Keajaiban Perjalanan Nabi Hingga Menembus Langit ke Tujuh
Isra Mi’raj diawali dengan perjalanan malam (Isra) dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dari sana, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj, naik menembus tujuh lapis langit hingga ke hadirat Allah SWT.
Namun penting dipahami, tempat-tempat yang dilalui Nabi Muhammad SAW di langit bukanlah Surga (jannah). Dalam bahasa Arab, Alquran secara tegas membedakan antara sama’ (langit) dan jannah (surga). Langit merupakan bagian dari alam semesta yang bersifat sementara dan akan hancur pada Hari Kiamat, sedangkan jannah adalah negeri keabadian, tempat kembali orang-orang beriman.
فَقَضٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ فِيْ يَوْمَيْنِ وَاَوْحٰى فِيْ كُلِّ سَمَاۤءٍ اَمْرَهَا ۗوَزَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَۖ وَحِفْظًا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
Artinya: "Lalu, Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang paling dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang sebagai penjagaan (dari setan). Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS Fussilat [41]:12)
Dalam perjalanan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW naik dari sebuah batu yang kini berada di dalam Kubah Shakhrah, bangunan berkubah emas yang menjadi simbol kota Yerusalem. Perjalanan ini menjadi bukti bahwa hukum ruang dan waktu sebagaimana dipahami manusia tidak berlaku bagi kekuasaan Allah SWT.
Dalam berbagai hadis, Rasulullah SAW menggambarkan betapa luasnya langit. Perbandingan antara satu langit dengan langit di atasnya diibaratkan seperti cincin kecil yang tergeletak di padang pasir yang luas. Bumi dan seluruh alam semesta bahkan berada dalam lingkup langit pertama.
Hingga kini, ilmu pengetahuan modern pun belum mampu menjangkau batas alam semesta, apalagi memahami sepenuhnya hakikat tujuh lapis langit sebagaimana digambarkan dalam wahyu dan hadis.
Disambut Para Malaikat
Rasulullah SAW melakukan perjalanan Mi’raj ditemani Malaikat Jibril. Di setiap gerbang langit, Malaikat Jibril meminta izin masuk. Para penjaga langit selalu menanyakan identitas dan misi Nabi Muhammad SAW. Setelah dipastikan bahwa beliau adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia, pintu-pintu langit pun dibuka dengan penuh suka cita.
Para malaikat menyambut Nabi Muhammad SAW dengan penghormatan dan kebahagiaan, menandakan kedudukan istimewa Rasulullah di sisi Allah SWT.
Bertemu Para Nabi
Di langit pertama, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS, bapak seluruh umat manusia. Keduanya saling bertukar salam dan Nabi Adam menyatakan keimanannya kepada kenabian Muhammad SAW.
Di langit kedua, Rasulullah bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS. Keduanya menyambut Rasulullah dengan penuh penghormatan.
Perjalanan berlanjut ke langit ketiga, tempat Rasulullah SAW bertemu Nabi Yusuf AS yang digambarkan memiliki separuh dari seluruh keindahan. Di langit keempat, Rasulullah bertemu Nabi Idris AS yang disebut Alquran sebagai nabi yang diangkat ke derajat yang tinggi.
Di langit kelima, Rasulullah SAW bertemu Nabi Harun AS. Sementara di langit keenam, beliau bertemu Nabi Musa AS. Pada pertemuan ini, Nabi Musa AS menangis ketika mengetahui bahwa umat Nabi Muhammad SAW kelak akan menjadi umat terbanyak yang masuk surga. Tangisan itu bukan karena iri, melainkan ungkapan cinta dan kepedulian seorang nabi kepada umat akhir zaman.
Perjalanan Mi’raj pun berlanjut hingga menembus langit ketujuh, menandai puncak perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang belum pernah dan tak akan pernah dialami manusia mana pun selain beliau.
Isra Mi’raj bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan pengingat abadi tentang kebesaran Allah, kemuliaan Rasulullah, serta panggilan bagi umat Islam untuk memperkuat iman, ketaatan, dan kesadaran spiritual dalam menjalani kehidupan.
Isra Miraj Rasulullah SAW. - (republika)






No comments:
Post a Comment