Tulis Ulang Sejarah Nusantara: Nanggroe Atjeh Darussalam Part 16

Aceh Tempo Dulu3
Sejak mendarat pertama kali di Aceh tahun 1873 dan menduduki Banda Aceh, Belanda mengalami banyak sekali serangan-serangan besar yang dilakukan barisan mujahidin Aceh. Beberapa di antaranya terjadi tahun 1925 hingga 1927 di Bakongan dan tahun 1933 di Lhong.

Serangan terbesar Muslim Aceh terhadap kape Belanda terjadi beberapa saat setelah perang Pasifik pecah, sehingga ketika balatentara Jepang mendarat di Aceh, mereka tidak menemui perlawanan lagi dari tentara Belanda yang sudah terlebih dahulu kabur dari pesisir dan kota-kota besar untuk menyelamatkan diri dari serangan para mujahidin.

Kedahsyatan serangan dan pemberontakan Muslim Aceh terhadap Belanda menjelang kedatangan Jepang dipaparkan dengan cukup rinci oleh majalah Star Weekly terbitan tahun 1953.[1] Inilah kutipannya:

“Desember 1941 Nederlandsch Indie menyatakan perang dengan Jepang. Keadaan di Aceh masih tetap aman. Tapi diam-diam orang Aceh yang berada di Malaka (yang sementara itu sudah mulai diduduki Jepang) mendarat di pantai Aceh sebagai pengungsi. Padahal di antara mereka terdapat anggota Kolone V yang bekerja bersama dengan Jepang dan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) untuk melawan Belanda. Semua ini berjalan secara rahasia.

Desember dan Januari lewat seperti biasa. Tapi tanggal 19-20 Februari 1942, akhirnya meletuslah perasaan anti Belanda yang demikian lama tertahan itu. Beberapa malam kemudian Controleur Tiggelman di kota Seulimeum pagi jam 3.30 dibunuh mati; isterinya hanya bisa melarikan diri berkat pertolongan seorang Aceh pegawai Controleur itu  setelah menyamar sebagai wanita Aceh.

Pembunuhan ini segera dikuti  oleh sabotase. Kawat telepon dan kawat telegraf diputuskan; jalan kereta api dibongkar, (perbuatan sabotase sekarang ini dilakukan oleh gerombolan pemberontak); stoomwals ditaruh di tengah-tengah jalan sebagai penghalang; jembatan diblokir, pohon di pinggir jalan ditebang dan dijatuhkan di jalan raya. Semua ini terjadi di sekitar Seulimeum. Juga sekarang nama ini seringkali terdengar.

Tidak kebetulan pemberontakan PUSA terhadap Belanda itu dimulai di Seulimeum. Sebab kota itu yang letaknya di pegunungan, sedari dulu terkenal sebagai tempat kelahiran Ulama-ulama yang terkemuka, yang mempunyai banyak sekolah dan murid di sini. “Fanatik, benci akan orang asing,” demikian tulisan DR. C. Snouck Hurgronje tentang penduduk Seulimeum ini dalam tahun 1894.

Dan ketika dalam tahun 1937 seorang Controleur Belanda omong-omong dengan seorang tua, penduduk Seulimeum itu tentang kesudahan Perang Aceh dengan Belanda (1873-1904), Controleur itu mendapat jawaban: Kita bukan “talo” (=takluk), cuma “dame” (=kedua belah pihak setuju mengakhiri perang itu).

Perasaan dan keyakinan bukan “talo” itu yang dipendam demikian lamanya, sekarang bisa meletus keluar terhadap kafir Belanda. Dengan mendapat bantuan para Ulama yang tua, maka terjadilah gerakan pemberontakan secara missal ini. Tapi bahwa sesudah kafir Belanda itu diusir, nanti akan datang kekuasaan Jepang. Juga kafir, tidak dipikirkan lebih jauh. Primair kekuasaan Belanda harus disingkirkan. Kekuasaan Jepang ada urusan secondair.

Di malam 23-24 Februari 1942 seorang pegawai Belanda dari jawatan kereta api (Graaf U. Bernstorff von Sperling) mati dibunuh. Di malam 7-8 Maret 1942 kembali terjadi gelombang besar sabotase pada hubungan lalu lintas di seluruh Aceh, yang dilakukan oleh angggota organisasi Fujiwara, yaitu orang-orang Aceh Kolone V di bawah pimpinan organisasi Jepang Fujiwara Kikan dengan siapa PUSA bekerja bersama dengan rapat sekali.

Poliklinik di Indrapuri dirampok. Assisten Resident Van den Berg di Sigli mati dibunuh. Kotanya dirampok. Tanggal 8 Maret tibalah warta radio yang mengejutkan, bahwa tentara KNIL di Jawa telah menyerah pada Jepang, tapi di Aceh sendiri tentara Nippon belum mendarat. Itu baru terjadi di malam 11-12 Maret. DR. Piekaar yang waktu itu berada di Kutaraja melukiskan malam itu sebagai malam penuh siksaan batin (een nacht vol verschrikking) sebab selain kemungkinan pendaratan Nippon, tiap saat ditakuti serangan orang Aceh secara mendadak di waktu malam.

Dalam keadaan begitu, pendaratan Jepang, oleh pihak Belanda malah dirasakan hampir sebagai berakhirnya penderitaan (welhaast al seen verlossing).”

Ketua PB PUSA Teungku Muhammad Daud Beureueh saat itu banyak melakukan pengkoordinasian sesama pemimpin dan ulama Aceh untuk mengatur strategi mengusir Belanda dari Aceh dan menghadapi kedatangan Jepang.



baiturrahmanmosquebandaaceh
Bulan Desember 1941 ketika perang Pasifik pecah, di sebuah rumah yang terpencil dan aman, Daud Beureueh mengumpulkan Teungku Abdul Wahab Seulimeum, Kepala Cabang PUSA Aceh Raya Teuku Nyak Arif, Panglima Sagi XXVI Mukim, Teuku M. Ali Panglima Polem, Panglima Sagi XXII Mukim, dan Teuku Ahmad, seorang Uleebalang di Jeunieb (Samalanga).

Di akhir pertemuan, mereka semua meneguhkan janji dan bersumpah setia kepada agama Islam, kepada bangsa dan tanah air, dan akan bekerjasama dengan kerajaan Dai Nippon melawan Belanda, dan menyusun pemberontakan atas nama PUSA.

Dari Sigli, PUSA menyebarkan propaganda menyerang penjajah Belanda dan menyerukan rakyat Aceh agar bersedia bekerjasama dengan Jepang dalam melawan Belanda. Belanda sendiri sungguh-sungguh paham bahwa Daud Beureueh berada di belakang semua aksi ini. Namun walau pun Belanda sudah menyebarkan mata-mata ke seluruh penjuru Aceh untuk mengetahui keberadaan Teungku Daud Beureueh ini, upaya Belanda ternyata sia-sia belaka.

Daud Beureh di kemudian hari menuturkan bahwa dirinya telah disembunyikan oleh para pejuang Aceh di sebuah rumah di Kampung Metareuem yang dijadikan pusat komando.

Terhadap Jepang, PUSA sangat sadar bahwa kerjasama ini hanya dilakukan dalam hal mengusir Belanda dan menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat Aceh. Kala itu, Inggris yang terkenal kuat dalam persenjataan dan tentaranya, tidak mampu menghadang serbuan balatentara Jepang hingga Malaya dan Singapura jatuh, apalagi Belanda.

Sebab itu PUSA memanfaatkan Jepang. Untuk melawan Jepang bukan hal yang mustahil, namun diyakini akan mengakibatkan banjir darah dan korban yang terlalu banyak di kalangan rakyat Aceh yang sudah lama menderita. Sebab itu, PUSA mengambil keputusan yang bersifat sementara untuk bekerjasama dengan Jepang.

Kecurigaan PUSA terhadap Jepang ternyata terbukti. Walau di awal Jepang berjanji akan mengusir kaum feodal kaki tangan Belanda, namun setelah berada di Aceh, Jepang malah banyak mengambil para feodal kaki tangan Belanda ini menjadi aparat birokrat. Bukan itu saja. Sikap tentara Jepang yang sombong dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa hormat terhadap agama Islam membuat rakyat Aceh muak dan geram.

Perilaku tentara Jepang yang amat tidak islami dipaparkan oleh Brigjen (Purn) Sjamaun Gaharu. Putera Aceh ini menulis, “Rakyat Aceh pada mulanya berharap Jepang adalah pembela rakyat Aceh dan pelindung agama Islam. Tapi baru beberapa hari mereka sampai , harapan masyarakat Aceh pun sirna. Serdadu Jepang yang hanya memakai cawat berjalan di mana-mana. Hal ini bertentangan dengan adat Aceh. Orang Jepang yang menganut agama Shinto memakan babi, dan mereka melakukannya di tempat terbuka, seolah-olah dipamerkan. Akibatnya rakyat Aceh benci pada mereka.

Setiap pagi dilaksanakan upacara Seikere atau menunduk ke arah matahari terbit dengan cara rukuk. Tentu saja cara ini bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akibatnya pada tanggal 10-11 November 1942, terjadilah pemberontakan rakyat Aceh di bawah pimpinan Teungku Abdul Jalil di Bayu, Aceh Utara… Mula-mula Jepang masuk ke Aceh, kita diperbolehkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih. Namun tujuh belas hari kemudian dua hal itu terlarang.”[2]

Seperti juga di daerah-daerah lain di Nusantara, rakyat Aceh selama pendudukan Jepang merasakan penderitaan yang amat sangat. Ribuan romusha yang terdiri dari rakyat Aceh dan juga orang-orang yang didatangakn dari luar Aceh dan bahkan dari Jawa bekerja siang malam membangun lapangan terbang, membuka jalan menerabas hutan belukar, dan sebagainya. Ribuan orang mati kelelahan, terkena malaria, dan juga tidak tahan menerima siksaan Jepang yang kelewat batas. Untunglah Jepang tidak terlalu lama berkuasa. (Rizki Ridyasmara)

Artikel ini bekerjasama dengan Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah ,


[1] Star Weekly No.407, 17 Oktober 1953 tahun ke VIII yang didasarkan atas buku DR. A.J. Piekaar berjudul “Atjeh en de Oorlog met Japan”, dan dikutip kembali oleh M. Nur El Ibrahimy dalam buku “Teungku Muhammad Daud Beureueh”; Gunung Agung; Jakarta: cet.2; 1986. Hal.31-32.

[2] Ramadhan KH dan Hamid Jabbar; Sjamaun Gaharu, Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal; Pustaka Sinar Harapan; Cet.1; 1995; hal.34.

No comments: