Syaikh Abdul Qadir al Jilani tentang Derajat (Kebesaran) dan Serigala

Syaikh Abdul Qadir al Jilani tentang Derajat (Kebesaran) dan Serigala
Ilustrasi/Ist
'JALAN' ini diadakan oleh para pengikut Syaikh Abdul Qadir dari Gilan, yang lahir di Nif, distrik Gilan, sebelah selatan Laut Kaspia. Dia meninggal dunia tahun 1166, dan menggunakan terminologi sangat sederhana yang kemudian hari digunakan oleh orang-orang Rosicrucia di Eropa.

Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi dan diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha menjadi "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat" menyebutkan ringkasan berikut, termasuk materi pelajaran tradisional dari disiplin Qadiriyah dan juga beberapa pokok ucapan atau teguran Abdul Qadir sendiri. 

SANG GURU DAN ANJING

Seorang guru Sufi, berjalan sepanjang jalan dengan seorang muridnya, telah diserang oleh seekor anjing yang galak.

Si murid dengan garang berteriak:

"Betapa berani kau mendekati guruku dalam sikap seperti itu!"

"Dia lebih berpendirian tetap daripada dirimu," kata sang Guru, "karena dia menggonggong kepada seseorang, sesuai dengan kebiasaan dan kesukaannya; sementara engkau memandangku sebagai gurumu dan sama sekali tidak dapat merasakan manfaat dari banyaknya penerangan yang telah kita persiapkan untuk mengarungi perjalanan ini, mengabaikan mereka tanpa pertimbangan lagi."
DERAJAT (KEBESARAN) DAN SERIGALA

Serigala berpikir bahwa dia telah menyenangkan diri sendiri dengan baik, ketika dia pada kenyataannya hanya memakan sisa-sisa dari (makanan) singa.

Aku menyebarkan ilmu pengetahuan yang menghasilkan 'derajat'. Inilah, digunakan untuk diri sendiri, sebab-sebab bencana. Dia yang menggunakannya hanya akan menjadi terkenal, bahkan sangat kuat. Dia akan memimpin manusia menyembah 'derajat', hingga mereka akan nyaris tak dapat kembali kepada Jalan Sufi. (Abdul Qadir al Jilani). 

BINATANG BUAS, KAMBING DAN ORANG DESA

Suatu kali seekor binatang buas telah tertangkap oleh penduduk desa. Mereka mengikatnya ke sebuah pohon. Merenungkan penderitaan yang mereka timpakan atas dirinya; telah diputuskan untuk menghanyutkan dia ke laut sore itu, setelah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka sehari-hari.

Tetapi seekor kambing yang tidak begitu pandai, datang menghampiri dan menanyai binatang buas yang cerdik itu, mengapa dia diikat seperti itu.

"Ah," kata binatang buas, "beberapa orang telah meletakkan aku di sini karena aku tidak mau menerima uang mereka."

"Mengapa mereka ingin memberikannya kepadamu, dan mengapa engkau tidak menerimanya?" tanya si kambing dengan bersemangat.

"Karena aku tafakur, dan mereka ingin menyuapku," kata binatang buas, "mereka manusia tak bertuhan."

Si kambing mempengaruhi bahwa dia akan menggantikan tempat binatang buas, dan menasihati agar binatang buas tersebut lari menjauh dari jangkauan orang-orang tak bertuhan tersebut. Maka mereka pun berganti tempat.

Warga desa kembali setelah senja turun, menutup kepala kambing dengan karung, mengikatnya, dan menghanyutkannya ke laut.

Keesokan harinya mereka terkejut melihat binatang buas memasuki desa dengan sekawanan domba.

"Di laut sana, ruh-ruh dengan baik hati membalas siapa saja yang terjun ke dalamnya dan 'tenggelam' dalam sikap demikian," kata binatang buas.

Dalam sekejap, orang berduyun-duyun pergi ke pantai dan terjun ke laut.

Itulah sebabnya mengapa binatang buas tersebut mengambil alih desa yang ditinggalkan penduduknya.
(mhy) Miftah H. Yusufpati

No comments: