Gunung Gede, Asal Bahtera Nuh
Termasuk dalam salah satu mitos tentang bahtera Nuh adalah bahwa tidak ada yang tahu, kayu gofir itu kayu apa. Para ahli hanya menduga bahwa itu adalah kayu pinus, atau cypress (semacam cemara), atau cedar.
Kitab Kejadian 6:14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu GOFIR; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.Kayu gofir” hanya disebut satu kali di dalam Alkitab (Kej. 6:14). Beberapa ahli berpendapat bahwa istilah ini merupakan bacaan pengganti untuk kata Ibrani KOPHER, yang berarti ter atau DAMAR.
DAMAR (Wikipedia) = http://id.wikipedia.org/wiki/Damar_(pohon)
Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan ASLI INDONESIA. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina (Palawan dan Samar). Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. Damar tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.200 m dpl[2]. Namun di JAWA, tumbuhan ini terutama ditanam di PEGUNUNGAN
Kayu damar termasuk kayu yang mudah digergaji dan dikerjakan, apabila diserut menimbulkan permukaan yang licin dan mengkilap. Kayu damar dapat divernis dan setelah didempul dapat dipelitur sampai mengkilap. KKayu damar banyak digunakan sebagai bahan bangunan dibawah atap, perabot rumah tangga, BANGUNAN KAPAL (TIANG LAYAR), panel, barang bubutan (SUMBER : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25072/4/Chapter%20II.pdf)
Manfaat getah DAMAR
Getah tersebut biasa digunakan untuk cat, vernis spiritus, plastik, bahan sizing, pelapis tekstil, bahan WATER PROOFING (bahan anti air, sangat diperlukan untuk melapisi kayu kapal)
Beberapa kesimpulan yang kita peroleh :
- Damar / GOFIR adalah kayu asli Indonesia
- Damar sejak dahulu digunakan untuk pembuatan kapal layar yaitu tiang layar dan waterproof
- Getah damar biasa digunakan untuk melapisi kayu untuk keprluaan water proofing, sangat berguna untuk pembuatan kapal
- Bahtera Nuh dibuat di atas gunung, dimana bahan utamanya adalah damar yg tumbuh di gunung, ini bisa kita temui hanya di JAWA, bukan lokasi lain di Indonesia
Kaya akan keanekaragaman hayati.
Nuh tak mungkin dalam waktu singkat dan jumlah orang yang sedikit, yaitu dikatakan hanya 70 orang yang beriman, mengumpulkan ragam flora dan fauna dari tempat2 yang berjauhan. Hal ini diperkuat fakta bahwa Gunung Gede memang terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis di antaranya merupakan burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan celepuk jawa (Otus angelinae).
Keanekaragaman ekosistemGunung Gede memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari formasi-formasi hutan submontana, montana, subalpin; serta ekosistem danau, rawa, dan savana. Apa perlunya aneka ragam ekosistem ini? Karena contoh flora dan fauna yang dibawa bahtera ini nantinya akan dikembangbiakkan di beragam ekosistem yang berbeda setelah banjir mereda. Ini memang misi Nuh untuk mengembalikan bumi sebagaimana semula.
Alun-alun Suryakencana
Salah satu keunikan Gunung Gede yang sangat jarang dimiliki oleh Gunung lainnya adalah adanya lapangan seluas 50 Ha di ketinggian 2.750 meter. Tanah datar luas yang tertutupi oleh hamparan bunga Edelweiss ini disebut sebagai Alun-alun Suryakencana. Nuh butuh dataran ini untuk digunakan sebagai galangan kapal dalam proses membangun bahtera besarnya. Disini pulalah dibangun semacam taman mini tempat pengumpulan sementara tempat spesies hewan dan aneka flora sebelum dinaikkan ke bahtera. Sungguh mustahil Nuh membangun bahtera besar di sebuah gunung yang mempunyai lereng yang curam.
Syair Kuno
Mengenai Gunung Gede sebagai tempat asal bertolak, tempat bermula pengembaraaan ini tercatat dalam syair lagu Sunda guguritan baheula sebagai berikut:Gunung Gede siga nu nande, nandean ka badan abdi
Gunung Pangrango ngadago, ngadagoan abdi wangsul
nya wangsul ti pangumbaraan, kebo mulih pakandangan
nya mulang labuh ka puhu, pulangkeun ka Pajajaran
artinya adalah kurang lebih sebagai berikut:
Gunung Gede seperti mewadahi, mewadahi tubuh ini
Gunung Pangrango menanti, menanti aku kembali
menanti kembali dari pengembaraan, kerbau selalu pulang ke kandangnya
ya pulang kembali ke asal, kembali ke Pajajaran
Salaam
Tvespasianus




No comments:
Post a Comment