Jalur Sutra Pada Era Daulah Islam

Pernahkah membayangkan perdagangan lintas benua seperti itu terjadi puluhan abad silam? Tepatnya 130 SM sampai sekitar abad ke-16 M.
Perdagangan kuno ini melintasi rute yang disebut Jalur Sutra atau silk road. Memperdagangkan rempah-rempah dari jazirah al-Mulk (Maluku), sutra dari Tiongkok, kapas dari Asia Tengah, batu mulia, emas dan gading gajah dari Afrika.
Pengelana Muslim Ibnu Bathutah dalam Grand Journey-nya juga sempat melintasi rute ini. Pengalaman menarik yang dicatat dalam kitabnya “ar-Rihlah” adalah adanya caravanserai.
Caravanserai merupakan tempat persinggahan yang disediakan oleh daulah-daulah Islam di sepanjang rute untuk para musyafir, pedagang, juga para penuntut ilmu. Mudahnya, semacam hotel kalau sekarang.
Hebatnya, tempat itu bisa digunakan secara gratis. Ibn Bathutah mencatat fasilitas yang disediakan berupa kasur jerami, tikar kulit, tempat wudhu, kendi berisi air, dan gelas minum. Yang di abad ke- 14, fasilitas itu serupa dengan hotel bintang empat di zaman modern ini.

Salah satu perlintasan penting Jalur Sutra adalah kota Samarkand yang sekarang menjadi bagian dari negara Uzbekistan.
Tercatat, di kota ini para pedagang Muslim tak hanya berdagang, namun sekaligus mencari ilmu. Jadi kalau pagi mereka ke pasar, sorenya ramai-ramai sekolah di berbagai madrasah yang ada.
Ilmu yang mereka dapat lalu dibawa pulang ke kampung halamannya untuk diajarkan. Hasilnya sungguh luar biasa. Ekonomi bergerak, rakyat cerdas.
Dalam buku “Old World Encounters: Cross-Cultural Contacts and Exchanges in Pre-Modern Times” Jerry Bentley menuliskan, “Jalur ini menjadi sarana penghubung yang membuka interaksi politik dan ekonomi antarperadaban pada zaman kuno.”


Lebih menarik lagi, selama ini banyak yang mengira Jalur Sutra sekadar rute dagang. Padahal, setelah datangnya Islam jalur ini juga menjadi rute dakwah.

Seperti yang diungkap John D Szostak dari Hawaii University AS dalam bukunya “The Spread of Islam Along the Silk Route”.

“Lewat Jalur Sutra, Islam menyebar hingga ke bagian paling timur wilayah Kekaisaran Tang dan menyeberang ke sungai Indus di anak benua India.”

Para pedagang Muslim juga banyak

No comments: