Candi Agung Randuagung Simbol ke “Gelisah” an Patih Nambi


Situs ini terletak di Desa Randuagung, Kecamatan Randuagung. Situs ini disebut masyarakat Candi Agung yang terletak di tengah persawahan dan ladang. Candi Agung terletak di areal tanah seluas 10, 120 m2. Keadaan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya, bagian yang tampak adalah bagian tubuh candi, sedangkan bagian atas candi atau mahkota telah runtuh sehingga bentuk aslinya tidak dapat diketahui lagi. Terdapat lubang di tubuh candi karena pembongkarang oleh seseorang yang mencari harta karun didalamnya.
Candi menghadap ke barat dengan ukuran 32 m , lebar 19 m dan tinggi yang tersisa 5 m. Candi agung banyak mengalami kerusakan akibat tangan jahil manusia yang merusak dinding Candi sehingga perlu perhatian khusus.
Sejarah Candi Agung Randuagung.
Candi Agung berdasararkan sejarah berhubungan dengan Sejarah Pajarakan yang merupakan benteng pertahanan Mahapatih Nambi, Candi Agung ini diperkirakan tempat dimana Mpu Nambi melakukan perenungan sehingga masyarakat sekitar menyebut sebagai “Candi Gelisah”. Pemeliharaan Candi Agung selama ini dilakukan oleh Pak Sawuk yang merupakan petugas yang diangkat oleh BP3 di Trowulan.
Candi Agung pernah dilakukan ekskavasi oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (sekarang BP3) tahun 1988.
Simbol Kegelisahan Patih Nambi.
Candi Agung disebut oleh masyarakat Randuagung sebagai Candi Gelisah. Dimana Kegelisahan Sang Patih yang mendengar akan penyerangan terhadap dirinya yang sedang berduka akan wafatnya sang Ayah yaitu Arya Wiraraja adalah Raja dari Kerajaan Lamajang Tigan Juru yang merupakan panutan beliau dalam menjalankan tugasnya sebagai Mahapatih di Majapahit.
Patih Nambi yang difitnah sebagai pemberontak karena ketidakhadirannya dalam tugas sebagai Mahapatih di Majapahit dianggap “Mbalela” terhadap kebijaksanaan Sang Raja Majapahit yaitu Raja Jayanegara. Kemungkinan kekuasaan Raja Jayanegara pengganti dari Raja Sanggramawijaya (Raden Wijaya) ini, tidak didukung oleh sebagian besar dari pejabat kerajaan Majapahit yang merupakan pengikut setia Raden Wijaya.
Duka citanya yang mendalam akan wafatnya sang ayah dan beliau mendengar akan di serang membuat rasa khawatir yang begitu dalam karena beliau akan menghadapi dalam perang tersebut adalah sahabat-sahabat dalam perjuangan dan kerabat. Selain itu Patih Nambi membawa nama besar ayahnya yang merupakan tokoh yang mendirikan Kerajaan Majapahit Raden Wijaya.
Candi Agung adalah simbol kegelisahan Patih Nambi untuk mempertahakan keyakinan dirinya terhadap tugas yang diembannya selama ini sebagai Mahapatih Majapahit. Dan dalam tugasnya Patih Nambi membawa nama besar Arya Wiraraja sang Ayah sebagai teladannya. Penyerangan oleh Raja Jayanegara tahun 1311 M ke Lumajang sehingga disebut sebagai Perang Lamajang yang akhirnya Patih Nambi berhasil dikalahkan, beliau wafat dalam perang dan Lamajang dapat ditaklukan tahun 1316 M.
Tragisnya Nama Patih Nambi wafat tidak diabadikan sebagai sosok pejuang yang membela daerahnya, tetapi sebagai sebutan pemberontak melekat dalam dirinya. Padahal tujuan beliau yang berjuang untuk mempertahankan wilayah yang merupakan tanah kelahiran ayahnya dan dirinya seharusnya sebagai teladan bagi generasi pemuda yang seharusnya berjuang untuk memajukan daerahnya dan tidak patah semangat dalam menghadapi masalah apapun.
Contoh perjuangan patih Nambi ini adalah bukti beliau adalah tokoh pemuda yang berjuang tanpa pamrih, selain itu juga walau beliau teraniaya karena diangggap pemberontak tapi beliau masih menghormati para sahabat dan kerabat yang sama-sama berjuang walau di hati kecilnya banyak perbedaan yang muncul setelah Majapahit yang didirikan bersama menjadi Kerajaan besar.

 (Aries Purwantiny).

No comments: