Sepenggal Kenangan di Benteng Somba Opu
Benteng Somba Opu dibangun awal abad XIV Benteng Somba Opu pernah tenggelam. Tertimbun tanah, entah berapa lama menjelang suatu operasi eskavasi dilakukan yang dipimpin Dr.Mukhlis Paeni. Suatu ekskavasi besar-besaran dilakukan ketika Prof.Dr.A.Amiruddin menjabat Gubernur Sulawesi Selatan selama dua periode antara tahun 1983-1988 dan 1988-1993. Saya masih ingat suatu hari, ajudan Gubernur Sulsel Faisal kalang kabut mencari saya. Saya tidak tahu mengapa Pak Amir, begitu beliau kami orang-orang dekatnya biasa menyapa, mencari saya sepenting itu.
Pak Amir tahu persis, saya bermarkas di Unhas. Tetapi beliau maklum, saya nyambi sebagai wartawan Pedoman Rakyat sejak tahun-tahun awal beliau memimpin Unhas (1973 s.d 1982). Saya memang lebih dekat dengan beliau dalam kapasitas sebagai wartawan dibandingkan kebanyakan wartawan lainnya di Makassar pada masa itu. Soalnya, selain sebagai wartawan, saya pun staf Humas Universitas Hasanuddin. Jadi boleh dikatakan, saya adalah ‘agen’ wartawan Pedoman Rakyat yang berstatus pegawai negeri. Posisi ini tidak menjadi masalah bagi saya, baik bagi petinggi Pedoman Rakyat sendiri maupun bagi Unhas.
Saya akhirnya ditemukan. Saya masih ingat Kepala Biro Humas Pemprov Sulsel Rusdin Abdullah yang sangat dekat dengan wartawan, akhirnya mengontak saya. Belum ada telepon selular kala itu. Kontak melalui orang saja yang menginformasikan bahwa saya dicari oleh Pak Amir.
Pada hari dan jam yang ditentukan harus ‘melapor’ ke Pak Amir, saya muncul di Gubernuran Makassar, kediaman resmi Gubernur Sulsel. Seperti biasa, saya selalu hadir lebih awal beberapa puluh menit sebelum jam H yang ditetapkan. Saya sangat maklum disiplin waktu Pak Amir. Dan, semua orang yang pernah berinteraksi dengan beliau maklum benar dengan disiplin on time beliau. Pada saat awal-awal beliau menjabat Rektor Unhas, banyak orang yang kecele. Pak Amir biasa membuka acara pada pukul 07.00 atau pukul 07.30, saat belum begitu banyak orang, terutama panitia pelaksana berada di lokasi acara. Pak Amir tidak pusing. Beliau akan muncul lebih awal sebelum jam H itu. Saat waktu membuka acara tiba, Pak Amir akan menyampaikan kata-kata sambutan untuk membuka kegiatan tersebut meski tanpa laporan Ketua Panitia kegiatan yang belum kelihatan batang hidungnya. Orang kemudian sangat tahu, setelah peristiwa itu tidak akan pernah ada orang yang terlambat jika acara dibuka Rektor Unhas.
Pak Amir tidak terbiasa menggunakan jasa sekretaris atau pembawa tas. Semuanya beliau lakukan dan kerjakan sendiri. Begitu pun begitu turun dari kendaraan dinas Rektor Unhas DD 13 Kingswood warna merah, tidak terbiasa dijemput da nada orang yang mengambil tasnya. Beliau sendiri menenteng tas dan berjalan bergegas masuk ke ruang kerjanya.
Masih soal disiplin waktu ini, banyak wartawan Sulsel yang menyertai perjalanan ke daerah Pak Amir, awal-awalnya juga kelabakan ditinggalkan lantaran terlambat tiba di Gubernuran, tempat titik start ke daerah. Namun, belakangan para wartawan maklum bahwa mereka tidak dapat bermain jam karet jika mengikuti perjalanan dinas Pak Gubernur.
Ada kenangan saya dengan beliau soal waktu ini. Kala itu, kami menggunakan bus Pemda Provinsi Sulsel ‘’Toddopuli’’ mengunjungi Kabupaten Bone guna menghadiri peringatan Hari Pendidikan Nasional Tingkat Sulawesi Selatan yang dipusatkan di Watampone. Sehabis salat lohor kami meninggalkan Gubernuran Makassar. Mobil hanya dua, bus berisi Gubernur dan stafnya beberapa orang dan juga Kak Andi Mattalatta yang waktu itu jika tidak salah menjabat sebagai anggota DPR RI dan juga orang Bone. Tentu saja, rombongan diantar mobil Patroli Jalan Raya (PJR) – voorijders – yang dikemudikan Nurdin dan Sukirman. Rombongan bergerak melalui jalur selatan, via Bulukumba. Rupanya, Pak Amir ingin menginap di Kota Dingin Tanete dan pagi-pagi meluncur ke Bone.
Subuh hari 2 Mei 1992 (jika tidak salah, merupakan acara Hardiknas terakhir bagi Pak Amir selaku Gubernur Sulsel) saya pergi menunaikan salat subuh di Masjid Raya Tanete. Sehabis salat, saya bertemu dengan Ayahanda Umar (mertua saya, adik ayah dari istri saya yang memang orang Bulukumba). Ayahanda Umar mengajak saya ke rumah di Jl.Langsat yang memang selalu saya tandangi pada kesempatan tertentu.
‘’Saya tidak boleh lama, karena sama-sama rombongan Pak Gubernur dan menuju Bone pukul 06.00,Tata Umar,’’ bisik saya ketika duduk menikmati kopi hangat di kota dingin tersebut.
Sebab, saya tahu pasti, harus hadir sebelum pukul 06.00 di Pasanggrahan Tanete, tempat kami menginap. Pada pukul 06.00 ditetapkan waktu keberangkatan ke Watampone melalui Sinjai. Ternyata 15 menit sebelum jam keberangkatan ajudan sudah kalang kabut mencari saya. Soalnya, jam keberangkatan tinggal menghitung menit. Lima menit sebelum keberangkatan, saya muncul.
‘’You dari mana, Lan?,’’ sapa Pak Amir melihat saya nongol.
‘’Habis bersilaturahim dengan mertua, Pak Amir!,’’ sahut saya.
‘You punya mertua ada di mana-mana. Di Wajo juga ada,’’ katanya lagi mengingat ketika kami melakukan lawatan terakhir ke Tana Toraja menggunakan pesawat dan pulang naik mobil mampir di Sengkang. Saya juga memberitahu Pak Amir, saya memiliki mertua di Sengkang, karena ibu dari istri saya memang orang Sengkang.
;;Hampir saja ditinggalkan,’’ kata ajudan ketika mobil Mercedes hijau meluncur meninggalkan Tanete.
‘’Yang penting, tahu jam keberangkatan dan disiplin waktu,’’ sahut saya.
Saya sengaja mengungkapkan kembali kenangan ini untuk mengingatkan kembali betapa disiplin waktu Pak Amir tidak dapat ditawar-tawar. Kini, rasa-rasanya disiplin waktu ini sudah susah dipertahankan banyak pejabat. Dalam berbagai acara selalu terlambat. Tetapi kalau hendak berangkat menggunakan pesawat terbang, pejabat kita tidak pernah mau terlambat yang berisiko ditnggalkan pesawat. Tetapi pejabat selalu saja memperoleh dispensasi terlambat, meski hanya beberapa menit.
‘’Hanya satu kegiatan saja yang membuat orang berusaha mati-matian dating tepat waktu. Apa itu? Acara buka puasa,’’ kata Asdar Muis RMS dalam salah satu ‘Kolom Udara’-nya di Radio Celebes FM.
Tanpa Helm
Saya tiba di Gubernuran dengan perlengkapan ‘perang’ sebagai wartawan. Membawa sebuah kamera Canon Ftb (masih menggunakan rol, pastinya – ngutip kata-kata klise sang MC dan penyiar salah satu radio FM di Makassar yang membuat saya bosan mendengarnya). Menggunakan mobil Toyota kanvas DD 1 warna hijau, kami meninggalkan lokasi parkir di depan pintu masuk rumah jabatan. Di atas mobil ada Pak Amir, duduk di depan, saya duduk di belakang bersama Pak Tadjuddin, staf protokoler Pemprov.
Mobil melaju menuju Kompleks Patompo. Di situ ada penyeberangan menggunakan sampan. Jaraknya tidak sampai 10 meter, tetapi harus menggunakan sampan, karena air agak dalam.
‘’Awas You punya kamera,’’ tegur Pak Amir saat hujan rintik menetes tipis ketika kami menyeberangi Sungai Jeneberang.
Di tepi sungai di seberang sudah menunggu Arief Hasan, Camat Tamalate, Makassar. Dia menyiapkan sebuah sepeda motor untuk Pak Amir yang kemudian membonceng padanya. Saya menumpang sepeda motor lainnya yang dibawa oleh seseorang yang saya sudah lupa namanya. Saya mengangkat kamera dan memotret pemandangan langka. Gubernur Sulawesi Selatan dibonceng sepeda motor. Pemandangan ini tentu saja merupakan foto berita yang menarik dan saya abadikan dengan baik.
Tiba di kantor setelah mengunjungi lokasi persiapan eskavasi Benteng Somba Opu saya membuat beritanya pada malam hari. Tiba pada masalah foto, terjadi diskusi yang a lot antara saya dengan redaktur yang bertugas. Foto yang saya tawarkan, ya, pemandangan Pak Amir lagi dibonceng sepeda motor. Diambil dari belakang. Setelah diteliti dengan cermat, foto menarik ini memiliki kekurangan. Bukan nilai dan komposisi fotonya, melainkan sisi security-nya. Pak Amir tidak mengenakan helm ketika dibonceng sepeda motor. Redaksi menolak memuat foto tanpa helm yang terpasang di kepala Pak Amir. Masalahnya, pada tahun yang sama (1986) terjadi demonstrasi penolakan pemakaian helm yang meminta korban beberapa orang tewas di Makassar. (Aparat keamanan tidak pernah mengaku ada korban tewas, tetapi Radi Australia mewartakan ketika itu ada beberapa orang tewas). Keputusan redaksi, berita dimuat tanpa foto. Bagaimana mungkin memuat foto yang dapat saya bias. Saya pun tidak mengambil foto cadangan. Soalnya ketika itu turun hujan lebat, saya hanya mencari selamat agar tidak basah kuyup dengan kamera.
Abad XV
Setelah 27 tahun berlalu dari peristiwa menyeberang dengan sampan di Sungai Jeneberang itu, 20 September 2013, saya hadir lagi untuk kesekian kalinya. Kali ini bersama, Gina Song, Yena Ko, Jung Yerin, dan Mina Yu, empat mahasiswa Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) yang belajar bahasa Indonesia selama satu semester di Fakultas Ilmu Budaya Unhas didampingi beberapa mahasiswa saya yang penduduk lokal . Di papan di dekat tembok kokoh dari bata asli benteng, saya menyimak informasi tentang benteng bersejarah ini.
Baruga Somba Opu
Awalnya, BSO tidak diketahui bentuknya seperti apa. Pasalnya, secara arkeologis dindingnya belum teridentifikasi, terutama dinding di sebelah utara. Namun hasil stilasi Francois Valentijn dan disempurnakan kembali oleh Bleau dalam sebuah peta berangka tahun 1638. Peta ini mengungkapkan, BSO berbentuk segi empat panjang. Di dalamnya terdapat istana raja, rumah para bangsawan, pembesar, dan pegawai istana kerajaan yang dikelilingi tembok lingkar tinggi dan tebal dilengkapi persenjataan.
Kediaman para bangsawan dan kerabat raja terletak di bagian utara, dibelah dua oleh sumbu jalan utama yang membujur utara selatan. Di sebelah utara menempel pada dinding luar terdapat pasar. Jalan utama tersebut berpotongan melintang dari arah timur ke barat. Masjid terletak di samping bagian tengah kompleks. Dengan sebuah jalan lainnya yang melintang dari barat timur yang mengarah ke arah barat. Tempat tinggal raja terdapat di bagian barat selatan, berdekatan dan sejajar dengan dinding benteng sebelah barat.
Setiap bangunan memiliki halaman masing-masing yang dikelilingi oleh pagar kecil. Di luar benteng terdapat tempat tinggal para prajurit dan keluarganya, saudagar, dan para pendatang dari berbagai suku bangsa. Di bagian utara benteng terdapat bangunan perwakilan dagang bangsa Portugis. Belanda membuka kantor perwakilan dagangnya pada tahun 1613, Spanyol 1615, sementara China dan Denmark baru membuka perwakilan dagangnya tahun 1618.
Di sebelah timur benteng terdapat Kampung Mangalekanna yang dihuni orang-orang Melayu. Orang Bugis-Makassar menempati daerah-daerah di sekitar benteng. Para petani yang mengerjakan sawah kerajaan tinggal di Kampung Bontoala.
Sesuai hasil pemetaan Suaka SPS Sulselra tahun 1986 luas benteng ini 113.590 m2, Secara geografis, benteng berada pada 05.11.36 Lintang Selatan dan 119.24.10 Bujur Timur terletak di Desa Sapiria Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa sekarang.
Bangunan benteng terbuat dari bata berbagai ukuran batu padas. Pada bagian tertentu terdapat tanah isian yang tidak teratur. Ketebalan batu bata berkisar antara 200-300 cm. Pada sisi timur dan selatan batu bata berukuran ketebalan antara 300-400 cm. Di sebelah barat terdapat bekas istana Maccini Sombala dengan dinding yang sangat tebal. Dari tempat inilah raja memantau para pedagang, lalu lintas kapal, arus bongkar muat barang, dan penarikan bea masuk pelabuhan.
Kawasan BSO oleh Pak Amir dihajatkan sebagai Taman Miniatur Sulawesi. Di sinilah dibangun berbagai model rumah adat suku-suku yang ada di Pulau Sulawesi. Namun yang baru terwujud adalah rumah adat suku-suku di Sulawesi Selatan, yakni Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan dan juga Sulawesi Barat (kini) membangun masing-masing sebuah rumah adat, sehingga ada rumah adat milik Kabupaten Soppeng, Tana Toraja, Mamuju, dan sebagainya. Sayang, beberapa di antara rumah-rumah adat itu kurang terawat, terutama yang bangunannya terbuat dari kayu berkualitas rendah.
Tampaknya, obsesi Pak Amir menjadikan tempat ini sebagai salah satu obyek wisata, kurang terwujud di masa sekarang. Jelas sekali, aspek pemeliharaan terhadap berbagai sarana dan prasarana di kawasan ini sangat sulit ditangani. Seusai bergambar di depan rumah adat Toraja, seorang lelaki setengah umur mengarahkan saya yang membawa rombongan mengisi buku tamu. Sehabis mengisi buku tamu, dia menunjuk ke sebuah kotak kecil yang bertulis ‘’Sumbangan Biaya Pemeliharaan’’.
Di ujung jembatan dari arah masuk, juga seorang lelaki menghadang mobil yang saya kemudi.
‘’Sepuluh ribu,’’ kata salah seorang pria, juga setengah umur, setelah melongok penumpang mobil lewat pintu sebelah kiri pengemudi.
‘’Boleh minta karcisnya,’’ pinta saya.
‘’Ada di motor,’’ jawabnya lalu berjalan di belakang mobil saya.
‘’Kok, di simpan di motor?,’’ gumam saya, sembari curiga inilah model korupsi kecil-kecilan yang dilakukan orang-orang kecil, sama dengan para juru parkir yang berseragam oranye. Yang ini lebih parah lagi. Jadi juru parkir bermodalkan seragam lengkap tulisan macam-macam, tetapi tidak pernah menempel karcis di kaca mobil, Jika karcisnya diminta, kalau tidak dijawab ‘’habis’’, ada di sepeda motor. Kalau anak kecil yang mengenakan baju juru parkir yang kedodoran, lebih kacau lagi. Saat ditanya karcis jawabannya ‘’dibawa bapakku’’.
‘’Kasih juga Pemerintah Kota biar sedikit, Pak,’’ begitu biasa saya timpali ketika membayar ongkos parkir di pinggir jalan bernilai Rp 1.500 dengan selembar uang Rp 2.000. Begitulah potret pemasukan daerah versi urusan pemarkiran.
Kehadiran water boom di kawasan BSO yang sempat menimbulkan polemik dan kini sudah beroperasi dan diharapkan menarik wisatawan, ternyata juga belum terpenuhi. Pemandangannya adem-adem saja. Sarana jalan ke BSO masih perlu memperoleh perhatian ekstra jika lokasi peninggalan sejarah ini hendak ‘dijual’. Ataukah kita lebih senang ‘menjual’ obyek tersebut dengan wajah apa adanya? (M.Dahlan Abubakar).




No comments:
Post a Comment