Perang Hattin dipimpin langsung oleh Salahuddin Al-Ayyubi.
Wilayah kekuasaan Salahuddin saat itu meliputi Mesir, sebagian besar kawasan Syam, dan sebagian wilayah Irak.
Karena itu, sejak awal pemerintahannya, Salahuddin telah memberikan perhatian besar pada upaya menyerang wilayah-wilayah tersebut. Bahkan, perhatiannya terhadap persoalan ini sudah muncul ketika ia masih menjabat sebagai wazir di Dinasti Fatimiyah.
Dalam berbagai serangan yang dilancarkannya ke kota-kota pesisir Syam, Salahuddin berhasil menimbulkan kerugian besar bagi pasukan Salib, baik dari segi jumlah personel maupun perlengkapan perang.
Kondisi ini tampaknya mendorong pasukan Salib untuk mencari cara mengurangi tekanan terhadap wilayah-wilayah tersebut dengan mengalihkan perhatian Salahuddin. Salah satu caranya adalah melancarkan serangan ke kawasan pesisir Laut Merah.
Selain itu, mereka berupaya memanfaatkan keberadaan Salahuddin di kawasan tersebut untuk mengancam tempat-tempat suci umat Islam.
Dengan demikian, mereka berharap dapat melukai Islam di wilayahnya yang paling suci. Namun, perkembangan peristiwa berlangsung cepat dan justru menguntungkan Salahuddin.
Lantas apa yang melandasi terjadinya Perang Hattin? Syekh Muhammad Ash-Shalabi, dalam laman resminya menjelaskan sebagai berikut:
1. Wafatnya Baldwin V dan Pengaruhnya terhadap Kondisi Pasukan Salib
Raja Baldwin V wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun 582 H, hanya beberapa bulan setelah dinobatkan sebagai raja.
Kematiannya kembali memunculkan persoalan internal di kalangan pasukan Salib. Wafatnya Baldwin menjadi awal pertikaian sengit di antara para bangsawan yang memperebutkan takhta kerajaan.
Salahuddin mampu memanfaatkan situasi yang melanda kerajaan pasukan Salib tersebut untuk memperkuat posisinya.
2. Pertempuran di Saffuriyah
Ketika Salahuddin berkemah di dekat Benteng Karak dan Syubak untuk melindungi para jemaah haji dari serangan pasukan Salib, ia mengirimkan sebuah pasukan pengintai menuju Saffuriyah.
Para komandan pasukan tersebut memastikan perjalanan mereka berlangsung dengan sangat rahasia. Mereka bergerak pada penghujung malam agar dapat melancarkan serangan pada pagi hari.
Rencana itu berhasil dilaksanakan dengan sangat cermat. Pasukan Islam tiba-tiba menyerbu Saffuriyah pada pagi hari, membuat musuh tidak sempat mempersiapkan diri. Pagi itu pun menjadi pagi yang buruk bagi mereka yang telah diperingatkan akan datangnya bahaya.
3. Persiapan menjelang Perang Hattin
Salahuddin yang saat itu masih berkemah di dekat Benteng Karak menyambut gembira kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran di Saffuriyah.
ILUSTRASI Perang Salib. - (dok wiki)
Ia kemudian meninggalkan Karak dan Syubak, lalu segera bergerak bersama pasukannya menuju wilayah musuh.
Ia mendirikan perkemahan di Asytara. Pasukan Islam dalam jumlah besar kemudian berkumpul di sekelilingnya, hingga memenuhi hamparan wilayah tersebut.
Ibnu Washil menggambarkan jumlah pasukan itu seolah-olah telah menutupi seluruh cakrawala.
Di Asytara, Salahuddin melakukan pemeriksaan terhadap pasukannya. Jumlah mereka mencapai 12 ribu prajurit. Ia kemudian menyusun formasi tempur sesuai dengan strategi yang lazim digunakan saat itu.
Keponakannya, Taqiyuddin Umar, ditempatkan di sayap kanan, sedangkan Muzaffaruddin Kokburi memimpin sayap kiri.
Salahuddin sendiri berada di tengah pasukan, sementara pasukan lainnya dibagi ke kedua sayap sebagai persiapan menghadapi pertempuran.
Jalannya Perang Hattin
1. Awal Serangan Pasukan Islam
Pasukan Islam mulai melancarkan serangan terhadap pasukan Salib. Kaum Muslimin bertempur dengan gigih dan menggencarkan serangan terhadap musuh.
Mereka menyadari bahwa di belakang mereka terbentang wilayah Yordania, sedangkan di hadapan mereka terdapat negeri Romawi. Dalam keadaan itu, mereka meyakini bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan mereka.
Menghadapi dahsyatnya serangan pasukan Islam, pasukan Salib mulai menyadari bahwa kehancuran mereka telah mendekat.
Mereka merasa tidak memiliki jalan untuk menyelamatkan diri dari kepungan Salahuddin selain melarikan diri atau menyerah.
Satu-satunya pemimpin besar pasukan Salib yang berhasil meloloskan diri adalah Raymond, Pangeran Tripoli.
Halaman 4 / 6
photo
Rahasia Masjid Al Aqsa - (Republika)
Ia menyadari bahwa pasukan Salib tidak lagi mampu menghadapi kekuatan tentara Islam. Karena itu, ia bersepakat dengan sejumlah pengikutnya untuk menyerang pasukan Muslim yang berada di hadapan mereka.
Pasukan Islam kemudian membuka jalan bagi kelompok tersebut untuk keluar dari kepungan. Setelah mereka berhasil meloloskan diri, barisan pasukan Islam kembali dirapatkan dan disusun untuk melanjutkan pertempuran.
2. Strategi Perang Psikologis Salahuddin
Dalam pertempuran yang menentukan itu, Salahuddin tampaknya berupaya menghancurkan kekuatan pasukan Salib sekaligus melemahkan mental mereka melalui berbagai cara.
Salah satu buktinya adalah ketika pasukan Salib telah terdesak dan terkepung di bagian atas Bukit Hattin.
Salahuddin memusatkan perhatian pada upaya merebut salib terbesar mereka, yang dikenal sebagai Salib Sejati (True Cross). Pasukan Salib meyakini bahwa salib tersebut menyimpan sepotong kayu tempat Nabi Isa AS disalibkan.
Begitu salib itu berhasil direbut oleh pasukan Islam, kehancuran menimpa pasukan Salib. Mereka pun semakin yakin bahwa kekalahan dan kebinasaan telah menanti mereka.
3. Salahuddin melaksanakan shalat syukur dan menyambut para raja yang ditawan
Setelah kemenangan diraih, Salahuddin memerintahkan agar sebuah tenda didirikan untuknya.
Setelah tenda itu selesai, ia masuk ke dalamnya dan melaksanakan shalat sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat kemenangan yang telah dianugerahkan kepadanya.
Kemenangan itu merupakan sesuatu yang telah lama diimpikan oleh para raja sebelum dirinya, tetapi mereka meninggal dunia tanpa sempat meraihnya.
Salahuddin kemudian memanggil para raja dan pemimpin utama pasukan Salib yang tertawan.
Ia menyambut mereka dengan baik. Raja Guy ditempatkan duduk di sampingnya, sedangkan Pangeran Raynald, penguasa Karak, duduk di sebelah raja tersebut.
Halaman 5 / 6
photo
Infografis Perubahan Arah Kiblat dari Yerusalem ke Makkah - (Republika.co.id)
Salahuddin segera menyuguhkan semangkuk air dingin kepada Raja Guy. Setelah meminumnya, Guy memberikan sisa air tersebut kepada Raynald, yang kemudian turut meminumnya.
Tindakan itu membuat Salahuddin marah. Ia menegaskan kepada Raja Guy bahwa Raynald meminum air tersebut tanpa izinnya sehingga tidak berhak memperoleh jaminan keselamatan melalui tindakan itu.
Salahuddin kemudian berpaling kepada Raynald dan mengingatkan berbagai kejahatan serta pengkhianatan yang telah dilakukannya.
“Berapa kali engkau bersumpah, lalu mengingkarinya?” tanya Salahuddin.
Penerjemah Raynald menjelaskan bahwa tuannya menjawab, perbuatan semacam itu sudah menjadi kebiasaan para raja.
Salahuddin pun berdiri dan berkata, “Sekarang aku memohon pertolongan untuk membela Muhammad.”
Ia kemudian menawarkan Islam kepada Raynald, tetapi tawaran itu ditolaknya. Salahuddin lalu menghunus senjatanya dan memukul Raynald hingga bahunya terluka parah. Orang-orang yang hadir kemudian menuntaskan kematiannya.
Melihat kejadian tersebut, Raja Yerusalem, Guy dari Lusignan, merasa ketakutan. Ia mengira Salahuddin akan memperlakukannya dengan cara yang sama.
Namun, Salahuddin memanggilnya dan menenangkan hatinya. Ia berkata bahwa sudah menjadi kebiasaan para raja untuk tidak membunuh sesama raja. Adapun Raynald, menurutnya, telah melampaui batas sehingga terjadilah apa yang telah terjadi.
Perang Hattin merupakan pertempuran pembebasan Palestina karena kemenangan tersebut membuka jalan menuju pembebasan Baitul Maqdis dan wilayah Palestina lainnya.
Hasil dan dampak Perang Hattin
1. Pertempuran penentu yang mengubah peta politik kawasan
Perang Hattin dikenal sebagai pertempuran yang menentukan karena mengubah peta kekuatan politik di kawasan tersebut.
Halaman 6 / 6
photo
Pertempuran bala tentara Seljuk dengan tenara Salib. - (google.com)
Setelah kemenangan itu, Salahuddin mengarahkan pasukannya untuk membebaskan kota-kota di pesisir Syam. Kota-kota tersebut jatuh satu demi satu ke tangan kaum Muslimin, kecuali Tyre yang memiliki pertahanan kuat dan sulit ditembus.
Dengan demikian, persoalan penguasaan wilayah pesisir Syam yang selama bertahun-tahun berada di tangan pasukan Salib mulai teratasi. Kaum Muslimin tidak lagi terkungkung di wilayah pedalaman tanpa akses yang memadai ke pesisir.
Satu demi satu kota berhasil dikuasai, di antaranya Akka, Jaffa, Sidon, Beirut, Byblos, Askelon, dan sejumlah kota lainnya.
2. Awal berakhirnya kekuasaan Pasukan Salib
Perang Hattin bukan sekadar kekalahan militer besar bagi pasukan Salib. Dalam pandangan penulis, pertempuran tersebut menjadi pertanda keberhasilan kaum Muslimin dalam menghadapi salah satu gerakan kolonial terbesar yang pernah disaksikan dunia pada Abad Pertengahan.
Pertempuran itu juga menjadi titik balik yang menghentikan laju ekspansi pasukan Salib ke wilayah Timur Dekat Islam. Dengan demikian, Hattin menandai awal dari berakhirnya dominasi pasukan Salib di kawasan tersebut.
Kemenangan ini mengakhiri hampir sembilan dekade kemunduran, kemerosotan, dan perpecahan di wilayah Islam Timur Dekat.
Peristiwa tersebut sekaligus menegaskan pentingnya persatuan di antara wilayah-wilayah geografis di Asia Barat Daya dan Mesir dalam menghadapi berbagai ancaman.’
3. Perang Hattin sebagai kunci pembebasan Baitul Maqdis
Perang Hattin merupakan pertempuran pembebasan Palestina karena membuka jalan bagi kemenangan kaum Muslimin untuk merebut kembali Baitul Maqdis dan wilayah Palestina lainnya.
Ibnu Washil menggambarkan pertempuran tersebut sebagai kunci pembuka berbagai kemenangan Islam.
Menurutnya, kemenangan di Hattin memudahkan pembebasan Baitul Maqdis dan menjadi mata rantai penting yang menghubungkan penaklukan pada masa Nuruddin Mahmud dengan perjuangan Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari.
Sejak para raja Franka datang ke wilayah pesisir dan menguasainya, kaum Muslimin belum pernah mengalami hari kemenangan yang sebanding dengan Perang Hattin.
Semoga Allah merahmati al-Malik an-Nashir Salahuddin dan menyucikan rohnya. Setelah masa para sahabat RA, Islam tidak pernah memperoleh dukungan dari seorang tokoh yang sebanding dengannya dan Nuruddin Mahmud bin Zanki. Semoga Allah merahmati keduanya.
Keduanya telah menghidupkan kembali ajaran Islam setelah lama meredup dan menegakkan kembali bangunan tauhid setelah lama memudar.
Setelah mereka, Allah kembali memberikan pertolongan kepada Islam melalui al-Malik al-Muzaffar Ruknuddin Baibars.
Perjuangannya bahkan lebih mengagumkan karena ia muncul ketika bangsa Tatar telah menguasai sebagian besar wilayah Islam dan banyak orang kehilangan harapan akan kebangkitan umat.
Baibars berhasil memecah kekuatan bangsa Tatar dan menyelamatkan wilayah-wilayah Islam dari kehancuran.rol
No comments:
Post a Comment