17 Utusan Muslim Era Umayah ke Cina ketika Sriwijaya Jadi Simpul Perdagangan

Tidak kurang dari 17 utusan Muslim tercatat mengunjungi Istana Cina. Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil Candi Muaro Jambi di Provinsi Jambi. Kompleks ini dahulu menjadi pusat religius Kerajaan Sriwijaya.
Foto: dok wiki

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pada masa Dinasti Umayah, sedikitnya 17 utusan Muslim tercatat mengunjungi Istana Cina. Di saat yang sama, Kerajaan Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan maritim yang menghubungkan Timur Tengah, Nusantara, dan Timur Jauh. Ramainya jalur pelayaran itu membuat para pedagang Arab dan Persia diduga telah menjadikan pelabuhan-pelabuhan Nusantara sebagai tempat persinggahan sejak abad ke-7 M.

Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menyebutkan selama sekitar 90 tahun pemerintahan Dinasti Umayah, tidak kurang dari 17 utusan Muslim tercatat mengunjungi Istana Cina. Setelah itu, sekitar 18 utusan lainnya dikirim oleh para penguasa Dinasti Abbasiyah dalam kurun waktu antara 133 H/ 750 M hingga 182 H/ 798 M. Frekuensi kunjungan yang tinggi tersebut mendorong berkembangnya koloni Ta Shih (orang Arab) di Kanfu (Kanton), yang diperkirakan mulai terbentuk pada paruh kedua abad ke-7 M.

Menjelang pertengahan abad ke-8 M, jumlah Muslim Arab dan Persia di Kanton telah berkembang sedemikian besar sehingga mereka mampu melakukan pemberontakan terhadap penguasa Cina. Alasan pasti pemberontakan tersebut tidak diketahui. Namun, tidak lama setelah Kanton kembali dibuka bagi kaum Muslim pada 176 H/ 792 M, pemerintah Cina mengangkat seorang Muslim sebagai pejabat yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban di kalangan masyarakat Muslim sekaligus mengawasi penerapan hukum Islam.

Prof. Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menjelaskan, pada tahun 131 H/ 748 M, seorang pendeta Cina bernama Kan Shin (Kien Chen) melaporkan keberadaan komunitas Po-sse (sangat mungkin merujuk pada Muslim Persia) dalam jumlah yang cukup besar di Pulau Hainan. Selain itu, terdapat pula pemukiman Muslim yang makmur di kota Yang Chou. Ketika penguasa setempat memberontak, pemerintah pusat Cina mengirim pasukan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Dalam peristiwa itu, beberapa ribu pedagang Arab dan Persia yang bermukim di kota tersebut turut terbunuh, sementara harta benda mereka dirampas.

Melihat tingginya intensitas hubungan antara kaum Muslim di Timur Tengah dengan kawasan Timur Jauh, serta keberadaan berbagai pemukiman Muslim di Cina, cukup beralasan untuk mengasumsikan bahwa kaum Muslim Timur Tengah telah mengenal Nusantara, hal ini disampaikan Prof. Azyumardi Azra dalam bukunya. Demikian pula, dapat diduga bahwa mereka menjadikan sejumlah pelabuhan di Nusantara sebagai tempat persinggahan dalam perjalanan dagang mereka. Dugaan tersebut diperkuat oleh sejumlah riwayat sejarah.

photo
Infografis 9 Aturan Jamaah Wanita di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi - (Republika)

Kehadiran kaum Muslim dari Timur Tengah, yang sebagian besar berasal dari Arab dan Persia, di Nusantara pada masa-masa awal pertama kali dicatat oleh agamawan sekaligus pengembara terkenal dari Cina, I-Tsing. Dalam perjalanannya pada tahun 51 H/ 671 M, ia menumpang kapal Arab dan Persia dari Kanton dan singgah di sebuah pelabuhan di muara Sungai Bhoga, yang juga dikenal sebagai Sribhoga atau Sribuza, sekarang diidentifikasi sebagai Sungai Musi. Banyak sarjana modern mengidentifikasi Sribuza sebagai Palembang, ibu kota Kerajaan Buddha Sriwijaya.

Kerajaan Sribuza atau Sriwijaya, yang juga sering diidentikkan dengan Zabaj, disebut dalam sumber-sumber Arab sebagai al-Mamlakat al-Maharaja (Kerajaan Raja Diraja), sedangkan dalam sumber-sumber Cina dikenal dengan nama Shih-li fo-shih atau San-fo chi. Kerajaan ini mulai mencapai puncak kejayaannya pada paruh kedua abad ke-7 M dan selama sekitar lima abad berikutnya menguasai sebagian besar wilayah Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Jawa.

Sepanjang masa kejayaannya, Sriwijaya memainkan peranan yang sangat penting sebagai perantara perdagangan antara Timur Tengah dan Timur Jauh. Kerajaan ini bahkan mendominasi perdagangan di kawasan Nusantara, sementara ibu kotanya, Palembang, berkembang menjadi entrepot atau pusat perdagangan terpenting di kawasan tersebut. Mengingat posisi strategis Sriwijaya, penulis kronik Cina Chou Ch'u-fei dalam Ling-wai-tai-ta yang disusun pada tahun 1178 memberikan catatan khusus mengenai pentingnya kerajaan tersebut.

"Sriwijaya terletak di Nan-Hai (Lautan Selatan). Ia merupakan pusat perdagangan penting di antara berbagai negeri asing. Sebelah timur terdapat negeri-negeri Jawa, (sedangkan) di sebelah barat terdapat Ta Shih (Arabia), Ku-Lin (K'un-lun, pulau-pulau selatan umumnya), dan sebagainya. Tidak ada negeri mana pun yang dapat sampai ke Cina tanpa melewati wilayahnya (Sriwijaya)." (Chou Ch'u-fei dalam Ling-wai-tai-ta)

No comments: