Jembatan Wisata Iskandar Muda
Nanggroe Aceh nyoe Seuramoe Meukah
Masa peurintah Iskandar Muda
Nanggroe jih ubit hase meulimpah
Neubri le Allah pusaka kaya.
EMPAT baris lagu Aceh di atas teramat sering dinyanyikan oleh orang Aceh. Tak terkira berapa lama sudah lagu itu dinyanyikan dan berapa generasi sudah menyanyikannya. Intinya, lirik lagu itu mengabarkan kepada kita bahwa nanggroe Aceh sudah dikenal sebagai Serambi Mekkah ketika Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh Darussalam (1607-1636). Dalam lanjutan lagu tersebut dikabarkan juga betapa kayanya negeri yang kecil itu.
Iskandar Muda yang juga dikenal sebagai tokoh mitologis dan legendaris Aceh telah banyak membangun, termasuk membangun masjid-masjid bersejarah, seperti Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Indrapurwa, dan Masjid Indrapuri. Dialah sang pengubah wajah Aceh untuk tersenyum pada dunia internasional melalui ekspansi ke beberapa kawasan Sumatra dan Semenanjung Malaya. Semua itu dilakukan untuk mengekalkan nama Aceh sebagai sebuah negeri yang kuat dan punya kemuliaan; tidak hanya sebagai upaya memperluas jalur dakwah Islam dan menahan imperialisme bangsa Eropa, terutama Portugis.
Meninjau lorong-lorong sejarah, sungguh tidak bisa dinafikan bahwa Iskandar Muda adalah salah satu ikon Aceh yang agung. Ikon Iskandar Muda untuk menggantikan kata Aceh telah mengakar dalam memori kolektif orang Aceh dan telah pula menembus ruang dan waktu perjalanan sejarah. Kita telah sering pula membaca bagaimana sepak terjang Iskandar Muda, mungkin termasuk kisah akhir hidupnya. Akan tetapi, tahukah kita di mana sebenarnya Iskandar Muda beristirahat untuk selama-selamanya?
Makam Iskandar Muda
Dalam kaitan di mana Iskandar Muda dimakamkan, saya sering bertanya kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah Adat dan Budaya Aceh. Jika ada 50 mahasiswa dalam satu ruangan, hanya dua atau tiga orang yang tahu bahwa beliau dimakamkan di samping istana Kerajaan Aceh Darussalam. Antara istana dengan makam beliau hanya dibatasi oleh sungai atau Krueng Daroy (maksudnya sungai yang berada di samping istana daruddunia).
Di atas bekas istana yang dibumihanguskan Belanda pada agresi kedua itu, kini berdiri Pendopo Gubernur Aceh. Jadi, makam Iskandar Muda itu letaknya persis sebelah timur pendopo, berbatas Krueng Daroy. Sebenarnya, dalam kompleks pemakaman Sultan Iskandar Muda itu terdapat juga makam atau kuburan beberapa raja dan keluarga raja yang lain. Jika suatu waktu kita --baik sebagai turis maupun bukan-- memiliki waktu luang mengunjungi salah satu kompleks pemakaman raja-raja Aceh itu, Anda wajib melewati sebuah jembatan bersejarah dari arah barat.
Di atas pangkal jembatan sebelah barat tertulis terang: Kompleks Pemakaman Sultan Iskandar Muda. Ujung jembatan tersebut persis bersambung (kurang lebih 5 meter) dengan pintu masuk sebelah timur bagian utara Pendopo Gubernur Aceh. Saya sudah berungkali melewati jembatan itu; sebuah jembatan kenangan yang memalingkan ingatan saya kepada masa-masa indah Sultan di Istana Daruddunia.
Pertengahan tahun lalu, tepatnya pada 13 Juli 2012, saya melewati jembatan tersebut untuk kesekian kalinya saat menghadiri rapat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Aceh. Kebetulan kantor ICMI terletak dalam satu kompleks dengan pemakaman itu, di samping ada juga Kantor Baperis, dan lain-lain. Sebagian orang lebih mengenal gedung utama dalam kompleks tersebut dengan julukan Gedoeng Joeang. Gedung-gedungnya termasuk gedung tua yang antik yang tampak jarang disoleki, kumuh dan kumal. Dari perspektif wisata, ini mungkin penting untuk mempertahankan keantikan dan keontetikannya.
Khusus untuk jembatan menuju ke Kompleks Pemakaman Iskandar Muda itu saya beri nama dengan Jembatan Iskandar Muda. Ini termasuk satu jembatan paling bernilai di Kota Banda Aceh, antara lain karena: Pertama, jembatan ini merupakan sarana vital menuju makam orang paling disanjung dalam sejarah Aceh; Kedua, terletak persis di samping pendopo (bekas istana Kerajaan Aceh dulu) yang setiap saat tentu dilihat oleh Gubernur dan para Pembesar Negeri yang lalu-lalang keluar masuk pendopo, dan; Ketiga, jembatan ini merupakan peninggalan penjajah Belanda yang terbuat dari rangka besi dengan bagian atasnya terbuat dari papan+pohon kelapa dan aspal goreng.
Ketiga keunikan tersebut kiranya patut diperbincangkan dalam aspek jembatan wisata, terutama berkenaan dengan papan antik (kayu dan pohon kelapa silih berganti) dan aspal bopeng. Keberadaan jembatan ini tentunya sangat membantu para peziarah (wisatawan spiritual) yang ingin mengunjungi makam Poteu Meureuhom. Di antara mereka tentu termasuk pula para siswa di berbagai wilayah di Aceh, terutama jika musim liburan tiba. Anak-anak Aceh tentu wajib tahu, mengapa Belanda sampai hati mendirikan bangunan di atas makam Iskandar Muda?
Bagaimana proses membangun kembali makam tersebut pada 1968? Kalau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dan atau Dinas Pariwitasa Kota Banda Aceh belum memasukkan situs Kompleks Makam Iskandar Muda sebagai salah satu aset tujuan wisata, saya sarankan agar memasukkannya sekarang juga. Selain itu, masukkan juga Jembatan Wisata Iskandar Muda ini sebagai aset sejarah yang luar bisasa uniknya di tengah-tengah kota Banda Aceh yang sedang berkembang pesat.
Mengapa saya sarankan agar jembatan ini dimasukkan sebagai objek wisata? Hal ini tidak lain adalah karena jembatan tersebut termasuk aset budaya Aceh yang penting. Jembatan tersebut akan mengingatkan kita masa-masa kepemimpinan Iskandar Muda. Sebab, fisik jembatan kiranya tak jauh berbeda dengan masa itu, yang belum lazim budaya konstruksi beton dan baja. Sampai saat ini, para pengunjung makam yang menggunakan mobil dan sepeda motor masih harus melakoni tarian lenggang-lenggok di atas jembatan, hidup mati antara papan kayu dan pohon kelapa.
Digerus usia
Saya sendiri turut menikmati situasi itu; kenikmatan miris. Selain itu, Jembatan Wisata Iskandar Muda ini mengingatkan kita untuk ekstra hati-hati. Soalnya, lantai jembatan yang terbuat dari papan terlihat sudah cukup ‘uzur’ dan lapuk digerus usia. Situasi ini mengingatkan kita akan nasib saudara-saudara kita di pedalaman sana, yang masih berayun-ayun di atas jembatan gantung atau malah menyeberangi sungai dengan telanjang dada. Saya tidak bisa dan tidak sanggup membayangkan, kapan kita mampu menghapus jembatan gantung di pedalaman, jika jembatan “istana” saja masih belum tertangani dengan baik.
Saya pikir, sebagai objek wisata sejarah (jika kita masih menganggap Iskandar Muda sebagai bagian dari sejarah Aceh), tidak ada salahnya jika jembatan ini diberi sedikit cat dan dirapikan papannya. Jangan pula lupa diratakan aspalnya secara bagus kualitasnya agar sedikit enak dilalui. Ini paling tidak, tentu. Sekali lagi, jika itu kita anggap penting. Mungkin dengan tindakan seperti itu Iskandar Muda akan tersenyum, karena masih ada anak bangsanya yang rela menyisihkan sedikit uang yang melimpah ruah di tanah Aceh untuk kepentingan keagungan sendiri.
Saya kira Jembatan Wisata Iskandar Muda bukan hanya yang bersambung dengan Pendopo Gubernur Aceh itu. Mungkin ia ada di sekitar kita, di kota dan gampong, bahkan di pelosok pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk pembangunan dan modernisasi. Jembatan-jembatan itu perlu sentuhan agar dia juga mampu menyentuh keinginan wisatawan untuk mengunjungi lokasi-lokasi menawan di Aceh. Kong tutue meunyo na meuneumat. Kong adat menyo ade raja.
Sultan Iskandar Muda sudah melahirkan banyak jembatan, termasuk jembatan peradaban Aceh pada masa lalu. Namun, mengapa kita belum mampu menyempurnakan jembatan wisatanya?
* Mohd. Harul al-Rasyid, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: mohar1966@yahoo.com
Masa peurintah Iskandar Muda
Nanggroe jih ubit hase meulimpah
Neubri le Allah pusaka kaya.
EMPAT baris lagu Aceh di atas teramat sering dinyanyikan oleh orang Aceh. Tak terkira berapa lama sudah lagu itu dinyanyikan dan berapa generasi sudah menyanyikannya. Intinya, lirik lagu itu mengabarkan kepada kita bahwa nanggroe Aceh sudah dikenal sebagai Serambi Mekkah ketika Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh Darussalam (1607-1636). Dalam lanjutan lagu tersebut dikabarkan juga betapa kayanya negeri yang kecil itu.
Iskandar Muda yang juga dikenal sebagai tokoh mitologis dan legendaris Aceh telah banyak membangun, termasuk membangun masjid-masjid bersejarah, seperti Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Indrapurwa, dan Masjid Indrapuri. Dialah sang pengubah wajah Aceh untuk tersenyum pada dunia internasional melalui ekspansi ke beberapa kawasan Sumatra dan Semenanjung Malaya. Semua itu dilakukan untuk mengekalkan nama Aceh sebagai sebuah negeri yang kuat dan punya kemuliaan; tidak hanya sebagai upaya memperluas jalur dakwah Islam dan menahan imperialisme bangsa Eropa, terutama Portugis.
Meninjau lorong-lorong sejarah, sungguh tidak bisa dinafikan bahwa Iskandar Muda adalah salah satu ikon Aceh yang agung. Ikon Iskandar Muda untuk menggantikan kata Aceh telah mengakar dalam memori kolektif orang Aceh dan telah pula menembus ruang dan waktu perjalanan sejarah. Kita telah sering pula membaca bagaimana sepak terjang Iskandar Muda, mungkin termasuk kisah akhir hidupnya. Akan tetapi, tahukah kita di mana sebenarnya Iskandar Muda beristirahat untuk selama-selamanya?
Makam Iskandar Muda
Dalam kaitan di mana Iskandar Muda dimakamkan, saya sering bertanya kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah Adat dan Budaya Aceh. Jika ada 50 mahasiswa dalam satu ruangan, hanya dua atau tiga orang yang tahu bahwa beliau dimakamkan di samping istana Kerajaan Aceh Darussalam. Antara istana dengan makam beliau hanya dibatasi oleh sungai atau Krueng Daroy (maksudnya sungai yang berada di samping istana daruddunia).
Di atas bekas istana yang dibumihanguskan Belanda pada agresi kedua itu, kini berdiri Pendopo Gubernur Aceh. Jadi, makam Iskandar Muda itu letaknya persis sebelah timur pendopo, berbatas Krueng Daroy. Sebenarnya, dalam kompleks pemakaman Sultan Iskandar Muda itu terdapat juga makam atau kuburan beberapa raja dan keluarga raja yang lain. Jika suatu waktu kita --baik sebagai turis maupun bukan-- memiliki waktu luang mengunjungi salah satu kompleks pemakaman raja-raja Aceh itu, Anda wajib melewati sebuah jembatan bersejarah dari arah barat.
Di atas pangkal jembatan sebelah barat tertulis terang: Kompleks Pemakaman Sultan Iskandar Muda. Ujung jembatan tersebut persis bersambung (kurang lebih 5 meter) dengan pintu masuk sebelah timur bagian utara Pendopo Gubernur Aceh. Saya sudah berungkali melewati jembatan itu; sebuah jembatan kenangan yang memalingkan ingatan saya kepada masa-masa indah Sultan di Istana Daruddunia.
Pertengahan tahun lalu, tepatnya pada 13 Juli 2012, saya melewati jembatan tersebut untuk kesekian kalinya saat menghadiri rapat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Aceh. Kebetulan kantor ICMI terletak dalam satu kompleks dengan pemakaman itu, di samping ada juga Kantor Baperis, dan lain-lain. Sebagian orang lebih mengenal gedung utama dalam kompleks tersebut dengan julukan Gedoeng Joeang. Gedung-gedungnya termasuk gedung tua yang antik yang tampak jarang disoleki, kumuh dan kumal. Dari perspektif wisata, ini mungkin penting untuk mempertahankan keantikan dan keontetikannya.
Khusus untuk jembatan menuju ke Kompleks Pemakaman Iskandar Muda itu saya beri nama dengan Jembatan Iskandar Muda. Ini termasuk satu jembatan paling bernilai di Kota Banda Aceh, antara lain karena: Pertama, jembatan ini merupakan sarana vital menuju makam orang paling disanjung dalam sejarah Aceh; Kedua, terletak persis di samping pendopo (bekas istana Kerajaan Aceh dulu) yang setiap saat tentu dilihat oleh Gubernur dan para Pembesar Negeri yang lalu-lalang keluar masuk pendopo, dan; Ketiga, jembatan ini merupakan peninggalan penjajah Belanda yang terbuat dari rangka besi dengan bagian atasnya terbuat dari papan+pohon kelapa dan aspal goreng.
Ketiga keunikan tersebut kiranya patut diperbincangkan dalam aspek jembatan wisata, terutama berkenaan dengan papan antik (kayu dan pohon kelapa silih berganti) dan aspal bopeng. Keberadaan jembatan ini tentunya sangat membantu para peziarah (wisatawan spiritual) yang ingin mengunjungi makam Poteu Meureuhom. Di antara mereka tentu termasuk pula para siswa di berbagai wilayah di Aceh, terutama jika musim liburan tiba. Anak-anak Aceh tentu wajib tahu, mengapa Belanda sampai hati mendirikan bangunan di atas makam Iskandar Muda?
Bagaimana proses membangun kembali makam tersebut pada 1968? Kalau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dan atau Dinas Pariwitasa Kota Banda Aceh belum memasukkan situs Kompleks Makam Iskandar Muda sebagai salah satu aset tujuan wisata, saya sarankan agar memasukkannya sekarang juga. Selain itu, masukkan juga Jembatan Wisata Iskandar Muda ini sebagai aset sejarah yang luar bisasa uniknya di tengah-tengah kota Banda Aceh yang sedang berkembang pesat.
Mengapa saya sarankan agar jembatan ini dimasukkan sebagai objek wisata? Hal ini tidak lain adalah karena jembatan tersebut termasuk aset budaya Aceh yang penting. Jembatan tersebut akan mengingatkan kita masa-masa kepemimpinan Iskandar Muda. Sebab, fisik jembatan kiranya tak jauh berbeda dengan masa itu, yang belum lazim budaya konstruksi beton dan baja. Sampai saat ini, para pengunjung makam yang menggunakan mobil dan sepeda motor masih harus melakoni tarian lenggang-lenggok di atas jembatan, hidup mati antara papan kayu dan pohon kelapa.
Digerus usia
Saya sendiri turut menikmati situasi itu; kenikmatan miris. Selain itu, Jembatan Wisata Iskandar Muda ini mengingatkan kita untuk ekstra hati-hati. Soalnya, lantai jembatan yang terbuat dari papan terlihat sudah cukup ‘uzur’ dan lapuk digerus usia. Situasi ini mengingatkan kita akan nasib saudara-saudara kita di pedalaman sana, yang masih berayun-ayun di atas jembatan gantung atau malah menyeberangi sungai dengan telanjang dada. Saya tidak bisa dan tidak sanggup membayangkan, kapan kita mampu menghapus jembatan gantung di pedalaman, jika jembatan “istana” saja masih belum tertangani dengan baik.
Saya pikir, sebagai objek wisata sejarah (jika kita masih menganggap Iskandar Muda sebagai bagian dari sejarah Aceh), tidak ada salahnya jika jembatan ini diberi sedikit cat dan dirapikan papannya. Jangan pula lupa diratakan aspalnya secara bagus kualitasnya agar sedikit enak dilalui. Ini paling tidak, tentu. Sekali lagi, jika itu kita anggap penting. Mungkin dengan tindakan seperti itu Iskandar Muda akan tersenyum, karena masih ada anak bangsanya yang rela menyisihkan sedikit uang yang melimpah ruah di tanah Aceh untuk kepentingan keagungan sendiri.
Saya kira Jembatan Wisata Iskandar Muda bukan hanya yang bersambung dengan Pendopo Gubernur Aceh itu. Mungkin ia ada di sekitar kita, di kota dan gampong, bahkan di pelosok pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk pembangunan dan modernisasi. Jembatan-jembatan itu perlu sentuhan agar dia juga mampu menyentuh keinginan wisatawan untuk mengunjungi lokasi-lokasi menawan di Aceh. Kong tutue meunyo na meuneumat. Kong adat menyo ade raja.
Sultan Iskandar Muda sudah melahirkan banyak jembatan, termasuk jembatan peradaban Aceh pada masa lalu. Namun, mengapa kita belum mampu menyempurnakan jembatan wisatanya?
* Mohd. Harul al-Rasyid, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: mohar1966@yahoo.com




No comments:
Post a Comment