Jati diri Aceh dari Keurajeuen Lhee Sagoe
Kerajaan Aceh berabad-abad berjaya dengan sistem pemerintahan segi tiga. Ini diadopsi dari kerajaan hindu yang kemudian disempurnakan. Mirip pola otonomi daerah dan negara federasi.
Majalah The Atjeh edisi Oktober 2013
Majalah The Atjeh edisi Oktober 2013
BERDIRI di puncak bukit Lamteuba, Lamreh, Masjid Raya, Aceh Besar, mata bebas menyorot seluruh penjuru angin. Dari ujung barat terlihat gelombang ombak menggoda teluk. Ada lidah pelabuhan Krueng Raya menjulur menjilat laut. Sementara di sepanjang pantai, bulir-bulir riak berbuih putih seakan menggumul pasir.
Berpaling ke selatan, gugusan perbukitan membujur laksana benteng tempat Gunung Seulawah gagah menampakkan puncaknya. Sebelah timur, tersembul bukit berkarang tampak berundak-undak.
Memandang ke utara terbentang hamparan luas Selat Melaka yang mengepung Pulau Weh. Diramaikan burung mengepakkan sayap menggelitik bayu yang ditingkahi lambaian nyiur. Angin mendesau, kadang menyemilir, kerap juga bertiup kencang. Terasa nyaman.
Suasana seperti itulah yang kami rasakan pada akhir September 2013. Terpesona keindahan alam membuat kaki enggan beranjak. Apalagi bukit-bukit itu tak hanya menawarkan keindahan, juga menyimpan cerita penting tentang sejarah Aceh.
Berjarak sekitar 36 kilometer dari kota Banda Aceh, areal ini terletak di sisi kiri Jalan Krueng Raya. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit mengendarai kendaraan roda empat yang dipacu rata-rata 60 km/jam.
Hanya jalan setapak yang bisa dilewati satu mobil menuju ke kaki bukit. Berbatu. Setelah itu ada semak belukar yang harus dilalui saat mendaki.
Tiba di puncak berasa berdiri di pos penjagaan kota pinggir pantai. Semua aktivitas di bawahnya terawasi dengan mudah.
Bahkan undakan yang di sana-sini terdapat batu mirip tembok kokoh seperti menegaskan bukit ini adalah bangunan kuno yang menyimpan rahasia sejarah. Kesan itu makin kuat sebab ada bebatuan tertata rapi seperti susunan dinding. Sebagian besar tatanan tertimbun tanah ditumbuhi rumput liar di kawasan gersang yang mirip atap gedung terlantar.
Beragam tembikar berserak di sela-sela batu kapur. Di antaranya diduga terbuat dari tanah liat berwarna coklat kemerah-merahan, ada juga berbahan keramik hijau muda dan kuning agak gelap. Beberapa tembikar berhias lukisan ornamen bunga.
Pecahan beling itu tak hanya di puncak bukit, tetapi berserak di hampir seluruh area hingga ke jalan setapak. Kami juga menemukan batu nisan berukir kaligrafi Arab dipadu ornamen bunga.
Terkubur tepat di kaki kami berpijak, kepingan-kepingan inilah yang meriwayatkan Kerajaan Lamuri yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Aceh. Kerajaan ini kelak dikenal dengan Aceh Lhee Sagoe yang merujuk pada bentuk segitiga sama sisi. Pada masa kerajaan Aceh, pola pemerintahan sekaligus sistem pertahanan ini kembali diadopsi dalam sistem Mukim.
Bagaimana sistem pemerintahan Lhee Sagoe ini melindungi Aceh? Apa hubungannya dengan Srilanka? Mengapa pula arsitek Kamal Arief menyebutnya sebagai jati diri orang Aceh? Temukan jawabannya di majalah The Atjeh edisi Oktober 2013.[]
Berpaling ke selatan, gugusan perbukitan membujur laksana benteng tempat Gunung Seulawah gagah menampakkan puncaknya. Sebelah timur, tersembul bukit berkarang tampak berundak-undak.
Memandang ke utara terbentang hamparan luas Selat Melaka yang mengepung Pulau Weh. Diramaikan burung mengepakkan sayap menggelitik bayu yang ditingkahi lambaian nyiur. Angin mendesau, kadang menyemilir, kerap juga bertiup kencang. Terasa nyaman.
Suasana seperti itulah yang kami rasakan pada akhir September 2013. Terpesona keindahan alam membuat kaki enggan beranjak. Apalagi bukit-bukit itu tak hanya menawarkan keindahan, juga menyimpan cerita penting tentang sejarah Aceh.
Berjarak sekitar 36 kilometer dari kota Banda Aceh, areal ini terletak di sisi kiri Jalan Krueng Raya. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit mengendarai kendaraan roda empat yang dipacu rata-rata 60 km/jam.
Hanya jalan setapak yang bisa dilewati satu mobil menuju ke kaki bukit. Berbatu. Setelah itu ada semak belukar yang harus dilalui saat mendaki.
Tiba di puncak berasa berdiri di pos penjagaan kota pinggir pantai. Semua aktivitas di bawahnya terawasi dengan mudah.
Bahkan undakan yang di sana-sini terdapat batu mirip tembok kokoh seperti menegaskan bukit ini adalah bangunan kuno yang menyimpan rahasia sejarah. Kesan itu makin kuat sebab ada bebatuan tertata rapi seperti susunan dinding. Sebagian besar tatanan tertimbun tanah ditumbuhi rumput liar di kawasan gersang yang mirip atap gedung terlantar.
Beragam tembikar berserak di sela-sela batu kapur. Di antaranya diduga terbuat dari tanah liat berwarna coklat kemerah-merahan, ada juga berbahan keramik hijau muda dan kuning agak gelap. Beberapa tembikar berhias lukisan ornamen bunga.
Pecahan beling itu tak hanya di puncak bukit, tetapi berserak di hampir seluruh area hingga ke jalan setapak. Kami juga menemukan batu nisan berukir kaligrafi Arab dipadu ornamen bunga.
Terkubur tepat di kaki kami berpijak, kepingan-kepingan inilah yang meriwayatkan Kerajaan Lamuri yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Aceh. Kerajaan ini kelak dikenal dengan Aceh Lhee Sagoe yang merujuk pada bentuk segitiga sama sisi. Pada masa kerajaan Aceh, pola pemerintahan sekaligus sistem pertahanan ini kembali diadopsi dalam sistem Mukim.
Bagaimana sistem pemerintahan Lhee Sagoe ini melindungi Aceh? Apa hubungannya dengan Srilanka? Mengapa pula arsitek Kamal Arief menyebutnya sebagai jati diri orang Aceh? Temukan jawabannya di majalah The Atjeh edisi Oktober 2013.[]




No comments:
Post a Comment