Yerusalem berhasil direbut pada 1187 M oleh Salahuddin.
Red: Nashih Nashrullah
Foto: google.com
Langkah-langkah yang ditempuh sebelum pembebasan Yerusalem menunjukkan kecerdasan luar biasa dan keterampilan kepemimpinan yang istimewa dari Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Kehebatan tersebut tampak dalam beberapa aspek, apa sajakah?Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim se-Dunia, Syekh Ali Muhammad ash-Shallabi, memaparkan persoalan ini dalam laman resminya, dikutip Kamis (17/9/2026), sebagaimana berikut:
1. Dimensi militer
Kemampuan militer Salahuddin terlihat jelas dalam strategi yang ia terapkan selama berjihad menghadapi pasukan Salib untuk merebut kembali Baitul Maqdis.
Strategi tersebut dibangun di atas pembentukan front Islam yang bersatu, mencakup Mesir, wilayah Syam, serta sebagian wilayah Irak.
Setelah itu, pasukan Muslim menghadapi pasukan Salib di wilayah mereka sendiri dan memberikan pukulan telak kepada mereka, sebagaimana yang terjadi dalam Perang Hattin.
Setelah kemenangan tersebut, Salahuddin melanjutkan langkahnya menuju kota-kota pesisir Syam untuk melemahkan kekuatan pasukan Salib, baik secara material maupun moral.
Seandainya setelah meraih kemenangan di Hattin Salahuddin langsung bergerak menuju Baitul Maqdis, ia sebenarnya dapat memasukinya tanpa kesulitan berarti.
Namun, merebut Baitul Maqdis sebelum menguasai kota-kota pesisir belum tentu menjamin stabilitas penuh di kota tersebut. Sebab, sangat mungkin pihak Eropa Barat mengirimkan pasukan Salib melalui pelabuhan-pelabuhan Syam.
Yasin Suwaid, dalam Hurub al-Quds fi at-Tarikh al-Islami wa al-Arabi menjelaskan, para kesatria Salib akan berdatangan secara berkelompok maupun perorangan, lalu terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Salahuddin untuk merebut kembali Baitul Maqdis.
Di kota itu terdapat Gereja Makam Kudus yang memiliki kedudukan penting dalam keyakinan kaum Salib. Mereka meyakini secara keliru—sebagaimana dikatakan Imad al-Ashfahani—bahwa di tempat itulah Kristus disalib dan kurban dipersembahkan, sifat ketuhanan menjelma, sifat kemanusiaan menjadi Tuhan, dan salib ditegakkan.
Lambang Salib Yerusalem yang digunakan tentara perang salib setelah menguasai Yerusalem dengan membantai umat Islam. - (Public Domains)
Dengan pertolongan Allah, kemudian melalui strategi militer tersebut, Salahuddin berhasil menguasai jalur pesisir sehingga Baitul Maqdis terisolasi.
Ia mencegah datangnya bantuan menuju kota itu dan memutus seluruh harapan kaum Salib, baik dari Eropa Barat maupun dari wilayah Syam, untuk mencapai Baitul Maqdis dan menyelamatkannya dari kepungan pasukan Muslim.
Bahauddin bin Syaddad, dalam an-Nawadir as-Sulthaniyyah menjelaskan, setelah Salahuddin berhasil merebut Asqalan dan sejumlah wilayah lain di sekitar Baitul Maqdis dari tangan pasukan Salib, ia memastikan isolasi terhadap Kerajaan Yerusalem semakin kuat.
Setelah itu, ia bersungguh-sungguh mempersiapkan diri dan bertekad bergerak menuju Baitul Maqdis. Ia mengeluarkan perintah, lalu seluruh pasukan Muslim yang sebelumnya tersebar di kawasan pesisir berkumpul di bawah komandonya.
2. Dimensi media dan informasi
Pasukan-pasukan Muslim yang berkumpul tersebut sebelumnya telah bersama Salahuddin dalam Perang Hattin. Salahuddin memanfaatkan keberadaan mereka di wilayah Syam sebelum mereka kembali ke wilayah iqtha’ masing-masing.
Ia kemudian menggunakan kekuatan tersebut untuk menguasai kota-kota dan pelabuhan di kawasan pesisir.
Salahuddin juga memastikan bahwa sebelum bergerak menuju Baitul Maqdis, didahului oleh kampanye informasi ke berbagai penjuru dunia Islam. Tujuannya adalah membangkitkan semangat umat Islam untuk berjihad.
Seruan tersebut membangkitkan tekad kaum Muslimin untuk berjihad dan ikut serta dalam membersihkan kawasan suci itu dari keberadaan pasukan Salib. Baitul Maqdis merupakan kiblat pertama, salah satu dari tiga masjid suci, sekaligus tempat Isra Nabi Muhammad SAW.
Sultan Shalahuddin al-Ayyubi menerima pasukan Salib yang menyerah. - (dok wiki)
Abu Syamah dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, menyebutkan bahwa begitu kaum Muslimin mengetahui kemenangan-kemenangan yang Allah karuniakan kepada Salahuddin dalam pembebasan wilayah pesisir Syam, serta mengetahui bahwa ia kemudian bersiap bergerak menuju Baitul Maqdis, mereka berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru.
Para ulama dan ahli fikih berada di barisan terdepan. Mereka datang secara sukarela untuk berjihad dan membersihkan wilayah Syam dari keberadaan pasukan Salib.
3. Memanggil pasukan dari Mesir
Di sisi lain, ketika sedang melakukan ekspansi untuk menguasai kawasan pesisir, Salahuddin memanggil pasukan Mesir untuk membantunya merebut kota-kota dan benteng-benteng di wilayah selatan.
Ia kemudian bertemu dengan putranya, al-Malik al-Aziz Utsman, di Asqalan. Pertemuan itu membuatnya merasa gembira dan semakin kuat karena mendapat dukungan dari putranya.
Tampaknya, meskipun Salahuddin telah sepenuhnya menguasai kota-kota dan pelabuhan di kawasan pesisir Syam, ia tetap mengkhawatirkan kemungkinan serangan pasukan Salib dari arah barat ketika dirinya bergerak menuju Baitul Maqdis.
Karena itu, ia memerintahkan armada laut yang mendapat kemenangan untuk bergerak dan turut serta dalam jihad.
Armada tersebut berangkat dari Mesir dengan dipimpin oleh al-Hajib Lu'lu'. Kapal-kapal itu kemudian menyusuri laut dan memutus jalur bagi kapal-kapal serta armada pasukan Salib.
Pada saat yang sama, bantuan dan pasokan dari Mesir dapat mencapai Syam dengan mudah, baik melalui jalur darat maupun laut.
Abdullah al-Ghamidi dalam Salahuddin wa ash-Shalibiyyun, menuturkan ketika Salahuddin mengetahui bahwa Baitul Maqdis telah mendapatkan penguatan pertahanan secara besar-besaran karena kedudukannya yang sangat penting dalam pandangan kaum Salib, ia memastikan membawa perlengkapan pengepungan yang memadai untuk menembus tembok-tembok kota yang tinggi dan memiliki banyak menara.
ILUSTRASI Perang Salib. - (dok wiki)
Ia membawa berbagai alat pengepungan, seperti manjaniq (ketapel besar), arradah, alat penyembur api (naffathah), alat pemotong, serta berbagai perlengkapan untuk membuat terowongan di bawah tembok.
Setelah terowongan dibuat, bagian dalamnya diisi dengan kayu dan minyak, kemudian dibakar untuk membuka celah pada tembok. Dengan demikian, pasukan Muslim dapat menerobos pertahanan, memasuki kota, dan menaklukkan Baitul Maqdis.
4. Pengepungan dan Pertempuranpertempuran
Pasukan Salib sebenarnya telah memulai pertempuran sebelum pasukan Muslim sepenuhnya mengambil posisi di sekitar tembok kota, yakni sebelum 20 September.
Peristiwa itu bermula ketika sebuah detasemen dari barisan terdepan pasukan Muslim bergerak mendekati tembok kota di bawah pimpinan Amir Jamaluddin Syiruwain bin Hasan ar-Razi.
Pasukan garnisun kota kemudian keluar menghadapi mereka. Pertempuran pun terjadi dan pasukan Muslim berhasil dikalahkan, sementara komandannya terbunuh.
Peristiwa tersebut terjadi sebelum Salahuddin menempatkan pasukannya di sisi barat tembok kota.
Bagaimanapun, Salahuddin mulai melancarkan pertempuran secara langsung terhadap musuh yang berlindung di balik tembok kota pada pagi 26 September 1187 M, bertepatan dengan 21 Rajab 583 H.
Salahuddin menggerakkan pasukannya menuju tembok dengan dukungan gempuran intensif dari artileri yang digunakan pada masa itu, yaitu manjaniq atau alat pelontar batu.
Jumlahnya mencapai 12 buah manjaniq besar yang mampu melemparkan batu-batu berukuran besar. Di bawah perlindungan serangan tersebut, pasukan penggali terowongan (naqqabun) juga bergerak maju dan mulai menggali bagian bawah tembok.
Pertempuran berlangsung sangat sengit. Pasukan garnisun kota berusaha menghantam pasukan Muslim dan menghentikan laju mereka dengan menggunakan anak panah, busur, serta manjaniq dari atas tembok dan benteng pertahanan.
Halaman 5 / 8
photo
Infografis Perubahan Arah Kiblat dari Yerusalem ke Makkah - (Republika.co.id)
Mereka bertempur dengan keganasan yang luar biasa. Para kesatria mereka bahkan keluar dari kota untuk menghadapi pasukan Muslim dalam pertempuran terbuka dan duel satu lawan satu.
Namun, perlawanan tersebut tidak mampu menghentikan langkah pasukan Muslim. Mereka terus bergerak maju, menggali bagian bawah tembok, dan menghancurkan pertahanan kota dengan serangan manjaniq.
Banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak dalam pertempuran tersebut. Salah seorang yang tewasgugur adalah Amir Izzuddin Isa bin Malik, yang ayahnya merupakan penguasa Benteng Ja'bar.
Pertempuran sengit terus berlanjut. Sejarawan René Grousset menggambarkan pertempuran yang berlangsung di sekitar tembok kota itu sebagai pertempuran yang begitu dahsyat hingga belum pernah terdengar tandingannya. Ia bahkan menggambarkannya sebagai sebuah keteguhan yang dilandasi kerinduan untuk meraih syahid.
Grousset melanjutkan bahwa pertempuran tersebut merupakan salah satu pertempuran paling sengit yang pernah disaksikan manusia.
Setiap orang dari kedua pasukan memandang pertempuran itu sebagai sebuah tindakan keagamaan sekaligus kewajiban yang harus ditunaikan.
Keunggulan Salahuddin dalam penggunaan manjaniq sedemikian besar sehingga jatuhnya kota tampak tidak terelakkan.
Para penggali terowongan yang bekerja di bawah perlindungan lemparan batu dari manjaniq berhasil membuka sebuah celah pada dinding tembok.
Para kesatria dan bangsawan Salib kemudian memutuskan untuk melancarkan serangan nekat terhadap pasukan Muslim di luar tembok. Namun, Patriark Heraklius mencegah mereka.
Ia meyakinkan mereka bahwa tindakan heroik tersebut justru hanya akan berarti meninggalkan perempuan dan anak-anak mereka tanpa perlindungan di hadapan musuh.
Rahasia Masjid Al Aqsa - (Republika)
5. Serangan penentu
Setelah pertempuran sengit tersebut, Salahuddin memutuskan untuk melancarkan serangan penentu terhadap kota. Ia meningkatkan intensitas serangan manjaniq untuk melindungi gerak maju pasukan penyerang.
Batu-batu berukuran besar terus dihujankan ke arah pertahanan, sementara para pemanah melepaskan rentetan anak panah dan busur ke arah pasukan yang mempertahankan tembok dan benteng.
Gempuran tersebut membuat pertahanan musuh melemah dan memaksa mereka mundur dari posisi masing-masing. Pada saat yang sama, pasukan Muslim terus bergerak maju.
Mereka berhasil melewati parit luar yang digali mengelilingi tembok, kemudian mendekati tembok dan mulai menggali serta meruntuhkannya.
Gempuran manjaniq semakin dahsyat. Rentetan anak panah dan busur terus dilepaskan oleh para pemanah yang bergerak di belakang pasukan penyerang untuk memberikan perlindungan kepada mereka.
Pasukan Muslim berhasil membuka sejumlah celah pada tembok, yang sedikit demi sedikit hampir sepenuhnya berada dalam penguasaan mereka.
Pada suatu waktu pada 29 September 1187, pasukan penyerang berhasil membuka sebuah “celah besar” pada tembok. Pasukan Muslim menerobos melalui celah tersebut dan mengibarkan panji-panji mereka di atas tembok.
Namun, para pembela kota segera berkumpul kembali dan berhasil memukul mundur pasukan Muslim dari tembok.
Meskipun demikian, para pembela telah menyadari bahwa tidak ada lagi manfaatnya mempertahankan kota dan bahwa mereka berada di ambang kehancuran. Bahkan, mereka yakin bahwa kematian pasti akan menimpa mereka jika tetap mempertahankan sikap keras kepala.
Suwaid, dalam Hurub al-Quds fi at-Tarikh al-Islami wa al-Arabi, menjelaskan orang-orang kemudian berdesakan di dalam gereja-gereja untuk berdoa dan mengakui dosa-dosa mereka.
Mereka bahkan mulai memukuli diri sendiri dengan batu dan memohon pertolongan serta rahmat Allah. Para perempuan memotong rambut anak-anak perempuan mereka dengan harapan dapat menggugah kaum laki-laki agar melindungi mereka dari kemungkinan ditawan oleh pasukan Muslim.
Halaman 7 / 8
photo
Salinan panel lengkung Romawi dari Beth Hatefutsoth, menunjukkan rampasan kuil Yerusalem. Islam menyelamatkan Yahudi dari pemusnahan oleh Romawi. - (Wikimedia Commons)
6. Negosiasi dan Penyerahanpenyerahan Yerusalem kepada Salahuddin
Pasukan Salib kemudian sepakat mengirim utusan untuk meminta jaminan keamanan dengan imbalan menyerahkan kota kepada Salahuddin. Namun, Salahuddin menolak permintaan tersebut. Ia berkata:
“Aku tidak akan memperlakukan kalian kecuali sebagaimana kalian memperlakukan penduduk kota ini ketika kalian menguasainya pada tahun 491 H, yakni dengan pembunuhan dan penawanan. Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal.”
Setelah Salahuddin mengembalikan para utusan Salib dalam keadaan kecewa dan tanpa memperoleh apa yang mereka harapkan, mereka kembali berkumpul di dalam Baitul Maqdis.
Mereka berusaha melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan Muslim. Namun, Patriark Heraklius menentang rencana tersebut.
Ia menjelaskan bahwa jika mereka melakukan serangan itu, mereka justru akan menyerahkan perempuan dan anak-anak mereka kepada perbudakan. Karena itu, ia mendorong mereka untuk meminta jaminan keamanan kepada Salahuddin.
Mereka kemudian mengutus Balian dari Ibelin kepada Salahuddin untuk meminta jaminan keamanan bagi dirinya agar dapat datang dan melakukan perundingan.
Salahuddin mengabulkan permintaan tersebut. Balian pun datang menghadapnya dan meminta jaminan keamanan bagi seluruh kaum Salib di kota itu. Namun, Salahuddin tetap bersikeras bahwa kota harus ditaklukkan dengan kekuatan senjata.
Al-Ghamidi dalam Salahuddin wa ash-Shalibiyyun menjelaskan, ketika Balian putus asa untuk memperoleh persetujuan tersebut, ia berusaha menggugah belas kasihan Salahuddin dengan mengancam akan membunuh perempuan, anak-anak, dan para tawanan Muslim. Ia berkata:
Ketika Balian putus asa untuk memperoleh persetujuan tersebut, ia berusaha menggugah belas kasihan Salahuddin dengan mengancam akan membunuh perempuan, anak-anak, dan para tawanan Muslim. Ia berkata:
“Wahai Sultan, ketahuilah bahwa di dalam kota ini terdapat begitu banyak manusia yang jumlahnya tidak diketahui kecuali oleh Allah. Mereka menahan diri dari pertempuran karena berharap memperoleh jaminan keamanan, dengan keyakinan bahwa engkau akan memberikannya kepada mereka sebagaimana engkau telah memberikannya kepada orang-orang lain. Mereka membenci kematian dan menginginkan kehidupan.
Jika kami melihat bahwa hal itu tidak dapat dihindari, demi Allah, kami akan membunuh anak-anak dan perempuan kami, serta membakar harta benda dan seluruh kekayaan kami. Kami tidak akan membiarkan kalian mendapatkan satu dinar atau satu dirham pun dari semua itu. Kami juga tidak akan membiarkan kalian menawan seorang laki-laki ataupun perempuan.
Setelah semua itu selesai, kami akan menghancurkan Batu Suci, Masjid Al-Aqsa, dan tempat-tempat lainnya. Kemudian kami akan membunuh seluruh tawanan Muslim yang berada di tangan kami, yang jumlahnya mencapai lima ribu orang. Kami tidak akan membiarkan seorang pun dari kami hidup sebelum ia membunuh orang-orang yang setara dengannya. Setelah itu, kami akan mati dalam keadaan mulia dan memperoleh kehormatan.”
Salahuddin kemudian bermusyawarah dengan para sahabat dan orang-orang terdekatnya. Mereka menjelaskan bahwa untuk memenuhi sumpahnya, ia cukup menguasai Baitul Maqdis dengan kekuatan senjata dan membuat kota itu menyerah dengan syarat-syarat sebagaimana sebuah kota yang jatuh melalui pertempuran. Dalam keadaan demikian, penduduk kota dapat diperlakukan sebagai tawanan perang.
Salahuddin akhirnya menerima usulan tersebut. Ia memberikan jaminan keamanan dengan imbalan penyerahan Baitul Maqdis. Ia juga menyetujui agar kaum Salib meninggalkan kota dengan membayar tebusan. Besarnya tebusan ditetapkan 10 dinar untuk setiap laki-laki, baik kaya maupun miskin, dan 5 dinar untuk setiap perempuan.
Sibt Ibnu al-Jauzi dan al-Imad al-Hanbali menambahkan bahwa Salahuddin menetapkan 4 dinar untuk setiap anak laki-laki. Adapun mengenai anak kecil, terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah tebusannya. Sebagian berpendapat bahwa tebusannya adalah 1 dinar, sementara sebagian lainnya berpendapat 2 dinar.
Tampaknya pendapat pertama lebih kuat berdasarkan kesepakatan sumber-sumber sejarah Salib mengenai hal tersebut.
Adapun orang-orang miskin dan tidak mampu membayar tebusan, Salahuddin menyetujui agar Balian membayar sejumlah uang secara keseluruhan untuk membebaskan mereka, dengan nilai 30.000 ribu dinar.
Salahuddin memberikan waktu 40 hari kepada Balian. Siapa pun yang mampu membayar tebusannya dalam jangka waktu tersebut akan dibebaskan. Sementara mereka yang masih berada di kota setelah batas waktu itu berakhir akan menjadi budak.
Baitul Maqdis akhirnya diserahkan pada Jumat, 27 Rajab 583 H/12 Oktober 1187 M (Salahuddin, ash-Shallabi, hlm. 438).
Abu Syamah, dengan mengutip al-Imad dalam al-Barq asy-Syami, menyebutkan bahwa setelah perjanjian penyerahan ditandatangani, kaum Salib mulai mengosongkan rumah-rumah mereka.
Mereka menjual perabotan dan persediaan makanan yang mereka simpan dengan harga yang sangat murah, bahkan hampir seperti diberikan secara cuma-cuma, terutama barang-barang yang sulit dipindahkan dan berat untuk dibawa.
Keadaan mereka, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT:
كَمۡ تَرَكُواْ مِن جَنَّٰت وَعُيُون (٢٥) وَزُرُوع وَمَقَام كَرِيم (٢٦) وَنَعۡمَة كَانُواْ فِيهَا فَٰكِهِينَ (٢٧) كَذَٰلِكَۖ وَأَوۡرَثۡنَٰهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ (28)“
“Betapa banyak taman-taman dan mata air yang mereka tinggalkan, juga kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang mulia, dan berbagai kenikmatan yang mereka bersenang-senang di dalamnya. Demikianlah, Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.” (QS Ad-Dukhan: 25–28).republika
No comments:
Post a Comment