Bulan Syawal tidak hanya menjadi penanda berakhirnya Ramadhan.
Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil

Foto: wikipedia
Bulan
Syawal tidak hanya menjadi penanda berakhirnya Ramadhan dan dimulainya perayaan Idul Fitri, tetapi juga menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang sarat makna dan pelajaran. Di bulan ini, umat Islam diingatkan pada berbagai momentum bersejarah mulai dari peristiwa kemenangan dalam peperangan hingga tonggak perkembangan dakwah yang memperlihatkan bagaimana semangat keimanan, persatuan, dan pengorbanan menjadi kunci kejayaan Islam.
Dalam Sirah Nabawiyah durus wa ‘Ibar menyebutkan bahwa Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu tanggal 15 Syawal tahun ketiga hijriyah. Kekuatan pasukan muslimin awalnya 1.000 orang, namun berkurang menjadi hanya tinggal 700-an orang. Sementara pasukan musyrikin Makkah berkekuatan 3.000 orang dengan perbekalan dan kendaraan yang lengkap.
Al-Mubarakfuri di dalam kitabnya Ar-Rahiq Al-Makhtum menyebutkan bahwa tidak kurang dari 70 ayat Alquran Al-Karim telah turun dalam peristiwa Perang Uhud ini, pada setiap momen dari kejadian perang itu, episode demi episode. Yang paling banyak Surat Ali Imran, khususnya mulai ayat 121 hingga ayat 179.
Perang Khandaq
Dinamakan Perang Khandaq yang berarti parit karena strategi bertahan di dalam kota Madinah menggunakan parit yang digali sepanjang 5 km. Perang ini juga dinamakan dengan Perang Ahzab (partai-partai) karena pihak musuh merupakan gabungan kekuatan para musuh Islam, di antaranya pihak musyrikin Makkah, beberapa kelompok Yahudi dan juga orang-orang
munafikin di dalam Madinah.
Nama Perang Ahzab ini juga menjadi nama salah satu surat di dalam Alquran Al-Kariem, yakni surat ke-33.
Terkait waktu terjadinya perang Khandaq, ada dua versi. Ada yang menuliskan perang ini terjadi pada bulan Syawal, ada juga yang menyebutkan pada bulan Dzulhijah.
Dr. Musthafa As-Siba’i dalam kitabnya Sirah Nabawiyah durus wa ‘Ibar menyebutkan bahwa Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun ke-5 hijriyah.
Al-Waqidi di dalam kitab Al-Maghazi menyebutkan bahwa kejadiannya pada hari Selasa tanggal 8 Dzulhijjah tahun ke-5 hijriyah. Sementara, Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya Ghazawat Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Durus wa Ibar wa Fawaid mengutip pendapat Ibnu Saad menuliskan bahwa pasukan Ahzab dikalahkan pada hari Rabu bulan Dzulhijjah tahun ke-5 Hijriyah.
Perang Hunain terjadi ketika Rasulullah SAW masih di Makkah saat membebaskannya di bulan Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Hal ini terjadi sekitar dua minggu setelah penaklukan Makkah, atau empat minggu setelah Nabi Muhammad SAW meninggalkan Madinah. Oleh karena itu 12.000 orang pasukan muslimin tidak berangkat dari Madinah, namun justru bergerak dari Makkah pada tanggal 5 Syawal dan tiba di Hunain pada sore hari tanggal 10 Syawal di tahun ke-8 Hijriyah itu juga. Lawan yang dihadapi pada Perang Hunain ini adalah kaum Tsaqif dan Hawazin.
Perang Thaif
Perang Thaif berlangsung pada bulan Syawal tahun 8 Hijriyah, tidak lama setelah terjadinya Perang Hunain. Dalam peristiwa ini, pasukan kaum Muslimin bergerak mengejar sisa-sisa pasukan Quraisy yang melarikan diri dan berlindung di dalam benteng kota Thaif yang sangat kuat, sehingga sulit untuk ditembus.
Menghadapi kondisi tersebut, Rasulullah SAW kemudian mengubah strategi dengan melakukan pengepungan terhadap wilayah Thaif. Setelah melalui proses tersebut, penduduk Thaif akhirnya menyatakan tunduk dan bersedia bergabung dengan kaum Muslimin.
Pernikahan Nabi Muhammad SAW
Aisyah radhiyallahu anha berkata, "Rasulullah SAW menikahiku di bulan Syawal, dan mulai mencampuriku juga di bulan Syawal, maka istri beliau manakah yang kiranya lebih mendapat perhatian besar di sisinya daripada aku?" Salah seorang perawi berkata, "Dan Aisyah merasa senang jika para wanita menikah di bulan Syawal." (HR Imam Muslim dan Imam At-Tirmidzi).
Rangkaian peristiwa di bulan Syawal tersebut menunjukkan bahwa momentum setelah Ramadhan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari penguatan iman dan amal dalam kehidupan nyata. Dari medan peperangan hingga kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW, Syawal mengajarkan nilai keteguhan, strategi, ketaatan, serta keseimbangan antara ibadah dan kehidupan sosial. Karena itu, sudah semestinya umat Islam menjadikan bulan ini sebagai pijakan untuk mempertahankan semangat Ramadhan, sekaligus meneladani perjuangan dan sunnah Nabi dalam membangun peradaban yang kokoh dan berakhlak mulia.
Dikutip dari berbagai sumber, peristiwa lain yang tak kalah penting adalah kelahiran Imam Bukhari pada bulan Syawal tahun 194 Hijriah. Sepanjang hidupnya, beliau memberikan kontribusi besar dalam menghimpun dan menyusun hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Karyanya yang monumental, Shahih al-Bukhari, hingga kini tetap menjadi rujukan utama umat Islam. Menariknya, guru dari Imam Muslim ini juga wafat pada bulan yang sama, yakni pada malam Idul Fitri tahun 256 Hijriah. Beliau kemudian dimakamkan di Samarkand setelah pelaksanaan sholat Id.
No comments:
Post a Comment