Fakta Sejarah Awal Masuknya Belanda Menjajah Nusantara

Dahulu Kerajaan Sunda Pajajaran adalah kerajaan yang makmur, damai, aman, sejahtera, tentram dan tanah yang subur tidak pernah menjajah dan tidak ingin dijajah. Akan tetapi dalam kesejahteraan itu ada salah satu kerajaan di pulau jawa yang ingin menguasai seluruh tatar sunda Pajajaran yaitu Majapahit. Majapahit terus saja berusaha ingin menguasai Pajajaran tapi tidak hasil, karena dari seluruh kerajaan di nusantara yang berhasil dikuasai majapahit, hanya kerajaan sunda pajajaran lah yang sulit di kuasai. Hingga akhirnya Majapahit hancur sendiri, karena banyak pemberontak di dalam kerajaan majapahit itu sendiri. Lalu berdiri kerajaan Demak jawa pada tahun 1500 oleh Raden Patah. Raden patah adalah bangsawan kerajaan Majapahit yang telah mendapatkan pengukuhan dari Prabu Brawijaya yang secara resmi menetap di Demak dan mengganti nama Demak menjadi Bintara. Namun tidak berhenti disitu misi untuk menguasai seluruh kerajaan sunda pajajaran, Demak akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan belanda, dengan syarat belanda boleh membangun benteng di jawa tengah. Disini lah awal mula belanda ide busuk belanda untuk bisa menguasai seluruh wilayah pulau jawa.
mendengar belanda dan demak akan menyerang pajajaran, raja sunda kala itu pada tahun 1512 dan 1521, Sri Baduga mengutus putra mahkota, Surawisesa, ke Malaka untuk meminta Portugis menandatangani perjanjian dagang, terutama lada, serta memberi hak membangun benteng di Sunda Kelapa/jakarta untuk menjaga keamanan negara pajajaran.
Portugis gagal untuk memenuhi janjinya untuk kembali ke Sunda Kalapa/jakarta pada tahun berikutnya untuk membangun benteng dikarenakan adanya masalah di Goa/India.
Perjanjian inilah yang memicu serangan tentara Kesultanan Demak ke Sunda Kelapa/jakarta pada tahun 1527 dan berhasil menguasai Sunda Kelapa/Jakarta pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal ini di kemudian hari dijadikan hari berdirinya Jakarta. Sebelumnya di tatar sunda seperti sunda kalapa/jakarta, cirebon, banten dan indramayu sudah banyak orang jawa yang transmigrasi dan berdagang disana, maka para pedagang itu pun yang ikut membantu demak dan belanda juga untuk merebut sunda kalapa dari kerajaan sunda pajajaran.
Lalu Demak dibawah pimpinan Belanda semakin menjadi-jadi dengan berhasilnya menguasai Banten dan Cirebon setelah berhasil merebut Sunda Kalapa/Jakarta. Kerajaan Sunda pajajaran semakin terpojok, karena Cirebon Banten dan Sunda/Kalapa yang merupakan pelabuhan terpenting untuk meminta bantuan sudah dikuasai demak dan belanda.
Akhirnya negara pajajaran hancur karena seluruh tatar sunda berhasil dikuasai demak. Lalu didirikan lah kesultanan Cirebon dan kesultanan Banten oleh orang-orang jawa agar semakin kuatnya pengaruh jawa serta kekuasaan kerajaan jawa di tatar sunda.
itu lah alasan mengapa cirebon, indramayu sunda kalapa/jakarta dan sebagian wilayah banten (tanggerang, cilegon, serang) sudah hilang kesundaannya karena didominasi orang jawa. Namun kerajaan demak pun sama seperti majapahit, hancur oleh pemberontak yang telah di hasut oleh belanda. satu persatu kerajaan-kerajaan bawahan demak mulai memberontak dan memisahkan diri. namun kesultanan banten dan kesultanan cirebon masih bertahan.
Lalu berdiri Kesultanan Mataram pada tahun (1588—1681) dan menguasai seluruh wilayah priangan tatar sunda. Pewaris kerajaan sunda pajajaran adalah kerajaan sumedang larang yang menguasai seluruh wilayah sunda priangan di bawah jajahan kesultanan mataram. kesultanan mataram sangat berpengaruh besar terhadap perubahan wiilayah sunda priangan, karena berhasil mempengaruhi bahasa jawa dan budaya jawa kepada orang sunda priangan. Maka orang sunda mengenal istilah bahasa undak-usuk dan pewayangan. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). pada saat itu Belanda masih sabar merencanakan siasat untuk menguasai seluruh nusantara agar bisa lebih leluasa menggeruk kekayaan alam nusantara khususnya di pulau jawa. VOC Belanda adalah saingan kesultanan mataram dalam bisnis perdagangan. mataram pernah memerangi VOC belanda di sunda kalapa untuk mencegah semakin berkuasanya firma dagang itu, namun ironisnya malah harus menerima bantuan VOC belanda juga, karena banyak kerajaan-kerajaan jajahan mataram yang ingin memberontak seperti kerajaan sumedang larangan, namun pemberontakan ini bisa dihentikan oleh kesultanan cirebon. dan akhirnya belanda pun semakin berkuasa dalam bisnis perdagangan dan Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung sudah menyadari bahwa belanda akan menjajah seluruh pulau jawa.
Lalu tanggal 12 Juli 1628, datang utusan Mataram ke Timbanganten (Tatar Ukur). Membawa surat tugas dari Sultan Agung, untuk memerintahkan Adipati Wangsanata atau disebut juga Wangsataruna alias Dipati Ukur, untuk memimpin pasukannya dan menyerbu VOC di Batavia membantu pasukan dari Jawa. Waktu itu bulan Oktober tahun 1628. Dalam surat tersebut ada semacam perjanjian bahwa pasukan Sunda harus menunggu Pasukan Jawa di Karawang sebelum nantinya bersama-sama menyerang Batavia. Tapi, setelah seminggu ditunggu ternyata pasukan dari Jawa tak juga kunjung datang sementara logistic makin menipis. Karena logistic yang kian menipis dan takut kalau mental prajurit keburu turun maka Dipati Ukur pun memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke Batavia menggempur VOC sambil menunggu bantuan pasukan dari Jawa.
Baru dua hari Pasukan Sunda yang dipimpin oleh Dipati Ukur berperang melawan VOC, pasukan Jawa datang ke Karawang dan mendapati bahwa Pasukan Sunda tak ada di sana. Tersinggung karena merasa tak dihargai, bukannya membantu pasukan Sunda yang sedang mati-matian menggempur VOC pasukan Jawa ini malah memusuhi Pasukan Sunda.
Ditengah kekalutan itu, datang utusan dari Dayeuh Ukur membawa surat dari Enden Saribanon yang merupakan istri dari Dipati Ukur yang mengabarkan bahwa para gadis sunda, istri-istri prajurit dan bahkan dirinya sendiri pun hampir diperkosa oleh panglima utusan Mataram dan pasukannya. Panglima dari Mataram itu sendiri ada di Dayeuh Ukur dalam rangka mengantarkan surat dari Sultan Agung dan begitu mendengar bahwa Dipati Ukur tak mengindahkan pesan dari Sultan Agung untuk menunggu pasukan Jawa di Karawang, para panglima ini kemudian melampiaskan kemarahannya dengan memperkosa gadis-gadis sunda dan juga merampas harta benda mereka.
Mendengar kabar itu, Dipati Ukur yang sedang berperang memutuskan untuk menghentikan perang dan kembali ke Pabuntelan (Paseurdayeuh Tatar Ukur, atau Baleendah - Dayeuhkolot sekarang). Dipati Ukur yang marah dengan kelakuan para utusan Mataram itu sesampainya di Pabuntelan langsung menghabisi para utusan Mataram itu. Sayangnya, dari semua utusan itu ada satu orang yang lolos dari kematian dan kemudian melapor kepada Sultan Agung perihal apa yang dilakukan oleh Dipati Ukur terhadap teman-temannya.
Dalam ‘Negara Kerta Bumi’ disebutkan bahwa salah satu watak Sultan Agung adalah jika memberi tugas kepada bawahannya itu tidaklah boleh gagal. Jika gagal maka sudah dipastikan bahwa yang bersangkutan akan dihukum mati. Maka, panglima Mataram yang lolos ini pun agar terhindar dari hukuman mati mengaranglah ia tentang kenapa pasukan Mataram bisa gagal menaklukan VOC. Semua kesalahan itu ditimpakan ke pundak Dipati Ukur. Sultan Agung pun murka karena bagaimana pun juga mundurnya Dipati Ukur dari medan perang merupakan kerugian besar bagi Mataram. Intinya, penyebab kalahnya Mataram adalah karena mundurnya Dipati Ukur. Oleh karenanya, Dipati Ukur dicap penghianat dan mau memberontak kepada Mataram. Jadi, karena Dipati Ukur dianggap memberontak maka Dipati Ukur pun oleh Sultan Agung pantas dihukum mati. Akhirnya Sultan Agung pun menyuruh Cirebon untuk menangkap Dipati Ukur hidup atau mati. Penumpasan Dipati Ukur itu dipimpin langsung oleh Tumenggung Narapaksa dari Mataram.
Dari kenyatan itu, Dipati Ukur kemudian sadar bahwa dirinya sejak sekarang harus menghadapi Mataram. Kekuatan pun di susun. Dipati Ukur mulai melobi beberapa bupati untuk juga melawan Mataram dan menjadi Kabupaten yang mandiri. Ajakan ini menimbulkan pro dan kontra. Sebagian ada yang setuju seperti Bupati Karawang, Ciasem, Sagalaherang, Taraju, Sumedang, Pamanukan, Limbangan, Malangbong dan sebagainya. Dan sebagian laginya tidak setuju. Di antara yang tidak setuju itu adalah Ki Somahita dari Sindangkasih, Ki Astamanggala dari Cihaurbeuti, dan Ki Wirawangsa dari Sukakerta.
Belum juga Dipati Ukur berhasil mewujudkan impiannya untuk mendirikan kabupaten mandiri yang lepas dari kekuasan Mataram tiba-tiba Bagus Sutapura, salah satu pemuda yang sakti mandraguna (putra dari bupati Kawasen, wilayah Galuh) yang merupakan algojo yang dimintai tolong oleh Tumenggung Narapaksa keburu datang untuk menangkapnya. Terjadilah pertarungan sengit antar keduanya (dikabarkan hingga 40 hari 40 malam). Setelah semua tenaga terkuras akhirnya Dipati Ukur pun dapat diringkus kemudian dibawa ke Cirebon untuk diserahkan ke Mataram. Dipati Ukur pun akhirnya di hukum mati di alun-alun Mataram dengan cara dipenggal kepalanya. Sepeninggal Dipati Ukur wafat, kekuasan Mataram di tatar Sunda pun kian kukuh. Bahkan di wilayah pesisir utara, banyak pasukan Mataram yang tak kembali lagi ke Mataram dan lebih memilih memperistri penduduk setempat dengan cara paksa. Untuk memenuhi kebutuhan hidup para prajurit ini kemudian banyak yang membuka lahan sawah terutama di daerah Karawang, berbeda dengan kebiasaan masyarakat Sunda waktu itu yang umumnya berkebun. Mungkin, inilah yang pada akhirnya sampai sekarang Karawang terkenal dengan sawahnya dan menjadi salah satu lumbung padi di pasundan

Jadi sejarah ini bisa disimpulkan, bahwa belanda bisa menguasai dan menjajah nusantara gara-gara si beruk tamil.
SH

No comments: