Alkisah (Sebuah Kisah Lampau tentang Kehidupan Lalu)
Negeri itu gersang, yang bertebaran hanya pasir-pasir yang menyakiti mata. Di tengah gersangnya, kedua kerajaan besar yang saling berperang, menumpahkan darah demarah mengalir deras mengubah pasir menjadi bebatuan tanah merah. Pedang-pedang saling berhentak tang tang ! Berhantaman antar perisai. Para kuda saling berkikik menendang menghantam prajurit lawan. Bahkan pedang mampu menembus baju zirah yang berlapis itu. Di satu sisi ada pergerakan prajurit yang melamban, entah karena luka tusuknya, atau karena dia terhambat baju-baju zirah yang berlapis ia kenakan. Satu persatu prajuritnya berguguran, ada yang melarikan diri, selagi sempat. Ada pula yang berpura-pura mati, berharap gagak tidak ikut mematuknya.
Dan kemenangan pun diperoleh sang Rumawi, salah satu kerajaan itu. Sang kaisar mampu mengambil kembali kekalahan yang pernah mereka terima dari Persia, hinngga kini kemenangan sepenuhnya ada di Rumawi.
Berkali-kali berperang, ratusan kali dalam konflik perebutan kekuasaan, ribuan kali prajuritnya berguguran. Tak henti-hentinya, tak henti-hentinya melakukan ekspansi. Hingga pada akhirnya ada suatu keadaan dimana mereka memutuskan untuk genjatan senjata, dan melakukan kerjasama bilateral. Kemudian terjadilah hubungan antar kerajaan.
Di antara kedua belah pihak, yang memiliki kekuasaan. Ada satu tempat yang tak terjamah, tempat yang paling tandus dan tak terurus. Tidak ada yang akan bertahan untuk tinggal berlama-lama ke tempat itu. Kecuali satu wilayahnya,karena di sana ada pusaka bersejarah. Wilayah tanah tersebut tak menjadi rebutan dari sejoli kerajaan ini, tak menjadi sengketa pula, dan mereka terlihat sengaja menghindari untuk mendapatkan wilayah ini, karena memang tanahnya tiada guna, tidak menggiurkan untuk dihasilkan berbagai harta dunia. Dimana juga, konteks alam yang meliputi wilayah itu sangat panas, gersang dan tandus, tanaman yang hidup hanya kurma dan kaktus. Yang tak memiliki keuntungan yang berlipat ganda bagi si Raja-Raja. Konteks alam yang ganas, membuat para penduduknya menjadi ganas. Seringkali melakukan Ghozwahkepada para pengembara. Untuk melangsungkan hidup mereka, karena memang tak ada sumber alam lain yang bisa mereka makan, kecuali kurma dan unta. Mereka melakukan Ghozwah, merebut perbekalan, hewan dan harta para pengembara, dan juga melakukan ternak unta, karena mereka tahu, unta-unta tersebut akan segera habis. Makanan mereka hanyalah daging, karena tak ada sayur yang mampu tumbuh di sana. Membuat mereka menjadi lebih beringas dan bernafsu tinggi. Badan mereka besar-besar, karena memang alam memaksa mereka untuk bertahan hidup, alam yang ganas melatih tubuh mereka menjadi sangat kekar dan besar.
Perempuan yang lemah, hanya akan menjadi hambatan bagi para lelaki melangsungkan hidup. Karena yang memiliki fisik yang kuat dalam menghadapi kondisi alam yang bengas beringas, hanyalah laki-laki. Banyak sekali kasus pembunuhan bayi perempuan berlangsung, karena dipandang hanya bisa merepotkan kelangsungan hidup mereka saja.
Tanah itu, mereka namakan Tanah Arab. Tak sedikit pengembara yang enggan untuk tinggal di sana seorang diri. Tak akan mampu bertahan apabila sendiri. Begitu kau sendiri, tanpa sekelompok atau sekawananmu melindungi, kau akan habis. begitulah prinsip mereka dalam memandang tanah ini.
Walau banyak yang enggan yang tinggal di tanah ini, atau tak ada satupun raja yang mau menguasainya. Di sebuah sisi di tanah ini terdapat sekumpulan kehidupan, kehidupan yang mereka bangun, mereka saling bermasyarakat untuk membangun, di pusat kota yang mereka beri nama Makkah. Kenapa Makkah ini mampu begitu laris dikunjungi para pedagang? O o rupawan ada sebuah benda bersejarah yang mampu membuat mereka terdorong untuk kesana, melakukan ibadah suci. Ka’bah. Ka’bah? kenapa Ka’bah? ibadah yang mereka lakukan bukanlah ibadah haji, karena memang tradisi mengunjungi ka’bah ini sudah lama sekali mereka jalankan. Bahkan sebelum datangnya islam, berbagai agama datang bersembahyang di sana. Majusi, nasrani, yahudi, dan selainnya. Banyak patung berhala dari berbagai agama yang ada di dalam Ka’bah, Hubal, La Ta Uzamanah. Dan mereka menyembah patung-patung tersebut di bulan-bulan yang telah mereka tentukan. Dan pada saat bulan-bulan itu juga mereka melakukan prosesi perdagangan, dari berbagai penjuru wilayah sekitar tanah arab. Berporos menjadi satu titik temu.
Konon, Ka’bah ini didirikan oleh Nabi Ibrahim, sebagian mereka memanggilnya Abraham. Yakni, bapak dari banyak nabi. nabi-nabi yang membawa berbagai kitab, taurat, zabur, injil. Dimana dari berbagai agama, mereka menganut dan meyakini, dan mengakui merupakan pengikut dari nabi tersebut. Maka, datanglah mereka untuk melakukan ibadah di tempat suci yang dibangun oleh bapak dari banyak nabi.
Tapi budaya sudah menjadi budaya, alam yang ganas mampu membentuk para pribadi yang ganas. Banyak kejahiliyahan yang terjadi di tanah itu, perbudakan ras kulit yang menganggap ras kulit hitam sama seperti hewan, sungguh tidak manusiawi, dan sungguh menimbulkan kesenjangan sosial. Pembunuhan bayi perempuan, yang nantinya akan mengakibatkan manusia akan berkurang, dan semakin punah, karena manusia tidak bisa lestari tanpa adanya perempuan. Melakukan perjudian, atau kecurangan dalam timbangan berjualan, akan berdampak pada sistem ekonomi yang ada, sistem ekonomi yang seharusnya mampu menghidupi kelangsungan hidup mereka, namun menjadi tidak seimbang. Karena wanita tak dihormati, diperlakukan sewenang-wenang, dinikahi yang banyak kemudian ditelantarkan, disuruh menaristriptease, dilecehkan. Tak ada wanita yang merasa aman di kala itu, selain wanita-wanita yang sudah diposisikan di pangkat atas, seperti Hindun.
Kerusakan moral dimana-mana, sistem sosial tidak ada yang benar dan seimbang, pantas saja kedua kerajaan besar enggan menggandeng tanah itu di bawah kekuasaannya, karena selain wilayahnya yang tandus, para manusianya pun dalam keadaan jahiliyah, dalam keadaan yang rusak serusak-rusaknya, yang mana justru, jika mereka menggandeng wilayah itu, penduduknya malah akan merusak seluruh isi kerajaan dari dalam negeri. Dan tanah itu menjadi tanah bebas.Di tengah kerusakan moral masyarakat yang merajarela, menjamur, dan berkerak itu. Ternyata ada seorang pemuda yang baik parasnya, yang baik pula akhlaknya. Dia sudah lama ditinggal mati sang ayah, ketika sedang berada di dalam kandungan sang bunda. Pemuda tangguh ini telah mengawali hidup yang telah berdinamika. Bahkan untuk mendapatkan ASI yang memenuhi gizinya, dia harus berpindah-pindah tangan, karena memang pada saat itu Sang Bunda sedang mengalami kesulitan, hingga tak bisa memberikannya ASI. Kemudian menginjak angka terakhir di golongan balita, anak lelaki itu ditinggal oleh sang bunda, kemudian mengikut kakek, diasuhnya.
Abdul Muthalib, Sang kakek pun memasuki usia yang sudah mulai renta, tak bisa lagi mengasuh anak lelaki itu. Dalam dukanya, tetap bersabar, dan kemudian diasuhlah anak lelaki itu oleh sang paman, Abu Thalib. Diasuhnya, mengikutinya berdagang ke negeri syam, tumbuh menjadi pemuda yang tangguh. Pemuda yang pandai rajin dan ulet. Pemuda ini senantiasa jujur dalam melakukan perdagangan, hingga tak ada satupun pembeli yang merasa kecewa dengan pemuda ini.
Pemuda ini begitu terkenal akhlak baiknya, sampai dijuluki Al-Amin, yang dapat dipercaya. Seantero orang yang mengenalnya, mempercayaianya, karena dia memang mampu diberi kepercayaan.
Di tengah para pria yang lain hidup dalam gelimangan kejahiliyahan, kerusakan moral, seks bebas, minum-minum khamr. Pemuda ini lebih senang merenung, di atas bukit hira. Memperhatikan cahaya matahari terbit dan terbenam, membaca pergerakan alam yang penuh misteri dan tanya.
Tak menemukan jawaban, dia pun datang lagi ke bukit itu. Beberapa kali pemuda arab yang selainnya mengajaknya untuk bersenang-senang, untuk menikmati surga duniawi, untuk menikmati kekuasaan bani yang mereka miliki. Namun, kerap kali pemuda itu menolak, dan masih bergelut dengan kuriositas, mempertanyakan segala gejala alam yang bersenandung di hadapannya.
Pemuda itu amat terkenal baik akhlaknya, jarang mengikuti pergaulan pemuda arab yang selainnya, selalu bersikap santun. Hal ini membuat putri dari saudagar kaya, Khodijah, terjatuh hati padanya. Kebetulannya, pemuda itu juga sering melakukan perdagangan dengan sang Ayahandanya Khodijah, dan seringkali janda manis itu mengintip untuk mencuri perhatian pemuda itu. Ternyata pemuda itu merasakan hal yang sama dengan Sang Janda cantik nan duhai manisnya ini. Kemudian menikahlah mereka, menjadi pasangan yang serasi. Walaupun umur mereka terpaut jauh, sang pemuda berumur 25 tahun, sedangkan sang janda cantik duhai manis ini berusia 40 tahun. Namun, cinta yang mereka rasakan tak mengenal pautan usia, tak menjadi jarak antara kasih sayang yang mereka bagi satu sama lain.
Setelah menikah, pemuda itu masih saja sering melakukan hal yang sama, seperti sudah menjadi keseharianya, rutinitasnya. Pergi ke bukit hira, bukit yang ada di tanah arab itu, untuk berpikir, merenung, memperhatikan segala gejala alam yang ada di hadapannya. Masih penuh misteri, masih terus mencari.
Pemuda itu bernama Muhammad.
Putri K




No comments:
Post a Comment