Kisah-kisah ini menyimpan pelajaran mendalam tentang kepastian ajal.
Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Foto: Republika/Daan Yahya
Imam Al-Ghazali dalam kitab
Ihya Ulumuddin mengisahkan beragam perjumpaan manusia dengan malaikat pencabut nyawa. Mulai dialog Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi Sulaiman Alaihissalam dengan malaikat pencabut nyawa hingga kisah raja yang sombong dan seorang mukmin dijemput malaikat pencabut nyawa. Kisah-kisah ini menyimpan pelajaran mendalam tentang kepastian ajal dan kengerian jika tidak mempersiapkannya.
Dikisahkan dalam Ihya Ulumuddin, Asy‘ats bin Aslam berkata, "Nabi Ibrahim Alaihissalam bertanya kepada malaikat pencabut nyawa, namanya adalah Izrail. Izrail mempunyai dua mata, yang satu di mukanya dan yang lain di kuduknya.”
"Nabi Ibrahim bertanya: Wahai malaikat pencabut nyawa, apa yang kamu perbuat apabila seseorang berada di Timur dan seorang lagi di Barat, dan terjadi penyakit kolera serta dua barisan perang saling bertemu (di sebuah wilayah), bagaimana engkau melakukannya (mencabut nyawa)?"
Asy‘ats bin Aslam berkata, “Bumi telah dibentangkan bagi malaikat pencabut nyawa, lalu dibiarkan seperti nampan di antara dua tangannya. Kemudian Izrail mengambil apa yang dikehendakinya.”
Asy‘ats bin Aslam melanjutkan, "Dialah yang memberi kabar gembira kepada Nabi Ibrahim bahwa ia adalah kekasih Allah Azza wa Jalla."
Dalam kisah lainnya tentang malaikat pencabut nyawa, Nabi Sulaiman bin Daud Alaihissalam bertanya kepada malaikat pencabut nyawa, “Mengapa aku tidak melihat engkau berlaku adil di antara dua manusia? Engkau mengambil yang ini dan engkau meninggalkan yang itu."
Malaikat pencabut nyawa menjawab, "Aku tidak lebih mengerti dari pada engkau. Itulah lembaran-lembaran berisi daftar nama-nama yang diberikan dari langit kepadaku.”
Dalam kisah tersebut, Malaikat Izrail menerangkan bahwa ia hanya menerima daftar nama-nama yang diberikan dari langit, nama-nama itulah yang harus dicabut nyawanya.
Malaikat dan raja yang sombong
Wahab bin al-Munabbih mengisahkan, ada seorang raja dari raja-raja yang hendak menaiki kendaraan menuju suatu daerah di bumi. Ia meminta pakaian untuk dikenakannya, namun pakaian itu tidak mengagumkannya. Ia meminta pakaian lain hingga beberapa kali, sampai akhirnya ia mengenakan pakaian yang mengagumkannya."
Demikian pula raja meminta binatang kendaraan. Kendaraan didatangkan satu demi satu, namun tidak mengagumkannya hingga akhirnya didatangkan binatang kendaraan yang terbaik, lalu ia menungganginya.
Maka datanglah iblis, lalu meniupkan sekali tiupan ke lubang hidung sang raja. Tiupan iblis memenuhi raja itu dengan kesombongan. Raja itu berjalan, diiringi kuda-kuda, dan ia tidak memandang kepada manusia karena kesombongannya.
Kemudian datang kepadanya seorang laki-laki yang buruk rupanya dan mengucapkan salam. Namun raja itu tidak membalas salamnya. Laki-laki itu lalu memegang tali kendali binatang kendaraan sang raja.
rol
No comments:
Post a Comment