Tujuh Arkeolog Terbaik

Berbagai penemuan hebat dari zaman dahulu tak lepas dari campur tangan arkeolog handal. Siapa saja arkeolog handal itu?

1. Sir W.M. Flinders Petrie (1853-1942)
            Petrie lahir dengan latar belakang penjelajah. Kakeknya seorang navigator asal Inggris pertama yang mengelilingi Australia. Kegiatan arkeologi Petrie membawanya ke Mesir. Ia menjadi orang pertama ahli Mesir Kuno di University Collage London, Inggris. Perjalannya berlanjut di Palestina. Petrie pun menjadi pelopor dalam penggunaan metode ilmiah dalam bidang arkeologi, terutama dalam pengkategorian artefak. Ia juga orang pertama yang berhasil mencocokan jenis tembikar dengan budaya dan periode waktu asal artefak, bahkan merekonstruksi situs sejarahnya. Patrie memperkenalkan metode seriation, pendekatan ini memungkinkan para arkeolog untuk membangun kronologi waktu dengan akurat. Metode ini terus digunakan hingga ditemukan metode baru yakni penggunaan karbon. Karena dipenuhi dengan hasil penemuan arkeologinya, museum di University Collage London pun memberi nama museum Petrie.
2. Sir Mortimer Wheeler (1890-1976)
            Lahir di Glasgow, Skotlandia, Wheeler adalah ahli arkeologi yang menekankan pentingnya mendokumentasikan catatan stratigrafi. Ia menggunakan kotak-kotak dan sistem dimensi grid untuk melaporkan penemuan, sementara arkeolog lain berfokus pada pencarian benda antic. Wheeler bekerja di banyak negara, seperti Inggris, Perancis, dan India. Di India, ia menjalankan tugas sebagai Direktur Jenderal Arkeologi yang membantu masyarakat umum mengenal arkeologi melalui buku, penampilan di TV dan radio. Di tahun 1952, ia dianugerahi gelar bangsawan.
3. Dame Kathleen Kenyon (1906-1978). Kenyon, arkeolog wanita yang berfokus pada penggalian di Tanah Suci. Penelitian ilmiah yang berfokus mencari tahu peninggalan arkeologi di Tanah Suci. Ia berperan mengubah ‘kekakuan’ penelitian akademik pada Holy Land. Kenyon adalah orang pertama yang menggali situs arkeologi dalam cerita di Kitab Suci, seperti Kota Jericho (1950-an) dan Yerusalem (1960-an). Wanita ini juga menemukakan ‘usia’ sebenarnya dari Tanah Suci, contohnya bahwa Jericho pertama kali dibangun pada periode Neolitik.
4. John Lloyd Stephens (1805-1852). Stephens bukanlah seorang arkeolog melainkan penjelajah. Namun ia berhasil mengungkap peradaban suku Maya. Di tahun 1839, Stephens menjadi ambassador bagi Amerika Tengah kemudian bersama Frederick Catherwood membuat sebuah buku. Berjudul Incidents of Travel in Central America, Chiapas and Yucat√°n, dalam bukunya berisi peta dan hal-hal yang mereka lihat dalam penjelajahan. Mungkin mereka bukanlah orang pertama yang menjelajahi peradaban Maya. Namun Stephens dan Catherwood  adalah orang pertama yang mendokumentasikan melalui tulisan rinci kehidupan suku Maya. Hasil tulisan mereka membuat bidang arkeologi Mesoamerika berkembang, khususnya kehidupan suku Maya.
5. Tom Dillehay. Saat ini menjadi professor di Vanderbilt University, Nashville, Tennesse. Di akhir tahun 1970an, Dillehay pernah bekerja di Cili dan di awal 1980an ia melakukan penelitian pada situs Monte Verde. Dillehay menantang teori Clovis tentang kedatangan manusia pertama di Amerika.
6. David Stuart. Pria ini mempunyai kemampuan membaca hieroglif Maya dan telah mengubah cara berpikir dunia tentang suku ini. Di usianya ketiga, bersama ayahnya, George Stuart -ahli suku Maya- dan arkeolog dari National Geographic, Stuart mengunjungi situs bersejarah Maya. Ia tumbuh bersama reruntuhan Maya dan menerbitkan sebuah makalah pada usia 14 tahun. Di usia 18 tahun, ia berhasil memecahkan ‘sandi’ suku Maya dan di diberi gelat ‘genius’ oleh MacArthur Foundation. Hingga sekarang David Stuart tetap menjadi ahli prasasti Maya.
7. Sarah Parcak. Seorang ahli Mesir yang sekarang berada di University of Alabama, Birmingham. Parcak adalah pengguna foto satelit pertama untuk mengetahui situs arkeologi. Wanita ini menggunakan metode panjang gelombang cahaya untuk mengidentifikasi pola-pola peninggalan bersejarah. “Kami menggunakan bantuan foto satelit untuk mengetahuo apa yang ada di bawah tanah seperti peradaban, hutan, maupun tanah,” paparnya. Parcak menyebut dirinya space archaeologist, dan menulis buku. Saat ini ia menjadi penjelajah National Geographic.

(Elisabeth Novina, news.nationalgeographic

No comments: