Angin Perubahan dari Arab Saudi
Abdullah bin Abdulaziz Al Saud tercatat sebagai raja tertua saat penobatan–81 tahun saat menjadi raja keenam Arab Saudi, 1 Agustus 2005.
Raja Abdullah pada saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris tahun 2007 (thinkstockphotos).
Raja Abdullah pada saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris tahun 2007 (thinkstockphotos).
Sejak muda Abdullah bin Abdulaziz Al Saud telah dikenal sebagai pembaharu. Padanyalah, Arab Saudi mengharapkan angin perubahan.
Dibanding anggota lain keluarga kerajaan, sejak lama Abdullah bin Abdulaziz dikenal tak jaim–jaga image alias sok gengsi membuat pencitraan. Berbeda dari anggota lain keluarga kerajaan yang berkesan tertutup, ia berusaha dekat dengan rakyat biasa. Misalnya, kerap mengadakan kunjungan ke daerah dan tak segan melahap hamburger di restoran umum.
Jadi, saat dirasa Arab Saudi butuh pemimpin yang berani dan tegas kian mendesak, harapan ini tertumpah pada pangeran yang secara de facto telah menjadi raja menggantikan tugas-tugas Raja Fahd yang terserang stroke sejak 1995.
Kelahiran 1924 yang menjadi putra mahkota sejak 1982 ini sejak dekade lalu telah menyerukan perubahan ke dalam, termasuk mengkritik perilaku korup keluarga kerajaan yang menguras kas negara saat harga minyak jatuh pada 1990-an. Mantan komandan 75.000 pasukan Pengawal Nasional, lembaga militer dengan tugas-tugas sipil sejak 1962, ini pun sedikit demi sedikit mengikis perilaku mendewakan raja. Antara lain, menolak rakyat mencium tangannya dan lebih suka pundaknya yang dicium untuk lebih menggambarkan kesetaraan. Punggungnya pernah terkilir saat berusaha menghindari warga yang berebut mencium tangannya.
Sikapnya pada pembaruan agaknya faktor keturunan. Abdullah adalah satu dari 37 anak lelaki Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi modern pada 23 September 1932 yang dipicu penemuan tambang minyak bumi terbesar di dunia.
Ibunya, Fada binti Asi Al Shuraim adalah istri kedelapan, yang dinikahi setelah suaminya terbunuh pada 1920. Abdullah mendapat pendidikan pertamanya di sekolah lingkungan kerajaan dari para ulama dan cendekiawan.
Kingdom Tower di Kota Jeddah, Arab Saudi (thinkstockphotos).
Demokrasi, Demokrasi!
Tantangan pembaruan memang tak ringan bagi negeri yang menempati empat perlima wilayah Semenanjung Arab ini. Selama 20 tahun pertama pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, 1982 – 2005, belanja negara membengkak, sementara pemasukan jauh berkurang. Harga minyak jatuh dari 40 dolar AS/barrel pada 1980 menjadi 20 dolar.
Perang Teluk 1991 berimbas pada hilangnya kekayaan 60 miliar dolar AS dari kocek negara. Pada 1998, Abdullah telah mengingatkan agar tak terpaku kejayaan masa lalu. “Curahan minyak bumi telah berakhir dan takkan kembali. Kita harus mengubah gaya hidup.”
Raja Abdullah yang pernah menjabat sebagai menteri pertahanan dan penerbangan pada1962 ini memotong anggaran belanja berbagai pos dan mengingatkan birokrat untuk berhemat jika tak ingin dipecat.
Ia juga meminta 30.000 anggota keluarga kerajaan untuk mengetatkan ikat pinggang. Hal ini termasuk tak bisa seenaknya menggunakan telepon atau menganggap Saudia (Saudi Arabia Airlines)–yang ia kembangkan dari Saudia menjadi maskapai penerbangan kelas dunia–sebagai pesawat keluarga. Tentu tak mudah. Keluarga kerajaan yang sudah terlalu terlena menikmati segala kemudahan ini ada yang menentang. Diam-diam, tentu saja.
Raja Abdulllah saat mengunjungi Inggris pada tahun 2007 (Thinkstockphotos).
Dibanding anggota lain keluarga kerajaan, sejak lama Abdullah bin Abdulaziz dikenal tak jaim–jaga image alias sok gengsi membuat pencitraan. Berbeda dari anggota lain keluarga kerajaan yang berkesan tertutup, ia berusaha dekat dengan rakyat biasa. Misalnya, kerap mengadakan kunjungan ke daerah dan tak segan melahap hamburger di restoran umum.
Jadi, saat dirasa Arab Saudi butuh pemimpin yang berani dan tegas kian mendesak, harapan ini tertumpah pada pangeran yang secara de facto telah menjadi raja menggantikan tugas-tugas Raja Fahd yang terserang stroke sejak 1995.
Kelahiran 1924 yang menjadi putra mahkota sejak 1982 ini sejak dekade lalu telah menyerukan perubahan ke dalam, termasuk mengkritik perilaku korup keluarga kerajaan yang menguras kas negara saat harga minyak jatuh pada 1990-an. Mantan komandan 75.000 pasukan Pengawal Nasional, lembaga militer dengan tugas-tugas sipil sejak 1962, ini pun sedikit demi sedikit mengikis perilaku mendewakan raja. Antara lain, menolak rakyat mencium tangannya dan lebih suka pundaknya yang dicium untuk lebih menggambarkan kesetaraan. Punggungnya pernah terkilir saat berusaha menghindari warga yang berebut mencium tangannya.
Sikapnya pada pembaruan agaknya faktor keturunan. Abdullah adalah satu dari 37 anak lelaki Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi modern pada 23 September 1932 yang dipicu penemuan tambang minyak bumi terbesar di dunia.
Ibunya, Fada binti Asi Al Shuraim adalah istri kedelapan, yang dinikahi setelah suaminya terbunuh pada 1920. Abdullah mendapat pendidikan pertamanya di sekolah lingkungan kerajaan dari para ulama dan cendekiawan.
Tantangan pembaruan memang tak ringan bagi negeri yang menempati empat perlima wilayah Semenanjung Arab ini. Selama 20 tahun pertama pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, 1982 – 2005, belanja negara membengkak, sementara pemasukan jauh berkurang. Harga minyak jatuh dari 40 dolar AS/barrel pada 1980 menjadi 20 dolar.
Perang Teluk 1991 berimbas pada hilangnya kekayaan 60 miliar dolar AS dari kocek negara. Pada 1998, Abdullah telah mengingatkan agar tak terpaku kejayaan masa lalu. “Curahan minyak bumi telah berakhir dan takkan kembali. Kita harus mengubah gaya hidup.”
Raja Abdullah yang pernah menjabat sebagai menteri pertahanan dan penerbangan pada1962 ini memotong anggaran belanja berbagai pos dan mengingatkan birokrat untuk berhemat jika tak ingin dipecat.
Ia juga meminta 30.000 anggota keluarga kerajaan untuk mengetatkan ikat pinggang. Hal ini termasuk tak bisa seenaknya menggunakan telepon atau menganggap Saudia (Saudi Arabia Airlines)–yang ia kembangkan dari Saudia menjadi maskapai penerbangan kelas dunia–sebagai pesawat keluarga. Tentu tak mudah. Keluarga kerajaan yang sudah terlalu terlena menikmati segala kemudahan ini ada yang menentang. Diam-diam, tentu saja.
Raja Abdullah memberi teladan: makin berumur makin bijak dan menyejahterakan rakyat. Gaya demokrasi langsungnya justru sempat diprotes.
Raja Abdulllah saat mengunjungi Inggris pada tahun 2007 (Thinkstockphotos).
Sejak lama, Abdullah tampaknya menyeimbangkan hubungan dengan semua kalangan. Jika sedang tak menerima tamu negara atau duta besar, ia biasa menerima rakyat biasa hingga pukul 19.00. Lalu, tidur usai makan malam, dan bangun tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan hingga fajar. Perkembangan dunia ia pantau dari 33 layar televisi yang menyiarkan berbagai saluran di ruang kerjanya.
Semasa jadi putra mahkota, Abdullah melestarikan tradisi demokrasi langsung ala suku padang pasir Badui. Tiap Rabu, selama 1 – 2 jam ada kesempatan bagi 200 rakyat biasa untuk bertemu langsung dengan calon rajanya. Silakan mengadukan ragam persoalan–dari pembiayaan pengobatan, pekerjaan sampai memohon grasi bagi anggota keluarga yang dijatuhi hukuman mati.
Siapapun bisa menghadiri Majelis Reboan–kita sebut saja begitu–kecuali perempuan dewasa. Mereka menyampaikan pada perempuan anggota keluarga kerajaan yang akan meneruskan pada Abdullah atau kelompok perempuan pekerja sosial yang telah ditunjuknya.
Ada permintaan yang bisa langsung diselesaikan, misalnya, jaminan pengobatan gratis. Tapi sebagian besar dibawa ke kantor pangeran untuk dibahas lebih lanjut, misalnya keringanan atau penghapusan utang di bank karena usahanya bangkrut.
Banyak warga pengecap pendidikan Barat menilai demokrasi langsung ini sudah tak sesuai dengan persoalan warga dan Arab Saudi yang kian rumit. Tak seluruh rakyat terjangkau karena hanya diadakan di Riyadh.
Pompa minyak di Arab Saudi (Thinkstockphotos).
Bukankah lebih efektif jika persoalan diurus oleh departemen atau lembaga sipil terkait? Tapi bagi Abdurrahman al-Zamil, mantan Deputi Menteri Perdagangan, ini malah lebih efektif. Birokrasi terpangkas dan rakyat lebih suka. Permohonan warga yang disampaikan pada pangeran akan segera diteruskan ke departemen terkait paling lambat dalam seminggu. Jika tiada tindak lanjut berarti bencana bagi pejabat bersangkutan.
Pernah, seorang bapak menghadap justru untuk membela pembunuh anaknya yang akan dihukum mati dua hari lagi. Memang, Al Quran menyebutkan hukum qishas, nyawa dibayar nyawa, tapi lebih baik memaafkan dan tak menyimpan dendam. Orangtua si pembunuh langsung dipanggil. Pangeran memeluk pundak pria itu dengan mata berkaca-kaca dan orangtua si pembunuh menangis tersedu-sedu.
Abdullah mendengarkan keberatan tentang demokrasi langsung ini. Saat masa peralihan sebagai putra mahkota yang menjalankan tugas-tugas raja, ia memperbarui bertahap sistem demokrasi. Pada 13 Oktober 2003, diumumkan rencana menggelar pemilihan umum pertama dalam sejarah Arab Saudi untuk wakil-wakil di Dewan Pemerintahan Kota. Ini keputusan Dewan Kabinet menanggapi tuntutan yang menghendaki peran masyarakat yang lebih besar dalam pengambilan keputusan.
Desakan perubahan telah bermunculan sebelum tragedi Menara Kembar WTC, 11 September 2001 yang mengguncang hubungan Arab Saudi - AS. Maklum, 15 dari 19 teroris yang dianggap terlibat dalam peristiwa yang masih tanda tanya siapa dalangnya itu, merupakan warga negara Arab Saudi.
Pemerintah dianggap terlalu patuh pada AS hingga menjerumuskan perekonomian nasional. Misalnya, memberikan izin pangkalan militer di Dahran sejak masa Perang Teluk dan membiarkan ratusan ribu pekerja asing berdatangan sementara anak muda Arab Saudi sendiri tak disiapkan menghadapi persaingan ketat ini. Desakan ini mungkin mengena bagi Abdullah, tokoh yang dikenal pendirian kuat dan tak terlalu terpikat untuk dekat dengan dunia Barat.
Kingdom Tower di Kota Jeddah, Arab Saudi (thinkstockphotos).
Semasa jadi putra mahkota, Abdullah melestarikan tradisi demokrasi langsung ala suku padang pasir Badui. Tiap Rabu, selama 1 – 2 jam ada kesempatan bagi 200 rakyat biasa untuk bertemu langsung dengan calon rajanya. Silakan mengadukan ragam persoalan–dari pembiayaan pengobatan, pekerjaan sampai memohon grasi bagi anggota keluarga yang dijatuhi hukuman mati.
Siapapun bisa menghadiri Majelis Reboan–kita sebut saja begitu–kecuali perempuan dewasa. Mereka menyampaikan pada perempuan anggota keluarga kerajaan yang akan meneruskan pada Abdullah atau kelompok perempuan pekerja sosial yang telah ditunjuknya.
Ada permintaan yang bisa langsung diselesaikan, misalnya, jaminan pengobatan gratis. Tapi sebagian besar dibawa ke kantor pangeran untuk dibahas lebih lanjut, misalnya keringanan atau penghapusan utang di bank karena usahanya bangkrut.
Banyak warga pengecap pendidikan Barat menilai demokrasi langsung ini sudah tak sesuai dengan persoalan warga dan Arab Saudi yang kian rumit. Tak seluruh rakyat terjangkau karena hanya diadakan di Riyadh.
Bukankah lebih efektif jika persoalan diurus oleh departemen atau lembaga sipil terkait? Tapi bagi Abdurrahman al-Zamil, mantan Deputi Menteri Perdagangan, ini malah lebih efektif. Birokrasi terpangkas dan rakyat lebih suka. Permohonan warga yang disampaikan pada pangeran akan segera diteruskan ke departemen terkait paling lambat dalam seminggu. Jika tiada tindak lanjut berarti bencana bagi pejabat bersangkutan.
Pernah, seorang bapak menghadap justru untuk membela pembunuh anaknya yang akan dihukum mati dua hari lagi. Memang, Al Quran menyebutkan hukum qishas, nyawa dibayar nyawa, tapi lebih baik memaafkan dan tak menyimpan dendam. Orangtua si pembunuh langsung dipanggil. Pangeran memeluk pundak pria itu dengan mata berkaca-kaca dan orangtua si pembunuh menangis tersedu-sedu.
Abdullah mendengarkan keberatan tentang demokrasi langsung ini. Saat masa peralihan sebagai putra mahkota yang menjalankan tugas-tugas raja, ia memperbarui bertahap sistem demokrasi. Pada 13 Oktober 2003, diumumkan rencana menggelar pemilihan umum pertama dalam sejarah Arab Saudi untuk wakil-wakil di Dewan Pemerintahan Kota. Ini keputusan Dewan Kabinet menanggapi tuntutan yang menghendaki peran masyarakat yang lebih besar dalam pengambilan keputusan.
Desakan perubahan telah bermunculan sebelum tragedi Menara Kembar WTC, 11 September 2001 yang mengguncang hubungan Arab Saudi - AS. Maklum, 15 dari 19 teroris yang dianggap terlibat dalam peristiwa yang masih tanda tanya siapa dalangnya itu, merupakan warga negara Arab Saudi.
Pemerintah dianggap terlalu patuh pada AS hingga menjerumuskan perekonomian nasional. Misalnya, memberikan izin pangkalan militer di Dahran sejak masa Perang Teluk dan membiarkan ratusan ribu pekerja asing berdatangan sementara anak muda Arab Saudi sendiri tak disiapkan menghadapi persaingan ketat ini. Desakan ini mungkin mengena bagi Abdullah, tokoh yang dikenal pendirian kuat dan tak terlalu terpikat untuk dekat dengan dunia Barat.
Gerakan pembaruan macam ini didukung tokoh pembangkang yang tinggal di luar negeri.
Kingdom Tower di Kota Jeddah, Arab Saudi (thinkstockphotos).
Tradisi patriarki Arab Saudi juga dianggap terlalu meminggirkan peran dan hak kaum wanita. Anak muda mengecap pendidikan Barat makin mengeluhkan aturan sosial yang dianggap terlalu kaku. Misalnya, pelarangan bioskop, bar dan tempat nongkrong anak muda. Memang ada pantai untuk keluarga dan café, tapi mau apalagi selain bertemu dan mengobrol? Membosankan!
Internet memang telah masuk, tapi dibatasi, tak bisa ke situs yang menentang Islam. Jadi, rata-rata mereka mengenal dunia modern dari media dan perjalanan keluar negeri. Mereka menuntut hak mandiri menentukan pendidikan dan masa depan, misalnya pengajaran bahasa Inggris sebagai perlawanan terhadap bahasa Arab dan belajar di luar negeri.
Universitas di Arab Saudi dianggap punya pendekatan buruk, justru mengajari yang dianggap tak cukup memberi bekal bersaing di lapangan kerja. Pengajaran juga masih menekankan menghapal. Mereka menentang korupsi dan standar ganda. Banyak yang menyalahkan Barat atau pekerja asing sebagai pertanda ketakberdayaan.
Pompa minyak di Arab Saudi (Thinkstockphotos).
Gerakan pembaruan macam ini didukung tokoh pembangkang yang tinggal di luar negeri. Ketua Gerakan Pembaruan Islam, Saad al-Faqih, misalnya, selalu menyerukan perubahan politik Arab Saudi dari London melalui internet, radio dan stasiun tv miliknya, Islah TV. Ada juga yang mencari jalan tengah. Misalnya, Khalid al-Dakheel, guru besar Universitas Raja Saud, Riyadh menghendaki peran serta masyarakat yang lebih besar tanpa mengutak-atik status kerajaan.
Hal itu didukung oleh konglomerat Arab Saudi yang tinggal di AS, Pangeran Alwaleed bin Talal, yang menguasai saham Citicorp, Disneyland Paris, Four Seasons Hotel, yang masih kerabat keluarga Al Saud. “Kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia, hak wanita harus dapat tempat lebih luas. Harus ada dialog antara penguasa dan rakyat.”
Arab Saudi mau tak mau tak lagi bisa berleha-leha. Dengan penduduk sekitar 24 juta jiwa, angka kelahirannya tertinggi di dunia, yaitu 4,2% atau rata-rata 7 anak dari tiap ibu. Angka pengangguran 30 – 40%. Sekitar 70% penduduknya berusia di bawah 30 tahun, dengan 40% lahir setelah Perang Teluk 1991, sebenarnya tumpuan menaikkan kembali pendapatan per kapita yang anjlok dari 28.600 dolar AS (1981) menjadi 7.500 dolar AS.
Mai Yamani, wanita Saudi Arabia yang bekerja di Royal Institute of International Affairs, London melakukan survei pada 70-an anak muda berusia 15 – 30 tahun di berbagai wilayah Saudi Arabia, dari berbagai kelas sosial termasuk keluarga kerajaan.
Raja Abdullah pada saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris tahun 2007 (thinkstockphotos).
Lewat buku Changed Identities : the Challenge of the New Generation in Saudi Arabia (2000), Mai menangkap bahwa bila tak tersalurkan, ada yang lari ke agama jadi penganut fanatik, atau terjerumus narkoba, sementara yang lain menghendaki pemerintah lebih berperan dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Gerakan Intifadah lebih jelas menunjukkan jati diri dibandingkan Saudi Arabia yang mengacu pada suku, wilayah, kebangsaan, Teluk, Arab dan Islam.
Bagi kaum muda, terlalu sedikit yang bisa dikerjakan di Arab Saudi. Pola asuh justru mendorong anak untuk tergantung orangtua, bukan mandiri sejati. Hak-hak banyak dirampas. Misalnya perjodohan yang 20%-nya berakhir dengan perceraian. Para pemudi bahkan meminta hak pendidikan, pemilikan property dan pengajuan cerai bagi ibu dan nenek mereka, juga hak untuk bergaul sebelum menikah.
Putri Al-Jawhara Ibrahim Al-Ibrahim, istri Raja Fahd bin Abdul-Aziz Al-Saud dalam wawancara dengan Baria Alamuddine dari Al-Hayat, 26 April 2004, menyatakan tentang meningkatnya jumlah wanita yang tak menikah karena pemudanya tak mampu untuk menafkahi dan kecenderungan menikahi wanita asing, serta ketergantungan banyak keluarga Arab Saudi akan pembantu rumah tangga asing. Untuk soal terakhir, kesempatan ini disambar oleh tenaga kerja asing.
Soal kehidupan pribadi, pers Arab Saudi berseberangan dengan Inggris dan Amerika Serikat yang senang mengorek-ngorek tempat sampah keluarga kerajaan, kepala negara dan pesohor. Kehidupan keluarga kerajaan Saudi Arabia dibiarkan tak terusik. Berita tentang Islam, keluarga kerajaan Saudi Arabia dan pemerintah tetap dianggap peka.
Jadi, tak banyak yang diketahui dari kehidupan pribadi Abdullah. Wilkipedia menyebutnya mempunyai empat istri yang memberinya 22 anak – 7 laki-laki dan 15 perempuan. Ia menggemari olahraga berkuda dan menjadi pelindung klub berkuda di Riyadh. Minatnya yang luas akan bacaan diwujudkan dengan mendirikan Perpustakaan Umum King Abdul Aziz dengan koleksi ribuan buku di Riyadh dan Casablanca, Maroko. Ia juga mendukung Festival Warisan Budaya yang digelar tiap tahun di Janadriyah, dekat Riyadh.
Tiga dekade lalu, pers Inggris dan AS pernah membahayakan hubungan bilateral dengan Arab Saudi. Ini gara-gara Inggris pada April 1980 dan jaringan televisi PBS, Mei 1980 menyiarkan Death of A Princess arahan wartawan dan pembuat film dokumenter berkebangsaan Inggris, Anthony Thomas.
Dokudrama itu menggambarkan peristiwa pada 15 Juli 1977. Saat itu Mishal’al bint Fahd bin Muhammad bin Abdul Aziz al Saud, cucu Muhammad bin Abdul Aziz, kakak tertua Khalid bin Abdul Aziz yang kemudian menjadi raja, dihukum mati pada usianya yang ke-19 di lapangan terbuka bersama kekasihnya. Mereka dihukum atas tuduhan berzina. Film ini dianggap merupakan serangan pada keluarga kerajaan dan penghinaan pada negara.
Film itu juga dianggap sebagai citra buruk bagi Arab Saudi yang dianggap banyak merampas hak wanita, padahal Islam begitu demokratis dan menghormati hak perempuan. Padahal pada tahun yang sama, Samar Fatani mungkin bisa disebut sebagai salah satu perintis kemajuan perempuan Arab Saudi.
Dalam bidang informasi, putri diplomat yang pernah bertugas di Malaysia dan Turki itu menjadi serba yang pertama di negerinya. Dia adalah perempuan pertama yang muncul di televisi pemerintah pada 1977 sebagai pembaca berita bersama rekan pria, Shu’aa Ar-Rahid, yang pertama ditampilkan fotonya di suratkabar Maha A-Futaihi. Setahun sebelumnya, ialah pegawai wanita pertama di Departemen Informasi negerinya di bagian penyiaran bahasa Inggris.
Beruntunglah Samar Fatani karena ibunya yang juga berpendidikan tinggi mendorong pendidikan setinggi-tingginya bagi putra-putrinya. Samar meraih gelar dalam bidang jurnalistik dari Universitas Kairo dan menikah dengan wartawan terkenal, Khaled Al-Mu-eena, pemimpin suratkabar The Arab News dan dikaruniai lima putra-putri.
Saat krisis kepercayaan pada dunia Arab, khususnya Arab Saudi setelah tragedi 11 September 2001, Samar bersama wartawan dan cendekiawan lain banyak menulis di internet untuk menepis kesalahpahaman Barat tentang Arab dan Islam.
Dari kalangan kerajaan, ada Putri Arwa bin Fadh Bint Abdallah bin Muhammad bin Saud, yang mengenyam pendidikan komputer dari Reading University dan memperoleh gelar doktor dari South Bank University di Inggris. Awalnya mengamalkan ilmunya di rumah untuk pengembangan situs sebelum akhirnya pada 1998 mendirikan Ram World, perusahaan pertama di Saudi Arabia yang bergerak dalam pengembangan internet.
Abdullah telah memberi isyarat memungkinkan kebebasan lebih besar pada perempuan. Bila perempuan diberi peran lebih besar menyumbangkan kemampuan mereka, mungkin Arab Saudi akan mencapai masa jayanya kembali.
(Christantiowati)
Internet memang telah masuk, tapi dibatasi, tak bisa ke situs yang menentang Islam. Jadi, rata-rata mereka mengenal dunia modern dari media dan perjalanan keluar negeri. Mereka menuntut hak mandiri menentukan pendidikan dan masa depan, misalnya pengajaran bahasa Inggris sebagai perlawanan terhadap bahasa Arab dan belajar di luar negeri.
Universitas di Arab Saudi dianggap punya pendekatan buruk, justru mengajari yang dianggap tak cukup memberi bekal bersaing di lapangan kerja. Pengajaran juga masih menekankan menghapal. Mereka menentang korupsi dan standar ganda. Banyak yang menyalahkan Barat atau pekerja asing sebagai pertanda ketakberdayaan.
Gerakan pembaruan macam ini didukung tokoh pembangkang yang tinggal di luar negeri. Ketua Gerakan Pembaruan Islam, Saad al-Faqih, misalnya, selalu menyerukan perubahan politik Arab Saudi dari London melalui internet, radio dan stasiun tv miliknya, Islah TV. Ada juga yang mencari jalan tengah. Misalnya, Khalid al-Dakheel, guru besar Universitas Raja Saud, Riyadh menghendaki peran serta masyarakat yang lebih besar tanpa mengutak-atik status kerajaan.
Hal itu didukung oleh konglomerat Arab Saudi yang tinggal di AS, Pangeran Alwaleed bin Talal, yang menguasai saham Citicorp, Disneyland Paris, Four Seasons Hotel, yang masih kerabat keluarga Al Saud. “Kebebasan, demokrasi, hak asasi manusia, hak wanita harus dapat tempat lebih luas. Harus ada dialog antara penguasa dan rakyat.”
Arab Saudi mau tak mau tak lagi bisa berleha-leha. Dengan penduduk sekitar 24 juta jiwa, angka kelahirannya tertinggi di dunia, yaitu 4,2% atau rata-rata 7 anak dari tiap ibu. Angka pengangguran 30 – 40%. Sekitar 70% penduduknya berusia di bawah 30 tahun, dengan 40% lahir setelah Perang Teluk 1991, sebenarnya tumpuan menaikkan kembali pendapatan per kapita yang anjlok dari 28.600 dolar AS (1981) menjadi 7.500 dolar AS.
Mai Yamani, wanita Saudi Arabia yang bekerja di Royal Institute of International Affairs, London melakukan survei pada 70-an anak muda berusia 15 – 30 tahun di berbagai wilayah Saudi Arabia, dari berbagai kelas sosial termasuk keluarga kerajaan.
Berita tentang Islam, keluarga kerajaan Saudi Arabia dan pemerintah tetap dianggap peka.
Lewat buku Changed Identities : the Challenge of the New Generation in Saudi Arabia (2000), Mai menangkap bahwa bila tak tersalurkan, ada yang lari ke agama jadi penganut fanatik, atau terjerumus narkoba, sementara yang lain menghendaki pemerintah lebih berperan dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Gerakan Intifadah lebih jelas menunjukkan jati diri dibandingkan Saudi Arabia yang mengacu pada suku, wilayah, kebangsaan, Teluk, Arab dan Islam.
Bagi kaum muda, terlalu sedikit yang bisa dikerjakan di Arab Saudi. Pola asuh justru mendorong anak untuk tergantung orangtua, bukan mandiri sejati. Hak-hak banyak dirampas. Misalnya perjodohan yang 20%-nya berakhir dengan perceraian. Para pemudi bahkan meminta hak pendidikan, pemilikan property dan pengajuan cerai bagi ibu dan nenek mereka, juga hak untuk bergaul sebelum menikah.
Putri Al-Jawhara Ibrahim Al-Ibrahim, istri Raja Fahd bin Abdul-Aziz Al-Saud dalam wawancara dengan Baria Alamuddine dari Al-Hayat, 26 April 2004, menyatakan tentang meningkatnya jumlah wanita yang tak menikah karena pemudanya tak mampu untuk menafkahi dan kecenderungan menikahi wanita asing, serta ketergantungan banyak keluarga Arab Saudi akan pembantu rumah tangga asing. Untuk soal terakhir, kesempatan ini disambar oleh tenaga kerja asing.
Soal kehidupan pribadi, pers Arab Saudi berseberangan dengan Inggris dan Amerika Serikat yang senang mengorek-ngorek tempat sampah keluarga kerajaan, kepala negara dan pesohor. Kehidupan keluarga kerajaan Saudi Arabia dibiarkan tak terusik. Berita tentang Islam, keluarga kerajaan Saudi Arabia dan pemerintah tetap dianggap peka.
Jadi, tak banyak yang diketahui dari kehidupan pribadi Abdullah. Wilkipedia menyebutnya mempunyai empat istri yang memberinya 22 anak – 7 laki-laki dan 15 perempuan. Ia menggemari olahraga berkuda dan menjadi pelindung klub berkuda di Riyadh. Minatnya yang luas akan bacaan diwujudkan dengan mendirikan Perpustakaan Umum King Abdul Aziz dengan koleksi ribuan buku di Riyadh dan Casablanca, Maroko. Ia juga mendukung Festival Warisan Budaya yang digelar tiap tahun di Janadriyah, dekat Riyadh.
Tiga dekade lalu, pers Inggris dan AS pernah membahayakan hubungan bilateral dengan Arab Saudi. Ini gara-gara Inggris pada April 1980 dan jaringan televisi PBS, Mei 1980 menyiarkan Death of A Princess arahan wartawan dan pembuat film dokumenter berkebangsaan Inggris, Anthony Thomas.
Dokudrama itu menggambarkan peristiwa pada 15 Juli 1977. Saat itu Mishal’al bint Fahd bin Muhammad bin Abdul Aziz al Saud, cucu Muhammad bin Abdul Aziz, kakak tertua Khalid bin Abdul Aziz yang kemudian menjadi raja, dihukum mati pada usianya yang ke-19 di lapangan terbuka bersama kekasihnya. Mereka dihukum atas tuduhan berzina. Film ini dianggap merupakan serangan pada keluarga kerajaan dan penghinaan pada negara.
Film itu juga dianggap sebagai citra buruk bagi Arab Saudi yang dianggap banyak merampas hak wanita, padahal Islam begitu demokratis dan menghormati hak perempuan. Padahal pada tahun yang sama, Samar Fatani mungkin bisa disebut sebagai salah satu perintis kemajuan perempuan Arab Saudi.
Dalam bidang informasi, putri diplomat yang pernah bertugas di Malaysia dan Turki itu menjadi serba yang pertama di negerinya. Dia adalah perempuan pertama yang muncul di televisi pemerintah pada 1977 sebagai pembaca berita bersama rekan pria, Shu’aa Ar-Rahid, yang pertama ditampilkan fotonya di suratkabar Maha A-Futaihi. Setahun sebelumnya, ialah pegawai wanita pertama di Departemen Informasi negerinya di bagian penyiaran bahasa Inggris.
Beruntunglah Samar Fatani karena ibunya yang juga berpendidikan tinggi mendorong pendidikan setinggi-tingginya bagi putra-putrinya. Samar meraih gelar dalam bidang jurnalistik dari Universitas Kairo dan menikah dengan wartawan terkenal, Khaled Al-Mu-eena, pemimpin suratkabar The Arab News dan dikaruniai lima putra-putri.
Saat krisis kepercayaan pada dunia Arab, khususnya Arab Saudi setelah tragedi 11 September 2001, Samar bersama wartawan dan cendekiawan lain banyak menulis di internet untuk menepis kesalahpahaman Barat tentang Arab dan Islam.
Dari kalangan kerajaan, ada Putri Arwa bin Fadh Bint Abdallah bin Muhammad bin Saud, yang mengenyam pendidikan komputer dari Reading University dan memperoleh gelar doktor dari South Bank University di Inggris. Awalnya mengamalkan ilmunya di rumah untuk pengembangan situs sebelum akhirnya pada 1998 mendirikan Ram World, perusahaan pertama di Saudi Arabia yang bergerak dalam pengembangan internet.
Abdullah telah memberi isyarat memungkinkan kebebasan lebih besar pada perempuan. Bila perempuan diberi peran lebih besar menyumbangkan kemampuan mereka, mungkin Arab Saudi akan mencapai masa jayanya kembali.
(Christantiowati)




No comments:
Post a Comment