‘Peng Aceh’
GAMPONG Pande heboh. Para pencari tiram beralih profesi setelah rekannya menemukan kepingan emas pada Ahad (10/11/2013). Ratusan perempuan dan pria rela berbasah-basah terjun ke sungai dengan kedalaman sepinggang orang dewasa. Tujuannya untuk mengail koin emas dalam sungai, lumpur dan rawa-rawa. Berharap bisa menemukan belasan koin ‘peng Aceh’ itu untuk ditukarkan ke mata uang rupiah, dengan nilai tukar mencapai Rp 500 ribu per satu koin emas.
Kini, kawasan di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh itu sudah dalam pengawasan pihak kompeten dari instansi terkait. Kita berharap, temuan koin emas itu bisa mengungkapkan hal-hal lama yang belum terbongkar. Sejarah Aceh masih banyak yang tersimpan di bawah karpet merah. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk menyibak hal tersebut.
Jika ditelusuri, kabar ditemukan koin emas bukanlah hal baru. Pada 1979, Rohani warga Kampung Paya Meuligoe, Peureulak, Aceh Timur, menemukan koin emas ketika sedang mencangkul di pekarangan rumahnya untuk menanam pisang wak. Benda sebesar kencing baju yang separuh wujudnya berkilau karena terkena sinar matahari. Uang dirham ini bertuliskan “La ilaha illallah” dan “Sultan Alaidin Syah”. Temuan itu menggegerkan warga sekitarnya bahkan seluruh warga Aceh lainnya pun berharap bisa menemukan harta karun warisan kerajaan Aceh itu.
Hal serupa juga terjadi di Pasai. Sejarawan T Ibrahim Alfian menyebutkan mata uang emas yang ditemukan di Pasai adalah mata uang emas pertama dan dianggap sebagai deureuham tertua. Mata uang emas itu dikeluarkan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malikal Zahir (1297-1326). Penggunaan uang emas juga digunakan pada masa Kerajaan Islam Darussalam yang sisanya sekarang ditemukan dalam Sungai Krueng Doi, Gampong Pande Banda Aceh.
Emas dan perak
Studi mata uang Aceh dilakukan oleh peneliti seperti KFH van Langen (1888), J Hulshoff Pol (1929), dan HKJ Cowan (1939). Menurut mereka, mata uang emas di Aceh lazim disebut dirham. Van Langen menegaskan nilai dirham mengenai perhitungan nilai emas dan perak serta mengenai ukuran dan berat di benua Timur disebutkan bahwa di Aceh 1 tail adalah 16 mas (derfiam). Satu ringgit Spanyol atau reyal atau ringgit meriam sama dengan 4 emas. Pada masa Sri Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675) adalah f. 0,625 (enam puluh dua setengah sen Hindia Belanda) dengan mutu 17 karat, ukuran 13 mm, berat 0.58 gram.
Dalam sistem pemerintahan Aceh, dirham adalah jenis mata uang emas. Di samping itu dikenal juga mata uang lain di Aceh yaitu kupang dan keueh. Kupang adalah mata uang perak yang kecil, 1 kupang setara dengan 400 keueh yang terbuat dari timah dan kuningan. Menurut J Kreemer ukuran mata uang emas Aceh 1 tail sama dengan 4 pardu, nilai mata uang Portugis, 1 pardu sama dengan 4 dirham, 1 dirham sama dengan 4 kupang atau 1 kupang sama dengan 400 keueh.
Pada masa jayanya Aceh, memakai mata uang dirham (emas) selaku alat pembayaran sah. Tujuannya untuk menghapus mata uang asing (terutama mata uang real Spanyol) yang beredar di Aceh dan menggantikannya dengan mata uang emas yang ditempa di Aceh. Bahkan dalam catatan Beualieu yang datang ke Aceh pada 1620, menyebutkan “seandainya dirinya membawa emas, pasti memberikan ladanya dengan harga yang berlaku di kota. Namun dalam perkembangannya pemberlakuan mata uang emas lambat-laun berkurang seiring masuknya penjajah ke Aceh.
Sejak awal, para ekonom pada masa jaya-jayanya Aceh tempo doeloe, menetapkan mata uang dirham ini sebagai alat tukar yang sah. Dari aspek perekonomian, dirham yang bahan bakunya dari emas sebagai alat transaksi perdagangan relatif lebih stabil. Buktinya, koin emas pada 5 abad lalu hingga kini berlaku dengan nilai jual relatif tinggi. Bayangkan jika warga menemukan mata uang koin 25 rupiah, yang terbuat dari tembaga, maka tidak ada toko emas yang mau membelinya, kecuali mungkin para kolektor uang.
Kesimpulan dari peneliti Belanda itu yakni pemimpin Aceh pada masa lalu secara cerdik telah menempatkan mata uang sebagai simbol kedaulatan negara. dengan kekuatan ekonomi yang tangguh, maka nilai mata Acehpun mampu bersaing dengan mata uang Spanyol. pada masa lalu, kehebatan Spanyol seperti Amerika Serikat sekarang, termasuk dalam aspek mata uang, ilmu pengetahuan dan kekuatan militer.
Mata uang Aceh dapat digunakan dalam perdagangan internasional. Kekuatan nilai mata uang adalah simbol kejayaan negara. Untuk masa kini, mata uang Dolar Amerika Serikat, Euro di Uni Eropa, Pound Sterling Inggris dan lain-lain adalah mata yang banyak digunakan di berbagai negara, gampang ditukar di negara mana serta nilainya relatif stabil dibandingkan dengan rupiah. Begitulah hebatnya mata uang Aceh pada masa kerajaan dulu. Aceh terakhir mencetak uang pada masa revolusi Indonesia sekitar 1945-1950.
Pelajaran penting
Pelajaran penting ditemukan koin emas di Gampong Pande dan berbagai wilayah di Aceh yakni memperlihatkan perekonomian. Aceh dulunya relatif lebih bagus. Bahkan dalam catatan sejarah Aceh, bumi Iskandar Muda ini pernah penyumbang emas sampai dua kapal penuh untuk membantu biaya operasional Masjidil Haram di Mekkah (Arab Saudi) pada 1688 Masehi.
Sumbangan tersebut, seperti pernah dicatat Snouck Hurgronje sewaktu melakukan perjalanan ke Haramain Saudi Arabia, sempat menggegerkan dunia Arab ketika itu hingga menjadi pembicaraan sampai awal abad ke-20.
Hanya kaum hartawan yang menyimpan koin emas. Pelajaran kedua, kebiasaan endatu kita menabung emas bukan rupiah patut dipelajari. Sebab harga emas dari masa ke masa cenderung naik. Jadi jangan heran, Cutpo, Cutkak, Miwa, Abuchik yang tinggal di Lukop, Beutong Ateuh dan pedalaman lain di Aceh, tidak perlu pusing kapan bisa berhaji. Barometernya jika sudah terkumpul 30 mayam emas, maka sudah bisa naik haji.
Dengan demikian, kita harapkan ada usaha serius pemerintah Aceh untuk menyelamatkan khazanah bangsa ini, agar cucu kita ke depan tidak lagi mengira bahwa sejarah kejayaan Aceh ini menjadi dongeng pada masa mareka. Semoga!
M. Adli Abdullah, SH, MCL, Pecinta Sejarah dan Budaya Aceh. Email: bawarith@gmail.com
Kini, kawasan di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh itu sudah dalam pengawasan pihak kompeten dari instansi terkait. Kita berharap, temuan koin emas itu bisa mengungkapkan hal-hal lama yang belum terbongkar. Sejarah Aceh masih banyak yang tersimpan di bawah karpet merah. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk menyibak hal tersebut.
Jika ditelusuri, kabar ditemukan koin emas bukanlah hal baru. Pada 1979, Rohani warga Kampung Paya Meuligoe, Peureulak, Aceh Timur, menemukan koin emas ketika sedang mencangkul di pekarangan rumahnya untuk menanam pisang wak. Benda sebesar kencing baju yang separuh wujudnya berkilau karena terkena sinar matahari. Uang dirham ini bertuliskan “La ilaha illallah” dan “Sultan Alaidin Syah”. Temuan itu menggegerkan warga sekitarnya bahkan seluruh warga Aceh lainnya pun berharap bisa menemukan harta karun warisan kerajaan Aceh itu.
Hal serupa juga terjadi di Pasai. Sejarawan T Ibrahim Alfian menyebutkan mata uang emas yang ditemukan di Pasai adalah mata uang emas pertama dan dianggap sebagai deureuham tertua. Mata uang emas itu dikeluarkan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malikal Zahir (1297-1326). Penggunaan uang emas juga digunakan pada masa Kerajaan Islam Darussalam yang sisanya sekarang ditemukan dalam Sungai Krueng Doi, Gampong Pande Banda Aceh.
Emas dan perak
Studi mata uang Aceh dilakukan oleh peneliti seperti KFH van Langen (1888), J Hulshoff Pol (1929), dan HKJ Cowan (1939). Menurut mereka, mata uang emas di Aceh lazim disebut dirham. Van Langen menegaskan nilai dirham mengenai perhitungan nilai emas dan perak serta mengenai ukuran dan berat di benua Timur disebutkan bahwa di Aceh 1 tail adalah 16 mas (derfiam). Satu ringgit Spanyol atau reyal atau ringgit meriam sama dengan 4 emas. Pada masa Sri Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675) adalah f. 0,625 (enam puluh dua setengah sen Hindia Belanda) dengan mutu 17 karat, ukuran 13 mm, berat 0.58 gram.
Dalam sistem pemerintahan Aceh, dirham adalah jenis mata uang emas. Di samping itu dikenal juga mata uang lain di Aceh yaitu kupang dan keueh. Kupang adalah mata uang perak yang kecil, 1 kupang setara dengan 400 keueh yang terbuat dari timah dan kuningan. Menurut J Kreemer ukuran mata uang emas Aceh 1 tail sama dengan 4 pardu, nilai mata uang Portugis, 1 pardu sama dengan 4 dirham, 1 dirham sama dengan 4 kupang atau 1 kupang sama dengan 400 keueh.
Pada masa jayanya Aceh, memakai mata uang dirham (emas) selaku alat pembayaran sah. Tujuannya untuk menghapus mata uang asing (terutama mata uang real Spanyol) yang beredar di Aceh dan menggantikannya dengan mata uang emas yang ditempa di Aceh. Bahkan dalam catatan Beualieu yang datang ke Aceh pada 1620, menyebutkan “seandainya dirinya membawa emas, pasti memberikan ladanya dengan harga yang berlaku di kota. Namun dalam perkembangannya pemberlakuan mata uang emas lambat-laun berkurang seiring masuknya penjajah ke Aceh.
Sejak awal, para ekonom pada masa jaya-jayanya Aceh tempo doeloe, menetapkan mata uang dirham ini sebagai alat tukar yang sah. Dari aspek perekonomian, dirham yang bahan bakunya dari emas sebagai alat transaksi perdagangan relatif lebih stabil. Buktinya, koin emas pada 5 abad lalu hingga kini berlaku dengan nilai jual relatif tinggi. Bayangkan jika warga menemukan mata uang koin 25 rupiah, yang terbuat dari tembaga, maka tidak ada toko emas yang mau membelinya, kecuali mungkin para kolektor uang.
Kesimpulan dari peneliti Belanda itu yakni pemimpin Aceh pada masa lalu secara cerdik telah menempatkan mata uang sebagai simbol kedaulatan negara. dengan kekuatan ekonomi yang tangguh, maka nilai mata Acehpun mampu bersaing dengan mata uang Spanyol. pada masa lalu, kehebatan Spanyol seperti Amerika Serikat sekarang, termasuk dalam aspek mata uang, ilmu pengetahuan dan kekuatan militer.
Mata uang Aceh dapat digunakan dalam perdagangan internasional. Kekuatan nilai mata uang adalah simbol kejayaan negara. Untuk masa kini, mata uang Dolar Amerika Serikat, Euro di Uni Eropa, Pound Sterling Inggris dan lain-lain adalah mata yang banyak digunakan di berbagai negara, gampang ditukar di negara mana serta nilainya relatif stabil dibandingkan dengan rupiah. Begitulah hebatnya mata uang Aceh pada masa kerajaan dulu. Aceh terakhir mencetak uang pada masa revolusi Indonesia sekitar 1945-1950.
Pelajaran penting
Pelajaran penting ditemukan koin emas di Gampong Pande dan berbagai wilayah di Aceh yakni memperlihatkan perekonomian. Aceh dulunya relatif lebih bagus. Bahkan dalam catatan sejarah Aceh, bumi Iskandar Muda ini pernah penyumbang emas sampai dua kapal penuh untuk membantu biaya operasional Masjidil Haram di Mekkah (Arab Saudi) pada 1688 Masehi.
Sumbangan tersebut, seperti pernah dicatat Snouck Hurgronje sewaktu melakukan perjalanan ke Haramain Saudi Arabia, sempat menggegerkan dunia Arab ketika itu hingga menjadi pembicaraan sampai awal abad ke-20.
Hanya kaum hartawan yang menyimpan koin emas. Pelajaran kedua, kebiasaan endatu kita menabung emas bukan rupiah patut dipelajari. Sebab harga emas dari masa ke masa cenderung naik. Jadi jangan heran, Cutpo, Cutkak, Miwa, Abuchik yang tinggal di Lukop, Beutong Ateuh dan pedalaman lain di Aceh, tidak perlu pusing kapan bisa berhaji. Barometernya jika sudah terkumpul 30 mayam emas, maka sudah bisa naik haji.
Dengan demikian, kita harapkan ada usaha serius pemerintah Aceh untuk menyelamatkan khazanah bangsa ini, agar cucu kita ke depan tidak lagi mengira bahwa sejarah kejayaan Aceh ini menjadi dongeng pada masa mareka. Semoga!
M. Adli Abdullah, SH, MCL, Pecinta Sejarah dan Budaya Aceh. Email: bawarith@gmail.com




No comments:
Post a Comment