Sejarah Haji Indonesia: Era Kerajaan Nusantara hingga Kolonialisme Eropa

 Tanah Suci dipandang sebagai pusat otoritas keagamaan dan sekaligus politik. Red: Hasanul Rizqa Lukisan Masjidil Haram di Makkah pada pertengahan abad ke-19 M.

Foto: Wikipedia
Sejarah mencatat, orang Indonesia sudah mengunjungi Tanah Suci sejak berabad-abad silam. Untuk sampai di Haramain, terutama sebelum ditemukannya pesawat terbang, mereka memanfaatkan jalur maritim yang menghubungkan Jazirah Arab dan Nusantara via Laut Arab dan Samudra Hindia.

Menurut Shaleh Putuhena dalam buku Historiografi Haji Indonesia, Ludovico di Barthema sempat menjumpai seorang Nusantara di Makkah pada 1503 M. Namun, lanjut Putuhena, tidak jelas dari mana persisnya laki-laki yang dimaksud; apakah Sumatra, Jawa, atau wilayah lainnya di Indonesia.

Adapun di Barthema merupakan orang Italia non-Muslim pertama yang berhasil memasuki kota suci umat Islam tersebut. Ia mendeskripsikan orang Nusantara yang dijumpainya itu sebagai “lelaki dari India Timur kecil.”

Menurut Azyumardi Azra dalam artikel “Orang Indonesia Naik Haji” (2014), berbagai periwayatan tradisional—seperti hikayat, tambo, atau babad—kerap bercerita tentang hubungan sultan dan raja Islam di Nusantara dengan Makkah. Itu sudah menggejala sejak bermulanya proses Islamisasi massal di kepulauan Asia tenggara ini pada akhir abad ke-13 M. Terdapat pula laporan-laporan perihal sultan yang berniat pergi haji.

Menurut beberapa sumber, sambung Azra, dua sultan awal Kerajaan Islam Melaka pada abad ke-15 M ingin naik haji, tetapi keduanya lebih dulu wafat sebelum sempat mewujudkan niatnya. Selanjutnya, berbagai sultan di nusantara sejak dari Kerajaan Aceh, Palembang, Banten, Mataram sampai Makassar berusaha mendapat pengakuan dari Makkah.

Sebab, mereka memandang Tanah Suci sebagai pusat kewenangan keagamaan dan sekaligus otoritas politik. Untuk kepentingan itu, sultan-sultan ini menyatakan niat pergi berhaji yang, dalam kenyataannya, sering dilakukan badal.

Maka, para utusan dikirimkan secara khusus ke Haramain bukan hanya untuk melakukan haji pengganti, tetapi juga bertemu langsung kepada penguasa (syarif) Makkah untuk meminta (simbol-simbol) legitimasi.

Praktik badal haji ini diduga dilakukan, antara lain, oleh Laksamana Hang. Pahlawan bangsa Melayu yang hidup di Melaka kira-kira abad ke-15 M itu dikisahkan naik haji, sebagaimana tersebut dalam Hikayat Hang Tuah yang ditulis di Johor pada akhir abad ke-17 M.

Menurut Azra, petinggi istana Melaka itu kelihatannya tidak menunaikan rukun Islam kelima, tetapi hajinya diganti oleh seseorang. Badal inilah yang kemudian menuliskan pengalaman naik haji atas nama sang laksamana.

“Naik haji bagi sultan atau raja dan elite politik di istana memberi tambahan legitimasi di mata para warganya. Sebaliknya, di pihak warga yang mampu, naik hajinya sang sultan atau petinggi istana memberikan inspirasi dan dorongan untuk juga pergi naik haji,” tulis penulis buku monumental, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII itu.

photo
Pemandangan Masjidil Haram tempo dulu. - (Wikipedia)

Berhaji, pribadi maupun badal, bukanlah tujuan satu-satunya orang Indonesia di Tanah Suci. Perjalanan laut ke dari Nusantara ke Arab bisa berlangsung berbulan-bulan.

Maka begitu tuntas musim haji, mereka cenderung suka menghabiskan waktu dengan menuntut ilmu kepada alim ulama Haramain, alih-alih hanya menunggu kesiapan kapal yang akan mengantarkannya ke kampung halaman.

Azra memaparkan, dengan semakin banyaknya jamaah haji dan penuntut ilmu di Makkah, terbentuklah sebuah komunitas yang dalam sumber-sumber Arab disebut sebagai 'Ashab al-Jawiyyin' (harfiah: rekan-rekan kita orang 'Jawi'). Sebutan Jawi itu mengacu bukan khusus kepada 'orang Jawa', tetapi orang-orang Islam dari Nusantara secara keseluruhan.

Hampir seluruh ulama yang berperan penting dalam pembaruan dan dinamika intelektual dan sosial Islam di Nusantara sejak abad ke-17 M dan seterusnya adalah jebolan Makkah. Sebagian mereka juga menambah ilmunya di Madinah. Alhasil, menurut Azra, dua kota suci menjadi focal point keilmuan dan keulamaan.

Mulai abad ke-16 M, kekuatan maritim Eropa mulai menghampiri negeri-negeri pesisir di Asia. Awalnya, Spanyol dan Portugis mendominasi dan saling bersaing. Namun, memasuki abad ke-17 M, kekuatan mereka—terutama Portugis—di Samudra Hindia mulai memudar. Pada saat yang sama, Kekhalifahan Turki Utsmaniyah juga kehilangan kendali atas jalur perdagangan Nusantara-Arab. Sejak saat itu, Belanda dan Inggris-lah yang lebih mendominasi kawasan perairan tersebut.rol

No comments: