Inspirasi Tjoet Nja’ Dhien untuk Kita
Beberapa hari yang lalu, ketika mencari berita-berita seputar Indonesia versi Youtube, mata saya tersandung oleh judul sebuah film: Tjoet Njak Dhien. Full movie. Suatu berkah bagi saya. Sebuah film yang sejak SMP saya hanya mendengar beritanya dan melihat beberapa cuplikannya dalam acara Aku Cinta Buatan Indonesia TVRI jadul. Apalagi di pedesaan, saya tidak mengenal gedung bioskop. Jika ingin menikmati film layar lebar, saya harus jalan ke kota kecamatan untuk mendapati bioskop layar tancap alias misbar, jika gerimis bubar.
Saya benar-benar menikmati film ini. Bahkan saya merasa puas. Bukan karena semata-mata memperoleh sebuah hiburan gratis, tapi jauh lebih dari itu, saya merasakan getaran semangat setelah menontonnya. Film ini benar-benar ada rasanya. Ada beberapa hal yang menjadi catatan atas film ini.
Pertama, meskipun tidak mengerti soal-soal teori dan teknis sinematografi, saya dapat mengatakan bahwa penggarapan film ini dilakukan secara luar biasa. Dengan banyak menampilkan setting hutan, banyak adegan film ini sepertinya memang benar-benar dibuat dalam hutan. Sama sekali tidak ada kesan studio film, dan berbeda dengan Titanic-nya James Cameroon yang tak luput meninggalkan kesan studio. Demikian pula gerakan-gerakan atau gesture yang ditampilkan oleh para pemainnya benar-benar terasa alami. Detil-detil kecil ketika dimunculkan semakin menguatkan kesan seakan-akan memang beginilah suasana yang terjadi di masa perang Aceh yang sangat panjang itu. Membandingkan dengan film-film nasional yang lain, bahkan termasuk film yang fenomenal belakangan seperti Laskar Pelangi, secara subyektif saya berani mengatakan kualitas Tjoet Nja’ Dhien masih jauh melampaui. Kalau boleh mengatakan, karya Eros Djarot yang satu ini adalah film nasional terbaik yang pernah saya tonton. Saya baru menyadari mengapa film ini pernah begitu banyak memperoleh penghargaan.
Kedua, entah dorongan apa yang menggerakkan Eros Djarot untuk membuat film ini. Mengikuti dan menikmati cerita dari awal sampai akhir, film ini rupanya berhasil membawa saya terperosok pada suasana batin yang agak lain. Tidak saja saya merasakan kejengkelan, kemuakan, kemarahan, keinginan membalas dendam, tetapi juga saya merasakan bagaimana menjalani ketulusan, keikhlasan, semangat ilahiah, berani berbuat yang baik dan benar, berpikir jernih, bersikap arif, mempertahankan kehormatan. Saya tidak percaya dan tidak yakin, film ini dibuat semata-mata untuk memperoleh penghargaan demi penghargaan dan kebutuhan industri perfilman semata. Namun, lebih dari itu semua, entah apa. Hanya Eros Djarot yang tahu dan Allah yang lebih tahu.
Ketiga, film ini menceritakan ketangguhan seorang wanita pejuang. Dengan alur cerita yang simpel dan dialog-dialog yang mudah dipahami, termasuk dialog-dialog Belanda yang diberi subtitle Indonesia, film ini mampu menghadirkan sosok Tjoet Nja’ Dhien sebagai pribadi yang benar-benar tangguh. Pribadi yang menggetarkan setiap jiwa yang menghadapi, mulai dari para pengikutnya yang setia, pengkhianat, sampai para jenderal Belanda. Ketika melihat perwira Belanda melepaskan topi mereka di bawah hujan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pejuang pada akhir-akhir cerita, scene yang muncul tampak begitu alami dan terasa sangat wajar untuk menggambarkan apa yang para jenderal itu rasakan dan mereka harus lakukan. Sebuah adegan yang sangat indah, dan saya sangat menikmatinya sampai mengulang-ulangi menontonnya.
Yang menarik juga, Eros tidak melupakan sisi-sisi manusiawi Tjoet Nja’ di balik ketangguhannya. Adegan itu muncul ketika Tjoet Gambang yang merupakan putri Tjoet Nja’ meratapi kematian ayahnya, Teuku Umar. Sambil memangku kepala putrinya yang bersedih, Tjoet Nja’ berucap:
“…. Sebagai perempuan Aceh, pantang meneteskan air mata untuk orang yang telah syahid di medan perang,” sambil tangannya menyeka air mata yang meleleh di matanya. Dan air mata itu tak mengurangi Tjoet Nja’ sebagai perempuan Aceh yang tangguh.
Saya mencoba mengkonfirmasi kalimat ini, apakah semata-mata dramatisasi dalam film ini. Saya menjumpainya dalam artikel Wikipedia menunjukkan kalimat yang diucapkan tersebut kongruen dengan apa yang tertulis dalam sejarah (setidaknya dengan “kadar ilmiah” tingkat Mbak Wiki).
Sebuah kalimat yang menggetarkan jiwa.
Ketika membaca surat-surat Kartini, saya sangat mengagumi kemajuan berpikir wanita Jepara ini yang mendahului zamannya. Namun setelah menonton film ini, saya mencoba mengekplorasi tulisan-tulisan tentang Tjoet Nja’ Dhien. Lagi-lagi secara subyektif saya menganggap sosok Tjoet Nja’ Dhien jauh lebih mengagumkan. Pribadinya memancarkan kemajuan berpikir, keteguhan sikap, pembelaan kehormatan, kematangan strategi perang, konsistensi perjuangan, ketawakalan dan kepasrahan.
Jika bukan wanita tangguh dan sangat berpengaruh, di usianya menjelang 60 tahun, untuk apa pemerintah Belanda melakukan pengasingan terhadapnya dengan menjauhkannya dari Aceh untuk dibawa ke Jawa Barat dan hingga wafat di sana.
Bragg Rd. 01.45 - 07.05.13Mas Rozi




No comments:
Post a Comment