Menggali Hubungan Antara Suku Karo dan Suku Tengger


Kerajaan Haru adalah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara saat ini. Nama kerajaan ini pernah tersebut dalam Pararaton yang terkenal dengan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada. Dalam sumpahnya Gajah Mada menyebutkan bahwa dia akan melepaskan puasa setelah dapat mengelahkan beberapa kerajaan, dimana salah satu kerajaan yang disebutkan tersebut adalah kerjaan Haru.

Dari berbagai pendapat menyebutkan bahwa penduduk asli kerjaan Haru berasal dari suku Karo, salah satu suku yang masih dapat ditemui hingga kini, dan sekaligus menjadi suku asli wilayah Sumatera Timur atau dikenal dengan Sumatera Utara, khususnya di wilayah Kabupaten Karo, Kota Medan, Kabupaten Deliserdang, dan Kabupaten Langkat saat ini. Dugaan terkait penduduk asli Haru yang berasal dari suku Karo tersebut terungkap dalam Sulalatus Salatin, dimana nama para pembesar kerjaan Haru umumnya mengandung nama-nama dan marga suku Karo.

Berawal dari keinginan Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit untuk menaklukkan beberapa kerajaan yang ada di sekitarnya dan salah satunya adalah kerajaan Haru yang dipimpin oleh Maha Raja bermarga Sembiring Kembaren, maka semenjak tahun 1304 masehi, kerajaan Majapahit mulai menyerang kerjaan Haru, dimana peperangan tersebut berlangsung selama setahun, yaitu hingga tahun 1305 masehi.

Dalam peperangan yang berlangsung sengit tersebut, angkatan perang Haru dipimpin oleh 3 orang panglima besar, diantaranya adalah Panglima Perminak Sagi, Panglima Sijagat, dan Panglima Siperumang. Adapun ketiga panglima kerjaan perang dari kerajaan Haru ini disebutkan memiliki ilmu yang sakti, serta ahli dalam strategi perang, sehingga angkatan perang yang datang dari kerajaan Majapahit yang begitu besar tidak mampu untuk menaklukkan wilayah kerajaan Haru.

Keperkasaan bala tantara Haru yang dipimpin oleh tiga orang panglimanya dalam perang melawan Majapahit, membuat banyak korban berjatuhan dari pihak Majapahit. Adapun arena peperangan terbuka yang diperkirakan terjadi adalah pada alur-alur sungai Petani hingga ke daerah Penatapen (Sampuren Kulikap) di daerah Tahura Berastagi saat ini.

Dengan situasi perang yang banyak memakan korban dari pihak Majapahit, sehingga kerajaan ini tidak pernah mampu mengalahkan kerajaan Haru hingga akhir tahun 1305 masehi. Namun karena begitu besarnya bala tantara kerajaan Majapahit yang didatangkan untuk berperang melawan kerajaan Haru, membuat sebagian wilayah kekuasaan Haru dapat direbut oleh Majapahit, khususnya dibagian wilayah Alas-Gayo atau wilayah yang saaat sekarang ini dikenal dengan Kabupaten Aceh Tenggara. Berhasilnya kerajaan Majapahit menduduki wilayah Alas-Gayo, membuat kerajaan Haru secara keseluruhan mulai berantakan dan tercerai berai, meski secara utuh tidak pernah dapat terkalahkan oleh kerajaan Majapahit.

Bersamaan dengan itu, sebagian tentara kerajaan Majapahit yang selamat dari perang akhirnya dijadikan sebagai tawanan perang, dan sebagian diantaranya berbalik bergabung dengan pasukan Haru, dimana julukan mereka disebut juga dengan istilah “Jintera Majapahit si Ngelandih ku Haru” yang kemudian menyesuaikan diri dan masuk ke dalam sub merga-merga yang ada pada masyarakat Karo.

Sebaliknya sebagian tentara kerjaan Haru juga tertangkap dan dijadikan tawanan perang oleh pihak Majapahit. Umumnya bala tantara Haru yang dijadikan tawanan perang di bawa pulang ke Majapahit, dimana kemudian mereka ditempatkan dibeberapa tempat, khususnya di daerah lereng pegunungan Tengger (sekarang Jawa Timur), dan sebagian lagi di tempatkan di bagian lereng Gunung Merapi bagian Tenggara (sekarang kabupaten Klaten, Jawa Tengah), serta sebagian ditempatkan di lereng Gunung Merapi bagian Selatan (sekarang Kabupaten Sleman).

Sebagaimana umumnya tawanan perang, yang harus mengikuti keinginan penguasa saat itu, sehingga sebagian besar para tawanan dari kerajaan Haru berusaha untuk beradaptasi serta sekaligus menghilangkan jati diri mereka, dimana hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan dirinya. Namun beberapa orang yang di tawan didaerah pegunungan Tengger yang masih terisolasi tetap mempertahankan budaya asalnya, walaupun identitas jadi dirinya seperti marga sudah dihilangkan sama sekali.

Disamping itu beberapa orang tawanan asal kerajaan Haru masih tetap mempertahankan identitas jati dirinya, dengan membentuk dan menambah identitas baru pada identitas jati diri marganya dari daerah asalnya seperti Tarigan Jogja yang di tawan di daerah lereng Pegunungan Gunung Merapi di bagian selatan (sekarang kabupaten Sleman) Jogyakarta. Marga Tarigan Jogya adalah merupakan tawanan perang tentara kerajaan Majapahit pada akhir tahun 1305 Masehi, ketika usai perang Haru tersebut.

Dengan demikian, maka hingga saat ini di daerah pegunungan Tengger masyarakatnya masih sering melakukan upacara adat yang mirip sekali dengan upacara adat yang ada pada masyarakat suku Karo di Sumatera Utara, yaitu seperti halnya dalam upacara pemanggilan arwah (perumah Begu) yang persis sama, baik dari segi media-media yang di gunakan. Selain itu hingga saat ini masyarakat suku Tengger juga masih kerap melakukan ritual tradisi yang dikenal dengan istilah Hari Raya Karo atau tradisi Karo.


Bill Wong

No comments: