Dua Surat Maharaja Sriwijaya kepada Dua Khalifah Ungkap Jejak Awal Hubungan dengan Dunia Islam

Surat kedua memiliki corak dan gaya yang serupa. Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil Juru pelihara Muhammad Nasir membersihkan kaca pelindung Prasasti Batu Tulis Karang Berahi di Batu Bersurat, Pamenang, Merangin, Jambi, Ahad (16/1/2022). Situs cagar budaya yang terbuat dari batu andesit yang berisi sumpah dan kutukan dari aksara Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno dan ditemukan tahun 1904 oleh seorang kontrolir Belanda itu berdasarkan penelitian N. J. Kom dinyatakan sebagai salah satu prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya.
Foto: ANTARA/Wahdi Septiawan
Hubungan Sriwijaya dengan dunia Islam ternyata telah terjalin sejak awal abad ke-8 Masehi. Bukti sejarah yang terekam dalam sumber-sumber Arab menunjukkan Maharaja Sriwijaya pernah mengirim dua pucuk surat kepada Khalifah Muawiyah dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, salah satunya berisi permintaan agar dikirim seorang ulama untuk mengajarkan Islam di kerajaannya.
Bukti-bukti historis mengenai hubungan politik dan diplomatik internasional Sriwijaya tidak hanya berasal dari sumber-sumber Arab. Meskipun bersifat fragmentaris, sumber-sumber Arab tersebut tetap memberikan sejumlah informasi penting mengenai hubungan tersebut. Sumber-sumber Arab itu telah dibahas secara panjang lebar oleh sejarawan terkemuka Syed Qudratullah Fatimi, antara lain berupa dua pucuk surat yang menjadi bukti kuat bahwa Maharaja Sriwijaya pernah mengirimkan surat kepada dua khalifah di Timur Tengah.

Prof. Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII menjelaskan, surat pertama atau lebih tepatnya bagian pendahuluan surat, dikutip oleh al-Jahizh (Amr al-Bahr, 163–255 H/783–869 M) dalam karya terkenalnya Kitab al-Hayawan, berdasarkan tiga isnad yang dinilai tepercaya. Al-Jahizh memperoleh informasi mengenai surat Maharaja yang ditujukan kepada Khalifah Muawiyah (41 H/661 M) dari al-Haytsam bin Adi (114–207 H/732–822 M). Al-Haytsam mendengarnya dari Abu Ya'qub al-Tsaqafi, yang selanjutnya memperoleh informasi tersebut dari Abd al-Malik bin Umayr (33–136 H/653–753 M). Abd al-Malik mengaku pernah melihat surat itu di diwan (sekretariat) Muawiyah setelah khalifah tersebut wafat.

Sayangnya, al-Jahizh hanya mengutip bagian pembukaan surat itu sehingga isi lengkap surat tersebut tidak diketahui. Meski demikian, pendahuluan surat tersebut memiliki gaya yang khas sebagaimana lazim ditemukan dalam surat-surat resmi para penguasa Nusantara.

Setelah memaparkan rangkaian isnad tersebut, al-Jahizh kemudian meriwayatkan bagian pembukaan surat itu:

"(Dari Raja al-Hind-atau tepatnya Kepulauan India) yang kendang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani seribu putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar (Batanghari dan Musi), yang mengairi pohon gaharu (aloes), kepada Mu'awiyah . . . ."

Surat kedua memiliki corak dan gaya yang serupa, tetapi isinya jauh lebih lengkap. Baik bagian pembukaan maupun isi surat tersebut berhasil dipertahankan oleh Ibn Abd al-Rabbih (246–329 H/ 860–940 M) dalam karyanya Al-Iqd al-Farid. Surat yang ditujukan kepada Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (99–102 H/ 717–720 M) itu menggambarkan kebesaran Maharaja beserta kemegahan kerajaan yang dipimpinnya.

"Nu'aym bin Hammad menulis: "Raja al-Hind (kepulauan) mengirim sepucuk surat kepada Umar bin Abd al-Aziz, yang berbunyi sebagai berikut: Dari Raja Diraja (Malik al-Malik = maharaja) yang adalah keturunan seribu raja, yang istrinya juga adalah anak cucu seribu raja, yang dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wewangiannya sampai menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab (Umar bin Abd al-Aziz), yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan, dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya (atau di dalam versi lain, yang akan mengajarkan Islam dan menjelaskannya kepada saya)."

Syed Qudratullah Fatimi berpendapat, bahwa surat itu diterima Khalifah Umar bin al-Aziz pada bagian akhir tahun 100 H/ 718 M.

Pada masa itu, penguasa Sriwijaya adalah Sri Indravarman, yang dalam sumber-sumber Cina disebut sebagai Shih-li-t'o-pa-mo. Penyebutan nama dalam catatan Cina tersebut mengisyaratkan bahwa ia belum memeluk Islam. Sri Indravarman tercatat beberapa kali mengirim utusan ke istana Cina, yakni pada tahun 83 H/ 702 M, 98 H/ 716 M, dan 106 H/ 724 M.

Menariknya, salah satu hadiah yang dibawa utusan Sriwijaya kepada penguasa Cina pada tahun 106 H/ 724 M adalah Ts'eng-chi, yang diduga berasal dari istilah Arab Zanji, yang berarti budak perempuan Negro. Dengan demikian, terlepas dari apakah Sri Indravarman telah memeluk Islam atau belum, tampaknya ia telah menerima sejumlah Zanji, kemungkinan sebagai hadiah dari para penguasa atau pedagang di Timur Tengah, yang kemudian diberikan kembali sebagai hadiah kepada penguasa Cina. Penerimaan hadiah berupa Zanji dari Timur Tengah tersebut mengindikasikan adanya hubungan yang erat antara Sriwijaya dengan pihak-pihak tertentu di kawasan Timur Tengah.rol

No comments: