“Tan Malaka” di Hujat dan di Lupakan

Siapa yang tak kecewa ketika di lupakan oleh sejarah? Ketika mengikuti Seminar yang di adakan University Club UGM dengan menghadirkan Kompas Gramedia, salah satu yang di bahas adalah tentang tokoh sejarah yang baru kali ini saya dengar namanya, pasalnya ketika mempelajari sejarah di bangku SD hingga SMA lalu tak pernah di bahas tentang tokoh pahlawan yang bernama “Tan Malaka”. Nama asli Tan Malaka adalah Sultan Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu (gelar datuk).
1382069263479345853
Dok Kediri in Photography

Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. Ia menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli. Penindasan terhadap buruh menyebabkan ia berhenti dan pindah ke Jawa tahun 1921. Ia mendirikan sekolah di Semarang dan kemudian di Bandung. Aktivitasnya menyebabkan ia diasingkan ke negeri Belanda. Ia malah pergi ke Moskwa dan bergerak sebagai agen komunis internasional (Komintern) untuk wilayah Asia Timur. Namun, ia berselisih paham karena tidak setuju dengan sikap Komintern yang menentang pan-Islamisme. (di kutip dari Lost Hero from Kediri)
Kamis, 17 oktober. Salah satu pihak Kompas Gramedia bapak “Abni” menyatakan “ Karena Tan Malaka Indonesia ada, Indonesia bisa merdeka seperti saat ini karena campur tangan beliau”. Tetapi, kenyataanya seakan nama beliau hilang di telan masa. Tan Malaka, Seorang bapak bangsa besar yang tak di kenali di kampong halamannya sendiri. Bagaimana tidak, ketika dari pihak kompast TV mengadakan sebuah acara “100 Hari Keliling Indonesia” dengan menggandeng seorang artis “Ramon Y Tungka”, melihat cuplikan sekilas dari acara tersebut, ketika “Ramon” menanyakan pada salah satu bapak-bapak “warga sekitar” apakah mengenal “Tan Malaka”, mirisnya bapak tersebut tidak menganali. Mungkin yang ada di dalam benak bapak-bapak tersebut “Tan Malaka” adalah sebuah tempat wisata, atau makanan yang sangat enak sehingga orang luar berburu mencarinya hingga datang ke tempat tersebut.
Beberapa karya yang beliau hasilkan adalah, Madilog dan Gerpolek kerduanya acapkali dianggap merupakan karya penting dari Tan Malaka. Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama. Bagi Madilog yang pokok dan utama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana. (di kutip dari Wikipedia)
Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia serta Rakyatnya saat itu. Yang mana Situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah yang kacau lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia. Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gorplek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya. (di kutip dari Wikipedia)
Tahun 1949 Tan Malaka ditembak. Tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Namun, sejak era Orde Baru, namanya dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah walau gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut hal tersebut merupakan kebodohan rezim Orde Baru menganggap Tan Malaka sebagai tokoh partai yang dituduh terlibat pemberontakan beberapa kali. Tan Malaka justru menolak pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Ia sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948. Bahkan, partai yang didirikan tanggal 7 November 1948, Murba, dalam berbagai peristiwa berseberangan dengan PKI. (di kutip dari Ki Boncolono “lost Hero from Kediri”)
Beliau di lupakan di bangsa sendiri, namun namanya berkibar di Negara orang lain. Sampai-sampai seorang Karya Harry Poeze berkebangsaan belanda menulis bogrpahy tentang Tan Malaka dan sangat laku pesat di pasaran. Tak heran jika bapak “Abni” mengatakan “ Tan Malaka, seorang Bapak bangsa besar, namun du lupakan oleh bangsanya sendiri, bahkan tak di kenali di kampong halamannya sendiri”.
1382069623532566224
Dok : Kediri in PhotoGraphy
Kita bisa mengambil pelajaran dari Hal tersebut , agar kita tidak melupakan sejarah yang mana sejarah terkadang di pandang sebelah mata. Contohnya saya sendiri, tidak mengetahui seluk beluk sejarah dari pahlawan-pahlawan kita padahal tanpa jasa beliau kita tidak akan enak “ongkang-ongkang” kaki seperti sekarang ini. dan satu pelajaran yang bisa saya ambil dari cuplikan “100 Hari keliling Indonesia” pada Seminar kali ini , “Menceritakan tidak harus Menggurui, namun dengan Mencontohkan dan Menunjukkan bahwa kita memang perduli orang akan yakin serta percaya”. 

Denda Y A R

No comments: