain jumlah sunting (hiasan kepala terbuat dari emas) yang semakin sedikit, bandingkan dengan aslinya, menumpuk seperti sarang lebah.
Sarasah adalah tempat pemandian alam. Pada perkampungan Minangkabau lama, tempat tersebut berada di sebelah Selatan (South) dari Istana Pagaruyung.
Dari uraian dan tabel di atas jelaslah bahwa asal muasal bahasa Minangkabau bukanlah dari bahasa Arab, karena banyak kemiripan dengan bahasa Eropa Timur (Nordic) yang salah satu contoh peninggalan peradaban dan bahasa Nordic itu sendiri bisa dilihat pada Inggris, Jerman dan Prancis.
Kesusasteraan Arab Melayu (baik bahasa maupun tulisan) baru muncul setelah dipengaruhi oleh masuknya peradaban dan ajaran Islam ke Nusantara pada periode berikutnya (dimulai sekitar 600 Masehi).
Islam berusaha mengikis habis unsur-unsur Ibrani yang melekat pada suku Minangkabau karena dalam kitab suci Al Quran Bani Israil kerap identik dengan kemungkaran dan pembangkangan terhadap Tuhan.
Namun tak urung, Ibnu Athir, seorang sejarawan Islam, menyebut orang Minangkabau dengan Bani Jawi (keturunan Yahudi atau Jewish).
Dan, istilah Java atau Pulau Jawa (tanah Jawi) itu mulanya ditujukan untuk Pulau Sumatera.
Setidaknya demikianlah gambaran yang diperoleh para pendatang Arab waktu itu ketika mendarat di Sumatera
Beberapa kata yang beranasir Ibrani hingga kini sulit dihilangkan seperti surau (dari kata thorawah atau tempat membaca Taurat) dan Labay dari kata rabai (english: rabi) serta Uda (Yehuda / Yuda).
Bedanya, sejak Islam berkembang di Sumatera, surau beralih fungsi sebagai langgar atau mushola sementara gelar labay dipakaikan untuk ustadz atau ulama meskipun gelar seperti buya / abuya (bapak) juga digunakan.
Selain Arab, juga ada beberapa kata lain dari unsur Eropa yang lebih tepat yaitu abbe (kepala biara) atau abbeye (tempat ibadah) dari bahasa Prancis.
Artinya, kata buya lebih Aramia ketimbang Arabia, meski keduanya berinduk pada unsur yang sama yakni Aramaic (Bahasa Aram yang dipakai anak keturunan Nabi Ibrahim AS).
Sebelum periode tersebut (300 SM s/d 600 M), selama 9 abad bahasa Minangkabau masih didominasi oleh pengaruh bahasa Eropa dan Mongolithic (sekarang Mandarin/China).
Pengaruh unsur Mongolithic terllihat dari kata-kata seperti uni yang dalam bahasa Mandarin berarti perempuan. Di Minang kini, kata itu dipakai untuk sebutan kakak perempuan (sister).
Selain itu juga ada kata-kata seperti caia atau aia (cair, air) dari kata chi atau panggilan waang (you) atau ang dan hang dari kata wang, nama lazim pria Mongolithic.
Sebab utama terjadinya pembauran ras Eropa dengan perempuan China tersebut adalah perkawinan massal yang digagas Iskandar antara pasukannya yang didominasi suku-suku Ibrani (Yehuda) dengan perempuan Mongolithic (sekarang China).
Pasca perkawinan, sebagian ikut misi Zulkarnain, sebagian menetap, sebagian lain bermigrasi ke Kerala, India, via Tibet dan sebagian ada yang menyeberang ke Okinawa menjadi cikal bakal orang Jepang sekarang, dan sisanya menyebar ke wilayah-wilayah Indocina termasuk Kamboja.
Kini masih ditemukan di wilayah dekat jalur Mekong satu komunitas kecil penganut adat matrilineal bernama Mosuo di propinsi Yunan dan Sechuan, sekitar Danau Lugu yang berada di ketinggian hampir 3.000 meter di atas permukaan laut.
Bedanya, Minangkabau selain matrilineal juga menerapkan matriarkat di mana hak atas properti dan warisan jatuh di tangan perempuan dan mengenyampingkan peran ayah karena hampir semua urusan dipegang oleh saudara lelaki dari ibu.
Tapi dalam soal matriarkat (kewenangan perempuan) mungkin Kerala lebih mirip dengan Minangkabau, meskipun dari sisi warisan, terutama Kerala modern, jatuh ke tangan anak lelaki. Selain Kerala, beberapa etnis lain di India sampai hari ini juga masih dikenal matrilineal.
Kisah Zulkarnain direkam jelas dalam Al Quran yang menggambarkan ia sebagai arsitek yang dimintai tolong untuk mendirikan Tembok Besar (Great Wall) China.
Periode dinasti yang berkuasa di China waktu tembok itu dibangun cocok dengan masa hidup Iskandar (356-323 SM).
Sebelum masuk ke China, Iskandar terlebih dulu menaklukkan Persia (333 SM) ditandai dengan penyerahan wilayah Mesir oleh raja Persia bernama Satrap kepada Zulkarnain.
Di situ, Zulkarnain membangun kota (untuk mengenang kejayaan moyangnya bernama Nabi Yusuf AS di Mesir) dan diberi nama Iskandariyah atau Alexandria, sehingga banyak etnis Yahudi yang tadinya warga Yunani bermukim menjadi penduduk Mesir.
Mungkin karena adanya kisah dalam Al Quran itulah, kaum orientalis seakan berpikir untuk mencoba melenyapkan sisi sejarah yang terkesan membesarkan Islam pada figur Iskandar yang bergelar Zulkarnain.
Padahal, kecuali Muhammad (dari Ismail), semua nabi dari keturunan Ibrahim, berasal dari etnis Bani Israil (Yakub) mulai dari Yusuf (Yahudi masuk Mesir), Musa (Yahudi ke luar dari Mesir) sampai ke yang berpredikat raja-raja seperti Daud dan Sulaiman sampai ke Zulkarnain (Yahudi kembali ke Mesir) hingga Isa (Palestina).
Pada masa Rasulullah Muhammad SAW, Yahudi karena permusuhannya dengan Muslim, diusir dari Makkah, namun masih boleh menempati Madinah. Tapi setelah beliau wafat, Yahudi lambat laun hengkang dari Madinah menuju Syria, Irak, Iran dan Palestina.
Dan di masa khalifah Usman, Palestina kembali direbut umat Islam dan Yahudi kembali berdiaspora ke seluruh Eropa bahkan sampai ke China sebelum akhirnya kembali ke Palestina setelah kejatuhan Turki oleh tentara Eropa di bawah komando Inggris yang memberi hak kepada Israel untuk mendirikan negara Zionis di Palestina.
Namun entah kenapa, sengaja atau tidak, fakta-fakta tentang Zulkarnain sebagai Nabi tidak dijadikan magnitude oleh sejarawan Barat terutama dari kelompok orientalis.
Sama halnya seperti penemuan benua Atlantis oleh Profesor Santos yang diyakini adalah Nusantara, tapi ternyata tidak menimbulkan gaung besar di kalangan ilmuwan Barat.
Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah penggunaan istilah zulkarnain itu sendiri yang dalam bahasa Arab maupun Persia artinya hampir sama yaitu, bertanduk dua.
Kata zul berarti definitif seperti pada kata ‘the’ (Inggris) atau al (Arab), karan (crown) berarti mahkota atau tanduk dan ain berarti dua atau sepasang.
Sejarawan menggambarkan kecenderungan Iskandar memilih tanduk-tanduk yang lebih besar setiap kali berhasil menaklukkan suatu wilayah seperti tanduk domba gunung dan kambing gurun. Ada juga kisah tentang tanduknya yang patah.
Di akhir penaklukannya, Iskandar memilih tanduk kerbau, tanduk terbesar sebagai simbol pencapaian yang besar pula.
Simbol tanduk kerbau juga sebagai penghargaan kepada guru-guru beliau, Aristoteles, Plato dan Socrates, yang mewasiatkan tentang benua yang hilang (Atlantis) di mana dulu pernah hidup kaum yang menggunakan ciri atau simbol berupa tanduk kerbau.
Satu artefak berupa koin yang dipakai di masa Iskandariyah (Mesir pasca penaklukan Iskandar Zulkarnain) menggambarkan polemik tentang tanduk tersebut.
Pada koin itu terlihat Iskandar memasang dua tanduk kambing gurun di sisi kanan dan kiri kepalanya.
Artefak itu menjelaskan bahwa penaklukan Mesir terjadi sebelum Iskandar menaklukkan Persia dan China di mana ia mulai memakai tanduk domba gunung, sebelum akhirnya memilih menetap di Sumatera dengan simbol kerajaan berupa tanduk kerbau.
Selain itu, juga bisa dimaklumi bila di Minangkabau kuno, suami memanggil istrinya dengan sebutan Uni sementara istri memanggil suaminya dengan sebutan Uda (dari kata Yehuda).
Dalam peradaban moderen, kata uda dipakai untuk menyebut kakak lelaki dan uni untuk kakak perempuan. Terjadi sedikit pergeseran makna di situ, seiring berjalannya waktu.
Karena bahasa yang dipakai Raja Iskandar adalah Asyrian (bagian dari Aramaic muda), maka dapat disimpulkan bahwa bahasa Minangkabau juga termasuk kelompok Aramaic.
Di kalangan ahli bahasa kini lebih populer dengan istilah West Semitic Language, namun yang paling familiar di telinga awam adalah austronesia.
Bahwa kemudian Islam gelombang kedua masuk lewat kaum imigran dari Gujarat dan Malayalam yang menandai kemunculan tulisan Arab Melayu sekitar abad-13, tidak serta merta menghilangkan induk bahasa itu sendiri, Minangkabau.
Menurut Tambo, Nabi Nuh menyuruh tiga anaknya untuk memimpin ekspedisi peradaban dan pemukiman baru (taruko/track) masing-masing ke Afrika, Eropa dan Asia.
Jadi tidaklah heran jika banyak kemiripan bahasa-bahasa purba antara peradaban ketiga benua yang diwakili oleh Mesir, Mesopotamia dan India.
Hubungan itu bisa dilihat pada kata-kata seperti harakul, hercules dan arga yang berarti gunung yang besar dan kokoh. Dalam bahasa Indonesia dipakai kata argo.
Karena itu, perahu Nabi Nuh disebut juga dengan ‘arch.’
Kerinduan bangsa Eropa terhadap peradaban tua (terutama Atlantis), memunculkan satu disiplin ilmu yang disebut archeology yang kerjanya menggali dan terus menggali.
Terobsesi oleh cerita tentang Atlantis menjadikan seorang Iskandar menempuh perjalanan dari Barat ke Timur sampai akhirnya mendarat di Bumi Nusantara yaitu Pulau Sumatera.
Dalam Al Quran benua Asia digambarkan sebagai ‘lumpur hitam’ (tafsiran jumhur ulama).
Kata asia itu sendiri berasal dari unsur Aramaic yang berarti berdebu atau berlumpur. Pada tabel bisa dilihat kemiripan kata itu dengan asok (Minangkabau) dan ash (Inggris).
Profil Iskandar seperti yang ditayangkan dalam filem Alexander tersirat pembunuhan karakter karena dibumbui perilaku homoseksual.
Itu terjadi karena mereka lebih memandang Alexander sebagai figur sejarah, bukan figur dogmatis reliji di mana ia berperan sebagai nabi pembawa risalah Islam sekaligus raja di tiga benua.
Perilaku Helenistik Yunani baru muncul setelah sepeninggal beliau pada 323 SM dan hanya bertahan sebentar karena seiring bangkitnya imperium Romawi yang ditandai dengan takluknya Raja Philip V kepada pasukan Romawi di Kynoskephalai pada 197 SM.
Jadi sangat tidak beralasan kalau Alexander dituduh sebagai pembawa pengaruh helenistik ke tanah Palestina.
Alexander, Raja sekaligus Nabi yang bergelar Zulkarnain (Si Dua Tanduk) atau “Yang Bertanduk Dua” karena kata ‘zul’ juga berarti posesif, dengan modal ‘obsesi Atlantis’ bisa menaklukkan tiga benua, adalah prestasi terbesar dalam sejarah peradaban umat.
Hanya saja, masuknya Islam menjadikan sekalangan umat di Nusantara merasa malu telah memiliki masa lalu terkait etnis Yahudi yang dikenal sebagai kaum pembangkang.
Sehingga, muncullah dikotomi antara Bani Israil dan Yahudi. Padahal, Yehuda adalah nama salah satu dari 12 anak Nabi Yakub AS yang bergelar Israil.

Abdul Aziz Basyaruddin

1 comment:

Jumeldi Meldi said...

boleh minta link ke referensi2 yang lebih lengkap gak. thanks