Memoar Westerling: Sejarah Kelam di Sulawesi Masa Revolusi

1386816952830219885
Kapt. Raymond Westerling, sang jegal dari Belanda
Hari itu 12 Desember 1946, 67 tahun silam awan kelam menggantung di langit kota Makassar. Di suatu subuh yang senyap di kampung Batua, puluhan pasukan Khusus Baret Hijau Belanda dibawah pimpinan si bengis Raymond Westerling membangunkan rakyat yang sedang tertidur dalam mimpi-mimpinya, mereka dikumpulkan disuatu tempat.
Penduduk dikumpulkan di lapangan terbuka dengan maksud mencari para pejuang Republik yang dipimpin oleh RW. Monginsidi dan Ali Malaka. Karena buruannya tidak ketemu, Westerling mengamuk pistol miliknya meletus diikuti timah panas milik pasukan jagal DST Depot Speciale Troepen - DST (Depot Pasukan Khusus).
Beruntung seorang bisa selamat dari peristiwa itu, namanya Raden Atmajaya. Dialah yang kemudian hari menuliskan surat rahasia tentang pembantaian Makassar ke negeri Belanda dan Eropa dengan judul Massacre Macassar (Pembantaian di Makassar). Dari bulan Desember 1946 sampai Maret 1947 korban Wasterling berjatuhan, dari pihak Belanda mengkalim korban 3000 sampai 5000 orang.
Harian “De Waarheld” di negeri Belanda menurunkan berita pada bulan Juli 1947, isinya tentang kekejaman Wasterling yang kadar kesadisannya menyamai pasukan Nazi di Eropa. Sejak saat itu mata rakyat Belanda terbuka, rasa kemanusian si penjajah terketuk, mereka sadar bahwa untuk menaklukan negeri jajahan tidak harus dengan jalan pembantaian. Raymond Wasterling pun menjadi pesakitan, dulu dipuja sebagai pahlawan dan kini dia dicerca sebagian rakyatnya sendiri.
Pada tahun 1982 melalui bukunya Westerling menolak jumlah korban pembantaian di Sulawesi yang berjumlah 40.000 ribu, Westerling hanya mengakui ratusan korban yang mati karena perbuatan onarnya. Angka 40.000 memang penuh misteri, angka ini pertama disebut oleh Kahar Mudzakkar seorang patriot yang kemudian berbelot melawan Soekarno. Kahar sengaja menyebut angka 40.000 ribu demi mengenang kembali persitiwa pilu itu. Itu adalah persembahan jiwa raga rakyat Sulawesi untuk republik.
Bukan hanya kejam di Sulawesi, Raymod Westerling juga melakukan maker di Jawa Barat dan Sumatera Barat. Reputasi sebagai orang lapangan yang paham militer menarik banyak pengikutnya, mereka mendalangi pemberontakan yang gagal. Pada suatu kesempatan Wasterling pernah ditanya: “Kenapa anda tidak menembak Soekarno waktu kudeta dulu?”. Westerling menjawab: “Orang Belanda itu perhitungan sekali. Satu peluru harganya 35 sen. Sedangkan harga kepala Soekarno tidak lebih dari 5 sen. Jadi bisa rugi 30 sen. Kerugian yang tidak bisa dipertanggung jawabkan”. Ucapan Wasterling tidak lain untuk merendahkan Soekarno yang begitu di banggakan.
13868173321186943307
Salah satu relief monumen korban pembantain 40.000 jiwa di Makassar
Sampai akhir hayatnya Westerling tidak pernah dibawa meja pengadilan. Pemerintah Indonesia sepertinya tidak berdaya untuk menyeret si Bengis ke persidangan. Padahal pengadilan HAM berada di tanah airnya Raymond Westerling. Yang terjadi di Sulawesi Selatan serupa dengan pembantaian My Lai Di Vietnam, Pembantaian My Lai dilakukan sekelompok pasukan Amerika Serikat atas rakyat di desa My Lai menewaskan 200 rakyat. Bedanya, mereka yang terlibat di My Lai menjalani sidang dan dijatuhi sangsi keras. Jika menelisik jumlah korbannya, Wasterling 20 kali lebih kejam.
Beberapa waktu lalu pemerintah Belanda telah meminta maaf atas pembantaian di Rawagede, Bekasi. Para keluarga korban juga mendapat santunan/ganti rugi 20.000 euro (Rp.243 juta) dari pemerintah Belanda. Namun berbeda dengan pembantaian Rawagede, pemerintah Belanda masih setengah hati memberikan kompensasi/ganti rugi kepada keluarga korban pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan.
Melihat skala waktunya yang singkat dan jumlah korban yang banyak, Raymond Pierre Paul Westerling pantas disejajarkan dengan nama-nama kejam seperti Fransisco Pizarro dan Ferdinand Magellan dari Spanyol yang menghabisi ribuan rakyat suku Indian, Adolf Hitler saat invasinya di Eropa atau Joseph Stalin dari Soviet yang menewaskan banyak rakyat Polandia.
Peristiwa sudah berlalu 67 tahun, apa yang berlaku antara negeri jajahan dengan penjajah seringkali menimbulkan duka lama. Bangsa Indonesia bukan bangsa pendendam namun juga bukan bangsa yang melupakan sejarah. Sebuah monument korban 40.000 pembantaian Wasterling dibangun di kota Makassar untuk mengingatkan kita tentang sejarah kelam dalam mempertahankan siri’(harga diri) yang bernama merdeka. Kini saatnya kita meneruskan siri dalam bentuk lain yaitu membangun negeri menjadi Negara yang terkemuka yang disegani. Indonesia suatu negeri dengan sejarah yang panjang, kini berdiri sejajar dengan Negara lain dan terus bertumbuh menjadi kekuatan yang besar. Semoga kita semua dirahmati oleh yang maha kuasa.
Salam
Gambar: nasional.news.viva.co.id

Indra S

No comments: