Mengenal Sepak Terjang Shalahuddin
Mari mereguk asupan gizi dari kisah orang-orang zuhud nan pemberani.
1. Yusuf Shalahuddin (1138-1193) aslinya dari Kurdi, dilahirkan di Benteng Tikrit, Irak. Bersama keluarganya mencari suaka pada Imaduddin Zanki (1085-1146) dari Dinasti Zankiyah di Mosul. Setelah wafatnya Imaduddin Zanki, anaknya Nuruddin Zanki meneruskan kepahlawanan sang ayah dan memindahkan ibu kota ke Damaskus. Keluarga Ayyub lantas melanjutkan pengabdian pada Nuruddin Zanki.
2. Saat Mesir diliputi kekisruhan politik akibat persaingan antar wazir Fathimiyah, Nuruddin Zanki menugaskan Asaduddin Syirkuh Pamannya Shalahuddin dan Shalahuddin muda ke Mesir. Intervensi politik Damaskus ke Cairo terjadi atas permohonan Mesir yang terancam invasi Kerajaan Salib Yerusalem yang ingin menganeksasi Mesir. Shalahuddin bersama pamannya Syirkuh bahkan sampai tiga kali ekspedisi ke Mesir (1164, 1167, dan 1168).
3. Pada ekspedisi ketiga inilah merupakan titik tolak kebangkitan Shalahuddin yang merubah drastis jalan hidupnya. Setelah Syawar, wazir Fathimiyah terakhir, dihukum mati oleh al-Adhid, khalifah Fathimiyah, Al-Adhid lalu menunjuk Syirkuh menjadi wazir. Namun Paman Shalahuddin itu hanya dua bulan menjabat karena keburu wafat pada Maret 1169. Al-Adhid lantas mengangkat Shalahuddin menjadi wazir Fathimiyah menggantikan Syirkuh.
4. Shalahuddin membalikkan prediksi bahwa ia bukan anak muda sembarangan yang bisa disetir atau pribadi lemah. Ia begitu dermawan dan murah hati membagikan harta yang dikumpulkan Syirkuh pada pengikutnya, membuatnya kian dihormati. Ia berhasil memadamkan pemberontakan 50 puluh ribu pasukan Sudan pimpinan Mu’tamin al-Khilafah yang merupakan unsur dominan tentara Fathmiyah yang bersekutu dengan Amalric aja Yerusalem, lalu ia dapat meyakinkan para perwira senior angkatan pamannya bahwa ialah orang yang tepat menggantikan Syirkuh.
5. Selesai dari pemberontakan tentara Sudan (Agutus 1169), ia mereformasi aparatur negara. Ia mengangkat Bahauddin Qaraqursy sebagai kepala istana dan penasehat militernya. Qaraqursy juga yang memimpin pembangunan Benteng Shalahuddin (1176-1183) di atas Bukit Muqattam yang dijadikan istana negara Mesir hingga tahun 1860-an. Sampai detik ini, Benteng Shalahuddin (dikenal juga Cairo Citadel) merupakan salah satu tempat paling populer yang dikunjungi wisatawan.
6. Baru saja tiga bulan pemberontakan Sudan dipadamkan, ancaman dahsyat datang dari luar. Kali ini Raja Amalric Salibis Yerusalem dan Kaisar Manuel I Byzantium menjalin aliansi menyerang Mesir dengan mengepung Damietta (Dimyath), utara Mesir, dari laut dan darat pada Desember 1169. Sebanyak 230 kapal perang Byzantium dikerahkan, adapun pasukan Salib Yerusalem datang lewat darat melalui rute Asqalan-Farma-Damietta. Shalahuddin galau, menguasai Damietta berarti menguasai separo Mesir. Shalahuddin berkonsultasi pada tuannya Nuruddin di Damaskus. Nuruddin merespon dengan mengirim beberapa resimen tentara ke Mesir. Selain itu, Nuruddin menyerang wilayah kaum Frank Salib di Syam, demi alihkan perhatian tentara Salib dari Mesir.
7. Ini membuktikan jika penguasa Syam dan Mesir kuat, maka sangat sulit musuh untuk menguasai wilayah itu. Mesir dan Syam jika bersatu ibarat rantai borgol yang saling menopang. Kokoh dan tangguh. Sejak dulu kala, saat kaum muslimin meraih kemenangan fenomenal dalam Perang Dzatish-Shawari 655 M di Laut Mediterania. Armada Muslim yang masih mentah terpaksa melawan Penguasa Laut Mediterania selama berabad-abad: Armada Byzantium. Perang laut di masa Khalifah Utsman itu mengejawantahkan solidnya Mesir dan Syam. Muawiyah bin Sufyan selaku gubernur Syam dan Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir yang juga laksamana muslimin dalam perang itu berhasil menyatukan potensi Syam-Mesir. Pabrik galangan kapal di Alexandria Mesir dan ‘Akka (Scre) Syam bahu-membahu membangun kapal kualitas terbaik. Sejak kemenangan Dzatish-Shawari, status penguasa Laut Mediterania milik Romawi Byzantium dicabut dan dialihkan pada armada Muslimin.
8. Kembali ke Shalahuddin, pengepungan hebat 50 hari Damietta gagal. Salibis Frank Yerusalem tidak fokus mengepung Damietta, karena wilayahnya di Syam sedang diserang Nuruddin. Sebaliknya pasukan Byzantium menuduh Yerusalem tidak berperang sepenuh hati. Perpecahan menjangkiti aliansi Byzantium-Yerusalem. Sementara itu, warga Dimyath memanfaatkan aliran Nil yang berhembus dari selatan dengan membuat benda-benda membakar dari sumbu yang telah diberi minyak, lalu mengirimnya ke utara. Usaha ini efektif, sebagian kapal Byzantium yang kurang waspada terbakar, hingga memaksa kapal lainnya buru-buru mundur. Agresi Byzantium-Yerusalem berhasil digagalkan. Armada Byzantium seperti juga Yerusalem berbondong-bondong pulang ke negeri asalnya. Hanya saja, armada Byzantium tak sepenuhnya selamat, di tengah perjalanan mereka diserang badai topan dahsyat hingga tenggelamkan kapal-kapal mereka, hanya sedikit saja yang selamat. Sejak itu reputasi Shalahuddin kian berkibar.
Ukhti salihat
1. Yusuf Shalahuddin (1138-1193) aslinya dari Kurdi, dilahirkan di Benteng Tikrit, Irak. Bersama keluarganya mencari suaka pada Imaduddin Zanki (1085-1146) dari Dinasti Zankiyah di Mosul. Setelah wafatnya Imaduddin Zanki, anaknya Nuruddin Zanki meneruskan kepahlawanan sang ayah dan memindahkan ibu kota ke Damaskus. Keluarga Ayyub lantas melanjutkan pengabdian pada Nuruddin Zanki.
2. Saat Mesir diliputi kekisruhan politik akibat persaingan antar wazir Fathimiyah, Nuruddin Zanki menugaskan Asaduddin Syirkuh Pamannya Shalahuddin dan Shalahuddin muda ke Mesir. Intervensi politik Damaskus ke Cairo terjadi atas permohonan Mesir yang terancam invasi Kerajaan Salib Yerusalem yang ingin menganeksasi Mesir. Shalahuddin bersama pamannya Syirkuh bahkan sampai tiga kali ekspedisi ke Mesir (1164, 1167, dan 1168).
3. Pada ekspedisi ketiga inilah merupakan titik tolak kebangkitan Shalahuddin yang merubah drastis jalan hidupnya. Setelah Syawar, wazir Fathimiyah terakhir, dihukum mati oleh al-Adhid, khalifah Fathimiyah, Al-Adhid lalu menunjuk Syirkuh menjadi wazir. Namun Paman Shalahuddin itu hanya dua bulan menjabat karena keburu wafat pada Maret 1169. Al-Adhid lantas mengangkat Shalahuddin menjadi wazir Fathimiyah menggantikan Syirkuh.
4. Shalahuddin membalikkan prediksi bahwa ia bukan anak muda sembarangan yang bisa disetir atau pribadi lemah. Ia begitu dermawan dan murah hati membagikan harta yang dikumpulkan Syirkuh pada pengikutnya, membuatnya kian dihormati. Ia berhasil memadamkan pemberontakan 50 puluh ribu pasukan Sudan pimpinan Mu’tamin al-Khilafah yang merupakan unsur dominan tentara Fathmiyah yang bersekutu dengan Amalric aja Yerusalem, lalu ia dapat meyakinkan para perwira senior angkatan pamannya bahwa ialah orang yang tepat menggantikan Syirkuh.
5. Selesai dari pemberontakan tentara Sudan (Agutus 1169), ia mereformasi aparatur negara. Ia mengangkat Bahauddin Qaraqursy sebagai kepala istana dan penasehat militernya. Qaraqursy juga yang memimpin pembangunan Benteng Shalahuddin (1176-1183) di atas Bukit Muqattam yang dijadikan istana negara Mesir hingga tahun 1860-an. Sampai detik ini, Benteng Shalahuddin (dikenal juga Cairo Citadel) merupakan salah satu tempat paling populer yang dikunjungi wisatawan.
6. Baru saja tiga bulan pemberontakan Sudan dipadamkan, ancaman dahsyat datang dari luar. Kali ini Raja Amalric Salibis Yerusalem dan Kaisar Manuel I Byzantium menjalin aliansi menyerang Mesir dengan mengepung Damietta (Dimyath), utara Mesir, dari laut dan darat pada Desember 1169. Sebanyak 230 kapal perang Byzantium dikerahkan, adapun pasukan Salib Yerusalem datang lewat darat melalui rute Asqalan-Farma-Damietta. Shalahuddin galau, menguasai Damietta berarti menguasai separo Mesir. Shalahuddin berkonsultasi pada tuannya Nuruddin di Damaskus. Nuruddin merespon dengan mengirim beberapa resimen tentara ke Mesir. Selain itu, Nuruddin menyerang wilayah kaum Frank Salib di Syam, demi alihkan perhatian tentara Salib dari Mesir.
7. Ini membuktikan jika penguasa Syam dan Mesir kuat, maka sangat sulit musuh untuk menguasai wilayah itu. Mesir dan Syam jika bersatu ibarat rantai borgol yang saling menopang. Kokoh dan tangguh. Sejak dulu kala, saat kaum muslimin meraih kemenangan fenomenal dalam Perang Dzatish-Shawari 655 M di Laut Mediterania. Armada Muslim yang masih mentah terpaksa melawan Penguasa Laut Mediterania selama berabad-abad: Armada Byzantium. Perang laut di masa Khalifah Utsman itu mengejawantahkan solidnya Mesir dan Syam. Muawiyah bin Sufyan selaku gubernur Syam dan Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir yang juga laksamana muslimin dalam perang itu berhasil menyatukan potensi Syam-Mesir. Pabrik galangan kapal di Alexandria Mesir dan ‘Akka (Scre) Syam bahu-membahu membangun kapal kualitas terbaik. Sejak kemenangan Dzatish-Shawari, status penguasa Laut Mediterania milik Romawi Byzantium dicabut dan dialihkan pada armada Muslimin.
8. Kembali ke Shalahuddin, pengepungan hebat 50 hari Damietta gagal. Salibis Frank Yerusalem tidak fokus mengepung Damietta, karena wilayahnya di Syam sedang diserang Nuruddin. Sebaliknya pasukan Byzantium menuduh Yerusalem tidak berperang sepenuh hati. Perpecahan menjangkiti aliansi Byzantium-Yerusalem. Sementara itu, warga Dimyath memanfaatkan aliran Nil yang berhembus dari selatan dengan membuat benda-benda membakar dari sumbu yang telah diberi minyak, lalu mengirimnya ke utara. Usaha ini efektif, sebagian kapal Byzantium yang kurang waspada terbakar, hingga memaksa kapal lainnya buru-buru mundur. Agresi Byzantium-Yerusalem berhasil digagalkan. Armada Byzantium seperti juga Yerusalem berbondong-bondong pulang ke negeri asalnya. Hanya saja, armada Byzantium tak sepenuhnya selamat, di tengah perjalanan mereka diserang badai topan dahsyat hingga tenggelamkan kapal-kapal mereka, hanya sedikit saja yang selamat. Sejak itu reputasi Shalahuddin kian berkibar.
Ukhti salihat




No comments:
Post a Comment