Kisah Istri Firaun, Ibu Angkat Nabi Musa yang Jadi Teladan

Nama Asiyah kerap dikenal sebagai istri Firaun. Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil Piramida Mesir, ilustrasi

Nama Asiyah kerap dikenal sebagai istri Firaun, penguasa zalim Mesir pada masa Nabi Musa. Namun, di balik posisinya sebagai permaisuri istana, Asiyah tercatat dalam sejarah sebagai sosok perempuan mulia yang menjadi ibu angkat Nabi Musa dan teladan keteguhan iman sepanjang zaman.

Dalam tradisi Islam, Asiyah menempati kedudukan istimewa. Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai salah satu perempuan paling sempurna. Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, Nabi SAW bersabda: 

كَـمُـلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ غَيْرُ مَرْيَمَ بِنْتِ عِمْرَانَ، وَآسِيَةَ امْرَأَةِ فِرْعَوْنَ، وَإِنَّ فَضْلَ ‏عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

‎Artinya: "Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain ‎Maryam bintu Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan A’isyah dibandingkan ‎wanita lainnya, sebagaimana keutamaan ats-Tsarid dibandingkan makanan lainnya.” ‎‎(HR Bukhari 5418 dan Muslim 2431).

Kisah Asiyah bermula ketika bayi Musa dihanyutkan ibunya ke Sungai Nil demi menyelamatkannya dari kekejaman Firaun yang memerintahkan pembunuhan bayi laki-laki Bani Israil. Atas kehendak Allah SWT, bayi itu ditemukan oleh para pelayan istana dan dibawa kepada Asiyah.

Hati Asiyah langsung terpaut pada bayi tersebut. Dengan kasih sayang yang mendalam, ia memohon kepada Firaun agar tidak membunuh bayi itu. Ia bahkan mengusulkan agar Musa diangkat sebagai anak.

Allah SWT mengabadikan momen itu dalam Alquran: 

وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ  لَا تَقْتُلُوْهُ ۖعَسٰٓى اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

 Artinya: "Istri Firʻaun berkata (kepadanya), “(Anak ini) adalah penyejuk hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan dia memberi manfaat bagi kita atau kita mengambilnya sebagai anak.” Mereka tidak menyadari (bahwa anak itulah, Musa, yang kelak menjadi sebab kebinasaan mereka)." (QS Al-Qasas [28]:9)

Sebagai ibu angkat, Asiyah diyakini berperan besar dalam membentuk karakter Musa. Ia menanamkan nilai kasih sayang, keadilan, dan kepedulian terhadap kaum tertindas. Karakter inilah yang kemudian tampak dalam diri Musa, yang dikenal berani membela kebenaran dan melawan kezaliman.

Meski dibesarkan di lingkungan istana yang penuh kemewahan, Musa tumbuh dengan kepekaan sosial yang tinggi. Selain pengaruh ibu kandungnya yang kembali dipertemukan dengannya atas janji Allah, kehadiran Asiyah sebagai sosok pengasuh yang beriman turut membentuk kepribadiannya.

Keteguhan iman Asiyah mencapai puncaknya ketika ia secara terbuka beriman kepada Allah, Tuhan Nabi Musa. Keputusan itu membuat Firaun murka. Asiyah dihadapkan pada pilihan, yakni tunduk kepada suaminya atau tetap beriman kepada Allah.

Asiyah memilih mempertahankan keimanannya, meski harus menghadapi siksaan berat hingga akhir hayat. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, ia memanjatkan doa yang diabadikan dalam Alquran:

رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ

Artinya:  “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

(QS At-tahrim [66]:11)

Kisah Asiyah menjadi pelajaran berharga tentang peran seorang ibu dalam membentuk generasi. Dengan keteladanan, kasih sayang, dan iman yang kokoh, seorang ibu dapat menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak yang diasuhnya.

Asiyah membuktikan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh lingkungan atau kekuasaan yang mengitarinya, melainkan oleh keimanan, keberanian, dan keteguhannya dalam memegang kebenaran. Sebagai ibu angkat Nabi Musa, Asiyah dikenang bukan hanya karena kasih sayangnya, tetapi juga karena pengorbanannya dalam mempertahankan iman di tengah tirani.rol

No comments: