Yahudi berusaha membujuk penguasa Ottoman Sultan Abdul Hamid II. Red: Nashih Nashrullah
Demikianlah keadaan yang dihadapi pemimpin Zionisme dunia, Theodor Herzl, setelah ia menggunakan berbagai cara dan mengerahkan segala upaya—mulai dari tawaran finansial, tekanan ekonomi, janji politik, hingga jalur diplomatik—kepada Sultan Abdul Hamid II agar bersedia menjual Palestina dan menyerahkan Yerusalem.
Namun, meskipun menghadapi berbagai tekanan dari gerakan Zionis, sementara pada saat yang sama Kesultanan Ottoman sedang dilanda berbagai persoalan, Abdul Hamid II tetap menolak. Ia berusaha mempertahankan Tanah Suci dan melindungi Yerusalem.
Dalam rangkaian sejarah panjang Palestina, sikap tersebut dipandang sebagai salah satu episode penting yang kemudian melengkapi rangkaian peristiwa besar: penaklukan pada masa Umar bin Khattab, pembebasan pada masa Salahuddin al-Ayyubi, dan upaya mempertahankan Palestina pada masa Sultan Abdul Hamid II.
Sekjen Persatuan Ulama Islam se-Dunia, Syekh Dr Muhammad Ash-Shalabi, dikutip dari laman resminya, Rabu (23/9/2026) menjelaskan perdebatan mengenai hubungan orang-orang Yahudi dengan Islam, sebagaimana digambarkan dalam tulisan ini, telah muncul sejak masa awal Islam.
Setelah Islam memperoleh kekuatan di Madinah, sejumlah kelompok Yahudi diusir dari kota tersebut karena konflik dan pelanggaran perjanjian yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Kemudian, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, orang-orang Yahudi juga tidak lagi diperbolehkan menetap di sebagian wilayah Jazirah Arab.
Dalam sejarah Islam selanjutnya, berbagai kelompok dan gerakan yang dituduhkan memiliki kaitan dengan orang-orang Yahudi juga disebut-sebut muncul, seperti Abdullah bin Saba, kaum Qaramitah, kaum Assassins (Hashshashin), Rāwandiyyah, serta berbagai gerakan yang dianggap merusak.
1. Tekanan terhadap Kesultanan Ottoman untuk menguasai Palestina oleh Theodor Herzl
Theodor Herzl, pemimpin gerakan Zionis internasional, berhasil memperoleh dukungan dari sejumlah negara Eropa—termasuk Jerman, Inggris, dan Prancis—untuk mengangkat persoalan Yahudi ke tingkat internasional.
Dukungan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai sarana untuk memberikan tekanan kepada Kesultanan Ottoman, dengan tujuan membuka jalan bagi pertemuan dengan Sultan Abdul Hamid II dan mengajukan tuntutan agar Palestina diserahkan kepada orang-orang Yahudi.
Pada saat itu, Kesultanan Ottoman sedang menghadapi berbagai persoalan keuangan. Kondisi ekonomi negara berada dalam keadaan sulit sehingga negara-negara Eropa yang menjadi kreditornya menempatkan sebuah lembaga pengawas keuangan Eropa di wilayah Ottoman untuk mengawasi kondisi ekonomi dan memastikan pembayaran utang.
Situasi tersebut menjadi salah satu persoalan besar yang haru dihadapi Sultan Abdul Hamid II dalam mencari jalan keluar bagi krisis keuangan negaranya.
2. Tawaran finansial untuk memengaruhi keputusan Sultan Abdul Hamid
Kondisi keuangan Kesultanan Ottoman dipandang Herzl sebagai celah yang dapat digunakan untuk memengaruhi kebijakan Abdul Hamid II terhadap proyek Zionis.
Dalam hal ini, Herzl menulis dalam memoarnya:
“Kita harus mengeluarkan dua puluh juta lira Turki untuk memperbaiki kondisi keuangan Turki. Dua juta di antaranya sebagai harga Palestina, sementara sisanya digunakan untuk membebaskan Turki Ottoman dari utang-utangnya dan melunasi utang tersebut, sehingga negara itu dapat terbebas dari pengawasan Eropa. Setelah itu, kita dapat memberikan pinjaman baru kepada Sultan kapan pun ia membutuhkannya.”
Herzl kemudian melakukan berbagai kontak dengan para pejabat di Jerman, Austria, Rusia, Italia, dan Inggris. Tujuan dari berbagai kontak tersebut adalah membuka jalan untuk berdialog dengan Sultan Abdul Hamid II.
Dalam hal ini, Landau pada 21 Februari 1869 menyarankan agar Herzl menggunakan bantuan sahabatnya, Nevlinski, editor surat kabar Le Courrier d'Orient.
Herzl juga menulis:
“Jika kita memperoleh Palestina, kita akan membayar Turki dalam jumlah besar, atau memberikan berbagai pemberian kepadanya. Sebagai imbalannya, kami bersedia membantu menyelesaikan persoalan keuangan Turki. Kami akan mengambil tanah-tanah yang dimiliki Sultan secara sah menurut hukum perdata, meskipun mungkin tidak ada perbedaan antara kekuasaan kerajaan dan kepemilikan pribadinya.”
Infografis Tujuh Tabiat Buruk Kaum Yahudi (ilustrasi) - (Dok Republika)
Herzl kemudian mengunjungi Konstantinopel pada Juni 1896. Dalam kunjungan tersebut ia ditemani Nevlinski, yang memiliki hubungan baik dengan Sultan Abdul Hamid. Melalui Nevlinski, gagasan-gagasan Herzl kemudian disampaikan kepada Istana Yıldız.
Dalam salah satu percakapan antara Nevlinski dan Sultan Abdul Hamid, Sultan bertanya, “Apakah orang-orang Yahudi tidak dapat menetap di wilayah lain selain Palestina?”
Nevlinski menjawab, “Palestina dianggap sebagai tanah asal orang-orang Yahudi. Karena itu, mereka ingin kembali ke sana.”
Sultan kemudian menjawab, “Palestina bukan hanya tanah asal orang-orang Yahudi, tetapi juga tanah suci bagi agama-agama lainnya.”
Nevlinski berkata:, “Jika orang-orang Yahudi tidak dapat memperoleh kembali Palestina, mereka akan pergi begitu saja ke Argentina.”
Sultan Abdul Hamid kemudian mengirim pesan kepada Herzl melalui sahabatnya, Nevlinski, “Nasihatilah sahabatmu, Herzl, agar tidak mengambil langkah-langkah lebih lanjut mengenai persoalan ini. Aku tidak mungkin menyerahkan sejengkal pun tanah suci, karena tanah itu bukan milikku, tanah itu adalah milik rakyatku.
Leluhurku telah berjuang untuk tanah tersebut dan menyiraminya dengan darah mereka. Biarlah orang-orang Yahudi menyimpan jutaan mereka.
Jika mereka ingin menghancurkan negaraku, Palestina mungkin saja dapat diperoleh tanpa bayaran, tetapi mereka harus menghancurkan kami terlebih dahulu. Aku tidak bersedia membedah tubuhku dalam keadaan masih hidup.”
3. Jalur diplomatik dan janji untuk meredakan persoalan Armenia
Setelah tawaran finansialnya tidak berhasil, Herzl mencoba menggunakan cara lain untuk memengaruhi Abdul Hamid II. Melalui Nevlinski, ia menawarkan jasanya dalam menangani persoalan Armenia.
Infografis Alquran Bantah Orang Yahudi akan Jadi Penghuni Surga - (Republika.co.id)
Dalam hal ini, Herzl menulis:
“Sultan meminta saya melakukan suatu hal untuknya, yaitu memengaruhi surat kabar-surat kabar Eropa agar membicarakan persoalan Armenia dengan nada yang tidak terlalu memusuhi Turki.
Saya segera mengatakan kepada Nevlinski bahwa saya bersedia melaksanakan tugas tersebut. Namun, saya meminta penjelasan yang lengkap mengenai persoalan Armenia: siapa orang-orang di London yang harus saya yakinkan, surat kabar mana yang harus kita dekati, dan sebagainya.”
Berdasarkan hal tersebut, diplomasi Zionis kemudian berusaha meyakinkan orang-orang Armenia agar menghentikan pemberontakan mereka.
Herzl menghubungi Salisbury dan sejumlah pejabat Inggris dengan tujuan menggunakan pengaruh Inggris terhadap pihak Armenia. Orang-orang Yahudi di sejumlah kota Eropa lainnya, termasuk Prancis, juga dikatakan melakukan upaya serupa.
Namun, diplomasi Herzl tersebut tidak berhasil karena Inggris tidak menunjukkan antusiasme yang cukup. Dukungan semacam itu dianggap dapat berarti mendukung kebijakan Abdul Hamid dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan penolakan dari opini publik Inggris terhadap pemerintahnya sendiri.
4. Tekanan ekonomi dan tawaran finansial kembali digunakan
Herzl juga berusaha menemui Sultan Abdul Hamid II, khususnya ketika Kaisar Wilhelm II melakukan kunjungan keduanya ke Konstantinopel. Namun, para pejabat Istana Yıldız mencegahnya bertemu langsung dengan Sultan.
Herzl terus berusaha hingga akhirnya, setelah sekitar dua tahun melakukan pendekatan kepada para pejabat tinggi Istana Yıldız, antara 1899 dan 1901, ia berhasil bertemu dengan Abdul Hamid II.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama sekitar dua jam tersebut, Herzl mengusulkan agar bank-bank Yahudi yang kaya di Eropa membantu Kesultanan Ottoman dengan imbalan izin untuk melakukan pemukiman Yahudi di Palestina.
Masjid di Palestina yang terancam Yahudisasi - (republika)
Selain itu, Herzl juga menjanjikan bantuan untuk meringankan beban utang publik Kesultanan Ottoman yang telah menjadi persoalan sejak 1881. Ia juga menjanjikan bahwa seluruh pembicaraan dengan Sultan akan dirahasiakan.
Dalam pertemuan tersebut, Abdul Hamid lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Ia membiarkan Herzl mengemukakan berbagai gagasan, rencana, dan tuntutannya secara panjang lebar.
Sikap tersebut sempat membuat Herzl mengira bahwa ia telah berhasil mencapai tujuannya. Namun, pada akhirnya ia menyadari bahwa usahanya tidak berhasil dan bahwa pembicaraannya dengan Abdul Hamid telah menemui jalan buntu.
Setelah gagal memperoleh persetujuan Sultan Abdul Hamid II, Herzl menyatakan, “Jika Sultan memberikan Palestina kepada orang-orang Yahudi, kami akan mengambil tanggung jawab untuk mengatur kondisi keuangannya.
Sementara di benua Eropa, kami akan membangun sebuah benteng yang kokoh untuk menghadapi Asia. Kami akan membangun peradaban melawan keterbelakangan, dan kami akan tetap berada di seluruh Eropa untuk menjamin keberadaan kami.”
5. Pernyataan-pernyataan Yahudi yang bernada ancaman
Abdul Hamid memandang bahwa orang-orang Yahudi tidak seharusnya diberi kesempatan untuk membangun pemukiman di Palestina, agar penduduk Arab tetap mempertahankan posisi demografisnya di wilayah tersebut.
Kesultanan Ottoman pada berbagai kesempatan berusaha menjauhkan orang-orang Yahudi Ottoman dari gagasan Herzl dan gerakan Zionis. Namun, pada kesempatan lain, pemerintah juga menggunakan bahasa yang keras dan bernada ancaman terhadap mereka.
Meskipun usaha Herzl untuk mendapatkan persetujuan Sultan Abdul Hamid mengalami kegagalan, Herzl menulis:
“Kita harus memperoleh tanah melalui orang-orang Yahudi secara bertahap, tanpa perlu menggunakan kekerasan. Kita akan berusaha mendorong penduduk asli yang miskin untuk pindah ke negara-negara tetangga dengan menyediakan pekerjaan bagi mereka di sana, sementara mereka dilarang memperoleh pekerjaan di negeri kita.
Pengambilalihan tanah akan dilakukan melalui agen-agen rahasia dari perusahaan Yahudi, yang kemudian menjual tanah tersebut kepada orang-orang Yahudi. Selain itu, perusahaan Yahudi akan mengawasi perdagangan jual-beli properti, dengan penjualan yang dibatasi hanya kepada orang-orang Yahudi.”
Herzl juga menulis:
“Berdasarkan pembicaraan saya dengan Sultan Abdul Hamid II, saya menyimpulkan bahwa Turki hanya dapat dimanfaatkan jika keadaan politiknya berubah, atau jika ia didorong ke dalam perang yang membuatnya kalah, atau jika ia didorong ke dalam berbagai persoalan internasional—atau melalui kedua cara tersebut sekaligus.”
6. Jawaban tegas dan keputusan Sultan Abdul Hamid
Abdul Hamid memahami tujuan gerakan Zionis. Dalam memoar politiknya, ia menulis:
“Presiden Zionis, Herzl, tidak akan mampu meyakinkanku dengan gagasan-gagasannya. Mungkin perkataannya bahwa persoalan Yahudi akan terselesaikan ketika orang Yahudi mampu memegang bajaknya sendiri memang benar menurut pandangannya.
Ia mungkin berusaha menyediakan tanah bagi saudara-saudaranya sesama Yahudi, tetapi ia melupakan bahwa kecerdasan saja tidak cukup untuk menyelesaikan semua persoalan.
“Kaum Zionis tidak akan puas hanya dengan melakukan kegiatan pertanian di Palestina. Mereka menginginkan hal-hal seperti pembentukan pemerintahan dan pemilihan wakil rakyat. Aku memahami ambisi mereka. Namun, orang-orang Yahudi terlalu sederhana dalam mengira bahwa aku akan menerima usaha mereka.
“Sebagaimana aku menghargai jasa orang-orang Yahudi di antara rakyatku dalam urusan pemerintahan, aku menentang cita-cita dan ambisi mereka di Palestina.”
Mengenai Yerusalem, Abdul Hamid II dikutip mengatakan:
“Mengapa kita harus meninggalkan Yerusalem? Ia adalah tanah kita sepanjang masa dan sepanjang zaman. Yerusalem adalah salah satu kota suci kita dan terletak di wilayah Islam. Karena itu, Yerusalem harus tetap menjadi milik kita.”
Menurut tulisan ini, tujuan Sultan Abdul Hamid dalam mendengarkan Theodor Herzl adalah untuk mengetahui:
1. Hakikat dan rencana gerakan Zionis
2. Seberapa besar kekuatan jaringan Yahudi di tingkat internasional
3. Cara menyelamatkan Kesultanan Ottoman dari berbagai risiko yang mungkin ditimbulkan oleh gerakan tersebut.
Sultan kemudian mengarahkan aparat intelijen dalam negeri dan luar negeri untuk memantau aktivitas orang-orang Yahudi serta menyusun laporan mengenai mereka.
Ia juga mengeluarkan dua irade-i seniyye (keputusan kerajaan), masing-masing pada 28 Juni 1890 dan 7 Juli 1890. Keputusan pertama berisi penolakan terhadap penerimaan orang-orang Yahudi ke wilayah kekuasaan Kesultanan.
Sementara keputusan kedua memerintahkan Dewan Menteri untuk mengkaji berbagai aspek persoalan tersebut dan mengambil keputusan yang serius serta tegas terhadapnya. (Lihat al-Yahudi wa ad-Daulah al-Utsmaniyyah, hlm 88).
Sultan Abdul Hamid II kemudian mengambil berbagai langkah untuk mencegah penjualan tanah kepada orang-orang Yahudi di Palestina. Ia juga berusaha keras untuk tidak memberikan konsesi apa pun kepada orang-orang Yahudi yang dapat memungkinkan mereka memperoleh pengaruh dominan atas wilayah Palestina.
Menurut naskah ini, langkah-langkah tersebut pada akhirnya membuat organisasi-organisasi Zionis semakin berkepentingan untuk menyingkirkan Sultan Abdul Hamid II dari kekuasaan.
Pandangan tersebut diperkuat oleh pernyataan Herzl:
“Aku telah kehilangan harapan untuk mewujudkan cita-cita orang-orang Yahudi di Palestina. Orang-orang Yahudi tidak akan mampu memasuki Tanah yang Dijanjikan selama Sultan Abdul Hamid masih berkuasa dan tetap memegang pemerintahan.”rol
No comments:
Post a Comment