Terhadap Jepang, Fakta Membuktikan Indonesialah Saudara Tua Mereka

Setelah pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Habour Hawai takluk oleh serangan Angkatan Udara Jepang pada 7 Desember 1941, secara kilat Jepang melakukan serangan-serangan ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang saat itu dalam penjajahan Belanda. Sehari setelah setelah peristiwa penaklukan ini Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Kekaisaran Jepang. Di mulailah perang pasifik antara Amerika Serikat dan sekutunya melawan Kekaisaran Jepang.

Perang Pasifik ini berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan bangsa Asia, terutama negara-negara Asia Timur termasuk Indonesia. Jepang menduduki Indonesia dengan mengalahkan Belanda sebagai penjajah pada 9 Maret 1942. Kemenangan Jepang terhadap Pemerintah Hindia Belanda waktu itu menggembirakan Indonesia. Salah satu propaganda Jepang yaitu bahwa Jepang adalah saudara tua, Indonesia menerimanya denga suka cita.

Hubungan Indonesia - Jepang, seperti hubungan Indonesia dengan negara lainnya juga mengalami pasang surut. Wikipedia mencatat dalam Sejarah Nusantara 1942 - 1945 bahwa masa pendudukan Jepang di Indonesia adalah yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Indonesia. Kebanyakan menilai masa pendudukan Jepang adalah masa-masa yang kelam dan penuh penderitaan. Akan tetapi tidak semuanya benar, ada kebijakan pendudukan Jepang yang memberikan dampak positif, terutama pembentukan nasionalisme dan pelatihan militer bagi pemuda Indonesia.

Kami berdua sepakat dengan masalah itu. Saya dengan teman saya, Hamada-san yang berasal dari Jepang. Yuji Hamada, itu nama lengkapnya. Beliau diperkenalkan kepada saya oleh Kotaro Kanda, seorang bisnisman Jepang tua yang tinggal di rumah saya selama kurang lebih setahun. Tahun 2005, Hamada-san saat itu adalah First Secretary yang mengepalai Pusat Informasi dan Kebudayaan dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta untuk Indonesia. Di suatu acara dinner di suatu restoran Nikko Hotel (sekarang Pullman Hotel) di Jakarta di tahun itu, Kanda-san memperkenalkan beliau kepada saya. Dari perkenalan itu sering kali kami bertemu dalam acara yang bertujuan mempererat hubungan Indonesia Jepang, baik itu di seminar maupun diskusi terbatas yang kami lakukan.

Hamada-san adalah sosok pribadi yang sopan, rendah hati dan supel. Tak jarang di waktu senggang setelah jam kantor kami berdiskusi bahkan sampai pagi..! Di antara bertiga sayalah yang paling muda, jadi saya sering menjadi pendengar setia diskusi. Ya memang mereka adalah “saudara tua” bagi saya. Pertemanan bukan antara diplomat dengan bisnisman, tetapi pertemanan kami lebih kuat nuansanya berdasar “people to people.” Jadi lebih akrab tanpa sekat.

Juga, beliau tak segan-segan menelepon hanya sekedar bertanya kabar, kadang kami berbicara lewat telepon sampai berjam-jam untuk bercerita tentang hubungan Indonesia - Jepang tidak hanya soal aspek perkembangan politik kedua negara, tetapi juga aspek yang lain seperti sejarah, ekonomi, sosial dan budaya. Beliau memang pandai ahli di bidang sejarah terutama Asia Timur, termasuk Indonesia. Pertemanan kami berlanjut saat beliau dipindahkan ke Taiwan tahun 2006, saya saat di Taipe beliau menjadi tuan rumah yang baik, bahkan saya mendapat kehormatan saat di bandara Taipe, beliau menjemput saya langsung di bandara, bak VIP. Selama tiga hari saya menjadi tamu beliau di Taipe. Buat saya ini termasuk tidak terlupakan.

Tahun 2011 setelah bertugas kembali di Tokyo Jepang selama dua tahun, beliau kembali lagi ke Indonesia menjadi Konsulate Jenderal Jepang di Medan. Kami pun sempat bertegur sapa melalui e-mail. Senang rasanya beliau kembali lagi ke Indonesia.

Sebagai ahli sejarah Asia, beliau suatu saat mengisahkan bahwa kawasan Nusanatara adalah titik persilangan perdagangan yang menimbulkan persilangan genotip paling tinggi di dunia. Ada kesamaan budaya pada negara-negara kawasan Asia Pasifik dan sejarah hibridisasi antar ras yang sedemikian kompleks di Indonesia, terutama antara ras Mongolid dan Austromelanesia. Lebih lanjut beliau mengungkap bahwa bangsa Asia merupakan keturunan Mongoloid yang tersebar ke utara dan selatan, dalam perkembangan selanjutnya keturunan ini menjadi bangsa dan negara di Asia Pasifik. Dengan memahami sejarah budaya Asia Pasifik yang saling terkait dan saling mempengaruhi, kita hendaknya melihat persamaan dan rasa persaudaraan itu akan semakin membuka dan menjadi dasar untuk memperkuat hubungan dan keserasian antar bangsa di Asia Pasifik di masa kini dan masa akan datang.

Bangsa Austronesia (arti harfiah Kepulauan Selatan) dahulu melintasi seluruh kawasan Samudera PAsifik dengan budaya yang berbeda. Bangsa ini mencakup Pulau Formosa, Kepulauan Nusatara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Mereka hidup secara damai selama ribuan tahun.

Kurang lebih setahun yang lalu, saya membaca berita di media massa online bahwa di Takengon, Ujung Karang ditemukan kerangka manusia yang berumur 7,000 tahun silam di Gayo lebih kuno dari Batak Sumatera Utara. Ini membuktikan ternyata ada kehidupan Melayu Kuno di Loyang, Takengon, Ujung Karang. Penemuan artefak dan ekofak kehidupan manusia prasejarah di Tanah Gayo oleh para Arkeolog Medan pimpinan Ketut Wiradnyana.

Hamada-san yang sedianya hanya berkunjung untuk melihat Nippon Koi yang sedang membangun PLTA, tetapi begitu mendengar penemuan benda bersejarah tersebut, beliau tertarik untuk melihatnya. “Saya terharu dengan adanya penemuan kerangka manusia yang berusia 7,000 tahun silam di Gayo lebih kuno dari Batak, Sumatera Utara, apalagi di Jepang yang hanya 2,000 tahun yang lalu,” komentar Hamada san. “Ini luar biasa sekali, temuan kehidupan pra-sejarah di Gayo bukan hanya menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Gayo (Aceh), tetapi secara kesuluruhan termasuk wilayah Asia Pasifik dan dunia,” begitu katanya. Hamada-san berjanji bahwa penemuan in akan disebarluaskan, bahkan diseminarkan.

Jadi Hamada-san, penemuan itu membuktikan bahwa bangsa Indonesia lebih dahulu dibanding bangsa Jepang. Kami lah saudara tua Jepang. Haiiikk, so desu..!!

*) Artikel ini saya persembahkan buat sahabat Kompasiana saya Agung Lumbantoruan.
**) Penulis adalah Jokowi Lover yang lebih cinta Indonesia. Saat ini sedang di Negara 1001 Pagoda.

Mas Wahyu

No comments: