Melacak Hilangnya Naskah-Naskah Kuno Nusantara

Ada 2 pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya:
1. Mengapa sepertinya sejarahwan Belanda dan Inggris lebih menguasai sejarah Nusantara daripada orang-orang asli Nusantara sendiri?
2. Mengapa sepertinya sejarah kuno Nusantara ini miskin sumber tertulis?

Beberapa waktu lamanya saya berusaha mencari jawaban dari 2 pertanyaan tersebut. Hingga suatu saat seorang sesepuh lokal pernah berujar bahwa dulu rontal-rontal Jawa itu tidak terhitung banyaknya. Jika dijajar-jajar panjangnya bisa berkilo-kilo meter. Ah masak sih!? Saya nyaris tidak percaya dengan omongan ini.

Tapi mungkin omongan sesepuh tadi ada benarnya. Karena praktik sapu bersih sejarah Nusantara ternyata tidak terjadi pada era Jawa Baru (Kesultanan), tetapi pada era kolonial. Hal ini didukung fakta pada tahun 1931 pemerintah Prancis menyelenggarakan Pameran Kolonial untuk memamerkan benda-benda purbakala negara jajahan. Pemerintah Hindia Belanda ikut serta dan menampilkan berbagai situs-situs purbakala dari Nusantara. Sayangnya terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan nyaris seluruh koleksi yang ada. Hanya sejumlah arca batu saja yang bisa diselamatkan dalam kondisi gosong-gosong. Sedangkan rontal-rontal, lukisan dan artefak logam ludes terbakar habis.

Kita perlu juga melacak sepak terjang penulis buku sejarah Jawa “History of Java” yaitu Thomas Stamford Raffles. Dia pernah bersumbar “Saya yakin tak ada seorangpun yang memiliki informasi mengenai Jawa melebihi yang saya miliki.” Wow … dari kepercayaan dirinya dan kualitas kelengkapan serta keakuratan Buku “History of Java” jelas mengindikasikan bahwa Raffles telah menyedot berbagai naskah-naskah Jawa kuno sebagai bahan penelitiannya melebihi siapapun.

Dugaan ini menjadi masuk akal ketika kita melacak koleksi naskah-naskah Jawa Kuno di Perpustakaan Bodleian (Universitas Oxford), Perpustakaan Inggris, Museum Inggris dan berbagai perpustakaan lainnya di Inggris. Saya tercengang mengetahui ribuan naskah Jawa dan Melayu Kuno dari abad 18-19 berceceran di tempat-tempat itu. Sekali lagi bukan puluhan atau ratusan, tetapi ribuan. Weleh …weleh!

Beberapa di antaranya adalah: Serat Pararaton, Angling Darma, Kuda Narawangsa, Serat Rama, Baratayuddha, Serat Jaya Lengkara, Babad Pakunegaran, Serat Rama Keling (Hikayat Melayu dalam Bahasa Jawa), Serat Gonda Kusuma, Kidung Lalembut, Babad Nyai Ageng Tarub, Sajarah ing Narendra, Serat Ambiya, Primbon, Babad Mataram, Sajarah Sumenep, Naskah Wayang Giling Wesi, Damar Wulan, Serat Kanda, dan sebagainya.

Ini belum termasuk naskah-naskah yang diboyong atau dimusnahkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda selama ratusan tahun. Pantesan Raffles bisa membuat tulisan sejarah Jawa dengan sangat baik. Pantesan kakek saya bercerita bahwa dulu guru Bahasa Jawa dan ngidungnya adalah orang Belanda. Sementara nasib orang-orang Nusantara pada generasi berikutnya adalah bengong bego tolol, tolah toleh koyok kethek ketulup. Diam dalam sejuta tanya, aku iki sakjane sopo to??

Mengikuti jejak Raffles, Pemerintah Hindia-Belanda pun makin ganas melahap naskah-naskah kuno di Jawa. Bahkan tidak berhenti pada naskah-naskah Jawa Kuno, tetapi naskah-naskah Tionghoa pun disikat. Keganasan ini tergambar jelas dari Buku “Riwayat Semarang” karya Liem Thian Joe (1937) yang menyebutkan bahwa Residen Portman memboyong kronik-kronik di Klenteng Sam Po Kong. Bahkan Slamet Muldjana dalam Buku ”Runtuh-nya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” (1968) juga menuliskan bahwa banyaknya kronik yang diboyong sekitar tiga cikar (pedati).

Kita tentu sangat berharap naskah-naskah kuno yang telah terambil dari bumi Nusantara ini dapat dikembalikan ke asalnya. Mari kita pikirkan bagaimana caranya dan bagaimana kesiapan kita merawat aset-aset sejarah leluhur kita sendiri.

Salam Rahayu

No comments: