Bukti-bukti PKI Dalang G30S/PKI
Sejak tahun 1998 telah terjadi kekerasan budaya melalui serangkaian propaganda menggunakan film, maupun media cetak yang mencoba menghilangkan nama PKI dari keterlibatan mereka dalam G30S/PKI. Kata para pelaku kekerasan budaya itu PKI tidak pernah memberontak, PKI hanya dikorbankan dan PKI tidak tahu menahu perihal G30S/PKI. Benarkah? Pernyataan tersebut jelas bertentangan dengan fakta, dan bukti sebagai berikut:
1. DN Aidit berada di Halim selama berlangsungnya G30S/PKI dan melarikan diri menggunakan pesawat yang dipinjamkan Omar Dhani menjelang RPKAD menyerang Halim dan saat itu Divisi Brawijaya dan Diponegoro sudah berhasil ditarik kembali ke kostrad. Bila tidak bersalah kenapa harus melarikan diri?
2. Organisasi bawahan PKI yaitu Pemuda Rakyat dan Gerwani ikut menculik para jenderal dan menjaga RRI menggunakan senjata chung, hadiah Partai Komunis China kepada PKI yang disimpan di AURI.
3. Pada tanggal 6 Oktober 1965, Soekarno sendiri memarahi Njoto karena keblingernya PKI sehingga memulai G30S/PKI.
4. Jauh-jauh hari Lekra, organisasi seniman dan sastrawan bawahan PKI sudah menulis bahwa akan terjadi pembantaian terhadap “kapitalis birokrat” pada tahun 1965. Pramoedya Ananta Toer, bandit penjebol Manikebu misalnya, dalam koran Bintang Timur tanggal 9 Mei 1965 menulis naskah “Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total, sampai ke akar-akarnya terhadap lawan-lawan PKI”.
Ketua Committe Central PKI sekaligus anggota Lekra, Anwar Sanusi, pada Harian Rakyat yang terbit pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 juga menulis tentang “Ibu Pertiwi yang hamil tua dan revolusi sedang dilahirkan saat itu”
Sastrawan Lekra, Mawie di Koran Bintang Timur tanggal 21 Maret 1965 juga menulis tentang Sungai Ciliwung akan banjir darah. Begitu juga dengan Harian Kebudayaan Baru tanggal 29 September 1965 yang menulis bahwa “setan comot akan dilorot dan setan koruptor akan didor.”
5. Dalam surat yang ditujukan kepada Omar Dhani, Brigjend Soepardjo menulis bahwa memang PKI dalang di belakang G30S/PKI dan rencana PKI bila gerakan gagal adalah memutus hubungan antara PKI dengan pelaku gerakan, sehingga PKI selamat walaupun antek-anteknya dihukum karena terlibat G30S/PKI.
6. Semua perwira yang bergabung dalam G30S/PKI adalah binaan Biro Chusus PKI pimpinan DN Aidit dan Sjam.
7. Letkol Untung ketika diinterograsi pasca G30S/PKI mengakui bahwa di belakangnya adalah PKI.
8. Soekarno dari awal sudah setuju dengan pembubaran PKI, dia hanya bingung cara membubarkan tanpa merusak nama baiknya yang gigih mengajarkan Nasakom. Setelah mendengar kesediaan Pak Harto untuk menjadi bumper Soekarno-lah baru Soekarno bisa membubarkan PKI tanpa beban. Terbukti Soekarno tidak membatalkan keputusan Pak Harto membubarkan PKI dengan memakai Supersemar, dan bahkan menyebut bahwa Pak Harto telah melaksanakan Supersemar dengan baik.
Berdasarkan hal-hal di atas maka terbukti pelarangan komunisme, dan marxisme di Indonesia sudah sangat benar.
Hendra B
1. DN Aidit berada di Halim selama berlangsungnya G30S/PKI dan melarikan diri menggunakan pesawat yang dipinjamkan Omar Dhani menjelang RPKAD menyerang Halim dan saat itu Divisi Brawijaya dan Diponegoro sudah berhasil ditarik kembali ke kostrad. Bila tidak bersalah kenapa harus melarikan diri?
2. Organisasi bawahan PKI yaitu Pemuda Rakyat dan Gerwani ikut menculik para jenderal dan menjaga RRI menggunakan senjata chung, hadiah Partai Komunis China kepada PKI yang disimpan di AURI.
3. Pada tanggal 6 Oktober 1965, Soekarno sendiri memarahi Njoto karena keblingernya PKI sehingga memulai G30S/PKI.
4. Jauh-jauh hari Lekra, organisasi seniman dan sastrawan bawahan PKI sudah menulis bahwa akan terjadi pembantaian terhadap “kapitalis birokrat” pada tahun 1965. Pramoedya Ananta Toer, bandit penjebol Manikebu misalnya, dalam koran Bintang Timur tanggal 9 Mei 1965 menulis naskah “Tahun 1965 Tahun Pembabatan Total, sampai ke akar-akarnya terhadap lawan-lawan PKI”.
Ketua Committe Central PKI sekaligus anggota Lekra, Anwar Sanusi, pada Harian Rakyat yang terbit pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 juga menulis tentang “Ibu Pertiwi yang hamil tua dan revolusi sedang dilahirkan saat itu”
Sastrawan Lekra, Mawie di Koran Bintang Timur tanggal 21 Maret 1965 juga menulis tentang Sungai Ciliwung akan banjir darah. Begitu juga dengan Harian Kebudayaan Baru tanggal 29 September 1965 yang menulis bahwa “setan comot akan dilorot dan setan koruptor akan didor.”
5. Dalam surat yang ditujukan kepada Omar Dhani, Brigjend Soepardjo menulis bahwa memang PKI dalang di belakang G30S/PKI dan rencana PKI bila gerakan gagal adalah memutus hubungan antara PKI dengan pelaku gerakan, sehingga PKI selamat walaupun antek-anteknya dihukum karena terlibat G30S/PKI.
6. Semua perwira yang bergabung dalam G30S/PKI adalah binaan Biro Chusus PKI pimpinan DN Aidit dan Sjam.
7. Letkol Untung ketika diinterograsi pasca G30S/PKI mengakui bahwa di belakangnya adalah PKI.
8. Soekarno dari awal sudah setuju dengan pembubaran PKI, dia hanya bingung cara membubarkan tanpa merusak nama baiknya yang gigih mengajarkan Nasakom. Setelah mendengar kesediaan Pak Harto untuk menjadi bumper Soekarno-lah baru Soekarno bisa membubarkan PKI tanpa beban. Terbukti Soekarno tidak membatalkan keputusan Pak Harto membubarkan PKI dengan memakai Supersemar, dan bahkan menyebut bahwa Pak Harto telah melaksanakan Supersemar dengan baik.
Berdasarkan hal-hal di atas maka terbukti pelarangan komunisme, dan marxisme di Indonesia sudah sangat benar.
Hendra B




No comments:
Post a Comment