Mengenang Sastrawan Abdullah Arif
Abdullah Arif dilahirkan pada 17 Agustus 1922 di Desa Dayah Tuha, Kecamatan Sakti, Pidie. Ayahnya Muhammad Arif Sufi adalah seorang pemuka agama di kampungnya dan keturunan dari Syekh Jalaluddin Lam Gut, seorang ulama Aceh yang mengarang kitab Tanbihul Ghafilin. Ibunya, Nyak Aminah, seorang perempuan yang masih keturunan ulama-ulama Tiro yang secara terus-menerus melawan Belanda.
Sebagaimana layaknya putra-putri Aceh lainnya, Abdullah Arif mendapatkan dasar-dasar pengetahuan agama dari ibunya yang juga berprofesi sebagai guru mengaji (gure seumebeuet) di rumahnya. Ketika telah berusia 8 tahun, ia mulai belajar secara formal dan sekolah formal pertama yang ia tempuh adalah Inlandsche Volkschool (Sekolah Dasar Rakyat). Setelah menamatkan pendidikan di sekolah ini, Abdullah Arif melanjutkan studinya di Perguruan Islam Tgk. Abdul Wahab Seulimum, Aceh Besar. Semasa belajar di sekolah ini, Abdullah Arif mulai menunjukkan bakat mengarangnya. Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Normal Institut di Bireuen. Tidak lama kemudian, ia berangkat ke Jakarta dan menjadi mahasiswa pada Universitas Ibnu Khaldun. Tidak lama belajar di sini, ia melanjutkan pendidikannya di IAIN Ar-Raniry dan berhasil meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1965 pada jurusan dakwah.
Berkat ketekunan, kedisiplinan, dan kerja kerasnya, Abdullah Arif selanjutnya diberi kesempatan melanjutkan pendidikan ke tingkat Magister (S2) di Universitas Al-Azhar Kairo. Menjelang akhir hayatnya, Abdullah Arif sedang menyiapkan disertasi untuk mendapatkan gelar doktor dalam bidang yang sama dan dari universitas yang sama. Ia menguasai beberapa bahasa asing dengan baik, seperti bahasa Arab, Inggris, Jepang, Belanda, dan Perancis.
Abdullah Arif sosok dengan banyak bakat. Berbekal kemampuannya menguasai bahasa asing dengan baik, berbagai kegiatan dan aktifitas dapat ia masuki. Pengetahuannya yang dalam tentang Islam dan keyakinannya yang kuat terhadap Allah merupakan pondasi Abdullah Arif dalam memasuki berbagai pekerjaan yang ia geluti. Dengan demikian, ia dikenal sebagai ulama, dosen, administrator, wartawan, perwira, dan sastrawan Aceh produktif. Dari tangannya lahir buku-buku hikayat berbahasa Aceh yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan dan penguatan akidah.
Sebagai pengarang, tulisannya muncul pertama kali di surat kabar Atjeh Sinbun ketika dia remaja dan sedang belajar di Perguruan Islam Tgk. Abdul Wahab Seulimum. Sejak itu, Abdullah Arif terus aktif menulis. Pada tahun 1942, Abdullah Arif diterima sebagai wartawan koran lokal dan kariernya dalam bidang kewartawanan terus menanjak. Karena menguasai bidang kewartawanan, ia selanjutnya bekerja pada Jawatan Penerangan Aceh di Banda Aceh, Biro Politik Kabinet Menteri Penerangan di Jakarta, dan juga pernah memangku jabatan sebagai ahli tata usaha/Sekretariat Kabinet Menteri Penerangan di Jakarta.
Sebagai sosok yang pernah mengecap banyak pendidikan keagamaan, pengetahuan agama Abdullah Arif tidak diragukan lagi. Sejak muda, ia sudah aktif pada organisasi Pemuda Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Karena keulamaannya pula, dia masuk dalam jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh pada 1969. Jika kita membaca karya sastranya, baik yang berupa pantun maupun hikayat, karyanya tersebut sarat dengan pesan-pesan agama.
Sisi yang unik dari Abdullah Arif adalah jalur yang ia gunakan dalam mendidik masyarakat tidaklah sama dengan beberapa tokoh Aceh lainnya. Dengan kata lain, sebagian besar tokoh Aceh lainnya menyebarkan pengetahuan dan mendidik masyarakat dengan cara mendirikan lembaga pendidikan atau dayah. Abdullah Arif berbeda, keulamaannya menonjol dalam menyebarkan pengetahuan dan mendidik masyarakat melalui tulisan-tulisan, baik berupa buku dan dalam bentuk pantun dan hikayat maupun dalam bentuk artikel lepas di berbagai media. Terlepas dari itu, ia pernah membangun sebuah Madrasah Ibtidaiyah di kampung halamannya, di Langga. Melihat banyaknya buku-buku hikayat yang ditulis oleh Abdullah Arif sehingga terlihat bahwa sosok sastrawannya lebih menonjol. Ia mampu menyampaikan pesan-pesan agama dalam bahasa yang mudah dimengerti khalayak, terutama lewat pantun. Ia beranggapan, dengan bahasa seperti ini, masyarakat akan mudah mencerna dan menerima pesan-pesan agama Islam.
Banyak karya sastra yang telah ia torehkan, di antaranya: Nasib Aceh, Seumangat Aceh, Panton Muda-muda, Panton Aneuek Miet, Syair Kerukunan Rakyat Aceh, dan lain-lain.
Salah satu hikayatnya yang sarat dengan pesan-pesan agama berjudul Hikayat Penganten Baro. Dari judulnya terlihat bahwa hikayat ini berbicara tentang akhlak orang yang akan dan baru memulai membina rumah tangga. Demikian pula dalam salah satu pantun nasihat yang ia tulis dalam buku Panton Atjeh (Panton Ureung Tuha) adalah: Mangat-mangat boh pisang abin//Bu leukat boh drien nyang leubeh rasa//Ketika kaya ingat keugasin//Oh jan meusekin bek ro ie mata.
Dalam pada itu, Abdullah Arif banyak mengarang hikayat yang berkaitan dengan cinta terhadap masyarakat Aceh agar hidup rukun dan tidak bersengketa. Abdullah Arif amat sedih melihat peristiwa cumbok dan pemberontakan DI/TII di mana rakyat banyak menjadi korban. Dalam salah satu syairnya ia menulis: Ureung meularat rakyat ka phangphoe//Sabe keudroe-droe meuseunoh teuga/ /Deungon Belanda gohlom seuleuso//Deungon bangsa droe tapeudong da’wa.
Masyarakat yang ia dambakan adalah masyarakat yang hidup dalam damai sejahtera. Salah satu syairnya yang bercerita tentang ini adalah: Ureung seumeubeut jeuep-jeuep meunasah// Ureung jak meudrah jeuep-jeuep ulama//Nyang jak hareukat dumpat pih mudah//Hase geulangkah ban saboh donya.
Keberhasil Abdullah Arif dalam bidang sastra tidak terlepas dari peran sang istri, Aminah, yang juga dikenal sebagai seorang penyair Aceh. Lewat berbagai karya sastranya, ia menempatkan kedalaman pengetahuan dan kecintaan yang tinggi kepada Islam. Dia kembali ke Sang Pencipta pada 6 Januari 1970 dan dikebumikan di Desa Lam Gut, Aceh Besar. ***
Sudirman
Penulis adalah PNS pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh-Sumut
Sebagaimana layaknya putra-putri Aceh lainnya, Abdullah Arif mendapatkan dasar-dasar pengetahuan agama dari ibunya yang juga berprofesi sebagai guru mengaji (gure seumebeuet) di rumahnya. Ketika telah berusia 8 tahun, ia mulai belajar secara formal dan sekolah formal pertama yang ia tempuh adalah Inlandsche Volkschool (Sekolah Dasar Rakyat). Setelah menamatkan pendidikan di sekolah ini, Abdullah Arif melanjutkan studinya di Perguruan Islam Tgk. Abdul Wahab Seulimum, Aceh Besar. Semasa belajar di sekolah ini, Abdullah Arif mulai menunjukkan bakat mengarangnya. Dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Normal Institut di Bireuen. Tidak lama kemudian, ia berangkat ke Jakarta dan menjadi mahasiswa pada Universitas Ibnu Khaldun. Tidak lama belajar di sini, ia melanjutkan pendidikannya di IAIN Ar-Raniry dan berhasil meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1965 pada jurusan dakwah.
Berkat ketekunan, kedisiplinan, dan kerja kerasnya, Abdullah Arif selanjutnya diberi kesempatan melanjutkan pendidikan ke tingkat Magister (S2) di Universitas Al-Azhar Kairo. Menjelang akhir hayatnya, Abdullah Arif sedang menyiapkan disertasi untuk mendapatkan gelar doktor dalam bidang yang sama dan dari universitas yang sama. Ia menguasai beberapa bahasa asing dengan baik, seperti bahasa Arab, Inggris, Jepang, Belanda, dan Perancis.
Abdullah Arif sosok dengan banyak bakat. Berbekal kemampuannya menguasai bahasa asing dengan baik, berbagai kegiatan dan aktifitas dapat ia masuki. Pengetahuannya yang dalam tentang Islam dan keyakinannya yang kuat terhadap Allah merupakan pondasi Abdullah Arif dalam memasuki berbagai pekerjaan yang ia geluti. Dengan demikian, ia dikenal sebagai ulama, dosen, administrator, wartawan, perwira, dan sastrawan Aceh produktif. Dari tangannya lahir buku-buku hikayat berbahasa Aceh yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan dan penguatan akidah.
Sebagai pengarang, tulisannya muncul pertama kali di surat kabar Atjeh Sinbun ketika dia remaja dan sedang belajar di Perguruan Islam Tgk. Abdul Wahab Seulimum. Sejak itu, Abdullah Arif terus aktif menulis. Pada tahun 1942, Abdullah Arif diterima sebagai wartawan koran lokal dan kariernya dalam bidang kewartawanan terus menanjak. Karena menguasai bidang kewartawanan, ia selanjutnya bekerja pada Jawatan Penerangan Aceh di Banda Aceh, Biro Politik Kabinet Menteri Penerangan di Jakarta, dan juga pernah memangku jabatan sebagai ahli tata usaha/Sekretariat Kabinet Menteri Penerangan di Jakarta.
Sebagai sosok yang pernah mengecap banyak pendidikan keagamaan, pengetahuan agama Abdullah Arif tidak diragukan lagi. Sejak muda, ia sudah aktif pada organisasi Pemuda Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Karena keulamaannya pula, dia masuk dalam jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh pada 1969. Jika kita membaca karya sastranya, baik yang berupa pantun maupun hikayat, karyanya tersebut sarat dengan pesan-pesan agama.
Sisi yang unik dari Abdullah Arif adalah jalur yang ia gunakan dalam mendidik masyarakat tidaklah sama dengan beberapa tokoh Aceh lainnya. Dengan kata lain, sebagian besar tokoh Aceh lainnya menyebarkan pengetahuan dan mendidik masyarakat dengan cara mendirikan lembaga pendidikan atau dayah. Abdullah Arif berbeda, keulamaannya menonjol dalam menyebarkan pengetahuan dan mendidik masyarakat melalui tulisan-tulisan, baik berupa buku dan dalam bentuk pantun dan hikayat maupun dalam bentuk artikel lepas di berbagai media. Terlepas dari itu, ia pernah membangun sebuah Madrasah Ibtidaiyah di kampung halamannya, di Langga. Melihat banyaknya buku-buku hikayat yang ditulis oleh Abdullah Arif sehingga terlihat bahwa sosok sastrawannya lebih menonjol. Ia mampu menyampaikan pesan-pesan agama dalam bahasa yang mudah dimengerti khalayak, terutama lewat pantun. Ia beranggapan, dengan bahasa seperti ini, masyarakat akan mudah mencerna dan menerima pesan-pesan agama Islam.
Banyak karya sastra yang telah ia torehkan, di antaranya: Nasib Aceh, Seumangat Aceh, Panton Muda-muda, Panton Aneuek Miet, Syair Kerukunan Rakyat Aceh, dan lain-lain.
Salah satu hikayatnya yang sarat dengan pesan-pesan agama berjudul Hikayat Penganten Baro. Dari judulnya terlihat bahwa hikayat ini berbicara tentang akhlak orang yang akan dan baru memulai membina rumah tangga. Demikian pula dalam salah satu pantun nasihat yang ia tulis dalam buku Panton Atjeh (Panton Ureung Tuha) adalah: Mangat-mangat boh pisang abin//Bu leukat boh drien nyang leubeh rasa//Ketika kaya ingat keugasin//Oh jan meusekin bek ro ie mata.
Dalam pada itu, Abdullah Arif banyak mengarang hikayat yang berkaitan dengan cinta terhadap masyarakat Aceh agar hidup rukun dan tidak bersengketa. Abdullah Arif amat sedih melihat peristiwa cumbok dan pemberontakan DI/TII di mana rakyat banyak menjadi korban. Dalam salah satu syairnya ia menulis: Ureung meularat rakyat ka phangphoe//Sabe keudroe-droe meuseunoh teuga/ /Deungon Belanda gohlom seuleuso//Deungon bangsa droe tapeudong da’wa.
Masyarakat yang ia dambakan adalah masyarakat yang hidup dalam damai sejahtera. Salah satu syairnya yang bercerita tentang ini adalah: Ureung seumeubeut jeuep-jeuep meunasah// Ureung jak meudrah jeuep-jeuep ulama//Nyang jak hareukat dumpat pih mudah//Hase geulangkah ban saboh donya.
Keberhasil Abdullah Arif dalam bidang sastra tidak terlepas dari peran sang istri, Aminah, yang juga dikenal sebagai seorang penyair Aceh. Lewat berbagai karya sastranya, ia menempatkan kedalaman pengetahuan dan kecintaan yang tinggi kepada Islam. Dia kembali ke Sang Pencipta pada 6 Januari 1970 dan dikebumikan di Desa Lam Gut, Aceh Besar. ***
Sudirman
Penulis adalah PNS pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh-Sumut




No comments:
Post a Comment