Harta Karun Aceh dan Pesan Penjaganya
Dokumen Abanggeutanyo. Buatan Jerman. Made in GERMANI
Setelah dihebohkan oleh penemuan sejumlah benda antik milik VOC dan kepingan uang Dirham emas jaman Kerajaan Aceh di kampung Pande, beberapa waktu lalu, Yadi, seorang pemuda yang pernah mengajak penulis melihat lokasi temuan benda antik tempo doeloenya di sekitar keraton Aceh di pesisir pantai Banda Aceh dan Aceh Besar, kini kembali mengajak penulis untuk membuktikan hasil temuan di pesisir Banda Aceh.
Lokasi yang dikunjungi kali ini adalah kampung Baru, Kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh. Daerah pesisir ini hanya 10 Kilometer dari pusat Banda Aceh.
Setelah makan siang di atas balai-balai darurat kami meneruskan ekspedisi ke arah pantai
Pada hari Minggu 17 Nopember 2013, pukul 13.15 kami tiba di salah satu perumahan penduduk setempat. Setelah mendapat izin, perjalanan jalan kaki kami teruskan ke sekitar tambak perikanan tradisional milik warga setempat.
Di sana ada dua lelaki paruh baya yang sedang mengerjakan pembendungan kembali kolam ikan mereka yang tergerus air laut pasang.
Kami sempat bertukar informasi sejenak menanyakan maksud kedatangan dan tujuan apa ke lokasi tersebut.
Setelah mendapat penjelasan dan makan siang nasi bungkus di lokasi tersebut, ditemani salah satu ketua pemuda setempat (sebut saja weldi) bersama penulis dan Yadi (Pemuda yang mengantar penulis ke lokasi sebelumnya) menyusuri hutan pohon cemara di tepian pantai.
Suasana mendadak hujan lebat tapi tak mengurangi hasrat dan semangat menyusuri hutan cemara yang kelihatannya semakin eksotis diguyur hujan berawan mendung saat itu.
Setelah melalui satu kilometer ke arah pantai terlihat lapangan rumput yang luas. Dari sini perjalan diteruskan hingga bertemu sisa pohon cemara berikutnya dan semak belukar liar ditepi pantai.
Keluar dari semak belukar langsung terlihat hamparan laut lepas tempat bertemunya Samudra Hindia dan Selat Malaka.
Diantara jalan setapak yang terlewati terlihat banyak kepingan keramik aneka bentuk dan aneka botol dengan berbagai ukuran serta kuburan-kuburan tua dengan batu nisan berukiran gaya arab. Selain itu, terlihat batu-batu berbentuk bulat ukuran besaran 3 kali ukuran bola kaki menyembul di sana-sini.
Yadi dan Weldi dua pemuda yang sudah terbiasa berkunjung ke lokasi tersebut bercerita banyak kepada penulis tentang sejumlah temuannya mulai dari tahun lalu sampai 2 bulan yang lalu.
Mereka membawa penulis kebibir pantai yang sedang menutupi 100 meter hamparan bibir pantai. “Jika air surut, air laut ini akan surut sampai 50 meter dari bibir pantai,” kata Yadi dan Weldi. Biasanya air surut sekitar pukul 17.00 setiap sore. Sedangkan saat kunjungan dilakukan masih sekitar pulul 15.00 WIB.
Dokumen Abanggeutanyo
gelang-gelang mirip emas (sedang ditelusuri keasliannya); batu delima (rubi); bola batu ikan Pari; koin perak kerajaan Aceh, batu permata merah tua (lebih kecil dari Rubi) dan bijian bijian tasbih dari batu yang belum diketahui terbuat dari apa.
Weldi menceritakan sejumlah pengalaman unik beraroma mejik kepada penulis tentang peristiwa sejumlah warga desa yang terjun ke salah satu lokasi kuburan beberapa bulan setelah Tsunami.
Seorang warga desa itu bermimpi atau berhalusinasi lalu bercerita kepada temannya sehingga merasa perlu berkunjung ke lokasi. Warga itu bersama 4 orang temannya berkunjung ke lokasi dalam mimpinya lengkap dengan peralatan penyedot air, cangkul dan alat lainnya.
Bukan harta karun yang didapat. Ke lima warga desa tersebut -pada saat itu- secara bersamaan mengalami diare, sembelit teramat sangat sehingga menghentikan penggalian mereka meski tanah yang digali telah mencapai kedalaman 1 meter lebih pada posisi kuburan pada gambar ini.
Dok Abanggeutanyo
Weldi Cs berinisitaif menjaga kelestarian dan keamanan lokasi pantai tersebut sering berpergian seorang diri tengah malam hingga menjelang subuh untuk melihat apakah ada pihak-pihak yang mencoba merusak kelestaraian alam di sekitar itu dengan alasan mencari harta karun atau alasan bersemedi, cari wangsit atau aneka macam alasan lainnya.
Tak heran, Weldi sering mengalami kejadian demi kejadian aneh, akan tetapi ia sering mendapat “berkat atau barokah” dari kesabarannya menjaga lokasi tersebut.
Setiap ada kesulitan keuangan untuk sekadar dapur keluarganya ngebul, ia kadang terpanggil datang ke lokasi tersebut dan hasilnya pemuda tersebut membawa pulang beberapa macam benda-benda antik lalu beberapa diantaranya dijual kepada orang lain dengan harga sangat murah.
Weldi dan teman-temannya pernah melakukan penyelaman di sekitar pantai tersebut secara manual hingga kedalaman 6 meteran untuk mengambil sisa meriam sejenis Howitzer dan dikeluarkan isinya (mesiu berbentuk seperti lidi sepanjang 30 cm) untuk mengganti sebagai bahan peledak yang mulai langka untuk mencari ikan di terumbu karang sebelum mengetahui bahwa hal tersebut dapat merusak lingkungan dan kini sudah dilarang oleh Polisi Airud setempat.
Tak jarang warga desa menjadi korban di lokasi tersebut akibat tidak memahami betapa berbahaya menggergaji peluru meriam buatan tahun 1625 (tertera pada sebuah pelurunya) untuk mendapatkan kuningan seberat 10 kg dalam sebuah selonsong peluru meriam. Kuningan itu juga dijual ke beberapa tempat dengan harga sangat murah sektiar Rp.30 ribu per 10 kilogram (per biji).
Tak kurang 40 butir peluru meriam telah mereka dapatkan pasca tsunami hingga tahun lalu, kata salah satu teman Weldi lainnya di lokasi tersebut.
Weldi, Yadi dan dua temannya serta warga lainnya kini bertugas menjaga lokasi tersebut dari pihak-pihak pemburu harta karun yang mengatasnamakan organasi aneka bentuk dan tujuan.
Mencari harta karun sah-sah saja, tapi merusak lingkungan menjadi berantakan tentu tidak dibenarkan warga setempat karena selain merusak ekosistim juga merusak keindahan lokasi tersebut, bahkan akan merusak pepohonan penahan gelombang laut pasang bahkan jika terjadi Tsunami.
Perburuan harta karun dengan merusak alam dan lingkungan akan menganggu posisi situs dan ekosistim setempat sehingga lebih banyak merusak pemandangan dan keselamatan warga sekitar dibandingkan dengan manfaat memeperoleh harga karun di lokasi tersebut.
“Harta Karun tidak bisa diburu dan dipaksa mencarinya. Ia datang kepada siapa saja yang diberikan rezeki oleh Allah SWT dengan bersabar dan berhati bersih,” kata Weldi menutup pembicaraannya dengan penulis sore hari Minggu yang indah di pesisir Banda Aceh.
Temuan demi temuan harta karun, benda antik dan langka dapat membuka tabir hubungan kerjasama Aceh dengan dunia beberapa abad yang silam. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Aceh dan Kerajaan Aceh telah selangkah lebih maju dalam diplomasi, politik, maritim dan ekonomi pada zamannya.
Mengapa sekarang Aceh kesannya seperti terperangkap dalam kelesuan ekonomi dan seperti mundur beberapa langkah dalam menjaga adat dan budayanya? Meski fakta memerplihatkan banyak SDM unggul dan bermartabad sayangnya tak kalah banyak masih ada juga SDM yang kurang daya saingnya dibandingkan disiplin ilmunya.
Inilah tabir yang memberi pesan melaui temuan demi temuan benda antik dan bersejarah tersebut. Pesan itu adalah Aceh harus kembali bergema dan menggelegar martabadnya sebagai daerah yang memiliki SDM handal, Militan, Pekerja ulung, Pemikir Ulung, Taat Hukum dan Aturan, Taat Agama dan Syariat dan kembali menjunjung tinggi adat dan budayanya.
Semoga pesan-pesan dibalik temuan itu dapat terlaksana dengan baik sekaligus kelestarian alam di lokasi tersebut dapat terjaga dengan baik demi keselematan warga dan lingkungan juga demi mencapai identitasnya sebagai daerah yang berbudaya tinggi di segala bidang.
Salam
Abanggeutanyo




No comments:
Post a Comment