Motivator Cut Nyak Dhien Menjadi “Ratu Perang?”
Cut Nyak Dhien setelah ditangkap pasukan Belanda (Repro dari buku: Atjeh karya HC Zentgraff)
Seperti diceritakan M.H. Skelely Lulofs (1948) dalam buku “Cut Nyak Dhien: Kisah Ratu Perang Aceh,” ternyata Dhien kecil sudah sering menguping pembicaraan Teuku Nanta Setia (ayahnya) dengan tamu-tamunya. Dari pembicaraan itu, Dhien menyadari kejahatan kaum kaphee (Belanda) yang datang ke Aceh. Mereka berpura-pura sebagai sahabat, dibalik itu ada rencana jahat yang sedang mereka persiapkan.
Setelah Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga pada tahun 1858, ternyata mereka memiliki pandangan yang sama terhadap persoalan yang sedang dihadapi Kerajaan Aceh pada saat itu. Teuku Ibrahim Lamnga banyak memberi nasehat yang mampu menyejukkan hati Dhien yang sedang gelisah karena provokasi dan manuver politik pihak Belanda.
Setiap suaminya, Teuku Ibrahim Lamnga, pulang dari perjalanan, Dhien pasti menanyakan perkembangan pergolakan yang sedang terjadi antara orang-orang Aceh dengan pihak Belanda. Hebatnya, setelah suaminya menceritakan semua perkembangan yang terjadi, Dhien malah mengepalkan tangannya, gemas. “Dan Sultan? Apa lagi yang dinantikan Sultan? Ah, seandainya aku seorang laki-laki,” kata Cut Nyak Dhien seperti diceritakan Lulofs.
Pada saat Dhien meninabobokan putranya, tulis Lulofs, dia bersenandung sambil bertutur kepada anaknya. “Hai anakku, engkau adalah laki-laki. Ayahmu dan datukmu juga laki-laki. Perlihatkanlah keperkasaanmu. Orang kaphee (Belanda) hendak menjajah kita dan mengganti agama kita dengan agamanya, agama kafir. Sebudi akalmu dan sekuat dayamu pertahankanlah tanah Aceh. Belalah hak-hak kita, wahai anakku. Turutkanlah jejak ayahmu, Teuku Ibrahim Lamnga. Sekarang ia sedang mengumpulkan kawan-kawan untuk mengusir kaphee dari Tanah Aceh. Kau harus turut berjuang seperti ayahmu.”
Begitulah cerminan “bara” dan semangat juang yang menggelora dari tubuh Cut Nyak Dhien. Meskipun posisinya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga, dia tidak bisa menerima provokasi yang dilakukan pihak Belanda. Di era itu, jarang ditemukan kaum perempuan yang peduli dan mengikuti perkembangan politik di negerinya. Inilah yang membedakan Cut Nyak Dhien dan kaum perempuan lain di masa itu.
Manakala rasa geram ditambah “bara” yang makin menggelora dijiwanya, dia tidak tahu harus menumpahkan kemana. Disampingnya hanya ada sang putra yang sedang berada di ayunan. “Bara” itu kemudian disenandungkan oleh Cut Nyak Dhien, maka gelora itu ditumpahkannya kepada sang anak. Kemudian, ninabobo seperti yang disenandungkan Cut Nyak Dhien, sering disenandungkan ibu saat menidurkan anaknya. Bunyinya: Do da iding do da idang, beureujang rayeuk hai banta sedang….dst.
“Bara” dalam jiwa Cut Nyak Dhien tidak pernah padam meskipun suaminya Teuku Ibrahim Lamnga tewas dalam sebuah pertempuran di Celah Gle Tarum 29 Juni 1878. Beberapa waktu kemudian, Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Umar yang masih sepupunya. Kedua orang yang gagah berani ini melanjutnya perjuangan menghadapi Belanda, sampai akhirnya Teuku Umar gugur dalam sebuah pertempuran di Ujung Kalak, Meulaboh, 11 Februari 1899.
Pada akhirnya, Cut Nyak Dhien pun ditangkap serdadu Belanda pada tanggal 6 Nopember 1905. Kemudian, si “ratu perang” ini diasingkan ke Sumedang Jawa Barat. Begitu takutnya pihak Belanda terhadap pengaruh Cut Nyak Dhien yang waktu itu dalam keadaan buta, sehingga sosok perempuan perkasa itu harus diasingkan.
Syukri




No comments:
Post a Comment