Kendaraan Dajjal di Akhir Zaman
DALAM eskatologi Islam, kemunculan Dajjal merupakan salah satu tanda besar yang paling mencemaskan. Tidak hanya sosoknya yang digambarkan penuh tipu daya, namun segala atribut yang menyertainya dirancang untuk menciptakan fitnah (ujian) yang dahsyat bagi umat manusia.
Salah satu atribut yang sering memicu perdebatan adalah tunggangannya. Melalui tinjauan kitab-kitab hadits dan syarahnys, kita dapat membedah bagaimana rupa, kecepatan, dan makna di balik “kendaraan” sang pendusta besar ini.
Titik tolak pembahasan mengenai kendaraan Dajjal bersumber dari riwayat yang dicatat oleh Imam Al-Baihaqi. Dalam kitab “Mirqāt al-Mafātīh Syarḥu Misykāt al-Mashābīh” (VIII/3483), Mulla Ali al-Qari menukil sebuah hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:
يَخْرُجُ الدَّجَّالُ عَلَى حِمَارٍ أَقْمَرَ، مَا بَيْنَ أُذُنَيْهِ سَبْعُونَ بَاعًا
“Dajjal akan keluar dengan menunggangi seekor keledai yang sangat putih, jarak antara kedua telinganya adalah tujuh puluh depa.”
Mulla Ali al-Qari menjelaskan istilah “aqmar” dalam syarahnya:
أَيْ: شَدِيدِ الْبَيَاضِ عَلَى مَا فِي النِّهَايَةِ، وَفِيهِ إِيمَاءٌ إِلَى أَنَّ حِمَارَهُ أَحْسَنُ مِنْ وَجْهِه
“Artinya: Sangat putih warnanya menurut kitab An-Nihayah. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa keledainya lebih bagus (rupa dan tampilannya) daripada wajah Dajjal sendiri.”
Deskripsi ini memberikan gambaran bahwa kendaraan Dajjal sengaja dibuat mencolok dan megah secara lahiriah.
Sedangkan penggunaan kata “70 depa” menunjukkan skala yang luar biasa besar. Jika satu depa adalah bentangan tangan orang dewasa, maka kendaraan ini memiliki dimensi yang melampaui ukuran hewan normal manapun yang pernah ada di bumi.
Selain aspek fisik, hal yang paling mengerikan dari fitnah Dajjal adalah mobilitasnya. Dalam Shahih Muslim, digambarkan betapa cepatnya ia berpindah dari satu belahan bumi ke belahan bumi lainnya. Sahabat pernah bertanya:
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا إِسْرَاعُهُ فِي الْأَرْضِ؟ قَالَ: كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيحُ
“Kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatan perjalanannya di muka bumi?’ Beliau menjawab: ‘Seperti hujan yang ditiup angin’.”
Dalam kitab “Fatḥ al-Munʿim Syarḥ Shahīh Muslim” (X/539) karya Musa Syahin, dijelaskan makna perumpamaan tersebut:
أَصْلُهُ كَالرِّيحِ تُثِيرُ السَّحَابَ فَتُنْزِلُهُ فِي مَكَانٍ ثُمَّ تَسْتَدْبِرُهُ إِلَى مَكَانٍ آخَرَ
“Asalnya adalah seperti angin yang menggerakkan awan, lalu menurunkan hujan di suatu tempat, kemudian angin itu membawanya pergi dengan cepat ke tempat yang lain.”
Kecepatan ini menunjukkan bahwa Dajjal tidak dibatasi oleh kendala geografis. Ia mampu melakukan ekspansi fitnah secara global dalam waktu yang sangat singkat, sebuah kemampuan yang pada zaman dahulu sulit dibayangkan tanpa bantuan kekuatan supranatural atau teknologi tingkat tinggi.
Imam Al-Qurthubi dalam kitabnya “al-Mufhim limā Ashkala min Talkhīṣ Kitāb Muslim” (VII/291) memberikan analisa rasional terhadap riwayat-riwayat ini. Beliau menyebutkan:
وَهَذَا يَقْتَضِي أَنْ يَكُونَ هَذَا الْحِمَارُ أَكْبَرُ حِمَارٍ فِي الدُّنْيَا، فَرَاكِبُهُ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ أَكْبَرُ إِنْسَانٍ فِي الدُّنْيَا
“Hal ini menuntut agar keledai ini menjadi keledai terbesar di dunia, maka penunggangnya pun seharusnya menjadi manusia terbesar di dunia.”
Keterangan ini merujuk pada kesaksian sahabat Tamim ad-Dari yang pernah melihat Dajjal secara langsung dalam kondisi terbelenggu, di mana ia digambarkan sebagai sosok manusia yang paling besar dan perkasa yang pernah dilihat mata manusia.
Sebagai tambahan, dari berbagai referensi dijelaskan ciri-ciri lain dari kendaraan dajjal ini. Hal ini didasarkan pada riwayat dalam “Kanzul Ummal” yang menyebutkan: “Hampir saja akan keluar dari bendungan arus aliran api yang berjalan sebagaimana berjalannya unta tunggangan.” Sementara dalam kitab “Uqūd al-Durar” (1989: 340) disibetukan ciri-ciri lain dari keledai dajjal:
حِمَارٌ ضَخْمٌ هَائِلٌ… طَعَامُهُ الْحِجَارَةُ، لَا يُدْرَى قُبْلَهُ مِنْ دُبُرِهِ، يَتَقَدَّمُهُ جَبَلٌ مِنْ دُخَانٍ، لَهُ صَوْتٌ يَدُوِّي مَا بَيْنَ الْخَافِقَيْنِ
“Seekor keledai besar yang mengerikan… makanannya adalah batu, tidak diketahui bagian depan dari belakangnya, didahului oleh gunung asap, dan memiliki suara yang bergemuruh di antara dua ufuk.” Selain itu, gambaran fisik dalam riwayat lain disebutkan:
مَحْدُودِبُ الظَّهْرِ قَدْ صُوِّرَ كُلَّ السِّلَاحِ فِي يَدَيْهِ
“Punggungnya cembung dan telah tergambar segala jenis senjata di kedua tangannya.”
Ulama kontemporer sering mengaitkan deskripsi ini dengan kemajuan transportasi modern seperti pesawat jet atau teknologi supersonik yang memiliki “sayap lebar” (telinga lebar) dan mampu melesat di antara awan.
Dalam buku karya Muhammad Al-Sadat yang berjudul “ad-Dajjāl wa Ya’jūj wa Ma’jūj wa al-Dābbah Yajtāhūn al-‘Ālām” (2016: 73-75), penulis menjelaskan −sebagaimana deskripsi Riwayat tambahan di atas− bahwa istilah “Keledai Dajjal” dalam hadits merupakan metafora untuk alat transportasi modern yang digerakkan oleh tenaga api atau uap, seperti kereta api uap dan pesawat terbang.
Penulis berargumen bahwa deskripsi hadits mengenai kendaraan yang “memakan batu” (batu bara), mengeluarkan asap seperti gunung, dan bersuara menggelegar di antara dua ufuk adalah cara Nabi Muhammad SAW menggambarkan teknologi mesin masa depan kepada umat terdahulu.
Lebih spesifik lagi, ciri fisik “keledai” tersebut diidentikkan dengan pesawat terbang tempur masa kini. Deskripsi mengenai bentangan telinga yang mencapai puluhan hasta, warna putih yang bersinar, serta kemampuan melintasi jarak perjalanan berhari-hari hanya dalam hitungan jam, merujuk pada bentang sayap pesawat dan kecepatannya yang luar biasa.
Penulis menafsirkan punggungnya yang cembung (mahdub) serta kemampuannya mengeluarkan berbagai senjata dari badan sebagai analogi pesawat tempur yang membawa rudal, sementara narasi mengenai ribuan orang yang berlindung di bawah telinganya dimaknai sebagai kiasan untuk payung perlindungan udara dalam kekuatan militer modern.
Melalui data-data ini, kita memahami bahwa atribut Dajjal −termasuk kendaraannya− adalah instrumen istidrāj (tipu daya). Keledai yang putih cemerlang, ukuran yang raksasa, dan kecepatan yang melampaui logika adalah bagian dari “pertunjukan” kekuatan Dajjal untuk memaksa manusia mengakuinya sebagai tuhan.
Sebagai catatan penting, terlepas dari apakah ia berwujud hewan biologis ajaib atau teknologi canggih, pesan intinya tetap sama: Dajjal akan datang dengan kemudahan akses dan kemewahan lahiriah yang sangat memikat.
Terlebih, di antara detail-detail riwayat tersebut, secara riwayat ada yang masih diperselisihkan oleh ulama hadits terkait keshahihannya. Maka, yang perting adalah persiapan amal saleh kita untuk menghadapi berbagai fitnahnya.
Kunci keselamatan bagi kita bukanlah memiliki kendaraan yang lebih cepat, melainkan memiliki iman yang lebih kuat dan perlindungan dari Allah SWT, terutama dengan mengamalkan Surah Al-Kahfi. Wallāhu a’lam bi ash-Shawāb. (MBS)




No comments:
Post a Comment