Nasib Muslim Tatar Krimea
Disusun oleh: Lembaga Kajian Syamina
DALAM beberapa bulan belakangan ini telah terjadi konflik di Krimea, sebuah wilayah otonomi khusus yang merupakan bagian dari Ukraina.
Konflik tersebut melibatkan Ukraina, Krimea dan Rusia. Konflik terjadi karena adanya tarik ulur kepentingan antara fihak-fihak yang bertikai. Secara umum ada tiga opsi kepentingan yang menyebabkan pertikaian di Krimea: keinginan untuk mempertahankan Krimea tetap sebagai bagian Ukraina, keinginan untuk menjadikan Krimea sebagai bagian Rusia, dan keinginan untuk menjadikan Krimea sebagai negara yang merdeka.
Konflik yang terjadi di Krimea tidak lepas dari sejarah perjalanan hubungan politik antar negara di sekitar wilayah tersebut dan kondisi demografis di Krimea.
Wilayah Krimea dihuni oleh 3 etnik utama yaitu Rusia (59%), Ukraina (20%), Tatar Krimea (15%) dan sisanya etnik lain (6%)[1]. Media massa saat ini lebih banyak menyorot pertikaian antara etnik Rusia dan Ukraina yang mempunyai kepentingannya masing-masing.
Etnik minoritas Tatar Krimea yang Muslim seolah terjepit diantara kepentingan 2 etnik lainnya di Krimea. Padahal dahulu etnik Muslim Tatar Krimea merupakan mayoritas, pernah berkuasa di wilayah tersebut selama beberapa abad dan menjadikan semenanjung ini sebagai salah satu pusat budaya Islam.
Kondisi Geografis, Iklim, Ekonomi dan Pemerintahan di Krimea
Krimea merupakan wilayah yang berada di daerah selatan Ukraina di Semenanjung Krimea. Wilayah ini dikelilingi oleh Laut Hitam disisi barat-selatan dan laut Azov disisi timur dan mencakup hampir seluruh wilayah semenanjung itu dengan pengecualian Sevastopol, sebuah kota yang saat ini sedang diperdebatkan oleh Rusia dan Ukraina. Luas wilayah Krimea adalah 26.100 km persegi. Krimea berbatasan dengan distrik Kherson (Ukraina) di utara dan dipisahkan dari Krasnodarsky Kray (Rusia) oleh Selat Kerch disebelah timur.
Semenanjung Krimea dipisahkan dari Ukraina oleh sistem Sivash laguna dangkal. Garis pantai Krimea berliku-liku dan terdiri atas beberapa teluk dan pelabuhan. Topografi Krimea relatif datar karena sebagian besar semenanjung ini terdiri dari padang rumput semi kering atau padang rumput tanah. Pegunungan Krimea terletak di sepanjang pantai tenggara semenanjung itu.
Ibu kota Republik Otonomi Krimea adalah Simferopol. Beberapa kota utama yang ada di Krimea adalah Feodosia, Kerch, Sevastopol, Simferopol, Sudak, Yalta, dan Yevpatoria.
Pantai selatan Krimea memiliki iklim sub-Mediterania, dengan musim panas yang kering panas dan musim dingin ringan yang lembab hangat. Suhu rata-rata di musim panas (Juli) +23,0° sampai +24,5° dan di musim dingin (Januari) +2,0° sampai +4,0°. Curah hujan tahunan di pantai selatan Krimea adalah sekitar 350-650 (mm). Daerah ini memiliki 250-300 hari bersinar matahari per tahun.
Bagian pegunungan yang memisahkan pantai selatan Krimea dari bagian tengah Krimea memiliki iklim benua ringan yang hangat dengan musim panas ringan yang lembab dan musim dingin yang dingin lembab.
Bagian tengah dari Krimea memiliki iklim stepa benua ringan dengan musim panas yang kering panas dan musim dingin yang dingin lembab. Suhu rata-rata di musim panas (Juli) +22,0° sampai +23,5 ° dan di musim dingin (Januari) -2,3° sampai – 0,0°. Curah hujan tahunan di bagian tengah dari Krimea adalah sekitar 340-480 (mm).[2]
Perekonomian Krimea utamanaya didasarkan pada pariwisata dan pertanian. Kota Yalta adalah tempat tujuan wisata yang terkenal di Laut Hitam bagi orang-orang Rusia, demikian juga dengan Alushta, Eupatoria, Saki, Feodosia dan Sudak.
Produk pertanian utama Krimea adalah biji-bijian, sayuran dan anggur. Pemeliharaan ternak sapi, ayam dan domba juga merupakan sumber ekonomi yang penting. Krimea memiliki beberapa sumber alam seperti garam, batu mulia, batu kapur dan pasir besi.[3]
Krimea telah menjadi bagian dari Ukraina sejak 1954. Pemimpin Uni Soviet saat itu, Nikita Khrushchev “memberikan” wilayah ini pada Ukrania yang kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet hingga negara ini bubar pada 1991. Sejak saat itu, Krimea menjadi wilayah semiotonom dari negara Ukraina yang memiliki ikatan politik kuat dengan Ukraina, namun memiliki ikatan budaya yang kuat dengan Rusia.
Krimea memiliki badan legislatif sendiri -Dewan Tertinggi Krimea beranggotan 100 wakil rakyat- dan kekuasaan eksekutif yang dipegang Dewan Menteri yang dipimpin seorang ketua yang berkuasa atas persetujuan Presiden Ukraina. Pengadilan adalah bagian dari sistem peradilan Ukraina dan tidak memiliki otoritas otonom.[4]
Sejarah bangsa Tatar Krimea
Tatar Krimea adalah penduduk asli Krimea yang sejarahnya berawal sejak berabad-abad yang lalu. Kekuatan dan wibawa bangsa Tatar Krimea mencapai puncaknya sebagai Khanate Krimea yang independen, yang muncul pada paruh pertama abad ke-15 dan terus berlangsung sampai 1783. Selama lebih dari 300 tahun itu, ia menjadi kekuatan utama dan memainkan peran penting dalam internasional, maupun hubungan politik dan militer di seluruh Eurasia.[5]
Dengan maksud untuk secara penuh memahami sejarah Tatar Kremia perlu dilihat kembali pendahulu Khanate Krimea, yaitu Golden Horde. Golden Horde dibentuk oleh cucu Jenghis Khan, Batu, meliputi wilayah yang luas pada apa yang sekarang menjadi Rusia dan Ukraina, termasuk semenanjung Krimea di selatan. Dalam beberapa abad setelah kematian Batu, Krimea menjadi tempat berlindung bagi calon-calon yang tidak berhasil menduduki tahta Horde tersebut.[6]
Pada tahun 1443, salah satu dari pesaing-pesaing ini, Haci Giray telah berhasil memisahkan diri dari Golden Horde dan mengangkat dirinya sendiri sebagai pemerintah independen pada sebagian Krimea dan area perbatasan dari stepa tersebut. Keturunannya memerintah di Krimea dengan beberapa pengecualian sampai akhir abad 17.
Sebagai salah satu dari banyak pecahan Golden Horde, Khanate Krimea, “lebih dari yang lain dalam melestarikan tradisi dan institusi Golden Horde”. Haci Giray, “keturunan Cingis Khan (Jengis Khan)”, menjalankan kekuasaan yang merdeka antara tahun 1420 sampai 1441. Ia mendirikan sebuah dinasti yang memerintah Khanate Krimea tanpa gangguan sampai tahun1783, pada saat aneksasi Rusia atas Krimea.[7]
Khanate Krimea yang berbagi semenanjung Krimea dengan Genoa, mencoba untuk mendapatkan kembali pelabuhan dan kota-kota mereka di bagian selatan dan barat daya Krimea. Dalam upaya ini mereka masuk ke dalam aliansi dengan Khilafah Utsmaniyah yang relatif baru, yang ingin merebut “mimpi berabad-abad Muslim dan Turki tentang Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Romawi Timur.”
Sejak dari situasi itu, selamanya berubah untuk Genoa, yang perdagangannya tergantung pada selat yang kini dikendalikan oleh Khilafah Utsmaniyah. Pada tahun 1454, Tatar dan Turki membuat serangan yang gagal pada pelabuah Kefe; pada tahun 1475 mereka akhirnya merebutnya dari Genoa, hal itu memperkuat hubungan politik dan militer Krimea-Utsmaniyah di masa depan.[8] Hubungan dan peran Khanate Krimea dengan Khilafah Utsmaniyah akan dijelaskan lebih rinci pada bagian berikutnya.
Khanate Krimea sangat kuat di awal keberadaannya. Namun, pada abad 17 dan 18 para khan ini mulai kehilangan kekuatan mereka karena ketidakstabilan domestik. Para pemimpin suku setempat, yang memperoleh kekayaan tertentu, kekuasaan politik dan militer, menjadi kurang tergantung pada khan, dan bertindak sendiri tanpa persetujuan khan.
Khilafah Utsmani kehilangan kekuatan di Eropa dan, sebaliknya, Rusia mendapatkan kekuasaannya. Rusia memiliki kepentingan untuk mendapatkan akses ke Laut Hitam dan, mengeksploitasi ketidakstabilan internal dan kelemahan Krimea, menyerangnya dan tahun 1774 memaksa khan di bawah pengaruhnya; dan kemudian pada tahun 1783, Krimea dianeksasi oleh kekaisaran Rusia.[9]
Setelah aneksasi itu, Catherine II membuat reorganisasi pemerintahan di Krimea. Itu bukan pengalaman pertama bagi Rusia untuk memerintah wilayah Muslim di kekaisaran Rusia: Kazan Tatar dan Bashkir Volga telah dianeksasi sebelum aneksasi Krimea.
Untuk memenuhi keputusannya, Catherine mengadakan sensus di Krimea, sebuah studi sistem administrasi perpajakan Krimea, dan menunjuk Pemerintah Distrik Krimea yang baru didirikan Tavricheskaya oblast‘, “area bekas Khanate Krimea dari Sungai Dnepr ke Taman (yangmembentang jauh melampaui Semenanjung Krimea itu sendiri dan termasuk sepotong besar wilayah Ukraina sekarang).”
Sistem administrasi Khanate yang lama digantikan oleh sistem administrasi yang biasa berada dalam kekaisaran Rusia masa itu. Dalam hal agama, kebijakan Rusia akhir abad 16 dan 17 dimaksudkan untuk memberantas Islam dalam kekaisaran Rusia. Kemudian pada tahun 1773, Catherine sendiri yang tidak beragama, menerbitkan keputusan ‘Toleransi pada semua kepercayaan’, yang memungkinkan bangsa Tatar untuk mempraktekkan Islam.
Catherine memungkinkan masing-masing orang Krimea “untuk mendapatkan kewajiban dan hak yang sama seperti yang didapatkan rekannya di Rusia.” Pada saat yang sama, ia membiarkan bagi mereka yang tidak ingin memiliki kewarganegaraan Rusia berangkat ke Kekaisaran Utsmaniyah.
Diperkirakan bahwa selama dekade pertama setelah aneksasi, jumlah Tatar yang meninggalkan Krimea berkisar dari sekitar 20.000-30.000 sampai 150,000-200,000, dengan jumlah penduduk Tatar Krimea pra-aneksasi “sedikit kurang dari setengah juta.”
Eksodus massal Tatar selama dekade terakhir dari Khanate Krimea (sejak 1772) dan dekade pertama setelah aneksasi telah meninggalkan sejumlah besar lahan kosong, yang selain berefek negatif pada demografi, juga memiliki beberapa efek negatif pada pertanian.
Di sisi lain, lahan bebas di negara yang ditinggalkan itu telah menarik para penjajah. Pada awal abad kesembilan belas, selain 8.746 orang Rusia yang ada sebelumnya, sekitar “35.000 non-Muslim telah menetap di semenanjung Krimea, bekas Khanate Krimea, yang meliputi tanah dari Dnestr ke sungai Kuban, yang hanya ditinggali kurang dari 100.000 pemukim Rusia.”
Aneksasi Krimea merupakan peristiwa penting dalam sejarah Rusia. “Dengan menganeksasi Krimea, Rusia mencapai apa yang banyak dianggap sebagai perbatasan selatan ‘alami’ nya.” Nasionalisme Krimea abad kesembilan belas telah menyebar ke entitas Muslim lain dalam Kekaisaran Rusia dengan semakin meningkatnya perasaan anti-Rusia, yang disebabkan oleh tidak hormatnya Rusia terhadap budaya Tatar dan Russifikasi yang dipaksakan.
Selama revolusi Rusia 1917-1918 para nasionalis Tatar meningkatkan klaim kemerdekaan mereka. Perang Dunia pertama menyebabkan krisis dalam identitas Tatar Krimea.
Di satu sisi, Tatar yang diwakili di Duma (parlemen), dalam eksekutif Rusia mereka berpartisipasi dalam organisasi-organisasi Muslim dan berjuang di barisan depan barat Perang Dunia I.
Di sisi lain, Kekaisaran Utsmaniyah mendukung musuh Rusia di perang Dunia I dan gagasan untuk melawan perang itu hampir tidak dapat diterima.
Selama Perang Saudara Rusia dari 1918-1921, Krimea adalah arena untuk berjuang kelompok-kelompok yang berkepentingan. Tatar tidak menerima pembela kepentingan mereka baik dari Bolshevics maupun Whites, Tentara Relawan yang terdiri dari mantan tentara tsar.
Tidak ada pihak yang tertarik untuk menyebabkan Krimea merdeka; masing-masing dari mereka menginginkan Rusia bersatu di bawah kekuasaan mereka sendiri. Akhirnya, pada bulan Oktober 1920, Bolshevics menduduki Krimea dan tinggal di sana sampai invasi Jerman pada tahun 1941.
Di Uni Soviet, Krimea menerima status Otonomi Krimea Republik Sosialis Soviet (Crimean ASSR) dan, secara administratif, merupakan bagian dari Republik Federasi Sosialis Rusia (RSFSR). Pada saat itu, rakyat Tatar Krimea merupakan sekitar seperempat dari populasi ASSR Krimea.
Otonomi tersebut bersifat terbatas dan Moskow tetap bertanggung jawab atas sebagian besar kegiatan Krimea, dengan pengecualian barangkali pada masalah-masalah keadilan, pendidikan, dan kesehatan. Dua kota pelabuhan penting, Sevastopol dan Evpatoria, dikeluarkan dari yurisdiksi Krimea dan disubordinasikan langsung ke Moskow.
Selama Perang Dunia II, Krimea relatif mudah diduduki oleh Jerman, Rumania, dan Italia untuk jangka waktu dari 1941 sampai 1944, dengan pengecualian adalah Sevastopol yang secara heroik dipertahankan hingga Juli 1942.
Segera setelah Krimea kembali di bawah kontrol Soviet pada awal tahun 1944, Stalin memerintahkan deportasi Tatar Krimea dan minoritas kecil lainnya sebagai hukuman kolektif untuk kerjasama mereka dengan Nazi. Pada tahun 1967, Tatar telah direhabilitasi tapi dilarang kembali ke Krimea.
Crimean ASSR dihapuskan pada tahun 1945 dan direorganisasi menjadi Oblast Krimea bagian dari RSFSR. Pada tahun 1954, Krimea dipindahkan di bawah yurisdiksi Ukraina SSR karena kedekatan hubungan geografis, ekonomi, dan budaya dengan Ukraina, dan sebagai sikap persahabatan yang melambangkan ulang tahun ke-300 perjanjian yang menyatukan Rusia dan Ukraina.
Selama beberapa tahun setelah Perang Dunia II dan sampai pembubaran Uni Soviet, Krimea dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata dan pangkalan untuk Armada Laut Hitam (BSF).
Di bawah Uni Soviet demografi Krimea berubah secara signifikan. Bencana kelaparan pada 1921-1922 mengakibatkan penurunan populasi penduduk lebih dari 21 persen. Seratus ribu orang meninggal karena kelaparan (60 persen dari mereka adalah Tatar Krimea) dan lima puluh ribu, terutama Tatar, mengungsi ke luar negeri. Pada tahun 1923, 25 persen (seratus lima puluh ribu) dari populasi Krimea adalah Tatar.
Sebanyak 35000 – 40000 Tatar Krimea dipindahkan ke Siberia sebagai bagian dari serangan Stalin pada nasionalisme Tatar Krimea; padahal sebelum perang populasi Tatar Krimea adalah sekitar 300 ribu sampai 2 juta, dan pada akhir 1970-an kurang dari seribu dua ratus keluarga Tatar yang tercatat di Krimea.
Perubahan dramatis tersebut disebabkan oleh deportasi terhadap Tatar dan minoritas lainnya. Deportasi Tatar Krimea dan minoritas lainnya dari Krimea diprakarsai oleh Stalin pada tahun 1944 setelah pembebasan Krimea oleh Tentara.
Selama pendudukan Jerman terhadap Krimea sejumlah 15.000-20.000 Tatar Krimea membantu Jerman untuk pendukung perang di pegunungan Krimea. Fisher mengacu pada perkiraan yang berbeda menyatakan bahwa sekitar 20,000-53,000 Tatar Krimea berperang melawan Jerman bergabung dalam Tentara Merah dan sampai sekitar dua belas ribu bertahan dan bersembunyi bawah tanah.
Stalin mengabaikan partisipasi Tatar Krimea pada Great Patriotic War melawan Nazi Jerman dan memerintahkan deportasi mereka ke Asia Tengah.
Dengan terjadinya disintegrasi Uni Soviet pada tahun 1991, Krimea menjadi bagian integral dari negara Ukraina merdeka yang baru. Krimea adalah wilayah yang bukan tipikal Ukraina karena beberapa alasan. Secara etnis, Krimea adalah satu-satunya daerah di Ukraina dengan mayoritas besar adalah orang-orang Rusia.
Secara kultural Krimea adalah berkultur Rusia; bahkan administrasinya masih menggunakan bahasa Rusia pada dokumennya, meskipun fakta bahwa satu-satunya bahasa resmi di Ukraina adalah bahasa Ukraina. Secara historis, setidaknya dari sudut pandang Rusia, Krimea adalah bagian dari Rusia sampai saat Khrushchev, etnis Rusia dan mantan pemimpin Ukraina, memindahkannya ke Republik Sosialis Soviet Ukraina pada tahun 1954. Krimea adalah pangkalan untuk BSF dan Sevastopol masih dianggap sebagai “kota kejayaan Rusia.”
Krimea yang dianggap sebagai “daerah panas” merupakan ancaman yang cukup berarti bagi kesatuan negara Ukraina. Pada tahun 1991, walaupun oblast Krimea adalah bagian dari SSR Ukraina, pemerintah daerahnya menjalankan referendum untuk mendirikan Otonomi Krimea Republik Sosialis Soviet (ASSR) dalam Uni Soviet, dengan dukungan lebih dari 80 persen populasinya. Legitimasi hukum untuk referendum itu dipertanyakan, karena “tidak ada hukum referendum pada waktu itu baik di Uni Soviet maupun di Ukraina.” Namun hal itu mencerminkan fakta demografis yang tak terbantahkan.
Pengaruh Tatar Krimea terhadap hasil referendum itu disamakan dengan nol. Pada saat itu Tatar merupakan segmen kecil dari populasi Krimea. Pada musim semi tahun 1987 hanya ada 17.400 Tatar Krimea sebagai bagian dari lebih dua juta penduduk Krimea saat itu.
Mereka diberikan hak kembali ke tanah air sebelum Uni Soviet runtuh, dan pada bulan Juni 1991 populasi Tatar Krimea telah meningkat menjadi 135.000. Selain itu, sebagian besar Tatar memboikot referendum karena mereka lebih memilih untuk tetap sebagai bagian dari Ukraina.
Pada bulan April 1992, parlemen Ukraina mengadopsi hukum tentang Status Republik Otonomi Krimea yang memberikan kekuasaan yang lebih luas dibandingkan dengan badan-badan teritorial lainnya di Ukraina. Sebagai tanggapanyan, pada bulan Mei 1992 parlemen Krimea mengadopsi “Konstitusi ditambah Deklarasi Kemerdekaan,” bagaimanapun, klaim bahwa republik Krimea diproklamasikan adalah bagian dari republik Ukraina dan bahwa hubungan antara kedua republik ‘independen’ itu harus tetap didasarkan pada perjanjian.
Pengalaman Krimea berada dalam Ukraina merdeka dapat dibagi menjadi dua periode, dengan Revolusi Oranye tahun 2004 sebagai batasnya. Periode pertama terdiri dari dua sub – periode: periode 1992-1995 ditandai dengan upaya pemisahan diri yang diprakarsai oleh kekuatan politik pro-Rusia; dan periode kedua dari 1995-2004 ditandai dengan kondisi relatif stabil dari sikap separatis.
Periode kedua sejak tahun 2004 pada gilirannya telah ditandai dengan munculnya konflik antara Krimea dengan pemerintah pusat. Pembagian ini adalah bersyarat karena hubungan Ukraina – Krimea telah tak normal sejak Ukraina merdeka. Hubungan Russo – Ukraina, dalam sengketa Krimea, berkisar pada hak-hak etnis Rusia di Krimea, pembagian Armada Laut Hitam dan hak pangkalannya.
Akhirnya, terkait dengan Tatar Krimea yang kembali dari pengasingan membawa ketegangan tambahan di wilayah tersebut. Masalah tanah, pemulihan hak-hak Tatar Krimea, dan hubungan antar-etnis menjadikan lebih rumit situasi di Republik Otonomi Krimea, dan meradikalkan baik etnis Rusia maupun Tatar Krimea.
Hubungan dan Peran Muslim Tatar Krimea terhadap Khilafah Utsmaniyah
Hubungan dan peranan Muslim Tatar Krimea terhadap Khilafah Utsmaniyah pada masa Khanate Krimea cukup erat dan penting bagi keduanya. Berikut ini adalah terjemahan bebas sebagaian dari sebuah laporan yang ditulis oleh Brian Glyn Williams yang berjudul The Sultan’s Raiders, The Military Role of the Crimean Tatars in the Ottoman Empire, dan diterbitkan oleh The Jamestown Foundation, Washington, D.C. pada Mei 2013.[10]
Dari abad 14 sampai 17, bangsa-bangsa Kristen Eropa dan syiah Persia dipaksa untuk mempertahankan tanah mereka melawan serangan Khilafah Utsmaniyah yang selalu berekspansi, sebuah kekaisaran yang mempunyai mesin perang mengagumkan pada saat itu yang tampaknya cukup kuat untuk menyerap tetangga-tetangga dekatnya.
Selama rangkaian kampanye tersebut, banyak dari bangsa Eropa diperkenalkan dengan kiblat dunia ketika ghazis Utsmaniyah (mujahid) dari Asia menduduki sepanjang Balkan dan Eropa Tengah.
Dalam rombongan besar sultan tersebut, ditemui berbagai macam bangsa yang menyusun kekaisaran Turki Raya dengan bermacam-macam etnis. Turki, Arab, Circassian, Kurdi, Maghrib, Bosnia, Poma, Albania dan beberapa bangsa lain yang keberadaannya di Eropa Barat tidak diketahui, dapat ditemukan berjuang bersama dibawah bendera Sultan.
Salah satu yang paling menarik, dan secara militer kelompok yang efektif digunakan oleh Khilafah Utsmaniyah dalam perangnya yang tampaknya tidak pernah berakhir, adalah Tatar dari semenanjung Krimea.
Dalam tiga ratus tahun layanannya, Tatar Krimea memberikan kontribusi terhadap militer Utsmaniyah lebih banyak daripada pembantu-pembantu lain Sultan yang bukan bangsa Turki, dan catatan layanan terhadap Sultan ini, merupakan babak yang paling luar biasa dalam sejarah Eropa.
Salah satu kesuksesan terbesar umat Islam terhadap orang-orang Kristen, penaklukan Khilafah Utsmaniyah terhadap Konstantinopel pada tahun 1453 oleh Muhammad Al Fatih, terjadi 10 tahun setelah pembentukan Khanate Krimea dan tidak diragukan lagi menyebabkan perhatian Tatar Krimea yang mulai melihat pada Khilafah Utsmaniyah untuk membantu perjuangan mereka terhadap Khan Golden Horde. Dengan kejatuhan Konstantinopel, memberikan kekuasaan Muslim Turki dalam mengontrol Dardenelles dan Bosphorous.
Salah satu aksi Sultan untuk mendapatkan kendali terhadap pintu masuk Laut Hitam adalah dengan bergerak menduduki pusat-pusat perdagangan Genoese di pesisir selatan Krimea.
Pada musim panas tahun 1454, sebuah armada Utsmaniyah terdiri atas 56 kapal memasuki Laut Hitam untuk memulai proses penguatan pemerintahan Muhammad II di area yang akhirnya dikenal sebagai “Danau Ustmaniyah” itu.
Khilafah Utsmaniyah tidak melibatkan diri ke dalam Krimea lagi sampai tahun 1466. Dalam tahun itu, Haci Giray pendiri Khanate Krimea meninggal dalam kondisi misterius, mungkin diracun oleh pemimpin klan Tatar yang iri dengan perkembangan kekuasaannya. Setelah kematiannya, dua anak lelakinya, Nurdevlet dan Mengli, memulai perebutan singgasana. Selama masa perang sipil ini klan-klan Krimea berkembang untuk memainkan peranan yang bertambah penting.
Pada tahun 1475, kepala klan Shirin yang sangat kuat, Eminek, mengundang Sultan Utsmaniyah Muhammad II untuk mengintervensi perang sipil tersebut. Muhammad II secara mudah diyakinkan tentang keuntungan keterlibatannya dalam interferensi di Krimea.
Dia melihat hal itu sebagai sebuah peluang untuk mendapatkan pengaruh diantara bangsa Tatar, dan juga sebuah kesempatan untuk memberikan serangan pada bangsa Kaffa yang juga terlibat dalam perselisihan tersebut.
Pada tanggal 19 Mei 1475, armada Utsmaniyah berangkat ke Krimea untuk terlibat dalam perebutan singgasana tersebut dan menaklukkan kota-kota perdagangan Italia di semenanjung itu. Dua minggu kemudian komandan Utsmaniyah, Muhammad Pasha, sekali lagi memasang meriam Turki yang terkenal itu mengarah ke dinding Kaffa dan memulai pengepungan kedua terhadap kota itu. Bangsa Kaffa bertahan dari pemboman intensif Utsmaniyah selama hanya 4 hari sebelum penyerahan tanpa syarat terhadap pasukan Sultan.
Bangsa Kaffa mengalami penderitaan berat selama pertahanannya terhadap Ustmaniyah, dan sebagian besar penduduk Italia ditawan dan dibawa ke Istambul. Utsmaniyah yang tidak puas hanya dengan penaklukkan Kaffa, malanjutkan invasi ke pesisir selatan Krimea dan akhirnya menduduki kota-kota Genoese Inkerman, Sevastopol, Kerch, Balaklava, Sudak, dan benteng stategis Azov di Don Basin.
Setelah berakhirnya penaklukan tersebut, pesisir selatan Krimea berada dibawah langsung pemerintah Utsmaniyah dan bangsa Tatar Krimea menemukan diri mereka berbagi semenanjung itu dengan tetangga baru dan sangat kuat, Khilafah Utsmaniyah.
Utsmaniyah juga berhasil dalam upayanya untuk memengaruhi hasil perang antara pasukan Mengli Giray dan Nurdevlet, dan pada tahun 1478 mereka telah menempatkan calon mereka, Mengli Giray, pada singgasana Krimea.
Sebagai balasan terhadap bantuan tersebut, Mengli menjanjikan pada Muhammad untuk “menjadi musuh bagi musuhmu dan teman bagi temanmu”. Sultan diberi barmacam-macam hak di Krimea sebagai balasan atas bantuannya, yang paling penting adalah hak untuk menetapkan pemilihan klan-klan Tatar sebagai Khan.
Keterlibatan Khilafah Utsmaniyah di Krimea bukan sebagai ancaman bagi Tatar Krimea tetapi sebagai sekutu untuk menyelesaikan sengketa internal dan untuk membantu Khanate dalam perjuangan melawan Golden Horde.
Aliansi Utsmani-Tatar dalam banyak hal mirip dengan aliansi Polandia-Lithuania yang mulai mengkoordinasikan kegiatannya di stepa tersebut di sekitar waktu itu. Gambaran dari Henry Howorth yang menyatakan bahwa para Khanate dipandang seperti “Mesir dan Tunisia di masa-masa berikutnya, sebagai provinsi tergantung dalam aturan pada Khilafah Utsmaniyah, meskipun menikmati sejumlah besar kemerdekaan” mungkin merupakan ringkasan yang paling akurat dari posisi Khanate Krimea terhadap Khilafah Utsmaniyah.
Ketika Sultan Ustmaniyah membutuhkan bantuan bangsa Krimea dalam sebuah kampanye, undangan dan hadiah dikirim ke Khan dan beberapa pejabat di kerajaannya.
Sementara itu, Khan menerima pedang berhiaskan berlian, jubah kehormatan dan pembayaran yang dikenal sebagai “quiver price“. Khan juga diberi kehormatan memiliki gaun parade penuh setibanya di kamp Utsmaniyah sebelum sebuah kampanye dan dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi daripada Grand Vezir.
Akhirnya, Khilafah Utsmaniyah meningkatkan pengaruh mereka di Khanate Krimea, tetapi harus diingat bahwa Tatar Krimea tidak pernah menjadi subyek seperti bangsa Serbia atau Yunani, melainkan sebagai sekutu bawahan.
Meskipun sejarawan mungkin tidak setuju tentang sifat yang tepat dari hubungan Utsmaniyah-Tatar, tidak ada kontroversi mengenai pentingnya prestasi Muhammad II di Krimea untuk keamanan kedua Kekaisaran Utsmaniyah dan Khanate Krimea.
Usahanya di Krimea, meskipun telah menerima relatif sedikit perhatian dari sejarawan (kecuali di Rusia) tidak diragukan lagi merupakan salah satu hal yang paling penting dan berpandangan jauh dari semua usaha Sang Penakluk (Muhammad Al Fatih), dan hal itu terbukti memberikan keuntungan bersama baik bagi Utsmaniyah maupun Krimea.
Dalam biografinya tentang Muhammad Al Fatih, Franz Babinger bahkan menempatkan lebih penting pada keberhasilan Sang Penakluk di wilayah Laut Hitam dan menempatkannya dalam konteks yang lebih luas. Babinger menyatakan:
“Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa penemuan rute perdagangan Atlantik baru, dengan konsekuensi penting untuk kehidupan ekonomi Barat, diakibatkan sebagai bagian dari ekspansi Utsmaniyah di wilayah Laut Hitam. Pelayaran ke Dunia Baru telah dilakukan dengan harapan menciptakan rute pengganti yang baru ke India dan Asia Tengah.”
Catatan Kaki
[1] Public Opinion Survey Residents of the Autonomous Republic of Crimea May 16 – 30, 2013, dimuat pada laman http://www.iri.org/sites/default/files/2013%20October%207%20Survey%20of%20Crimean%20Public%20Opinion,%20May%2016-30,%202013.pdf, diakses pada 26 April 2014.
[2] http://www.crimeaconsulting.com/crimea.html, diakses pada 26 April 2014.
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Crimea, diakses pada 26 April 2014.
[4] http://www.antaranews.com/berita/422113/lima-fakta-kunci-tentang-krimea.
[5] The Crimean Tatars: Overview and Issues, Oktober 2009, dimuat pada laman http://www.unpo.org/images/2009_Presidency/crimean%20tatars,%20overview%20and%20issues,%20october%202009.pdf.
[6] Brian Glyn Williams, The Sultan’s Raiders, The Military Role of the Crimean Tatars in the Ottoman Empire, The Jamestown Foundation, Washington, D.C., 2013.
[7] Igor Davydov, The Crimean Tatars and Their Influence on the ‘Triangle of Conflict’ — Russia-Crimea-Ukraine, Thesis Naval Postgraduate School, Monterey California, Maret 2008
[8] Idem
[9] Idem
Redaktur: Pizaro




No comments:
Post a Comment