Pemberontakan Sutawijaya [1]
Tumenggung Mayang adalah seorang nayaka Kasultanan Pajang, ia menjadi orang kepercayaan Sultan Hadiwijaya. Tumenggung
Mayang mengabdi di Kasultanan Pajang sudah lama, yakni sejak berdirinya
Pajang, bahkan ketika masih sebagai nayaka di Kasultanan Demak Bintara.
Jabatannya adalah Kepala Badan Intelijen Kasultanan Pajang.
Strategi politik Tumenggung Mayang
Nyai emban diam tertegun ketika disapa oleh satriya yang tampan, meskipun di dalam kedaton juga banyak sentanadalem tetapi tidak setampan Raden Pabelan. Bahkan emban Soka mengandai-andai, ingin menjodohkan tuan putri Sekar Kedaton dengan Raden Pabelan.
Emban Soka menjawab; “hamba bernama nyai Soka, akan pergi kepasar diutus oleh tuan putri Sekar kedhaton, untuk membeli bunga kesukaannya!”
“kebetulan bibi, kamu tidak perlu pergi kepasar meski diutus oleh tuan putrimu, tetapi ini, ada bunga yang indah dari aku, tolong kau berikan kepada sang Putri !”
Emban Soka hatinya gembira, pucuk dicinta ulam tiba, pemuda ini tampan dan agaknya cocok untuk sang putri, katanya dalam hati, “siapakah nama raden, jika nanti ditanyakan oleh tuan putri?”
Seraya menerima bunga kesukaan Sang putri Sekar Kedaton, emban Soka bengong memandang wajah Raden Pabelan tanpa berkedip ’sungguh tampan’ katanya dalam hati.
“namaku Pabelan anak Tumenggung Mayang!” tukasnya.
Pabelan berhasil membujuk emban Soka, contong berisi bunga dan surat diterima emban Soka, Raden Pabelan memberi bebungah uang satu rupiah, untuk membuat senang hati emban Soka. Emban Soka dalam hati menyanjung Raden Pabelan, sudah wajahnya tampan, suaranyapun merdu, pantaslah di kaputrèn sering dibicarakan, dan banyak wanita banyak yang tergila-gila.
“baiklah tuanku, hamba tidak jadi membeli bunga di pasar, nanti bunga dari tuan hamba sampaikan pada tuan putri! ”
Raden Pabelan hatinya gembira, karena luapan hatinya yang tak terkendali, ia segera berlari pulang, untu memberitahukan pada ayahnya. Raden Pabelan sudah kembali ke Tumenggungan, dan menghadap ayahandanya. Dan dengan penuh tatakrama, duduk di depan Tumenggung Mayang.
“bagaimana anakku, apakah berhasil? “Tanya Tumenggung Mayang pada putranya.
“sudah ayah, bunga sudah hamba berikan pada utusan tuan putri, yang bernama emban Soka!” jawab Raden Pabelan.
Tumenggung Mayang, bertanya lagi “jika benar telah diterima, surat yang telah aku buatkan, maka tentu akan segera ada balasan darinya! “
***
Dalam pada itu, emban Soka yang telah menerima bunga dari Raden Pabelan, segera bergegas menuju kaputrèn da menyampaikanya kepada tuan Putri. Bunga sudah diterima, dan sang putri tahu kalau ada surat ditangkainya
Sastraadiguna
Istrinya adalah adik dari Senapati Ing Ngalaga. Ia memiliki seorang putra bernama Raden Pabelan, seorang pemuda yang parasnya tampan. Raden Pabelan ini dikenal sebagai pria yang thukmis , hampir semua wanita di dalam keraton Pajang, mengenalnya.
Di kotaraja, nama Pabelan dikenal setiap wanita, tua, muda, janda dan juga para emban di istana Kasultanan Pajang. Karena ulahnya itulah yang membuat Tumenggung Mayang menjadi serba salah, ia merasa dipermalukan oleh putra satu-satunya. Karena kegelisahan hatinya itulah, ia akan mengambil keputusan yang grusa-grusu tanpa dipikir akibatnyaTumenggung.
Strategi politik Tumenggung Mayang
Tumenggung Mayang berkata dalam
hati; “apa jadinya kelak wirayatnya Sunan Giri III [Sunan Prapen], jika
bukan aku yang memulainya. Ia berharap kelak
putranya itulah yang akan menjadi fokus hidup keluarganya, tetapi jika
tingkah lakunya saja sudah tidak menyenangkan bagi orang lain, bagaimana
mungkin Pabelan mendapatkan simpati dari rakyat Pajang.
Akan dibunuh anaknya sendiri,
jika tidak , maka anak itu mempermalukan orang tua dan leluhurnya.
Kemudian ki Tumenggung memutar otak, mencari cara agar anaknya bisa
mendapatkan pencerahan jiwa.
Acara makan malam di
Katumenggungan hanya dihadiri Raden Pabelan dan kedua orang tuanya,
biasanya jika mengundang makan malam ada keluarga pamannya , tetapi kali
ini tidak ada. Dalam hatinya raden Pabelan itu seperti anak nayaka praja yang lain, ada canda tawa dengan orang tua dan anaknya.
Yang dihadapinya tidak demikian,
dalam rumah terasa panas, sang ayah sibuk dengan pekerjkaannya maka
itulah yang dilakukan selama ini oleh raden Pabelan.
Sambil menikmati hidangan makan
malam, ki Tumenggung mengawali pembicaraannya; “anakku Pabelan, aku dan
ibumu ini sudah tua, kami ingin seperti yang lain, mereka bisa bercanda
dengan cucunya. Nah, apakah kamu sudah punya
pilihan gadis idaman, kalau ada anaknya siapa, nayaka praja, sudagar
atau siapa, nanti ayah akan meminangnya, katakan anakku! “
Tetapi jawaban Pabelan sangat sepele dan mengejutkan kedua orang tuanya, “maaf ayahanda, Pabelan masih ingin melajang “
‘ bagaimana
kamu ini, umurmu itu sudah 30 tahun lebih, tetapi masih ingin sendiri,
itu bukan trahing kusuma, bukan karakter satriya. Jika kamu menganggap dirimu seorang ksatriya masih trahing kusuma, maka datangilah putri sekar kedaton Kasultanan Pajang. Nanti ayah akan membantumu “desak Tumenggung Mayang
“Bagaimana mungkin ayah,
kaputren itu dijaga ketat, tembok kaputren juga tinggi dan banyak
jebakan-jebakan, aku tidak berani masuk kedalam puri. Meskipun
sebenarnya selama ini hamba memang selalu membayangkan bagaimana kalau
menjadi menantu kanjeng Sultan ” tukas Raden Pabelan.
“Begini anakku, tuan putri itu
setiap pagi membeli bunga, dan bunga kesukaan sang putri adalah kenanga
dan cepaka, emban yang disuruh beli bunga itu kau bujuk , berikanlah
bunga darimu, pasti sang putri merasa gembira. Hanya
dengan cara ini kamu bisa mendapatkan sang putri kedaton, kalau dia
sudah jatuh kedalam pelukanmu, ayahmu akan segera melamar pada kanjeng
Sultan “.Tumenggung Mayang menasehatinya.
Strategi I
Pada keesokan harinya raden Pabelan sudah menunggu keluarnya
emban Soka, ia menunggu di gerbang Sri Manganti dengan membawa contong
berisi bunga kenanga, dan bunga cepaka putih, dan terselip sepucuk
surat. Raden Pabelan mendekati emban Soka dan
bertanya “bibi, aku mau tanya, apakah Anda ini abdinya tuan putri, dan
akan pergi kemana?”Nyai emban diam tertegun ketika disapa oleh satriya yang tampan, meskipun di dalam kedaton juga banyak sentanadalem tetapi tidak setampan Raden Pabelan. Bahkan emban Soka mengandai-andai, ingin menjodohkan tuan putri Sekar Kedaton dengan Raden Pabelan.
Emban Soka menjawab; “hamba bernama nyai Soka, akan pergi kepasar diutus oleh tuan putri Sekar kedhaton, untuk membeli bunga kesukaannya!”
“kebetulan bibi, kamu tidak perlu pergi kepasar meski diutus oleh tuan putrimu, tetapi ini, ada bunga yang indah dari aku, tolong kau berikan kepada sang Putri !”
Emban Soka hatinya gembira, pucuk dicinta ulam tiba, pemuda ini tampan dan agaknya cocok untuk sang putri, katanya dalam hati, “siapakah nama raden, jika nanti ditanyakan oleh tuan putri?”
Seraya menerima bunga kesukaan Sang putri Sekar Kedaton, emban Soka bengong memandang wajah Raden Pabelan tanpa berkedip ’sungguh tampan’ katanya dalam hati.
“namaku Pabelan anak Tumenggung Mayang!” tukasnya.
Pabelan berhasil membujuk emban Soka, contong berisi bunga dan surat diterima emban Soka, Raden Pabelan memberi bebungah uang satu rupiah, untuk membuat senang hati emban Soka. Emban Soka dalam hati menyanjung Raden Pabelan, sudah wajahnya tampan, suaranyapun merdu, pantaslah di kaputrèn sering dibicarakan, dan banyak wanita banyak yang tergila-gila.
“baiklah tuanku, hamba tidak jadi membeli bunga di pasar, nanti bunga dari tuan hamba sampaikan pada tuan putri! ”
Raden Pabelan hatinya gembira, karena luapan hatinya yang tak terkendali, ia segera berlari pulang, untu memberitahukan pada ayahnya. Raden Pabelan sudah kembali ke Tumenggungan, dan menghadap ayahandanya. Dan dengan penuh tatakrama, duduk di depan Tumenggung Mayang.
“bagaimana anakku, apakah berhasil? “Tanya Tumenggung Mayang pada putranya.
“sudah ayah, bunga sudah hamba berikan pada utusan tuan putri, yang bernama emban Soka!” jawab Raden Pabelan.
Tumenggung Mayang, bertanya lagi “jika benar telah diterima, surat yang telah aku buatkan, maka tentu akan segera ada balasan darinya! “
***
Dalam pada itu, emban Soka yang telah menerima bunga dari Raden Pabelan, segera bergegas menuju kaputrèn da menyampaikanya kepada tuan Putri. Bunga sudah diterima, dan sang putri tahu kalau ada surat ditangkainya
Sastraadiguna




No comments:
Post a Comment