Hafez al-Assad—Ayah Bashar?
HAFEZ al-Assad, lahir 6 Oktober 1930, meninggal 10 Juni 2000 pada umur 69 tahun, adalah Presiden Suriah untuk tiga kali masa jabatan. Ia digantikan anaknya, Bashar al-Assad yang menjabat sejak tahun 2000 hingga saat ini.
Lahir dari keluarga Syiah Alawite pada 6 Oktober 1930, Hafez menjadi anggota Angkatan Udara Suriah dan merupakan anggota pendiri Partai Ba’ath yang membuatnya mengambil posisi yang menguntungkan menyusul kudeta di Suriah pada 1966. Kemudian ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Berbagai macam intrik politik baik di Timur Tengah maupun di dalam negerinya membuat Assad naik ke atas panggung kekuasaan penuh sebagai Perdana Menteri Suriah, posisi yang menjadi sangat kuat di tahun berikutnya saat ia diangkat sebagai Presiden Suriah.
Haffez al-Assad memantapkan dirinya sebagai faktor penentu dalam politik dalam negerinya serta di kawasan “panas” Timur Tengah. Ia memilih menentang mayoritas negara-negara Arab dimana Suriah berpihak kepada Iran dalam Perang Iran Irak (1980-1988). Antipatinya terhadap Iraq berlanjut ketika Iraq digempur Amerika pada Perang Teluk I di tahun 1991. Amerika sendiri sangat menghargai sikap dan bantuan Hafez.
Meskipun antara Irak dengan Suriah memiliki kesamaan politik dan sama-sama menggunakan Partai Ba’ath yang mengagungkan Nasionalisme dan Sosialisme Arab, ia memiliki konflik panjang dengan Presiden Saddam Hussein yang juga pimpinan Partai Ba’ath di Irak.
Hafez mengambil sikap mnoderat dalam tahun-tahun terakhir pemerintahannya, yang didapatkannya pada penerimaan kembali sedikit Dataran Tinggi Golan dari Israel, walau ia tak pernah membuat persetujuan damai dengan Israel.
Untuk Amerika, Hafez al-Assad sangat penting. Misalnya misalnya Hafez menjadi tokoh kunci dalam pembebasan sandera pesawat maskapai penerbangan TWA dari Amerika Serikat di Beirut yang dibajak kelompok gerilyawan pada tahun 1984.
Sekalipun Hafez al-Assad mengambil kebijakan pro-Iran dalam perang Iran-Irak, Assad mendapat dukungan bantuan ekonomi, dan finansial untuk kepentingan militernya oleh Negara-negara Arab sekalipun politiknya bertentangan. Alasan yang diambil Negara Arab tersebut adalah karena memerlukan negara yang dianggap kuat secara militer dalam menghadapi Israel, setelah Mesir yang justru mengadakan perjanjian damai dengan Israel. Ketika itu tidak banyak yang tahu kalau Hafez merupakan seorang penganut agama Syiah.
Di masa pemerintahannya, Suriah benar-benar dibawa ke dalam pemerintahan diktator militer dengan rezim Partai Ba’athnya. Suriah sendiri bertindak represif terhadap kelompok gerakan Islam yang dianggap Partai Ba’ath, merupakan ancaman utama bagi kekuasaannya. Sehingga pada masa kekuasaannya, Hafez al-Assad melakukan tindakan represif pada kelompok Islam militan.
Pada 1979, terjadi serangan terhadap sekolah kader militer di Aleppo dan kantor Partai Ba’ath. Pihak yang dituduh melakukannya ialah kelompok dakwah Ikhwanul Muslimin. Tak hanya itu, kelompok gerakan Islam ini berdemo besar-besaran dan melakukan aksi boikot di Hama, Homs, dan Aleppo pada Maret 1980.
Dengan alasan inilah Hafez al-Assad lebih ketat dalam melaksanakan kebijakan represifnya terutama terhadap kelompok dakwah Islam seperti Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin. Tidakan kekerasan politiknya ini memuncak dalam peristiwa pembantaian Hama di awal 1980-an.
Hafez mati, digantikan oleh anaknya Bashar yang tak kalah bengisnya dalam menumpas kaum Muslimin. Dalam dua tahun terakhir, Bashar al-Assad disebut-sebut sudah menumpahkan lebih dari 60.000 nyawa dan darah kaum Muslimin di Suriah. Jumlah itu hampir setara dengan pembantaian Israel di Palestina selama 60 tahun lebih. [sa/islampos/wikipedia]




No comments:
Post a Comment