Sifat dan Tanda-tanda Dajjal di Akhir Zaman
DAJJAL mengaku sebagai Tuhan. Ia membungkus kebatilan yang dibawanya dengan hal-hal luar biasa, sampai-sampai ada orang yang mendatanginya dengan keyakinan bahwa kebatilan Dajjal tak akan menimpa dirinya. Namun, begitu melihat hal-hal luar biasa dalam diri Dajjal itu, ia segera jadi pengikut Dajjal.
Dalam Sunan Abi Dawud diriwayatkan dengan sanad shahih dari Imran ibn Hushain bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa mendengar Dajjal, hendaklah ia menjauhinya. Demi Allah, ada orang lelaki datang kepadanya dengan penuh percaya diri sebagai mukmin, namun ternyata lelaki itu mengikutinya juga, karena tipu daya yang dilakukannya,” (Jami’ al-Ushul).
Orang yang mengamati perkara Dajjal akan yakin bahwa Dajjal adalah penyebar kebatilan. Sifat-sifat ketuhanan tidak ada padanya. Dajjal adalah seorang manusia yang miskin, lemah, makan, minum, tidur, buang air kecil dan besar. Orang seperti ini mustahil menjadi Tuhan yang layak disembah oleh semua makhluk. Bagaimana mungkin, padahal ia sendiri butuh kepada makhluk.
Rasulullah SAW banyak menginformasikan sifat dan keadaannya agar orang-orang mukmin yang hidup di masanya mengenali dengan baik, mampu menghadapinya dan tidak tertipu oleh kebatilannya.
Sifat-sifat Dajjal Secara Umum
Rasulullah SAW melukiskan sifat-sifat Dajjal dan ciri-ciri jasmaninya. Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar bahwa Rasulullah SAW melihat Dajjal dalam mimpi. Beliau melukiskannya, “Laki-laki berbadan besar, berkulit kemerahan, rambutnya keriting, buta sebelah, matanya seperti sebutir anggur yang menonjol. Manusia yang paling mirip dengannya adalah Ibn Quthn ibn Khuza’ah.”
Dalam Musnad Ahmad dan Sunan Abi Dawud diriwayatkan dengan sanad shahih dari Ubadah ibn Shamit bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku menceritakan kepada kalian mengenai Dajjal, dan aku khawatir kalian tidak memikirkannya. Almasih Dajjal adalah seorang lelaki yang pendek, pincang, berambut keriting, buta sebelah, pandangannya kabur, penglihatannya jauh tetapi matanya tidak tinggi. Jika kalian dibuatnya ragu, ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidak buta sebelah, dan kalian tidak dapat melihat Tuhan kalian.”
Dalam Shahih Ibn Hibban dan Musnad Ahmad diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dajjal itu buta sebelah, putih bersinar (dalam riwayat lain: putih seperti keledai putih), kepalanya seperti ular besar. Orang yang paling mirip dengannya adalah Abdul Uzza ibn Quthn. Jika banyak orang-orang jahil dan sesat karenanya, ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidak buta sebelah.”
DAJJAL Buta Sebelah
Rasulullah SAW memfokuskan sifat mata Dajjal, karena walaupun Dajjal bisa berkelit dari sifat-sifat lainnya, ia tak dapat menutupi matanya yang buta sebelah. Selain itu, mata jelas dapat dilihat setiap orang. Mata juga dapat menyingkap sifat-sifat manusia. Hadis-hadis terdahulu mnegisyaratkan cacat yang ada pada matanya. Yang paling jelas matanya buta sebelah. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa mata yang buta sebelah adalah seelah kanan. Sedang menurut hadis lain, yang buta adalah sebelah kiri. Yang leih kuat adalah buta sebelah kanan, sebab hadis-hadisnya dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW mengumpamakan mata Dajjal seperti sebutir anggur yang menonjol. Dalam hadis lain, mata kanannya dilukiskan buta sebelah, besar kelopak matanya sangat jelas, seperti lender dahak pada dinding berkapur.
Dalam shahih al-Bukhari diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar bahwa Nabi SAW bersabda mengenai Dajjal, “Matanya buta sebelah kanan, seperti buah anggur yang menonjol.”
Dalam hadis Abu Sa’id riwayat Imam Ahmad, “Mata kanannya buta dan besar, kelopak matanya sangat jelas, seperti lender dahak pada dinding berkapur, dan mata kirinya seperti bintang kejora.”
Mata Dajjal juga terhapus seperti telah dijelaskan sebelumnya. Dalam shahih Muslim disebutkan, “Dajjal itu matanya terhapus.”
Imam Nawawi mempertemukan riwayat-riwayat di atas dan menjelaskannya. Ia berpendapat bahwa semua riwayat yang melukiskan kedua matanya itu buta (picek) adalah benar. Buta berarti cacat. Kedua mata Dajjal memiliki cacat. Menurut sebagian hadis, yang buta adalah sebelah kanan. Hadis lainnya menyatakan bahwa yang buta adalah sebelah kiri. Menurut sebagian hadis salah satu matanya tak ada cahayanya. Menurut hadis lain, salah satu matanya menonjol. Jadi, menurut Nawawi, salah satu matanya tak dapat melihat karena tidak ada cahayanya, dan mata ini terhapus, tidak menonjol. Mata yang satunya lagi ada cahayanya, tetapi memiliki cacat lain, yakni menonjol.
Dalam salah satu riwayat versi Muslim disebutkan bahwa mata yang tak ada cahayanya dan terhapus itu tertutup kulit yang tebal. Sabda Rasul SAW, “Sesungguhnya Dajjal itu matanya terhapus, dan ada kulit tebal di atasnya.”
Rasulullah SAW melukiskan mata Dajjal yang melihat, “Dajjal itu matanya hijau seperti kaca botol.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Nu’aim dengan sanad shahih.
DI antara Kedua Matanya Tertulis “Kafir”
Allah memberitahukan ciri lain pada Dajjal yang hanya diketahui oleh mukmin yang bersih mata hatinya. Tanda ini adalah tulisan yang tertera di antara kedua matanya: k-f-r atau kafir.
Dalam shahih al-Bukhari dari Anas diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah diutus seorang nabi kecuali ia memperingatkan umatnya akan bahaya si buta sebelah dan pendusta. Dajjal itu sungguh buta sebelah, sedangkan Tuhanmu tidak buta sebelah. Di antara kedua matanya tertulis ‘kafir’.”
Dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Dajjal itu “tertulis di antara kedua matanya ‘k-f-r’.”
Dalam shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Ibn Majah, dan Mustadrak al-Hakim diriwayatkan dengan sanad shahih dari Abu Umah, “Sungguh termaktub di antara kedua matanya ‘kafir’, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin yang bisa menulis maupun tidak.”
Dalam shahih Muslim, “Sungguh tertulis di antara kedua matanya ‘kafir’ yang dapat dibaca oleh orang yang membenci sikapnya atau dapat dibaca oleh setiap mukmin.”
“Yang benar,” kata Nawawi, menurut para ulama, pengertian tulisan di sini adalah secara lahiriah, itu adalah tulisan hakiki. Allah menjadikannya sebaga salah satu tanda yang menujukkan kekufuran, kedustaan,dan kebatilah Dajjal. Allah menampakkannya kepada setiap muslim yang bisa menulis maupun tidak, dan Ia menyembunyikannya dari orang yang dikehendaki-Nya celaka atau terkena fitnah.
Al-Qadhi ‘Iyadh menyebutkan pendapat lain. Di samping ada ulama yang berpendapat bahwa tulisan di sini adalah dalam pengertian hakiki sebagaimana yang kami sebutkan di atas, ada juga ulama lain yang berpendapat bahwa tulisan di sini bermakna majazi dan merupakan isyarat bahwa Dajjal itu baharu, tidak kadim. Alasannya adalah kata-kata ‘yang dapat dibaca oleh setiap mukmin yang bisa menulis maupun tidak.’ Namun, pendapat ini lemah.
Dajjal Tidak Berketurunan
Rasulullah SAW memberitakan, “(Ia) mandul, tidak dapat punya anak,” (HR. Muslim). [Sumber: Ensiklopedia Kiamat/ Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi]




No comments:
Post a Comment